INICIAR SESIÓNSaat Eliana masih kalut dalam pikirannya, wanita itu tampak termenung di dalam ruang tamu kediamannya malam ini. Eliana berusaha menyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar akan bercerai dari Vier dan besok ia akan mengajukan gugatan cerai untuk suaminya itu. Tok... Tok... Tok...Suara ketukan pintu di depan membuyarkan lamunan Eliana. Wanita itu menoleh ke cepat dan langsung beranjak dari duduknya. "Siapa? Apakah Edward?" tanyanya pada diri sendiri. Sebelum membuka pintu, wanita itu mengintip lebih dulu untuk memastikan siapa yang berada di depan rumahnya. Ternyata dugaannya benar. Edward lah yang berdiri di depan pintu rumah Eliana. Perlahan Eliana menarik gagang pintu rumahnya hingga ia menatap sendu wajah tampan pria muda itu. "Malam," sapa Edward dengan manis. "Mengapa wajahmu murung seperti ini, hem?" "Tidak apa-apa," jawab Eliana. Edward mengulurkan tangannya menyentuh pucuk kepala Eliana dan mengelusnya dengan lembut. Hingga Eliana langsung mengulurkan kedua tangannya d
Saat Eliana kembali dari menjenguk Lea, ia tidak mampir ke mana-mana. Libur satu hari ini, Eliana ingin istirahat di rumah dan menenangkan pikirannya.Begitu Eliana sampai di depan rumahnya, wanita itu terkejut saat melihat Vier berada di teras rumah Eliana. Pria dengan wajah lesu dan kuyu itu seperti sedang menghadapi masalah yang begitu besar. Jelas terasa kekalutan yang Vier rasakan saat ini tergambar dari raut wajahnya. "Eliana...." Vier melebarkan matanya saat melihat Eliana menatapnya di depan sana. Eliana mengepalkan jemari tangannya begitu Vier berjalan mendekat. Eliana langsung mengalihkan wajahnya dari pria itu. "Eliana, tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara denganmu," pinta Vier, suaranya sangat melas. "Oke! Aku sadar kalau aku salah selama ini. Tapi, Sayang ... aku mohon, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan." "Apa lagi yang perlu kau jelaskan, Vier?" Eliana membalas dengan nada dingin. "Semuanya sudah sangat jelas. Kau selalu menjadikan kebaikanmu padaku
Keesokan paginya. Eliana mengambil satu hari untuk cuti. Ia datang ke panti rehabilitasi sosial untuk menjenguk Lea, setelah cukup lama ia tidak menjenguk adik perempuannya tersebut. Begitu sampai di ruangan Lea, kedatangan Eliana membuat Lea langsung tersenyum lebar dan berhambur memeluknya dengan erat.Dan baru momen seperti inilah yang membuat Eliana bisa tersenyum. "Kakak, Lea kangen sekali dengan Kakak. Kenapa Kakak jarang ke sini?" Lea lompat-lompat kecil sambil memeluk Eliana. Eliana tersenyum manis, mengusap punggung Lea dengan lembut. "Kakak sangat sibuk, Sayang. Maaf ya, kalau Kakak tidak pernah ada waktu buat Lea," ucap Eliana dengan suara yang lembut dan sabar. "Hemm... Kakak pasti sibuk dengan suami Kakak, ya?!" Wajah Lea langsung berubah kesal dalam hitungan detik. Gadis itu berjalan dengan langkah menghentak-hentak menuju ranjang dan duduk di sana seperti anak kecil yang sedang merajuk. Seperti itulah mental Lea yang sesungguhnya yang tidak pernah bisa Eliana ab
"Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada yang terluka?" Edward mengecek tangan, lengan, dan pipi Eliana. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan mendongak menatap wajah Edward dalam-dalam. Tatapan mata Eliana yang dalam dan jelas terlihat rasa ketakutan pada wanita itu. Edward langsung menarik Eliana ke dalam pelukan eratnya. "Mengapa kau melakukan hal itu, Edward? Bagaimana kalau dia berpikir yang tidak-tidak tentang kita?" tanya Eliana meremas punggung Edward dengan kuat. "Aku tidak peduli," jawab pria itu dengan sungguh-sungguh. Eliana menangis sedih membenamkan wajahnya dalam dekapan Edward. "Bagaimana kau membiarkan pria itu terus berkeliaran dalam hidupmu, Eli?" bisik Edward dengan suaranya yang dalam. Eliana menggelengkan kepalanya cepat. Jemarinya terasa kuat dan erat memeluk punggung Edward dan isak tangisnya yang begitu dalam. "Aku sudah tidak kuat dengannya," ucap Eliana. "Aku ingin berpisah dengannya, Edward. Aku tidak lagi mencintainya, ataupun merasa berat tanpanya. Su
"Akhirnya kita bisa bertemu langsung," ucap Vier dengan mata yang sedikit melebar dan tersenyum seperti orang linglung. Eliana menatapnya kesal, bahkan bibirnya menipis hanya dengan mendengar ucapan pria yang masih berstatus suaminya itu. "Eliana Sayang...." Vier hendak meraih tangan Eliana, tapi wanita itu menarik tangannya lebih dulu. "Jangan menyentuhku, Vier," desis Eliana melarang tegas. "Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotormu itu." Air muka pria itu berubah sedih. Dia tertunduk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bila saja ada orang yang melintas di sekitar sana, pastilah orang-orang itu mengira bahwa Eliana lah yang jahat di sini. Vier menatapnya dengan sepasang mata berkaca-kaca saat ini. "Aku tahu kau sangat marah padaku. Aku bahkan sadar bahwa kesalahanku padamu sangat menyakiti hatimu, Eliana ... tapi kumohon maafkan aku. Berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki pernikahan kita," pinta Vier. Dia sampai menekuk lututnya di hadapan Elia
Pukul delapan malam, Eliana baru keluar dari dalam toko bunga. Pekerjaannya hari ini memang tak seberat pekerjaannya di hari-hari yang lalu. Tetapi pikiran Eliana hari ini justru terasa lebih kalut. Wanita itu berjalan menuruni tiga undakan tangga di depan pintu toko dan berjalan tertunduk lesu sambil membawa tasnya. "Hei ... kenapa lesu seperti itu?" Suara bariton dingin dan halus itu mengejutkan Eliana. Wanita itu pun membalikkan badannya dan terkejut saat mendapati Edward berdiri di belakang sana. Eliana tidak salah lihat, tapi ia benar-benar tidak tahu. Sejak kapan Edward di sana menunggunya. "Ka-kau...." Eliana mengerjapkan sepasang matanya. Sebisa mungkin Eliana menghindari tatapan mata Edward saat ini. Tapi rupanya, Edward tetap tidak bisa Eliana kelabuhi. Pria itu mencekal pelan pundak kiri Eliana dan menundukkan kepalanya menatapnya dengan tatapan serius penuh tanya. "Kenapa?" tanya Edward pelan. "Kenapa kau murung, hm? Apa ada masalah di tempat kerjamu barusan?" "Ti







