LOGIN
"Kamu sepertinya menikmati sekali mandi keringat begitu, Rus."
Suara itu terdengar lembut, namun dampaknya seketika membuat tubuh Rusdi membeku. Gunting rumput di tangannya berhenti di udara. Lantas, saat ia berbalik badan, napasnya langsung tercekat karena melihat siapa yang berdiri di sana.
Ternyata itu Nyonya Vivian.
Akan tetapi, penampilannya hari ini sungguh berbeda. Tidak ada pakaian kantor yang kaku atau gaun pesta mewah seperti biasanya.
Kali ini, hanya sehelai lingerie sutra merah menyala yang membungkus tubuhnya. Kain itu begitu tipis dan licin, jatuh pas mengikuti lekuk pinggang serta pinggulnya.
Apalagi ketika angin siang menyingkap sedikit ujung gaun itu, paha putih mulusnya terpampang nyata.
Pemandangan itu sangat kontras dengan tangan Rusdi yang kotor dan kasar akibat tanah kebun.
Rusdi merasa darahnya langsung naik ke wajah, lalu turun ke bawah perut dalam satu tarikan panas yang menyakitkan. Ia buru-buru menunduk, mencoba menghindari pemandangan itu, tapi sudah terlambat.
Bayangan tubuh Nyonya Vivian sudah muncul di matanya, lekuk pinggul yang menggoda, dada yang naik-turun pelan mengikuti napasnya, dan bibir merah yang sedikit terbuka seolah menanti sesuatu.
Pria normal jelas akan terbuai dengan kemolekan tubuh Vivian. Tak terkecuali Rusdi!
“Nyo—Nyonya?” suaranya serak, hampir pecah. Ia tahu diri, siapa dirinya saat ini.
"Kenapa menunduk?" Vivian terkekeh pelan seraya melangkah maju tanpa alas kaki. "Saya justru suka pemandangannya."
Sekarang jarak mereka hanya beberapa senti. Rusdi bisa melihat renda tipis lingerie itu dari dekat, bisa merasakan panas tubuhnya.
Vivian mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh dada Rusdi, tapi berhenti tepat sebelum bersentuhan.
Seketika itu juga, wangi parfum mahal menyerbu hidung Rusdi, mengalahkan bau tanah maupun sengatan matahari.
Rusdi menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi tanpa izin. Di bawah sana ada sesuatu yang mengeras di antara pahanya yang ia coba abaikan dengan sekuat tenaga.
Ini Nyonya Vivian, majikannya. Wanita yang selama dua tahun ini ia panggil “Nyonya” dengan hormat, yang selalu berdiri jauh di balik tembok es sikapnya yang dingin.
Para pekerja menyebutnya “Putri Salju” karena kulitnya yang pucat dan tatapannya yang tak pernah benar-benar melihat mereka.
Namun siang ini, tembok es itu seakan runtuh sepenuhnya.
"Gerah sekali ya ..." bisik Vivian.
Rusdi merasakan telunjuk Nyonya Vivian yang lentik menyentuh lengan. Sentuhan itu ringan, tapi langsung membuat otot lengannya mengeras.
Kulit Nyonya Vivian dingin dan halus, sangat kontras dengan lengan Rusdi yang kasar dan panas oleh matahari siang.
“I-iya, Nyonya. Panas,” jawab Rusdi. Suaranya parau, tenggorokannya mendadak kering.
Vivian tersenyum kecil, matanya menyipit sedikit. Ia menarik jarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kontak itu.
Rusdi tak bisa menahan diri, pandangannya jatuh ke lingerie sutra merah yang menempel ketat di tubuh Nyonya Vivian.
Kain tipis itu mengikuti lekuk pinggang ramping dan pinggul lebar. Belahan dada dalam terlihat jelas saat ia condong sedikit ke depan.
Vivian tersenyum nakal, lalu menarik jarinya perlahan seolah enggan melepaskan kontak fisik itu.
Jantung Rusdi berdegup kencang, terasa sampai di telinga. Panas naik cepat dari dada ke bawah perut. Celana jeans terasa semakin sesak. Ia buru-buru menunduk, tapi gambar lekuk tubuh itu sudah terpaku di kepalanya.
“Apa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Nyonya?” tanya Rusdi, suaranya masih serak.
Ia mencoba mengalihkan pikiran ke Tuan Adrian, suami Nyonya Vivian yang selalu sibuk, sering pergi ke luar kota atau luar negeri, meninggalkan rumah besar ini sepi.
“Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Rus,” jawab Nyonya Vivian dengan nada rendah dan tenang.
Nyonya Vivian melangkah setengah langkah lebih dekat. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung Rusdi, manis dan kuat, menutupi bau tanah dan keringat di tubuhnya sendiri.
“Oh iya, di kamar saya AC-nya dingin, Rus. Tapi rasanya sepi,” bisiknya lagi, suara penuh undangan. “Saya butuh laki-laki kuat untuk pijat kaki saya. Bukan laki-laki yang sibuk rapat terus. Kamu mau temani saya?”
Jantung Rusdi berdegup gila-gilaan. Walaupun logikanya berteriak bahaya karena takut dipecat jika tidak menuruti majikannya, tapi sebagai pria normal tubuhnya bereaksi lain. Godaan wanita yang biasanya angkuh ini terlalu sulit untuk ditolak.
Vivian tidak menunggu jawaban. Ia lantas berbalik dan membiarkan pinggulnya bergoyang lembut di balik sutra merah itu saat berjalan masuk.
"Jangan kelamaan mikir. Pintunya nggak saya kunci," serunya tanpa menoleh.
Rusdi menatap punggung itu menghilang di balik pintu kaca.
Akhirnya, persetan dengan logika. Ia meletakkan guntingnya di rumput, kemudian melangkah cepat menyusul majikannya. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap kulitnya yang basah.
Ketika sampai di dalam kamar utama, lampu temaram menciptakan suasana intim. Vivian sudah duduk di tepi ranjang besar dengan kaki disilangkan anggun sehingga gaunnya tersingkap tinggi.
"Masuk, Rus," perintahnya pelan saat melihat Rusdi di ambang pintu. "Dan kunci pintunya, karena saya nggak mau diganggu."
Rusdi menelan ludah sambil memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.
Klik.
Suara itu terdengar sangat keras di telinganya.
Ia berbalik, tetapi langkahnya terhenti sebab ia sadar kondisinya saat melihat cermin besar di sudut kamar. Celana jeans penuh debu tanah, tangan kasar berlumur kotoran.
Di tepi ranjang, Vivian duduk. Ia menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya semakin terlihat. Bahkan, renda dari celana dalamnya sudah mengintip keluar.
Itu jelas membuat Rusdi semakin bergetar. Kapan lagi ia bisa melihat Nyonya-nya dengan pemandangan seperti ini?!
"Maaf, Nyonya," ucap Rusdi ragu sambil mencoba memalingkan wajahnya. "Saya ... saya kotor dan banyak keringat. Nanti seprai Nyonya kotor."
Mendengar itu, Vivian tertawa kecil dengan suara serak yang menggoda. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
Wangi tubuh Vivian bercampur dengan aroma keringat Rusdi, menciptakan sensasi yang memabukkan.
"Siapa bilang kamu harus naik ke kasur sekarang?" bisiknya tepat di depan wajah Rusdi seraya mendongak, menatap matanya dengan lapar.
Vivian meletakkan tangannya di dada Rusdi yang bidang. "Lagi pula, saya bosan dengan segala sesuatu yang terlalu bersih dan rapi seperti suami saya. Saya suka kalau kamu kotor begini. Terlihat lebih... jantan."
Vivian tidak mengubah posisi duduknya. Kakinya yang ramping tetap menyilang dengan anggun. Jari lentiknya yang berkuku merah perlahan mengetuk meja kaca di depannya. Sebuah senyum tipis dan dingin akhirnya muncul di bibir Vivian. Senyum itu tidak sampai ke matanya, tapi justru membuat wajahnya terlihat semakin menggoda dan mematikan. "Membesarkan?" ulang Vivian pelan. "Maksud Paman membesarkan rekening pribadi Paman dengan menggelapkan dana proyek selama tiga tahun berturut-turut?" Anton maju setelah mendapat isyarat dari mata Reynard. Dia meletakkan sebuah tumpukan map merah di depan Pak Broto. Itu adalah semua bukti aliran dana gelap yang sudah diselidiki tim keamanan Aryasatya. Melihat tumpukan map itu, tubuh Pak Broto langsung lemas. Dia jatuh terduduk di kursinya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di dahinya. Reynard berdiri diam di belakang kursi Vivian. Matanya menatap puas ke arah istrinya. Garis leher Vivian yang terekspos dari potongan kerah blazernya t
Pintu tertutup rapat setelah Anton dan Felicia keluar. Reynard menyandarkan tubuh besarnya ke kursi. Matanya langsung terkunci pada Vivian yang duduk di seberang meja.Wanita itu sedang serius membaca lembaran profil di dalam map. Blus sutra berwarna krem yang dia pakai melekat pas di tubuhnya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan kulit leher dan tulang selangkanya yang seputih susu. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggul hingga pahanya. Kakinya menyilang santai di bawah meja, memperlihatkan betisnya yang mulus.Reynard menelan ludah pelan. Ingatannya mundur ke masa lalu.Dulu, saat Reynard masih menyamar menjadi Rusdi si tukang kebun, dia sering mencuri pandang saat Vivian duduk sendirian di teras belakang rumah. Wajah Vivian saat itu selalu dingin, datar, dan tak tersentuh. Namun justru sikap dinginnya itulah yang membuat aura Vivian sangat menggoda. Sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang jarang tersenyum selalu sukses membuat darah Reynard berdesir pan
Beberapa hari kemudian...Pagi itu di penthouse, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Vivian sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan terusan berwarna nude berbahan brokat yang elegan tapi tidak terlalu mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi.Reynard masuk ke kamar setelah selesai berganti pakaian di ruangan sebelah. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu berdiri di belakang Vivian dan menatap pantulan istrinya di cermin."Sudah siap?" tanya Reynard.Vivian mengangguk. "Sudah. Apa menurutmu ini terlalu sederhana?""Tidak. Ibu justru lebih suka kalau kau tampil apa adanya. Beliau tidak suka sesuatu yang berlebihan," jawab Reynard sambil memegang bahu Vivian."Aku hanya merasa sedikit gugup. Aku takut mengecewakan ibumu," kata Vivian jujur.Reynard membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. "Tidak perlu gugup. Ibu sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat mu. Sekarang, ayo berangkat. Sopir sudah menunggu di bawah.
Dentingan lift pribadi itu terdengar pelan saat pintu terbuka. Vivian melangkah keluar dengan santai. Karena ini adalah malam keduanya di penthouse, dia tidak lagi melayangkan pandangan kagum pada langit-langit tinggi atau pilar marmer yang megah. Dia berjalan langsung menuju meja konsol eboni, meletakkan tas tangannya yang mungil di sana dengan gerakan yang sangat terbiasa.Gaun merah hati berbahan satin yang ia kenakan tampak mengikuti setiap gerak tubuhnya dengan sempurna. Saat ia berjalan, cahaya lampu kristal memantul di permukaan kain yang mengilap, menciptakan gradasi warna merah yang elegan. Potongan gaun itu benar-benar menonjolkan kulit bahunya yang seputih porselen.Reynard berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jam tangan dan melonggarkan dasinya. Ia memperhatikan bagaimana Vivian merapikan rambut hitamnya di depan cermin besar."Aku sudah meminta koki untuk menyiapkan semuanya di dapur sebelum kita sampai," kata Reynard. Suaranya berat, menggema
"Katakan pada wanita ini, siapa aku," perintah Reynard dingin.Manajer itu menatap Adisty dengan bingung. "Beliau adalah Tuan Muda Reynard, pemilik dari Grup Aryasatya. Mal ini, butik ini, dan hampir sebagian besar gedung di kota ini adalah miliknya."Wajah Adisty seketika berubah menjadi sangat pucat. Dia menatap Reynard dengan tidak percaya. "Pemilik Grup Aryasatya? Tapi... tapi..."Reynard melangkah maju satu langkah, membuat Adisty mundur ketakutan. "Kau bilang Vivian tidak pantas memakai berlian? Kau bilang suamimu, eh maksudku, kakakmu yang dipenjara itu lebih baik dariku?""Sa... saya tidak bermaksud begitu, Tuan," gagap Adisty."Kau juga menghina Rusdi," lanjut Reynard dengan nada yang sangat rendah. "Kau tidak tahu kalau Rusdi dan aku adalah orang yang sama? Aku hanya sedang ingin melihat seberapa busuk hati keluarga kalian."Adisty seolah tersambar petir. Dia hampir saja jatuh pingsan. Pria miskin yang dulu selalu dia injak-injak dan dia hina ternyata adalah salah satu orang
Reynard melangkah masuk ke dalam butik perhiasan dengan sorot mata yang tajam. Di belakangnya, Anton mengikuti dengan langkah yang tertata. Kehadiran Reynard membuat seluruh pelayan di toko itu seketika menunduk hormat.Pandangan Reynard langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi beludru. Vivian. Dia mengenakan gaun merah hati yang sangat pas di tubuhnya. Potongan gaun itu memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah gaun tersebut.Namun, wajah Vivian terlihat gelisah. Dia memegang sebuah kotak perhiasan dengan tangan yang sedikit gemetar."Kenapa belum dibayar?" tanya Reynard. Suaranya berat dan memenuhi ruangan yang sunyi itu.Vivian tersentak. Dia menoleh dan melihat Reynard berdiri di sana dengan aura yang sangat kuat. "Reynard? Kamu sudah selesai rapatnya?"Reynard tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Vivian. Dia mengambil kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung
Mulut Rusdi bekerja dengan sangat lahap tanpa keraguan sedikit pun. Bibirnya yang tebal menyedot ujung dada Vivian dengan bunyi basah yang terdengar cukup keras di dalam kamar yang sunyi itu. Lidahnya yang lebar dan kasar membelit bagian merah muda yang sudah mengeras itu. Dia memilinnya tanpa ampu
Matahari semakin tinggi dan sinarnya mulai terasa menyengat di kulit. Suara deru mesin mobil mewah Tuan Adrian yang perlahan menjauh dari gerbang depan menjadi tanda bahwa pemilik rumah tersebut sudah berangkat ke kantor.Rusdi menghela napas panjang sambil menyeka keringat di lehernya dengan handu
Perlahan Rusdi melepaskan pelukannya dari tubuh Hana, meskipun sebenarnya dia masih betah berlama-lama menempel pada kehangatan gadis itu. Tapi akal sehatnya mengingatkan kalau dia punya satu tugas penting yang harus diselesaikan demi menutupi kebohongannya pada Nyonya Vivian."Han," ucap Rusdi sam
Rusdi membereskan kotak perkakasnya dengan santai. Misi pura-pura memperbaiki pipanya sudah selesai. Walaupun tadi ada kejadian baju Hana basah kuyup, setidaknya alasan Rusdi ke Nyonya Vivian jadi masuk akal.Setelah memastikan keran tertutup rapat dan area itu bersih, Rusdi berjalan menuju bale-ba







