MasukJosselyn, putri dari keluarga pengkhianat, dipanggil ke istana karena satu-satunya yang mengetahui rahasia ramuan herbal untuk menyembuhkan penyakit Ratu. Ia ditunjuk menjadi asisten tabib kerajaan—dan di sanalah hidupnya berubah selamanya. Pangeran Killian, pria dingin dan kejam, tiba-tiba menunjukkan ketertarikan padanya. Setiap tatapannya menarik rasa penasaran dan iri dari keempat pria lain di sekitarnya: prajurit yang setia pada kerajaan, tabib kerajaan yang sabar dan perhatian, serta dua bangsawan kakak-beradik yang memikat dengan cara masing-masing. Mereka semua tahu tentang dendam Josselyn terhadap kerajaan yang ia anggap bertanggung jawab atas kematian orang tuanya. Masing-masing dari mereka memiliki rencana sendiri untuk memanfaatkannya. Lima lelaki, lima cara berbeda untuk menaklukkan hatinya, memunculkan kebimbangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi, Josselyn tak bisa menyerah begitu saja pada pesona mereka. Luka lama dan dendam membuatnya menaruh curiga pada Killian, yakin bahwa pangeran itu ikut andil dalam tragedi keluarganya. Di tengah tarik-menarik antara cinta yang membara, manipulasi yang halus, dan dendam yang membeku, Josselyn harus memilih: menyerah pada perasaan yang tak terduga, atau membalas dendam yang diwariskan orang tuanya—meski itu berarti menolak semua lelaki yang menaruh hati padanya.
Lihat lebih banyak“Sial—”
Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar. “Killian—” Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda. “Kau menginginkannya.” Suara rendahnya menambah denyutan yang ia rasakan pada tubuh bagian bawahnya. “Jangan… berhenti.” Gadis itu hampir memekik. Gerakan Killian terlalu liar hingga membuat tumpuan tangan Josselyn melemah. Selanjutnya hanya terdengar desahan dan bunyi tak pantas yang dihasilkan dari dua tubuh. Malam itu ia tak dapat berpikir jernih lagi—tidak, dari awal sepertinya memang ada yang salah. ***~*** “Ugh… Kepalaku sakit sekali.” keluh Josselyn begitu membuka matanya keesokan harinya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, agar dapat melihat lebih jelas. Ia menyambar segelas air yang berada di atas meja. Lalu meneguknya perlahan. Berharap dapat meredakan rasa tak nyaman di kepalanya. “Josselyn, kau sudah bangun?” Sebuah suara terdengar dari balik pintu. Josselyn bangkit dari tempat tidurnya, tapi pandangannya berputar. Tubuhnya oleng, ia hampir terjatuh ke lantai. Tepat saat itu, sepasang tangan menangkap tubuhnya. “Kau hampir jatuh,” kata suara itu singkat, menopang bahu Josselyn. Samar ia melihat sosok Yorick, tabib istana yang sudah dua minggu ini mengajarinya tentang pengobatan. “Maaf, Tuan. Kepalaku… sedikit pusing.” jawab Josselyn. “Kau mabuk?” tanyanya, sambil memapah Josselyn untuk duduk kembali di ranjangnya. “Bukannya semalam kau langsung tidur begitu selesai berlatih?” Josselyn mengernyitkan dahi. Seingatnya, ia memang langsung ke kamarnya setelah dari Ruang Herbal. Tapi sepintas ingatan tentang seorang pelayan muncul. “Ah, semalam—seorang pelayan datang dan memberi saya semangkuk ramuan. Katanya, itu dari Tuan.” Yorick menaikkan kedua alisnya. “Aku?” Josselyn mengangguk. “Tidak. Aku sudah terlalu letih setelah mengajarimu membuat ramuan seharian,” ujarnya. “Lagipula, kenapa untukmu?” Josselyn mengendikkan bahu. “Jika saya tahu, saya tak akan bertanya.” Josselyn terdiam. Tabib itu melanjutkan maksud kedatangannya, tapi kata-katanya tak benar-benar masuk ke telinganya. Di benak Josselyn, berbagai pertanyaan muncul, ‘Lalu, ramuan itu dari siapa?’ Josselyn mengernyit, menekan pelipisnya kuat. ‘Kenapa setelah meminumnya, kepalaku terasa berat… dan badanku…’ Josselyn baru menyadari, bagian bawah tubuhnya terasa sedikit nyeri. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mencengkeram sprei dengan erat. ‘Apa itu bukan mimpi?’ ***~*** Josselyn mengaduk ramuan itu perlahan, aroma herbal memenuhi ruangan kecil di Sayap Ratu. Tangannya sedikit gemetar, antara kesal dan takut. ‘Siapa pria yang berani menyentuhku itu? Apa dia juga penghuni istana?’ Tanpa sadar, adukan Josselyn semakin keras hingga membuat suara dentangan yang nyaring antara sendok dan tabungnya. “Jangan mengaduknya sekeras itu. Kau bisa menimbulkan busa yang akan mempengaruhi kualitas ramuan.” tegur Yorick, menahan tangan asisten barunya itu. Josselyn tergagap, baru saja tersadar dari lamunannya. “Maaf, Tuan,” Yorick menarik napas panjang. Lalu melepaskan genggamannya dari tangan Josselyn. “Josselyn, ini hari pertamamu bertemu Ratu. Kau berlatih membuat ramuan itu dengan benar selama dua minggu. Kalau sampai ada kesalahan, kau mau mereka mengembalikanmu ke rumah Count Edmund?” kata Yorick dengan nada tegas. Tubuh Josselyn bergetar ketika nama itu disebut. “Aku tak ingin kembali ke neraka itu.” Kata-kata Josselyn tak berlebihan. Sejak ibunya dirumorkan kabur dari hukuman mati, Josselyn tinggal bersama Paman dan Bibinya itu. Tapi karena status orang tuanya yang memalukan, membuat Count Edmund dan istrinya memperlakukannya dengan buruk. “Karena itu, fokus. Buat ramuan yang baru dengan teknik yang benar. Aku akan ke gudang sebentar untuk mengambil beberapa bahan.” pesan Yorick, meninggalkan Josselyn sendirian di Ruang Herbal. Josselyn menarik napas panjang. Memberi jeda sebentar untuk pikirannya agar lebih berkonsentrasi. Lalu, ia membuang ramuannya, dan mengambil wadah baru. Dengan cekatan, ia kembali meracik ramuannya. Kali ini lebih berhati-hati. “Apakah ramuan untuk Ratu sudah siap?” sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar di belakangnya. Josselyn menoleh, kaget setengah mati. Di sana berdiri Killian, tinggi, berambut gelap, dan menatapnya dengan mata biru keabuan yang tajam. Sepenggal ingatan tentang semalam muncul. Ia dapat melihat samar wajah Killian dengan senyum liciknya. Tubuh Josselyn menegang. “Yang Mulia Putra Mahkota,” Josselyn menunduk cepat, walaupun tubuhnya bergetar karena menahan amarah. Josselyn menutupi tabung ramuan dengan kedua tangan. “Saya… sudah menyesuaikan suhunya sesuai resep.” Killian melangkah lebih dekat, mencondongkan tubuhnya sedikit, matanya tak lepas dari ramuan itu. “Hanya menyesuaikan suhunya? Kau yakin ini akan menyembuhkan Ratu?” Josselyn mengangguk cepat. “Ya, Yang Mulia. Ini ramuan yang…” Josselyn menelan ludahnya, ragu. “... mendiang ibu saya ajarkan. Hanya saya yang tahu racikan resep ini.” Killian tersenyum tipis, hampir seperti mengejek. “Hanya kau?” suaranya rendah, nyaris bergema di ruangan. “Jadi, semua harapan kerajaan ini… tergantung padamu? Bagaimana kalau justru kau menggunakannya untuk balas dendam?” Rahang Josselyn mengeras. “Saya tahu, saya dianggap seorang putri dari keluarga pengkhianat,” Jantungnya berdetak kencang, ia seharusnya berhenti saat itu juga, tapi entah kenapa hatinya membiarkan mulutnya terus bicara. “Ibu saya mengajarkan satu prinsip Alkemis,” katanya pelan. “Tak setetes pun ramuan boleh melukai orang yang mempercayainya.” Josselyn berhenti sebentar, lalu ia menatap mata biru keabuan milik Killian. “Jadi, apa Anda mempercayai saya?” Killian mendengus. Ia mendekatkan wajahnya, hingga hembusan napasnya terasa di pipi Josselyn. “Bukan aku yang memutuskan untuk membawamu ke istana.” Jawaban itu cukup membuat Josselyn mengerti, bahwa Killian belum mempercayainya sepenuhnya. Tapi ia tak peduli. Karena tujuan utamanya saat ini adalah membuat Raja percaya bahwa dengan resep ramuan dari ibunya, ia dapat menyembuhkan Sang Ratu. Sebelum akhirnya ia memulai rencana selanjutnya. “Minum.” perintah Killian, matanya melirik tabung ramuan di tangan Josselyn. Mengisyaratkan gadis itu untuk meminumnya. Tangan Josselyn mengepal di samping tubuhnya. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia menegak habis isi tabung ramuan itu. Dahinya berkerut sebentar, saat rasa pahit memenuhi permukaan lidahnya. Perutnya bergejolak, tapi ia berusaha menahannya di hadapan Killian. Killian menatapnya. Tanpa aba-aba, tangannya mencengkeram rahang Josselyn, dan menekannya. “Buka.” perintahnya lagi. Tekanan di kedua pipinya, membuat Josselyn terpaksa membuka mulutnya. Menunjukkan rongga mulutnya yang sudah bersih, tak menyisakan setetespun ramuan itu. Kedua sudut bibir Killian diam-diam terangkat. “Bagus.” Ia melepaskan cengkramannya. Lalu melangkah mundur. “Bawa ramuan yang baru untuk Ratu. Pastikan kau mengantarnya sendiri.” Setelah itu, Killian membalikkan badannya dan pergi. Josselyn bergidik, jijik. Ia menggebrak meja begitu sosok Killian menghilang di ujung koridor. Napasnya naik turun dengan jelas. “Baik, kau yang mengubah arahnya sekarang, Killian.” ucapnya dengan nada kesal. “Aku datang ke istana ini untuk mendapatkan kepercayaan Raja dan membalas dendam. Tapi, sepertinya menargetkan kepercayaanmu akan lebih menyenangkan.”“Denyut nadinya melemah lagi.” Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” potong Josselyn. Yorick berdiri di sisi ranjang, wajahnya tak lagi santai. “Sejak minum ramuan herbal darimu, Ratu sudah membaik. Tapi dua hari belakangan, kembali memburuk.” “Jadi, apa kita perlu naikkan dosisnya?” Josselyn menoleh, meminta konfirmasi. Ia tak bisa begitu saja menaikkan dosis tanpa persetujuan dari Kepala Tabib, alias Yorick. Yorick memejamkan mata. “Masih banyak mata dari kerajaan lain yang terus menatap Ratu di istana ini. Jika mereka mengetahui kelemahan ini, kerajaan Valenroth akan dalam masalah besar. Setidaknya, sampai musim dingin berakhir,” sahut Yorick datar. Josselyn menunduk, ia ingat tentang Howarth dan Sebastian, dua bangsawan dari kerajaan lain yang masih tingg
‘Edevan?’Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda.Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa.“Namamu…”“Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru memperkenalkan diri setelah hampir menyaksikan pertumpahan darah.“Oh,” Howarth tersenyum lebih lebar. “Terimakasih karena tahun ini kau membuat pesta menjadi lebih menarik.”Josselyn bergerak kikuk. Tak paham dengan maksud pria berambut perak itu.“Kakakku hanya menyukai situasi berbahaya,” kata Sebastian sekenanya.“Aku hanya tak suka pesta membosankan,” sahut Howarth terkekeh. “Seperti tahun-tahun kemarin.”Howarth menatap Josselyn. Ia maju setengah langkah, mendekatkan wajah ke telinganya.“Tapi ternyata keputusanku datang tepat. Aku bisa melihat Putra Mahkota yang terkenal kejam itu mengangkat pedangnya,” bisik Howarth. “Dan anehnya hanya untukmu.”Napasnya tercekat. Sejenak, aura berbahaya How
“Nona Josselyn, Ratu… kondisi Ratu…”Tubuh Josselyn menegang saat ketukan tergesa terdengar di pintunya.Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.“Apa yang terjadi?” Tanpa sadar, suaranya meninggi. Kilatan pedang terbayang di depan matanya.“Tubuh Ratu berkeringat hebat. Perutnya melilit, dan ia tak bisa tidur.” jawab pelayan.Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung keluar dari kamarnya.“Ayo kita ke sana.”Suara langkahnya bergema selama di koridor Sayap Ratu. Ia terus bergumam dalam hati.‘Tolong selamatkan Ratu, Tuhan. Jika tidak, kepalaku akan jadi taruhannya.’ doanya.Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, dari arah lain muncul Yorick. Rambutnya terlihat berantakan. Dan ia masih menggunakan baju tidurnya. Mereka saling bertatapan, lalu Yorick mengangguk.Prajurit yang berjaga segera membukakan pintu kamar Ratu.“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Josselyn, menghampiri Ratu.Ratu sedang duduk, wajahnya terlihat pucat. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. Baj
“Kau bilang menambahkan madu dalam ramuan herbal untuk Ratu?” bisik Yorick. Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Ya, karena saya sempat mencicipinya,” Josselyn hampir berhenti, karena mengingat perlakuan Killian saat di Ruang Herbal. “Rasanya pahit sekali. Saya takut Ratu akan menolak meminumnya.” Ia menoleh pada Yorick, menunggu responnya. Kata bisik-bisik di istana, Yorick terbilang muda untuk seorang tabib, namun keahliannya meracik ramuan herbal membuat semua orang tunduk pada penilaiannya. Yorick mengangguk-angguk mengerti. “Bagus.” Tangannya sempat menyentuh rambut Josselyn—singkat. Sentuhan itu belum sempat membuat Josselyn bernapas lega ketika suara sepatu berhenti tepat di belakang mereka. “Josselyn.” Sebuah suara dingin menggelegar di koridor itu. Langkah Josselyn terhenti. Di ujung koridor, di depan pintu kamar Ratu, berdiri Killian dengan tatapannya yang membakar. “Kau lambat sekali.” Nada itu dingin. Terlalu tenang tapi t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.