LOGINElyse terhenti. Tangannya masih menempel di gagang pintu ketika ia berbalik perlahan.
Dyall berdiri tidak jauh darinya. Mantel militernya sudah dilepas dan disampirkan sembarangan di kursi, rambut hitamnya sedikit berantakan karena perjalanan. Api perapian memantulkan cahaya ke mata merahnya, membuat tatapannya tampak lebih lembut dari biasanya namun tetap tajam, penuh perhatian.
“Apa yang mulia lakukan di sini?” tanya Elyse pelan.
Dyall melangkah mendekat, langkahnya tidak terburu-buru.
“Aku ingin memastikan istriku tiba dengan selamat,” jawabnya sederhana. “Dan melihat sendiri apakah ia baik-baik saja.”
Elyse menghela napas kecil.
“Saya baik, dan saya tidak sedang
Elyse bahkan tak pernah membayangkan, dirinya kini justru rela membungkuk di atas meja kerja sang kaisar, bukan untuk menolak atau protes, melainkan benar-benar melayani nafsu suaminya sendiri. Tubuhnya didorong paksa hingga dadanya menempel di permukaan kayu dingin, sementara tangan Dyall yang besar menahan pinggangnya erat, membuat Elyse tak punya tempat lari, hanya bisa menerima setiap hentakan liar yang mengguncang tubuhnya habis-habisan dari belakang.Setiap dorongan terasa semakin dalam, liar, dan tanpa ampun, hingga suara Elyse tercekik antara erangan tertahan dan isakan gairah yang memalukan.Dyall menarik rambut Elyse pelan, memaksanya sedikit menengadah. Sekali hentakkan, Dyall mengangkat pinggul Elyse, lalu mendudukkannya tepat di atas meja kaki Elyse terentang lebar, tubuh setengah polos, napas memburu dan wajah merah padam menahan ledakan rasa malu dan nikmat yang bergulung-gulung.Wajah Dyall mendekat, sorot matanya penuh kuasa dan amarah yang mena
Elyse berhenti sepenuhnya kali ini.Bukan karena takut, melainkan karena satu kalimat Jester telah menyingkap sesuatu yang terlalu besar untuk dilewati begitu saja. Ia menoleh perlahan, menatapnya lurus tanpa emosi berlebihan, tanpa getar di suara.“Jadi…” ucap Elyse hati-hati, “kalian akan menekan Kaisar hanya karena beliau memiliki seorang wanita yang disembunyikan?”Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun bobotnya membuat udara di antara mereka mengeras.Jester tidak tampak tersinggung. Ia justru menghela napas pelan, seolah Elyse baru saja mengucapkan sesuatu yang kekanak-kanakan.“Itu bukan urusanmu,” jawabnya dingin. “Kau tidak perlu memahami semuanya.”
Kata melepaskan jatuh berat di ruangan itu.Dyall menghela napas perlahan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh dagu Elyse dengan lembut gerakan kecil yang jarang ia tunjukkan di hadapan siapa pun.“Kau terlalu baik,” katanya rendah. “Dan dunia tidak pernah ramah pada orang seperti itu.”Elyse tersenyum kecil. “Mungkin,” jawabnya. “Tapi setidaknya… aku akan hidup tanpa menyesali pilihanku sendiri.”Dyall menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu menurunkan tangannya. “Baik,” katanya akhirnya. “Pergilah.”Ia menoleh sedikit, suaranya berubah kembali menjadi suara Kaisar. “Namun ingat satu hal,” lanjutnya dingin. “Jika mereka
Elyse tersenyum.Bukan senyum manis yang biasa ia gunakan di hadapan bangsawan, melainkan senyum kecil yang hanya muncul ketika ia tahu posisinya aman. Ia melangkah mendekat, begitu dekat hingga jarak di antara mereka nyaris tak ada. Ujung jarinya terangkat, lalu menunjuk ringan ke arah perut Dyall, tepat di balik pakaian resminya.“Kalau begitu,” ucapnya pelan, nada suaranya nyaris seperti bisikan,“apakah Anda akan membuat mereka membayar semuanya… dengan benar, Yang Mulia?”Dyall menatapnya lurus.“Tentu saja.”Jawaban itu singkat. Tegas. Tanpa keraguan sedikit pun.Elyse tersenyum lebih lebar dan melangkah setengah langkah lagi.“Kalau beg
Kata-kata itu jatuh berat di aula.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Pengawal-pengawal itu saling berpandangan, jelas menimbang batas kewenangan mereka. Ini bukan pembangkangan, ini celah hukum yang sah.Elyse menatap ayahnya.Untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, ia melihat punggung yang benar-benar berdiri di depannya bukan untuk melindungi nama keluarga, bukan demi kepentingan politik, melainkan demi dirinya.Ia tidak menolak dan Ia juga tidak tersenyum.Ia hanya berkata pelan, “Kalau begitu… kita pergi bersama.”Pengawal itu akhirnya mengangguk kaku. “Baik,” ucapnya. “Namun Count Leclair akan ikut sebagai wali. Segala konsek
Keadaan berubah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun.Sejak pagi, kabar interogasi menyebar seperti racun yang meresap perlahan namun pasti. Satu per satu nama mulai dipanggil. Pelayan berbisik di lorong-lorong, bangsawan menutup pintu lebih rapat dari biasanya, dan bahkan mereka yang merasa tidak bersalah pun mulai ketakutan, karena dalam situasi seperti ini, kebenaran bukan lagi pelindung.Yang dipanggil bukan hanya mereka yang hadir di pesta itu. Melainkan siapa pun yang diduga tahu.Mansion Leclair ikut terbungkus ketegangan yang pekat. Setiap langkah kaki terdengar terlalu keras. Setiap ketukan pintu membuat jantung berdegup lebih cepat.Elyse menyadarinya. Namun ia tidak berkomentar apa pun.Ia mengamati, seperti sese







