Chapter: Bab 164Ketegangan di meja makan itu rasanya mencekik leher Rusdi. Dia berdiri kaku di samping kursi Tuan Adrian dengan botol minuman di tangan kanan. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya karena situasi di bawah meja semakin gila.Adisty benar-benar nekat.Di atas meja, wanita itu tersenyum manis ke arah Walikota seolah dia wanita paling sopan di dunia. Tapi di bawah taplak meja yang panjang itu, ujung sepatu hak tingginya sedang menekan paha Rusdi dengan kuat."Aduh," desis Rusdi pelan sekali.Ujung sepatu yang lancip itu menekan tepat di saku kiri celana Rusdi. Di sana ada kotak beludru berisi gelang palsu. Adisty sepertinya tahu kalau Rusdi menyimpan barang itu di sana dan dia sengaja menekannya sebagai kode keras."Kenapa diam saja? Tuang dong," tegur Adisty dengan nada manja.Rusdi menunduk sedikit untuk menuang minuman ke gelas Adisty. Mata Rusdi langsung disuguhi pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Gaun malam Adisty yang berwarna hitam itu potongannya sangat rendah.Ka
Last Updated: 2026-02-28
Chapter: Bab 163Jantung Rusdi rasanya mau copot. Dia sudah mengepalkan tangan kanan, siap melayangkan pukulan ke rahang siapa pun yang berani menyergapnya.Tapi begitu dia berbalik, wajah brengos Pak Ujang yang merah padam memenuhi pandangannya. Kumis tebal pria tua itu bergetar saking marahnya."Pak Ujang..." desis Rusdi, menurunkan kepalan tangannya perlahan. Kakinya masih gemetar sisa kaget tadi."Pak Ujang, Pak Ujang! Mata kamu buta apa?" semprot Pak Ujang. Telunjuknya menusuk-nusuk dada Rusdi, tepat di samping saku kemeja. "Itu di depan sudah kayak perang dunia! Tamu VVIP di meja nomor satu minta refill wine dari lima menit lalu, pelayan lain malah sibuk angkut piring kotor!""Ma-maaf, Pak Ujang. Saya tadi...""Simpan maafmu buat Tuan Adrian kalau dia ngamuk!" potong Pak Ujang kasar.Tanpa babibu, Pak Ujang mencengkeram lengan atas Rusdi. Cengkeramannya kuat sekali, jari-jari tua yang biasa memeras kain pel itu menekan otot bisep Rusdi. Pak Ujang menyeretnya paksa menjauh dari kamar, kembali ke
Last Updated: 2026-02-28
Chapter: Bab 162Rusdi menyelinap keluar dari ruang laundry dengan langkah cepat. Udara di lorong belakang terasa panas dan pengap. Bau bumbu sate yang dibakar di dapur katering bercampur dengan asap rokok para sopir tamu yang mulai berdatangan memenuhi area parkir."Awas! Minggir!" teriak salah satu koki yang membawa panci besar berisi kuah panas.Rusdi melompat ke samping, nyaris saja tersiram. "Santai, Bang. Tumpah melepuh semua itu badan.""Makanya jangan menghalangi jalan! Tamu sudah mulai masuk!" balas koki itu ketus tanpa menoleh.Rusdi tidak menjawab. Dia mempercepat langkah kakinya, setengah berlari melewati deretan tong sampah besar di area belakang yang baunya menyengat. Suara musik jazz dari arah taman terdengar sayup-sayup, tertutup oleh suara piring beradu di tempat cuci piring.Dia menuju deretan kamar petak pelayan di ujung lahan yang sepi. Begitu sampai di depan pintu kamarnya yang catnya sudah mengelupas, Rusdi menengok kanan-kiri.Sepi. Aman.Dia memutar kunci, masuk, dan langsung m
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 161Matahari siang itu terasa seperti membakar ubun-ubun. Halaman belakang rumah Tuan Adrian sudah berubah menjadi medan perang. Teriakan mandor dekorasi bersahutan dengan bunyi besi tenda yang dipasang.Rusdi baru saja membanting peti kayu berisi botol wine mahal ke atas meja bar di pinggir kolam. Otot bisepnya menegang, urat-urat di lengannya menyembul jelas karena kerja keras. Kaos kerjanya sudah basah kuyup, mencetak jelas bentuk dada bidangnya."Rusdi! Sini!"Suara berat Pak Ujang memecah kebisingan. Rusdi menoleh, menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan. Kepala pelayan tua itu berjalan cepat ke arahnya, wajahnya kusut dan tegang."Kenapa, Pak? Ada yang pecah?" tanya Rusdi, napasnya masih memburu.Pak Ujang berkacak pinggang, matanya memindai tubuh Rusdi dari ujung kaki sampai kepala. Tatapannya seperti orang mau menaksir harga sapi."Badanmu tegap. Muka juga nggak hancur-hancur amat kalau dilap," gumam Ujang."Maksud Bapak?""Dua pelayan sewaan dari agensi tepar. Keracuna
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 160Rusdi melangkah mendekat sedikit lagi. Matanya sekilas melihat belahan dada Nyonya Vivian yang putih bersih dan sangat dalam di balik gaun birunya."Besok malam saat pesta, saya disuruh memasukkan gelang emas dan foto-foto yang kemarin Nyonya kasih itu ke dalam tas Hermes merah Nyonya di ruang ganti," lapor Rusdi.Senyum Vivian melebar dan matanya berbinar penuh kemenangan."Bagus sekali. Rencananya berjalan mulus," bisik Vivian puas."Tapi Nyonya, kalau Tuan Adrian menemukan gelang dan foto itu di tas Nyonya, nanti Nyonya bisa celaka. Tuan Adrian pasti marah besar kalau lihat itu," Rusdi mengingatkan dengan cemas.Vivian menutup map menu di tangannya. Dia berdiri perlahan dan berjalan mendekati Rusdi, pura-pura memeriksa daun anggrek yang dibawa Rusdi tadi. Aroma tubuhnya yang wangi mawar langsung menyapa hidung Rusdi."Dengar baik-baik, Rus," bisik Vivian. "Gelang itu sebenarnya bukan gelang sembarangan. Itu gelang yang dulu pernah Adrian berikan ke selingkuhannya lima tahun lalu. S
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 159Napas Rusdi tercekat dan rasanya seperti berhenti di tenggorokan. Dia benar-benar tidak punya pilihan lain saat ini. Di bawah sorot mata Adisty yang tajam dan menuntut itu, Rusdi perlahan mengangkat tangannya yang kasar. Jari-jarinya gemetar hebat saat menyentuh pinggang ramping adik ipar majikannya itu. Kulit Adisty terasa dingin karena AC kamar, namun sentuhan itu justru terasa membakar di telapak tangan Rusdi."Bagus. Jangan cuma diam seperti patung begitu," desis Adisty tidak sabar.Wanita itu mulai bergerak lebih dulu. Dia sama sekali tidak menunggu Rusdi untuk memimpin. Dengan gaya yang sangat angkuh, Adisty menggerakkan pinggulnya yang berisi. Dia sengaja menggesekkan bagian kewanitaannya tepat di atas selangkangan Rusdi yang masih tertutup celana bahan itu."Nghh..." Rusdi mengerang tertahan.Sensasi gesekan itu luar biasa nikmatnya, apalagi ditambah dengan pemandangan di depan mata Rusdi yang begitu menggoda. Payudara Adisty yang berukuran jumbo itu terguncang hebat di balik
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Rantai pengikat Pagi harinya, Kirana terbangun bukan karena suara ombak, melainkan bau kopi dan roti panggang yang masuk ke kamar. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai matanya melihat Ardan yang sedang berdiri di depan lemari besar sambil memilihkan baju untuknya."Bangun, Sayang," ucap Ardan dengan nada ringan, seolah-olah pelarian Kirana selama beberapa waktu lalu hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat. "Aku sudah siapkan sarapan. Aku ingin kamu pakai gaun sutra biru ini. Ini warna favoritku kalau kamu yang pakai."Kirana bangun perlahan, tubuhnya masih terasa kaku. "Ardan, apa yang kamu lakukan?"Ardan berbalik sambil memegang gaun itu di depan tubuhnya sendiri. Ia tersenyum—sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya yang tetap terasa dingin. "Kita mulai lagi dari awal, Kirana. Hari ini, tidak ada Barra, tidak ada Zara. Cuma ada kita. Aku sudah batalkan semua janji di kantor. Kita akan habiskan waktu bersama di rumah."Kirana melangkah menuju meja rias, tapi ia tersentak saat menyadari s
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: Titik awal lagi Bunyi bip dari kunci pintu digital itu terdengar seperti peringatan yang mengerikan di koridor yang sepi. Ardan masuk lebih dulu. Gerakannya tenang tapi waspada, persis seperti pemburu yang sedang mengawasi mangsanya. Ia sengaja tidak menyalakan lampu utama; hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala otomatis, menciptakan bayangan panjang yang terlihat seram di atas lantai marmer."Selamat datang kembali, Kirana," ucap Ardan tanpa menoleh. Suaranya rendah, hampir berbisik, tapi sanggup membuat Kirana merinding.Kirana terpaku di depan pintu. Dadanya terasa sesak saat menghirup bau ruangan itu—campuran wangi kayu cendana dan aroma pembersih ruangan yang mahal. Inilah tempat yang ia kira sudah ia tinggalkan selamanya. Setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu saat ia dikurung berbulan-bulan sebelum akhirnya berhasil kabur ke Amerika."Kenapa kita balik ke sini?" tanya Kirana dengan suara serak yang hampir pecah. "Aku benci tempat ini, Ardan. Kamu tahu itu."Setelah menaruh kunci m
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: Diajak pulang Hening yang menyelimuti kamar itu terasa begitu rapuh, siap pecah kapan saja. Kirana menahan napas, mencoba membedakan suara di sekelilingnya. Hanya ada dua, deburan ombak yang ritmis di kejauhan, dan gemuruh detak jantungnya sendiri yang memukul-mukul gendang telinga. Ia menajamkan pendengarannya ke arah sofa, menangkap irama napas Ardan yang dalam dan teratur. Yakin suaminya telah terlelap, ia menarik ponsel dari balik selimut dengan gerakan sepelan mungkin.Tubuhnya masih bergetar hebat, tetapi tekadnya membara lebih panas dari rasa takutnya. Jari-jarinya yang sedingin es nyaris tak mampu menekan tombol daya. Sedetik kemudian, layar ponsel menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang terasa membutakan di dalam kegelapan pekat. Kirana buru-buru meredupkan tingkat kecerahan, lalu menyembunyikan diri lebih dalam di bawah selimut, menciptakan tenda kecil yang remang-remang sebagai benteng pertahanannya.Ia bahkan tidak tahu siapa yang harus dihubungi. Polisi? Teman? Siapa pun. Siapa pun y
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: Semakin posesif Rasa dingin menjalar di punggung Kirana, bukan karena angin laut, melainkan karena tatapan Ardan yang menguncinya. Genggaman pria itu di pergelangan tangannya terasa seperti borgol yang mustahil dilepaskan. Keputusasaan yang tadinya sempat mereda, kini kembali mencengkeramnya dengan lebih erat.“Ini bukan cinta, Dan,” desis Kirana, berusaha menarik tangannya meski sia-sia. Air matanya mulai menggenang, campuran antara amarah dan ketakutan. “Ini obsesi. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin memilikiku.”“Apa bedanya?” balas Ardan, suaranya rendah dan berbahaya. Ia menarik Kirana lebih dekat, memaksa wanita itu menatap matanya. “Aku melihat foto pernikahan kita di meja. Kamu tidak membuangnya. Itu artinya kamu masih merasakan hal yang sama, Kirana. Kamu hanya sedang bingung dan terluka.”“Aku menyimpannya sebagai pengingat,” sahut Kirana dengan suara bergetar. “Pengingat betapa bodohnya aku pernah percaya pada ilusi kebahagiaan bersamamu.”Penolakan Kirana yang begitu tajam membuat r
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: Penolakan Kirana “Boleh aku tetap menjagamu sampai kamu benar-benar pulih? Bukan sebagai suami, tapi sebagai seseorang yang pernah kamu cintai.”“Tidak,” jawab Kirana dengan suara pelan tapi tetap tegas. “Aku tidak butuh itu, Dan. Aku butuh ruang. Aku ingin menjauh dari kamu.”Ardan terdiam. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Ia hanya bisa mengangguk perlahan, seolah menerima kekalahan yang sudah ia ketahui. Hatinya terasa hancur. Ia ingin terus berada di dekat Kirana, memastikan wanita itu baik-baik saja, tetapi ia tak punya hak lagi.“Baiklah,” ucapnya sambil menghela napas panjang. “Aku akan urus semuanya. Nanti kamu bisa tandatangani berkasnya.”Ardan pun bangkit dan keluar dari kamar. Kirana hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh. Ada rasa lega, tetapi juga perih yang tak bisa ia jelaskan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir perlahan di pipinya. Perpisahan ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa bernapas kembali.Beberapa hari berlalu. Luka di pergelangan tangan Kirana sudah
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: 49. Mengurus perceraian Setelah keluar dari kamar, Ardan melangkah cepat ke arah ruang tengah. Wajahnya tegang, matanya penuh amarah yang ditahan. Ia langsung memanggil Bagas, asistennya yang sudah lama bekerja dengannya. “Bagas,” ucap Ardan dengan nada dingin, “Mulai sekarang, jaga semua pintu dan gerbang. Jangan biarkan Kirana keluar dari rumah ini tanpa izin dariku.” “Bos… apakah ini tidak berlebihan?” tanya Bagas tampak ragu. Ardan menatapnya tajam. “Lakukan saja. Aku tidak mau dia pergi. Dia pikir bisa lepas begitu saja? Tidak semudah itu.” Bagas mengangguk pelan, meski hatinya tidak tenang. Ia tahu hubungan antara bos dan Nonanya sedang buruk, dan tindakan ini bisa memperburuk keadaan. Sementara itu, di dalam kamar, Kirana duduk diam. Ia tahu Ardan tidak akan membiarkannya pergi. Ia merasa terjebak, seperti dikurung di dalam rumah yang dulu ia anggap tempat berlindung. Matanya menatap kosong ke arah jendela, lalu beralih ke meja kecil di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat membuka laci dan menemu
Last Updated: 2025-09-07