共有

BAB 83 ADEGAN MANIS

last update 公開日: 2026-08-01 12:00:54

Tanpa sanggup membalas ucapannya, aku langsung menuruti perintahnya, berpegangan sekuat tenaga pada besi wahana.

Bersamaan dengan itu, jemari tangan Axel yang hangat mengusap dan menggenggam erat tanganku yang sedang menempel di tangkai besi—seolah menegaskan bahwa ia akan selalu ada untuk memberikan perlindungan penuh untukku.

Kami saling beradu pandang dalam keheningan yang hangat, berpadu selaras dengan debar jantung yang kian berpacu liar.

"Gu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 156 BOS GALAK

    Axel sempat melirikku sebentar dengan seringai menggodanya sebelum kembali menatap Jerry. "Tentu saja kita sudah—""Lo bisa diam enggak?!" teriakku spontan. Aku spontan berdiri dan menyumpal mulut Axel rapat-rapat menggunakan telapak tanganku.Jerry dan Mita sontak tertawa lepas menyaksikan tingkah kami yang kelingsutan. Namun, Jerry tidak mau berhenti sampai di situ. Ia masih terus mengajukan pertanyaan konyol untuk menggodaku."Kalian... hot enggak di ranjang?" bisiknya sambil memiringkan badan ke arah Axel.Mataku membulat sempurna. Aku menggeleng samar ke arah Jerry dengan tatapan mematikan. Sementara itu, Axel berusaha melepaskan bekapan tanganku di mulutnya. Sialnya, ia berhasil menyingkirkan jemariku sedikit, lalu memiringkan tubuhnya ke arah Jerry sembari tetap menggenggam erat telapak tanganku."Hot banget..." bisik Axel mantap, yang langsung disambut derai tawa ledekan dari Jerry dan Mita.Aku yang tersulut emosi karena

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 155 KAPAN MENYUSUL?

    "Lo... ngomong apa, sih," ucapku salah tingkah, berusaha menepis debaran di dada."Udah, udah... ayo kita salaman sama pengantin!" seru beberapa saudara di samping kami menengahi.Bersamaan dengan itu, beberapa tamu yang mengantre di belakang mendadak mendesak maju. Tanpa sengaja, dorongan itu membuat tubuhku kehilangan keseimbangan dan jatuh telak tepat ke dalam pelukan Axel."Ah! So—sorry..." pekikku panik, buru-buru mencoba melepaskan diri dari kungkungannya.Namun, Axel justru semakin mempererat tahanan tangannya di pinggangku, tak membiarkan sedikit pun celah untukku melarikan diri."Xel... lepasin, deh. Di sini banyak orang," pintaku berbisik penuh tekanan di tengah keriuhan saudara-saudara kami yang bergiliran menyalami pengantin."Emangnya kenapa? Mereka semua kan keluarga kita," sahutnya enteng tanpa beban. "Toh, mereka juga udah tahu kalau kita dijodohkan dan bakal segera menikah."Glek! Aku tanpa sadar menelan

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 154 MENCURI KESEMPATAN

    "Ayo-ayo, semuanya kumpul dulu!" teriak Bude menginstruksikan para sepupu dan saudara yang sedari tadi asyik menikmati hidangan di area bawah.Tim Wedding Organizer (WO) langsung sigap memandu dan menata barisan kami untuk berfoto bersama pengantin baru serta keluarga besar.Aku yang sejak tadi hanya berdiri kaku sambil mendekap Rian erat-erat, tiba-tiba digeser pelan oleh salah satu kru WO."Mbak... mundur sedikit, ya," pintanya dengan sopan.Tanpa menoleh ke mana pun, aku mengikuti arahannya sambil menunggu tim WO merapikan formasi barisan yang lain. Namun, tepat saat aku merapatkan posisi dan mundur selangkah untuk menyeimbangkan pijakan, punggungku mendadak membentur sesuatu yang kokoh di belakang.Aku spontan menoleh, mendapati Axel sudah berdiri tepat di belakangku sambil melempar senyum penuh godaan.Astaga, sejak kapan dia berpindah ke belakangku? Pikirku tadi Axel berbaris di ujung sana bersama Jerry. Tapi setelah mataku

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 153 SITUASI CANGGUNG

    "Di kafe, Pak De..." sahutku akhirnya, mencari aman."Kafe?" ulang Pak De Arga dengan kening berkerut dalam. Terpancar raut kecewa yang teramat jelas di wajah tuanya. "Kayla... kamu bisa bicara sama Pak De jika memang butuh bekerja. Dan... kafe? Masa kamu harus bekerja di tempat seperti itu?"Kepalaku langsung tertunduk dalam, berusaha menyembunyikan pendar kekecewaan yang menyeruak di mataku. Tak kusangka, bahkan Pak De Arga pun tidak mau menghargai keputusanku. Bagaimana jika dia tahu kalau sebenarnya aku bekerja sebagai cleaning service di perusahaannya sendiri?"Tolong hargai keputusan saya, Pak De," sahutku lirih, lalu memberanikan diri menatapnya dengan pandangan sendu. "Biarpun pekerjaan saya hanya sebatas pekerja kafe, tapi uang yang saya dapatkan halal."Aku meremas sisi gaun melingkar di jemariku, membiarkan mataku berkaca-kaca di hadapannya. "Seenggaknya... saya nggak perlu merepotkan keluarga Pak De lagi.""Kayla..."

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 152 NAKSIR SEJAK KECIL?

    Tepat saat aku membuka mulut untuk bicara, suara teriakan yang memanggil nama Axel tiba-tiba memecah keheningan lorong."Axel! Hei... di mana si Axel?!"Aku dan Axel sama-sama menoleh ke sumber suara. Terlihat bayangan orang berlalu-lalang di balik sorot lampu pesta."Tadi dia udah kelihatan di sini, kok. Ngilang ke mana sih, tuh anak?""Ayo kita cari aja ke sana."Aku dan Axel saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya aku segera mendorong dadanya pelan untuk melepaskan diri dari pelukannya."Lo... Lo dicariin tuh," ucapku dengan canggung, buru-buru melempar pandangan ke arah lain demi menyembunyikan wajahku yang telanjur merona.Dari sudut mata, aku melihatnya tersenyum lebar—senyum penuh kemenangan yang sarat akan kepuasan setelah sukses membuatku kehilangan akal sehat.Axel kembali meraih tanganku, menariknya pelan hingga tubuh kami nyaris bertabrakan lagi. "Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo... mau balikan

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 151 CIUMAN YANG MEMBEKUKAN

    Aku mendorong dada bidang Axel sekuat tenaga. "Lo apaan sih, Xel?!"Namun, Axel mendorong pundakku balik. Ia menahan kedua pundakku di dinding dengan kedua tangannya yang berotot, mengunci setiap celah untukku melarikan diri."Katakan sama gue. Apa ini alasan lo kekeh meminta cerai?!" teriaknya dengan mata memerah bara. "Selama ini... Rayan intens ngedeketin lo. Dan lo... pasti udah jatuh cinta sama dia, kan?!"Aku melihat amarah yang besar di wajahnya yang mengeras. Tangannya yang sedang menggenggam pundakku bahkan bergetar hebat, dikuasai cemburu buta yang berusaha ia tahan mati-matian."Lo jangan menyimpulkan sepihak, Axel!" balasku dengan dada naik turun, napasku memburu menahan emosi yang meluap-luap. "Gue nggak sengaja ketemu sama Rayan tadi!""Lalu bagaimana dengan di kampus?" cecarnya dengan mata semakin melotot tajam. "Kenapa saat itu gue ngeliat Rayan memeluk lo di tangga? Apa yang kalian lakukan?!""Lo lihat sendiri ka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status