共有

Nyonya Puas Abang Lemas
Nyonya Puas Abang Lemas
作者: Arandiah

1. Godaan

作者: Arandiah
last update 最終更新日: 2025-12-15 10:52:36

"Kamu sepertinya menikmati sekali mandi keringat begitu, Rus."

Suara itu terdengar lembut, namun dampaknya seketika membuat tubuh Rusdi membeku. Gunting rumput di tangannya berhenti di udara. Lantas, saat ia berbalik badan, napasnya langsung tercekat karena melihat siapa yang berdiri di sana.

Ternyata itu Nyonya Vivian.

Akan tetapi, penampilannya hari ini sungguh berbeda. Tidak ada pakaian kantor yang kaku atau gaun pesta mewah seperti biasanya.

Kali ini, hanya sehelai lingerie sutra merah menyala yang membungkus tubuhnya. Kain itu begitu tipis dan licin, jatuh pas mengikuti lekuk pinggang serta pinggulnya.

Apalagi ketika angin siang menyingkap sedikit ujung gaun itu, paha putih mulusnya terpampang nyata.

Pemandangan itu sangat kontras dengan tangan Rusdi yang kotor dan kasar akibat tanah kebun.

Rusdi merasa darahnya langsung naik ke wajah, lalu turun ke bawah perut dalam satu tarikan panas yang menyakitkan. Ia buru-buru menunduk, mencoba menghindari pemandangan itu, tapi sudah terlambat.

Bayangan tubuh Nyonya Vivian sudah muncul di matanya, lekuk pinggul yang menggoda, dada yang naik-turun pelan mengikuti napasnya, dan bibir merah yang sedikit terbuka seolah menanti sesuatu.

Pria normal jelas akan terbuai dengan kemolekan tubuh Vivian. Tak terkecuali Rusdi!

“Nyo—Nyonya?” suaranya serak, hampir pecah. Ia tahu diri, siapa dirinya saat ini.

"Kenapa menunduk?" Vivian terkekeh pelan seraya melangkah maju tanpa alas kaki. "Saya justru suka pemandangannya."

Sekarang jarak mereka hanya beberapa senti. Rusdi bisa melihat renda tipis lingerie itu dari dekat, bisa merasakan panas tubuhnya.

Vivian mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh dada Rusdi, tapi berhenti tepat sebelum bersentuhan.

Seketika itu juga, wangi parfum mahal menyerbu hidung Rusdi, mengalahkan bau tanah maupun sengatan matahari.

Rusdi menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi tanpa izin. Di bawah sana ada sesuatu yang mengeras di antara pahanya yang ia coba abaikan dengan sekuat tenaga.

Ini Nyonya Vivian, majikannya. Wanita yang selama dua tahun ini ia panggil “Nyonya” dengan hormat, yang selalu berdiri jauh di balik tembok es sikapnya yang dingin.

Para pekerja menyebutnya “Putri Salju” karena kulitnya yang pucat dan tatapannya yang tak pernah benar-benar melihat mereka.

Namun siang ini, tembok es itu seakan runtuh sepenuhnya.

"Gerah sekali ya ..." bisik Vivian.

Rusdi merasakan telunjuk Nyonya Vivian yang lentik menyentuh lengan. Sentuhan itu ringan, tapi langsung membuat otot lengannya mengeras.

Kulit Nyonya Vivian dingin dan halus, sangat kontras dengan lengan Rusdi yang kasar dan panas oleh matahari siang.

“I-iya, Nyonya. Panas,” jawab Rusdi. Suaranya parau, tenggorokannya mendadak kering.

Vivian tersenyum kecil, matanya menyipit sedikit. Ia menarik jarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kontak itu.

Rusdi tak bisa menahan diri, pandangannya jatuh ke lingerie sutra merah yang menempel ketat di tubuh Nyonya Vivian.

Kain tipis itu mengikuti lekuk pinggang ramping dan pinggul lebar. Belahan dada dalam terlihat jelas saat ia condong sedikit ke depan.

Vivian tersenyum nakal, lalu menarik jarinya perlahan seolah enggan melepaskan kontak fisik itu.

Jantung Rusdi berdegup kencang, terasa sampai di telinga. Panas naik cepat dari dada ke bawah perut. Celana jeans terasa semakin sesak. Ia buru-buru menunduk, tapi gambar lekuk tubuh itu sudah terpaku di kepalanya.

“Apa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Nyonya?” tanya Rusdi, suaranya masih serak.

Ia mencoba mengalihkan pikiran ke Tuan Adrian, suami Nyonya Vivian yang selalu sibuk, sering pergi ke luar kota atau luar negeri, meninggalkan rumah besar ini sepi.

“Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Rus,” jawab Nyonya Vivian dengan nada rendah dan tenang.

Nyonya Vivian melangkah setengah langkah lebih dekat. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung Rusdi, manis dan kuat, menutupi bau tanah dan keringat di tubuhnya sendiri.

“Oh iya, di kamar saya AC-nya dingin, Rus. Tapi rasanya sepi,” bisiknya lagi, suara penuh undangan. “Saya butuh laki-laki kuat untuk pijat kaki saya. Bukan laki-laki yang sibuk rapat terus. Kamu mau temani saya?”

Jantung Rusdi berdegup gila-gilaan. Walaupun logikanya berteriak bahaya karena takut dipecat jika tidak menuruti majikannya, tapi sebagai pria normal tubuhnya bereaksi lain. Godaan wanita yang biasanya angkuh ini terlalu sulit untuk ditolak.

Vivian tidak menunggu jawaban. Ia lantas berbalik dan membiarkan pinggulnya bergoyang lembut di balik sutra merah itu saat berjalan masuk.

"Jangan kelamaan mikir. Pintunya nggak saya kunci," serunya tanpa menoleh.

Rusdi menatap punggung itu menghilang di balik pintu kaca.

Akhirnya, persetan dengan logika. Ia meletakkan guntingnya di rumput, kemudian melangkah cepat menyusul majikannya. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap kulitnya yang basah.

Ketika sampai di dalam kamar utama, lampu temaram menciptakan suasana intim. Vivian sudah duduk di tepi ranjang besar dengan kaki disilangkan anggun sehingga gaunnya tersingkap tinggi.

"Masuk, Rus," perintahnya pelan saat melihat Rusdi di ambang pintu. "Dan kunci pintunya, karena saya nggak mau diganggu."

Rusdi menelan ludah sambil memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.

Klik.

Suara itu terdengar sangat keras di telinganya.

Ia berbalik, tetapi langkahnya terhenti sebab ia sadar kondisinya saat melihat cermin besar di sudut kamar. Celana jeans penuh debu tanah, tangan kasar berlumur kotoran.

Di tepi ranjang, Vivian duduk. Ia menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya semakin terlihat. Bahkan, renda dari celana dalamnya sudah mengintip keluar.

Itu jelas membuat Rusdi semakin bergetar. Kapan lagi ia bisa melihat Nyonya-nya dengan pemandangan seperti ini?!

"Maaf, Nyonya," ucap Rusdi ragu sambil mencoba memalingkan wajahnya. "Saya ... saya kotor dan banyak keringat. Nanti seprai Nyonya kotor."

Mendengar itu, Vivian tertawa kecil dengan suara serak yang menggoda. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.

Wangi tubuh Vivian bercampur dengan aroma keringat Rusdi, menciptakan sensasi yang memabukkan.

"Siapa bilang kamu harus naik ke kasur sekarang?" bisiknya tepat di depan wajah Rusdi seraya mendongak, menatap matanya dengan lapar.

Vivian meletakkan tangannya di dada Rusdi yang bidang. "Lagi pula, saya bosan dengan segala sesuatu yang terlalu bersih dan rapi seperti suami saya. Saya suka kalau kamu kotor begini. Terlihat lebih... jantan."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 105

    Rusdi duduk di sofa kecil di pojok kamar, matanya tak lepas memandangi Nyonya Vivian yang tertidur pulas di ranjang. Cahaya matahari siang yang terik menembus tipis-tipis lewat celah gorden tebal, membuat suasana kamar jadi remang-remang sejuk.Di balik selimut, Vivian masih memakai kemeja flanel kotak-kotak milik Rusdi. Rusdi tersenyum tipis melihatnya. Rasanya aneh tapi bangga, kemeja kerjanya yang bau keringat itu dipakai membalut tubuh nyonya rumah yang wangi dan mulus.Tapi ketenangan itu pecah berantakan.Dari arah halaman depan, terdengar suara deru mesin mobil yang halus masuk ke garasi. Rusdi langsung tegak. Telinganya hafal betul suara itu. Itu suara sedan mewah Tuan Adrian.Rusdi melirik jam dinding. Baru jam dua siang.'Mampus,' batin Rusdi panik. 'Katanya meeting sampai sore, kok jam segini sudah pulang?'Suara pintu mobil dibanting terdengar keras. Rusdi langsung loncat ke tepi ranjang dan mengguncang bahu Vivian."Nyonya! Nyonya, bangun!" bisik Rusdi panik.Vivian melen

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 104

    Rusdi duduk di sofa kecil yang ada di pojok kamar, tidak jauh dari ranjang besar tempat Vivian berbaring. Suasana kamar itu sunyi, cuma terdengar suara dengungan halus AC yang menghembuskan udara dingin.Rusdi diam memandangi majikannya dari jauh.Di balik selimut tebal itu, lekuk tubuh Nyonya Vivian masih terlihat samar-samar. Gundukan di bagian dada dan pinggulnya yang besar tercetak jelas di balik kain selimut. Wajah cantiknya terlihat tenang tapi matanya masih terbuka menatap langit-langit kamar. Kemeja kotak-kotak lusuh milik Rusdi masih dia pakai, kerahnya menyembul sedikit dari balik selimut. Warna kemeja yang kusam itu kelihatan beda banget kalau disandingkan dengan kulit leher Nyonya Vivian yang putih mulus dan bersih.'Cantik banget,' batin Rusdi. Dia merasa aneh sendiri. Wanita seindah ini tidur di depannya, memakai baju kerjanya yang bau apek, dan minta dijaga olehnya."Rus..." panggil Vivian pelan, memecah kesunyian."Dalem, Nya? Nyonya butuh sesuatu?" Rusdi langsung mene

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 103

    "Nyonya, kita masuk ke kamar saja yuk," ajak Rusdi dengan nada khawatir. Dia melihat wajah Vivian yang tadinya merah karena menangis sekarang malah jadi pucat. "Matahari makin terik di sini. Nanti Nyonya malah pingsan kalau kelamaan di luar."Vivian mengangguk lemah sambil memijat pelipisnya. "Iya, Rus. Kepala saya muter rasanya."Vivian mencoba berdiri dari kursi santai itu. Namun baru saja dia menegakkan badan, lututnya goyah. Tubuhnya yang padat dan berisi itu limbung ke samping seolah tidak ada tenaganya."Eh, awas Nya!"Rusdi dengan sigap menangkap pinggang Vivian sebelum wanita itu jatuh ke lantai kayu. Lengan Rusdi yang kekar langsung menahan bobot tubuh Vivian yang berat dan mantap.Rusdi bisa merasakan betapa halusnya kulit pinggang Vivian di balik kemeja flanelnya yang kebesaran itu. Tubuh Nyonya Vivian ini memang beda. Beratnya pas, dagingnya padat, dan terasa 'penuh' saat dipeluk. Bukan berat lemak gelambir, tapi berat wanita yang sehat dan terawat."Maaf Rus... Kaki saya

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 102

    Vivian masih menempelkan keningnya di kening Rusdi. Napas hangat wanita itu menerpa wajah Rusdi dan membawa aroma wangi yang bercampur dengan bau asin air mata.Tiba-tiba angin siang yang cukup kencang berhembus di area kolam renang.Tubuh Nyonya Vivian yang setengah telanjang itu menggigil sedikit karena kena angin. Rusdi sadar kalau majikannya ini sedang rapuh sekali. Hatinya hancur dan badannya terbuka begitu saja di udara terbuka. Rasa kasihan Rusdi muncul dan mengalahkan pikiran kotornya. Naluri laki-lakinya ingin melindungi wanita ini.Rusdi memundurkan wajahnya sedikit lalu melepas kemeja kotak-kotak lusuh yang dia pakai sebagai luaran. Kemeja itu warnanya sudah pudar dan baunya agak apek karena keringat kerja.Dengan gerakan canggung tapi lembut, Rusdi menyampirkan kemeja itu ke bahu Vivian untuk menutupi punggung dan dada montoknya yang sedari tadi terbuka."Tutup dulu badannya, Nya," kata Rusdi pelan sambil merapatkan kerah kemeja itu di dada Vivian. "Anginnya makin kencang.

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 101

    Rusdi menutup pintu kamar Adisty pelan-pelan. Dia menghela napas panjang sambil menyeka keringat di dahinya. Urusan dengan adik Tuan Adrian yang satu itu memang selalu bikin pusing kepala. Rusdi berusaha masa bodoh, yang penting dia sudah menuruti perintah dan aman dari omelan.Rusdi melangkah santai menuju area samping rumah. Niat awalnya mau mengambil selang air untuk menyiram taman, tapi langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di tepi kolam renang.Di atas kursi santai yang empuk, Nyonya Vivian sedang berbaring telungkup.Rusdi menelan ludah. Pemandangan ini adalah favoritnya. Kalau Non Adisty badannya kencang dan atletis karena rajin olahraga, Nyonya Vivian ini beda. Dia benar-benar matang. Tubuhnya padat, berisi, dan montok di semua bagian yang tepat.Saat ini Nyonya Vivian cuma pakai bikini warna hitam yang kainnya irit sekali. Bagian punggungnya terekspos penuh ke arah matahari karena tali bikininya sudah dilepas. Kulitnya yang kuning langsat terlihat sangat

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 100

    "Kancingnya! Buka kancing celana saya!" bentak Adisty tidak sabar. "Tangan saya lemas! Kamu yang buka! Cepat!"Rusdi mengangguk. Tangannya yang gemetar antusias bergerak ke kancing besi celana jins Adisty. Celana itu ketat sekali, kancingnya menegang menahan perut rata dan pinggul Adisty.Dengan sedikit usaha, Rusdi menarik kancing itu.Pop!Kancing terlepas. Resleting celana itu perlahan turun sedikit karena desakan dari dalam. Adisty langsung mengangkat pinggulnya sedikit dari sofa, memberi akses lebih luas."Masukin..." bisik Adisty. "Sentuh langsung. Saya mau rasakan tangan kasarmu di dalam."Rusdi menyelipkan tangannya yang besar masuk ke balik celana jins yang sudah terbuka itu. Begitu melewati kain kasar dan celana dalam tipis berbahan renda yang sudah basah kuyup, tangan Rusdi langsung disambut kehangatan yang luar biasa."Anget banget, Non," gumam Rusdi jujur.Jari tengah Rusdi yang kasar langsung menemukan targetnya. Dia menekan tepat di klitoris Adisty yang sudah membengkak

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status