LOGINDi tengah dunia pasca-kiamat tempat para wanita terbuang akibat stigma kelangkaan keturunan, aku mengumpulkan mereka demi memulihkan harapan dan masa depan populasi tersisa.
View MoreKeesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi
Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu
Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se
Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews