LOGINTerima kasih yang sudah terus menantikan kelanjutannya. Ditunggu kelanjutannya besok, ya! Sayang kalian banyak-banyak! Selamat beristirahat!
Vanya memindahkan kursinya hingga dia akhirnya duduk di samping Kevin, bukan lagi berhadapan seperti sebelumnya. Keputusan yang diambilnya tanpa banyak berpikir itu ternyata membawa perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Jarak mereka kini jauh lebih dekat, bahu hampir bersentuhan, dan setiap gerakan kecil Kevin terasa lebih nyata.“Kau sudah mulai berani ternyata,” gumam Kevin pelan sambil menyunggingkan bibirnya singkat. “Sama suami sendiri tidak masalah, kan?” Vanya menjawab santai.Kemudian, Vanya mengambil secangkir minuman hangatnya, menyeruput pelan sambil menikmati suasana. Kevin terlihat santai, mengunyah makanannya dengan gerakan tenang, seolah pagi romantis ini adalah hal yang biasa baginya. Padahal bagi Vanya, setiap detik terasa istimewa.Belum sempat ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, ponsel Kevin yang tergeletak di atas meja bergetar.Kevin melirik sekilas ke layar, alisnya sedikit terangkat. “Nenek.”Vanya menahan senyum. Entah kenapa, hanya mendengar satu kata i
Hani menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena tidak percaya. Kalimat yang baru saja ia dengar barusan terlalu tidak masuk akal untuk diterima begitu saja.“Tidak mungkin,” ucapnya tegas. “Kau pasti salah orang.”Di seberang sana, suara itu terdengar lelah, tapi sama sekali tidak ragu. “Tidak ada kesalahan, Hani. Aku melihat namamu tercantum jelas dan resmi, langsung dikeluarkan oleh Direktur Human Capital.”Hani mendengus kecil. Ini lelucon yang buruk. Sangat buruk. Ia baru saja mengambil cuti, liburan singkat yang seharusnya menyenangkan. Mana mungkin perusahaan memecatnya tanpa pemberitahuan resmi, tanpa pemanggilan, tanpa klarifikasi.“Apa alasannya?” tanyanya cepat. “Aku tidak pernah mendapat surat peringatan. Rekam jejakku bersih.”Hening beberapa detik sebelum suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan. “Kau melakukan hal yang seharusnya tidak kau lakukan, Hani.”Napas Hani tertahan.“Apa maksudmu?”“Kau
Darat terasa lebih stabil ketika kaki Vanya akhirnya menyentuh tanah. Angin pagi masih berembus lembut, membawa aroma laut dan bunga yang bercampur, membuat dadanya terasa ringan, seolah sebagian dirinya masih tertinggal di udara tadi.Kevin melepaskan helmnya lebih dulu, lalu membantu Vanya membuka perlengkapannya. Gerakannya tenang, terlatih, sama sekali tidak tergesa. Setelah semuanya selesai, ia melirik jam tangannya sekilas.“Dua puluh dua menit,” ucapnya datar. “Lumayan, setelah lama tidak melakukannya.”Vanya menoleh cepat. Matanya masih berbinar, pipinya sedikit memerah karena udara dingin dan sisa adrenalin. “Dua puluh dua menit,” ulangnya pelan, lalu tersenyum lebar. “Itu dua puluh dua menit yang membuatku sangat bahagia.”Kevin terdiam.Vanya melanjutkan, seolah belum sadar efek ucapannya. “Aku sangat menyukai dua puluh dua menitmu ini. Ini bagian terindah selama ini. Lamaran di udara, aku menyukainya, walau badanku sedikit gemetar.”Ia terkekeh kecil, mencoba mencairkan su
Vanya masih berdiri di tempatnya, matanya menatap perlengkapan yang tergeletak di dekat kakinya. Kevin memperhatikan wajah Vanya tanpa berkedip. Keraguan itu terlalu jelas, bukan hanya di mata, tapi juga dari cara Vanya menarik napas yang terasa berat, seolah sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.Akhirnya Kevin tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya. Ia menghela napas pelan lalu berkata, “Kalau begitu, kita tidak perlu melakukannya.”Nada suaranya terdengar ringan, tapi ada sesuatu yang jatuh dan pecah di telinga Vanya. Ada kekecewaan yang tidak Kevin sembunyikan dengan baik kali ini.Kevin melepaskan tangan Vanya, lalu melangkah setengah langkah mundur, seakan ingin memberi jarak. Namun belum sempat ia benar benar berpaling, Vanya refleks meraih tangannya kembali. Genggamannya erat, hangat, dan sedikit gemetar.“Bukan, bukan begitu,” ucap Vanya cepat. “Aku … aku ….”Kata katanya terhenti..Kevin menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Ia lalu ber
Mata Vanya terasa sangat berat saat seseorang menggoyangkan pundaknya perlahan. Ia mengerang kecil, berusaha menarik selimut lebih rapat ke tubuhnya, sebelum akhirnya suara itu kembali terdengar, rendah dan tenang.“Bangun, Van.”Kelopak matanya terbuka setengah. Pandangannya masih buram saat ia menoleh ke arah sumber suara. Kevin berdiri di sisi tempat tidur, sudah berpakaian rapi.Vanya menyipitkan mata, lalu meraih ponselnya di meja samping tempat tidur. Jam digital menyala samar.03.07.“Apa?” gumamnya dengan suara serak. “Ini masih sangat malam.”Di luar, gelap masih menguasai segalanya. Tidak ada cahaya matahari, hanya bunyi angin laut yang bertiup cukup kencang dari dalam kamar ini. Kevin tersenyum kecil melihat ekspresi Vanya yang masih setengah sadar.“Maafkan aku,” katanya pelan. “Tapi kita harus keluar sekarang.”Vanya mengerjap, mencoba memproses kalimat itu. “Keluar? Sekarang?”Kevin mengangguk. “Bersiaplah. Kita akan melihat matahari terbit dari tempat yang sangat indah
Bukan tanpa alasan mereka langsung menyimpulkan hal demikian, karena pembawa acara berkata dengan penuh hormat dan menyebutkan gelar James pada tamu undangan dengan sebutan, “Yang Mulia Lord James Solmora, Tetua Dewan Darah Kerajaan”.“Itu …,” gumamnya pelan, lalu menoleh cepat ke arah Kevin. “Ternyata Tuan James tetua keluarga kerajaan?”Kevin hanya menanggapi dengan senyum singkat, nyaris tak terlihat. Sikapnya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dikejutkan oleh fakta sebesar itu.Vanya langsung menyipitkan mata. “Kamu sudah tahu sebelumnya, ya?”Kevin menoleh, menatapnya sekilas. “Barusan tahu.”“Bohong,” sahut Vanya cepat, alisnya terangkat. “Ekspresimu tidak seperti orang yang baru saja tahu. Kamu kelihatan seperti … oh, aku tidak tahu, seperti orang yang sudah menduganya sejak awal.”Kevin tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, dengan pandangan santai.Vanya mendengus kecil, lalu bergumam pelan, lebih pada dirinya sendiri, meski jarak mereka terlalu dekat







