Share

2. Pijat++

Author: Arandiah
last update publish date: 2025-12-15 10:53:07

Rusdi menelan ludah saat aroma tubuh Vivian bercampur dengan dinginnya AC menyusup ke hidungnya.

Vivian kembali duduk di tepi ranjang, lalu menepuk karpet bulu di depan kakinya.

“Duduklah di bawah sini,” katanya sambil menunjuk lantai. “Ingat, kamu di sini untuk memijat kaki saya, kan?”

Rusdi mengangguk pelan. Ia menekuk lutut, duduk bersimpuh di karpet tepat di hadapan kaki jenjang Vivian. Posisi ini memaksanya mendongak untuk melihat wajah majikannya.

Vivian menyodorkan kaki kanannya ke pangkuan Rusdi. Telapak kakinya halus dan dingin menyentuh paha Rusdi yang terbalut celana jeans kasar.

“Mulailah dari betis, Rus,” perintah Vivian sambil memejamkan mata. “Otot kaki saya tegang seharian ini.”

Rusdi meletakkan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat di betis Vivian yang mulus. Kontras antara kulit kasar tangannya dan kulit halus Vivian terasa sangat jelas.

Ia mulai memijat dengan tekanan pelan. Tubuh Vivian tersentak ringan, lalu mendesah pelan.

“Mmm… ya, di situ,” desahnya. “Tekanannya pas. Tangan kamu memang kuat, Rus.”

Rusdi merasakan darahnya berdesir. Gerakan tangannya mulai naik perlahan dari betis ke lutut. Matanya tak lepas dari wajah Vivian yang tampak hanyut.

Lembutnya kulit Vivian, ditambah dengan suara desah kecil itu membuat Rusdi semakin sulit menahan diri.

Tangan Rusdi berhenti sejenak di tempurung lutut. Ada keraguan di matanya sebab area di atas lutut itu adalah wilayah terlarang yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan untuk disentuh.

Namun, desahan napas Vivian yang terdengar semakin berat seolah menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa-sisa akal sehatnya.

“Kenapa berhenti, Rus?” tanya Vivian dengan suara serak, mata masih terpejam. “Pegal di kaki saya bukan cuma di betis. Bagian atasnya… lebih butuh perhatianmu.”

Rusdi menelan ludah lagi. Jantungnya berdegup kencang. “T–tapi, Nyonya …”

“Kamu keberatan, Rus?” tanya Vivian dengan nada lebih tegas, tatapannya mengunci ke arah Rusdi, sementara kakinya mulai ia tarik perlahan. Tapi, itu justru membuat pangkal pahanya semakin terlihat.

Khawatir membuat majikannya marah, akhirnya Rusdi menjawab, “T–tidak, Nyonya.”

Rusdi memberanikan diri untuk menggerakkan tangan naik melewati lutut, mendarat di paha Vivian yang hangat dan lunak.

Kulit paha itu terasa jauh lebih halus, lembut sekali di bawah jemari kasarnya. Rusdi memijat dengan gerakan memutar ibu jari, tekanan tegas tapi hati-hati.

Vivian mendongakkan kepala ke belakang. Leher jenjangnya terekspos jelas di bawah lampu redup. Bibirnya terbuka sedikit, melepaskan erangan tertahan saat tangan Rusdi menekan titik sensitif di pahanya.

“Mhhh …” lenguh Vivian pelan.

Rusdi tetap memijat, pandangannya tertuju pada paha mulus yang terbuka lebar di depannya, lingerie merah yang tersingkap lebih tinggi, dan ekspresi wajah Vivian yang semakin rileks namun penuh kenikmatan.

Semua itu benar-benar seperti sebuah ujian kekuatan bagi Rusdi. Padahal, di bawah saja sudah terasa tegang.

Rusdi mendengar desis Vivian.

“Ah… iya, di situ…”

Tangannya mencengkeram sprei sutra di belakang tubuhnya, meremas kain itu kuat-kuat. Rusdi melihat jari-jarinya memutih karena tekanan.

“Jangan ragu-ragu, Rus. Tekan lebih kuat lagi,” kata Vovian lagi.

Rusdi menuruti. Kedua tangannya bekerja lebih aktif, meremas dan memijat paha Vivian dengan tempo lebih cepat. Keringat menetes dari dahinya, jatuh ke karpet. Ia tidak peduli. Fokusnya hanya pada paha mulus di genggamannya, kulit hangat, lembut, tanpa cela.

Kini, aroma tubuh Vivian semakin kuat, manis bercampur dinginnya AC.

Gerakan tangan Rusdi membuat lingerie sutra merah Vivian tersingkap lebih tinggi, menumpuk di pangkal paha. Paha bagian dalam Vivian terbuka lebar di depan mata Rsudi. Tampak begitu halus, putih, dan hangat.

Napas Rusdi tersengal. Celana jeansnya terasa semakin sesak, tubuhnya tegang keras.

Tiba-tiba Vivian membuka mata. Tatapannya sayu, berkabut, tapi langsung terkunci pada wajah Rusdi yang basah keringat dan tegang. Ia menegakkan punggung sedikit, lalu mengulurkan tangan kanannya. Ibu jarinya menyentuh pelipis Rusdi, mengusap butiran keringat, lalu turun menyusuri rahang tegasnya.

“Kamu berkeringat banyak sekali,” bisik Vivian lembut. Jari itu bergerak pelan ke bibir Rusdi.

Rusdi merasakan hembusan napas hangat Vivian menerpa wajahnya. Jarak mereka sangat dekat, bahkan bibir merah Vivian hanya beberapa senti dari bibirnya.

“Padahal AC kamar ini sangat dingin,” kata Vivian lagi.

“S-saya…” Rusdi tergagap, suara tercekat.

Vivian menempelkan jari ke bibir Rusdi. “Ssst… tidak perlu dijawab.” Ia tersenyum miring. Tangannya turun ke bahu Rusdi, meremas kaos basah yang menempel di dada lebarnya.

Vivian melebarkan sedikit kedua kakinya. Paha bagian dalam terbuka lebih lebar, memberi ruang bagi tangan Rusdi masuk lebih dalam ke sela-sela yang hangat.

“Lanjutkan pijatanmu, Rus,” katanya dengan nada menuntut. “Dan jangan berhenti sampai saya bilang cukup.”

Rusdi menelan ludah. Matanya tak bisa lepas dari paha mulus yang terbuka di depannya, dari lingerie yang tersingkap tinggi, dari belahan dada yang naik-turun cepat.

Jantungnya berdegup kencang. Tangan kasarnya kembali bergerak, memijat lebih dalam, lebih tegas.

Kulit Vivian terasa semakin panas di bawah jemarinya. Ia diam, tapi tubuhnya bereaksi kuat. Panas naik, napas pendek, dan godaan di depannya terlalu nyata untuk diabaikan.

Rusdi merasakan perintah Vivian seperti pukulan akhir yang merobohkan segala keraguan. Akal sehatnya lenyap, digantikan dorongan kuat yang selama ini ia tahan-tahan.

Tangan kasarnya bergerak turun dari atas paha, ragu sejenak sebelum jari-jemarinya menyusup ke bagian dalam paha Vivian yang lembut dan sensitif.

Vivian tersentak pelan. “Ah…”

Ia tidak menolak. Malah, Vivian melebarkan lututnya perlahan, membuka paha lebih lebar di depan Rusdi. Paha bagian dalam terbuka jelas.

Rusdi kembali menelan ludah keras.

‘Astaga … ini gila,’ batin Rusdi lirih.

Tangan besarnya mengusap kulit di sana dengan lembut. Tekstur terasa sangat halus, jauh lebih hangat daripada betis. Ia membelai dengan gerakan memutar pelan.

Vivian mendesah lebih berat. “Mmm… ya, Rus… di situ…”

Napasnya tidak teratur lagi. Rusdi melihat dada Vivian naik-turun cepat di balik lingerie merah yang tersingkap tinggi.

‘Lembutnya kulit ini … sial rasanya susah sekali ditahan,’ batin Rusdi lagi.

Ia menundukkan wajah perlahan, mendekat ke area yang baru ia belai. Bibirnya menyentuh kulit paha bagian dalam dengan kecupan lembut. Hangat bibirnya menempel di sana.

Vivian menegang nikmat. “Rusdi…”

Tangannya langsung meraih rambut pendek Rusdi, meremas kuat. Separuh menjambak pelan, separuh menahan kepala Rusdi agar tetap di posisi itu.

“Ya Tuhan… sentuhan kamu benar-benar membuat saya gila, ahhh ….” Vivian mendesah panjang. “Ahh… Rus… jangan berhenti…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Noldy Enoch Tangka
cerita ini semakin menarik dan penasaran untuk membacanya
goodnovel comment avatar
Noldy Enoch Tangka
dan semakin tegang
goodnovel comment avatar
Noldy Enoch Tangka
semakin asik ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 300 TAMAT

    Vivian tidak mengubah posisi duduknya. Kakinya yang ramping tetap menyilang dengan anggun. Jari lentiknya yang berkuku merah perlahan mengetuk meja kaca di depannya. Sebuah senyum tipis dan dingin akhirnya muncul di bibir Vivian. Senyum itu tidak sampai ke matanya, tapi justru membuat wajahnya terlihat semakin menggoda dan mematikan. "Membesarkan?" ulang Vivian pelan. "Maksud Paman membesarkan rekening pribadi Paman dengan menggelapkan dana proyek selama tiga tahun berturut-turut?" Anton maju setelah mendapat isyarat dari mata Reynard. Dia meletakkan sebuah tumpukan map merah di depan Pak Broto. Itu adalah semua bukti aliran dana gelap yang sudah diselidiki tim keamanan Aryasatya. Melihat tumpukan map itu, tubuh Pak Broto langsung lemas. Dia jatuh terduduk di kursinya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di dahinya. Reynard berdiri diam di belakang kursi Vivian. Matanya menatap puas ke arah istrinya. Garis leher Vivian yang terekspos dari potongan kerah blazernya t

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 299

    Pintu tertutup rapat setelah Anton dan Felicia keluar. Reynard menyandarkan tubuh besarnya ke kursi. Matanya langsung terkunci pada Vivian yang duduk di seberang meja.Wanita itu sedang serius membaca lembaran profil di dalam map. Blus sutra berwarna krem yang dia pakai melekat pas di tubuhnya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan kulit leher dan tulang selangkanya yang seputih susu. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggul hingga pahanya. Kakinya menyilang santai di bawah meja, memperlihatkan betisnya yang mulus.Reynard menelan ludah pelan. Ingatannya mundur ke masa lalu.Dulu, saat Reynard masih menyamar menjadi Rusdi si tukang kebun, dia sering mencuri pandang saat Vivian duduk sendirian di teras belakang rumah. Wajah Vivian saat itu selalu dingin, datar, dan tak tersentuh. Namun justru sikap dinginnya itulah yang membuat aura Vivian sangat menggoda. Sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang jarang tersenyum selalu sukses membuat darah Reynard berdesir pan

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 298

    Beberapa hari kemudian...Pagi itu di penthouse, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Vivian sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan terusan berwarna nude berbahan brokat yang elegan tapi tidak terlalu mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi.Reynard masuk ke kamar setelah selesai berganti pakaian di ruangan sebelah. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu berdiri di belakang Vivian dan menatap pantulan istrinya di cermin."Sudah siap?" tanya Reynard.Vivian mengangguk. "Sudah. Apa menurutmu ini terlalu sederhana?""Tidak. Ibu justru lebih suka kalau kau tampil apa adanya. Beliau tidak suka sesuatu yang berlebihan," jawab Reynard sambil memegang bahu Vivian."Aku hanya merasa sedikit gugup. Aku takut mengecewakan ibumu," kata Vivian jujur.Reynard membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. "Tidak perlu gugup. Ibu sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat mu. Sekarang, ayo berangkat. Sopir sudah menunggu di bawah.

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 297

    Dentingan lift pribadi itu terdengar pelan saat pintu terbuka. Vivian melangkah keluar dengan santai. Karena ini adalah malam keduanya di penthouse, dia tidak lagi melayangkan pandangan kagum pada langit-langit tinggi atau pilar marmer yang megah. Dia berjalan langsung menuju meja konsol eboni, meletakkan tas tangannya yang mungil di sana dengan gerakan yang sangat terbiasa.Gaun merah hati berbahan satin yang ia kenakan tampak mengikuti setiap gerak tubuhnya dengan sempurna. Saat ia berjalan, cahaya lampu kristal memantul di permukaan kain yang mengilap, menciptakan gradasi warna merah yang elegan. Potongan gaun itu benar-benar menonjolkan kulit bahunya yang seputih porselen.Reynard berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jam tangan dan melonggarkan dasinya. Ia memperhatikan bagaimana Vivian merapikan rambut hitamnya di depan cermin besar."Aku sudah meminta koki untuk menyiapkan semuanya di dapur sebelum kita sampai," kata Reynard. Suaranya berat, menggema

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 296

    "Katakan pada wanita ini, siapa aku," perintah Reynard dingin.Manajer itu menatap Adisty dengan bingung. "Beliau adalah Tuan Muda Reynard, pemilik dari Grup Aryasatya. Mal ini, butik ini, dan hampir sebagian besar gedung di kota ini adalah miliknya."Wajah Adisty seketika berubah menjadi sangat pucat. Dia menatap Reynard dengan tidak percaya. "Pemilik Grup Aryasatya? Tapi... tapi..."Reynard melangkah maju satu langkah, membuat Adisty mundur ketakutan. "Kau bilang Vivian tidak pantas memakai berlian? Kau bilang suamimu, eh maksudku, kakakmu yang dipenjara itu lebih baik dariku?""Sa... saya tidak bermaksud begitu, Tuan," gagap Adisty."Kau juga menghina Rusdi," lanjut Reynard dengan nada yang sangat rendah. "Kau tidak tahu kalau Rusdi dan aku adalah orang yang sama? Aku hanya sedang ingin melihat seberapa busuk hati keluarga kalian."Adisty seolah tersambar petir. Dia hampir saja jatuh pingsan. Pria miskin yang dulu selalu dia injak-injak dan dia hina ternyata adalah salah satu orang

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 295

    Reynard melangkah masuk ke dalam butik perhiasan dengan sorot mata yang tajam. Di belakangnya, Anton mengikuti dengan langkah yang tertata. Kehadiran Reynard membuat seluruh pelayan di toko itu seketika menunduk hormat.Pandangan Reynard langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi beludru. Vivian. Dia mengenakan gaun merah hati yang sangat pas di tubuhnya. Potongan gaun itu memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah gaun tersebut.Namun, wajah Vivian terlihat gelisah. Dia memegang sebuah kotak perhiasan dengan tangan yang sedikit gemetar."Kenapa belum dibayar?" tanya Reynard. Suaranya berat dan memenuhi ruangan yang sunyi itu.Vivian tersentak. Dia menoleh dan melihat Reynard berdiri di sana dengan aura yang sangat kuat. "Reynard? Kamu sudah selesai rapatnya?"Reynard tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Vivian. Dia mengambil kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 179

    Tangan Rusdi yang kasar perlahan mulai turun dan semakin tenggelam di balik daster sutra yang licin itu. Dia bisa merasakan lekuk pinggul Nyonya Vivian yang sangat lebar dan padat berisi. Kulit majikannya terasa begitu hangat dan luar biasa halus, membuat Rusdi harus berkali-kali menahan napas agar

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 177

    Setelah mobil yang membawa Non Adisty itu menghilang di tikungan jalan, Rusdi segera menutup pintu gerbang besi yang berat itu. Dia menarik napas panjang sambil mencoba membuang sisa ketegangan yang masih mengganjal di dadanya. Namun, rasa tenang itu hanya bertahan sebentar saja karena saat dia ber

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 162

    Rusdi menyelinap keluar dari ruang laundry dengan langkah cepat. Udara di lorong belakang terasa panas dan pengap. Bau bumbu sate yang dibakar di dapur katering bercampur dengan asap rokok para sopir tamu yang mulai berdatangan memenuhi area parkir."Awas! Minggir!" teriak salah satu koki yang memb

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 145

    Rusdi tidak menunggu lebih lama lagi. Dia segera membuka celananya dan memposisikan dirinya di depan Vivian yang sudah sangat tidak sabar. Meja kayu di bawah mereka berderit pelan saat Rusdi mulai melakukan penetrasi dengan satu sentakan yang cukup dalam."Ahhh! Pelan sedikit, Rus... tapi jangan be

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status