Masuk"Lo... ngomong apa, sih," ucapku salah tingkah, berusaha menepis debaran di dada.
"Udah, udah... ayo kita salaman sama pengantin!" seru beberapa saudara di samping kami menengahi.Bersamaan dengan itu, beberapa tamu yang mengantre di belakang mendadak mendesak maju. Tanpa sengaja, dorongan itu membuat tubuhku kehilangan keseimbangan dan jatuh telak tepat ke dalam pelukan Axel."Ah! So—sorry..." pekikku panik, buru-buru mencoba melepaskan diri dari kungkungannya.BRAK!Suara pintu yang didorong kasar terhempas ke dinding terdengar nyaring, disusul bentakan lengking seorang wanita yang menggelegar memecah udara. "Aku tidak setuju!"Aku dan Pak De Arga sontak terperanjat kaget, refleks menoleh ke arah pintu secara bersamaan.Ini yang dari tadi sangat kutakutkan! Sosok yang baru saja kubayangkan di dalam hati tiba-tiba muncul di hadapan kami, seolah memiliki keterikatan telepati yang buruk."Mbak?" Pak De Arga spontan berdiri dari sofa, menatap wanita itu dengan mata membulat sempurna. "Apa yang Mbak lakukan di sini?!"Ya, dia adalah Bude Axel—kakak kandung almarhumah ibu Axel.Ia melirik Pak De Arga dengan tatapan menghina dan sinis. "Kamu jangan lupa ya, Arga! Aku masih memiliki porsi saham di perusahaan ini! Dan kamu... seenaknya saja mau membagi aset perusahaan ini dengan keluarga kamu sendiri?!"Pak De Arga menyunggingkan senyum canggung, sangat terlihat kalau beliau sedang salah tingkah dan terdesak. "Apa maksud Mbak? Kayla ini adalah calon
"Awalnya kami semua juga berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Karena di tempat sepi itu, kebetulan tidak ada satu pun saksi yang melihat," jelas Pak De Arga dengan raut wajah sangat serius. "Dan Axel yang menjadi satu-satunya saksi mata, justru ikut hilang kesadaran."Keningku berkerut makin dalam. Dadaku berdesir hebat, tak sabar menanti jawaban atas teka-teki besar yang setahun belakangan ini menyiksa batinku.Pak De Arga melayangkan pandangannya ke arah lain, tampak seperti tengah mengingat kembali memori yang teramat berat. "Namun akhirnya kami semua paham apa yang sebenarnya terjadi, tepat setelah Axel sadar lebih dulu dan buru-buru mencari keberadaanmu."Aku masih membeku di tempat, tak berani menyela dan sabar menanti Pak De Arga melanjutkan kisahnya."Dia langsung terbangun kaget di atas ranjang rumah sakit sambil berteriak histeris, 'Peri kecil... di mana kamu?!'," ucap Pak De Arga menirukan kepanikan Axel sewaktu kecil.Aku sempat menyunggingkan senyum
Pak De Arga terkekeh pelan, lalu menatapku dengan raut wajah penuh heran. "Kayla... dari mana kamu bisa menyimpulkan semua itu?"Aku terperanjat sesaat. Apa?! Jadi... Inez hanya berusaha untuk mengelabui dan menghancurkan pikiranku?! Lalu, apa maksud dari seluruh kalimat acuh yang ia katakan pada Axel di apartemen kami dulu?!Aku perlahan menoleh pada Axel. Pria itu tampak menatapku sendu dengan senyum tipis terluka yang berusaha ia tahan. "Sudah gue duga... lo pasti bakal meragukan gue hanya karena omongan busuk Inez."Aku menegakkan posisi berdiri seraya menatapnya tegas, menantinya melanjutkan bicara."Apa pun yang ingin lo ketahui tentang gue, lo bisa tanyakan langsung sama Papa," ucapnya dengan tatapan mata yang mendadak redup dipenuhi rasa kecewa. "Dan kalau setelah lo tahu semuanya... tapi lo masih tetap meragukan perasaan gue, lo boleh memilih untuk pergi, Kayla. Gue nggak akan pernah memaksa lo lagi."Sambil melayangkan pandangan penuh luka, Axel berbalik dan pergi melangkah
"Axel..." bisikku lirih, menatap lurus ke dalam manik matanya yang berkilat emosional.Namun, dengan cepat Axel menyunggingkan senyum manis nan hangat. "Tapi gue tahu itu semua salah gue. Lo... menolak gue karena gue terlalu menyakiti hati lo."Aku masih membeku, menatapnya dengan kelopak mata yang meredup pilu."Gue sangat menyesali hari itu, Kayla. Seharusnya... gue nggak pernah mematikan ponsel hanya demi fokus pada ujian tesis.""Xel... lo tahu masalah kita bukan cuma soal itu..." sahutku lirih, mencoba menelusuri titik terdalam sorot matanya.Axel mengangguk seraya tersenyum tipis nan ragu. "Gue tahu..." sahutnya seraya menatapku lama sebelum akhirnya menyematkan sepasang anting mungil itu satu per satu ke daun telingaku. "Lo belum percaya sepenuhnya sama gue. Tapi bukan berarti... lo nggak mencintai gue, kan?"Aku kembali membeku. Kami sempat saling memandang dalam diam selama beberapa detik sebelum akhirnya suara pintu yang terdorong memecah atmosfer magis di antara kami.Cekle
Tak berselang lama, bunyi derap langkah sepatu yang terhenti tepat di depan pintu terdengar nyaring. Tepat sebelum gagang pintu diputar, aku sudah bersiap menyilangkan kedua tangan di dada seraya bersandar anggun di tepian meja kerja. Mataku menatap tajam ke arah pintu yang perlahan terbuka, hingga sosok Axel akhirnya muncul di ambang pintu.Saat itu, aku sudah menyiapkan tumpukan amarah dan siap menyidangnya habis-habisan. Namun, raut wajahnya yang terpaku menatap penampilan baruku untuk pertama kalinya justru membuat seluruh lelehan emosi di dadaku mendadak surut tanpa sisa."Wow... bidadari dari mana ini?" godanya seraya menutup pintu ruangan rapat-rapat.Senyum merekah tersungging sempurna di wajah tampannya. Sorot matanya seolah enggan berkedip, meneliti penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki."Lo... benar-benar Kayla istri gue, kan?" tanyanya takjub, seketika membuat pertahanan dan niat labrakanku kian runtuh tak berbekas."M-maksud lo apa, sih?" tanyaku salah tingkah
Staf HRD itu sempat membeku sesaat. Bola matanya membulat sempurna dengan mulut menganga tak percaya. "A-apa kamu baru saja bersikap sinis padaku?!"Aku ikut membeku sejenak, menatapnya dingin sebelum akhirnya tertawa renyah seraya membuang muka. "Ah... Ibu ini terlalu serius! Mana berani saya bersikap dingin pada Anda?" kelitku dengan nada suara yang dibuat manis luar biasa. Padahal, jauh di dalam lubuk hati, aku benar-benar jengkel setengah mati padanya.Ia terkekeh canggung, menatapku dengan sorot mata masih meragukan. "Ooh... Aku pikir, hanya karena kamu istri Pak Axel, lantas kamu mau bersikap semena-mena pada kami di sini."Pandangannya menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arahku. "Kalian... sebenarnya masih menikah siri, kan?" bisiknya lirih.Aku yang sempat tercengang sesaat kembali mengulas tawa canggung seraya menutup mulut dengan gaya sok anggun. "Tentu saja itu benar," balasku berbisik tak kalah pelan.Ia mengangguk-angguk samar







