LOGINGelombang mual itu datang tanpa peringatan.
Perut Elyse bergejolak hebat, seolah seluruh isi tubuhnya ingin dipuntahkan saat itu juga. Kepalanya berdenyut menyakitkan, bukan sekadar pusing, melainkan tekanan berat yang membuat pandangannya sedikit mengabur. Aroma makanan di hadapannya, yang sejak tadi sudah tak menggugah selera, kini justru terasa menyesakkan. Tenggorokannya mengering, napasnya menjadi dangkal.
Ia menunduk sedikit, jemarinya mencengkeram tepi meja dengan kuat, berusaha menahan diri agar tidak muntah di hadapan Jester.
“Elyse?” suara Jester terdengar cemas. “Kau baik-baik saja?”
Elyse memaksa dirinya mengangkat kepala. Senyum tipis ia lukiskan, meski rasanya seperti topeng rapuh yang bisa runtuh kapan saja. “Ya,” jawabnya pelan. &ld
Udara di kamar itu seolah membeku.Dyall tidak langsung menjawab. Matanya sedikit membesar, lalu mengeras bukan marah, melainkan terkejut. Ia menatap Elyse seolah mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.“Dari siapa kau mendengar itu?” tanyanya pelan, namun nadanya berubah dingin.Elyse menggeleng kecil. “Itu tidak penting.”Ia menunduk, jemarinya mencengkeram kain gaunnya sendiri. “Yang penting… apakah itu benar?”Dyall menghela napas panjang. Tangannya terangkat, lalu berhenti di udara, seolah ragu untuk menyentuh Elyse lagi.“Aku tidak pernah mengatakan aku akan menikahinya,” jawab Dyall akhirnya. Tegas. Pasti.
Dunia Elyse seolah berhenti berputar.Napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya membesar sedikit, bukan karena kaget semata, melainkan karena ia tidak pernah menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut ibunya bukan sekarang, bukan setelah semua yang terjadi.“Kali ini,” lanjut Countess, suaranya bergetar tipis namun penuh tekad, “ibu dan ayahmu akan berada di pihakmu.”Sunyi menyelimuti kamar.Elyse hanya menatap Countess tanpa suara. Di dalam kepalanya, kenangan dan kenyataan bertabrakan, Janji yang telah diucapkan, langkah-langkah yang sudah diambil, rahasia yang kini ia simpan sendirian… dan satu kehidupan kecil yang bahkan belum diketahui siapa pun di ruangan ini.“Ibu…” bib
Gelombang mual itu datang tanpa peringatan.Perut Elyse bergejolak hebat, seolah seluruh isi tubuhnya ingin dipuntahkan saat itu juga. Kepalanya berdenyut menyakitkan, bukan sekadar pusing, melainkan tekanan berat yang membuat pandangannya sedikit mengabur. Aroma makanan di hadapannya, yang sejak tadi sudah tak menggugah selera, kini justru terasa menyesakkan. Tenggorokannya mengering, napasnya menjadi dangkal.Ia menunduk sedikit, jemarinya mencengkeram tepi meja dengan kuat, berusaha menahan diri agar tidak muntah di hadapan Jester.“Elyse?” suara Jester terdengar cemas. “Kau baik-baik saja?”Elyse memaksa dirinya mengangkat kepala. Senyum tipis ia lukiskan, meski rasanya seperti topeng rapuh yang bisa runtuh kapan saja. “Ya,” jawabnya pelan. &ld
Elyse terguncang oleh kata-katanya sendiri.Napasnya terasa dangkal, dadanya sesak, dan satu dorongan kuat memenuhi benaknya bahwa ia harus pergi dari tempat ini, sekarang juga. Keluar dari perpustakaan, meninggalkan kastil Levric, berlari ke istana, menemui Dyall, dan mengatakan semuanya tanpa menahan satu pun.Riaven de Rysvard masih hidup.Namun tubuhnya mengkhianatinya lebih dulu.Pusing datang menyerang tiba-tiba, disusul mual yang membuat perutnya bergejolak. Langkah yang ingin ia ambil terhenti, dan Elyse terpaksa duduk kembali di kursi terdekat. Tangannya mencengkeram tepi meja, lalu perlahan pandangannya jatuh pada buku di hadapannya, buku yang beberapa saat lalu begitu menarik perhatiannya.Sebuah buku sejarah kekaisaran.
Elyse merasa cukup tenang duduk di pangkuan Dyall, dipeluk erat seperti ini. Tubuhnya bersandar sepenuhnya padanya, seolah tak ada lagi alasan untuk waspada atau menahan diri.“Masih kesal?” tanya Dyall pelan.Elyse menggeleng, lalu justru memeluknya lebih manja. Dyall bisa merasakannya, cara Elyse mendekat, cara lengannya melingkar tanpa ragu. Biasanya, dalam posisi seperti ini, Elyse masih terlihat malu-malu, canggung seakan takut salah. Namun sekarang tidak. Ada kelembutan yang jauh lebih jujur.“Aku hanya sedikit kesal,” gumam Elyse, “karena anda memberiku jus anggur, bukan wine.”Dyall tersenyum kecil, lalu menunduk mencium pundak Elyse dengan lembut. “Yang penting sama-sama dari anggu
Elyse keluar dari ruangan itu dengan langkah yang nyaris goyah.Begitu pintu tertutup di belakangnya, seluruh ketegangan yang sejak tadi ia tahan runtuh seketika. Dadanya terasa sesak, seolah napasnya baru benar-benar kembali setelah ia menjauh dari Oscar Noctair.Tangannya dingin, telapak tangannya lembap oleh keringat gugup. Ia sadar betul, Oscar bukan Dyall.Walaupun mudah dibaca namun tidak bisa ditebak. Namun justru karena itu, ia jauh lebih berbahaya daripada Levric mana pun.Sulit… batinnya. Sulit ditebak, sulit diyakinkan, dan sulit dilawan.Viscount tidak mengantarnya keluar. Elyse pun memilih pintu belakang kastil jalur sunyi yang jarang dilewati tamu. Udara sore menyambutnya, sedikit dingin, sedikit lembap. Ia baru saja menarik na







