Chapter: Bab 300 TAMATVivian tidak mengubah posisi duduknya. Kakinya yang ramping tetap menyilang dengan anggun. Jari lentiknya yang berkuku merah perlahan mengetuk meja kaca di depannya. Sebuah senyum tipis dan dingin akhirnya muncul di bibir Vivian. Senyum itu tidak sampai ke matanya, tapi justru membuat wajahnya terlihat semakin menggoda dan mematikan. "Membesarkan?" ulang Vivian pelan. "Maksud Paman membesarkan rekening pribadi Paman dengan menggelapkan dana proyek selama tiga tahun berturut-turut?" Anton maju setelah mendapat isyarat dari mata Reynard. Dia meletakkan sebuah tumpukan map merah di depan Pak Broto. Itu adalah semua bukti aliran dana gelap yang sudah diselidiki tim keamanan Aryasatya. Melihat tumpukan map itu, tubuh Pak Broto langsung lemas. Dia jatuh terduduk di kursinya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di dahinya. Reynard berdiri diam di belakang kursi Vivian. Matanya menatap puas ke arah istrinya. Garis leher Vivian yang terekspos dari potongan kerah blazernya t
Terakhir Diperbarui: 2026-05-11
Chapter: Bab 299Pintu tertutup rapat setelah Anton dan Felicia keluar. Reynard menyandarkan tubuh besarnya ke kursi. Matanya langsung terkunci pada Vivian yang duduk di seberang meja.Wanita itu sedang serius membaca lembaran profil di dalam map. Blus sutra berwarna krem yang dia pakai melekat pas di tubuhnya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan kulit leher dan tulang selangkanya yang seputih susu. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggul hingga pahanya. Kakinya menyilang santai di bawah meja, memperlihatkan betisnya yang mulus.Reynard menelan ludah pelan. Ingatannya mundur ke masa lalu.Dulu, saat Reynard masih menyamar menjadi Rusdi si tukang kebun, dia sering mencuri pandang saat Vivian duduk sendirian di teras belakang rumah. Wajah Vivian saat itu selalu dingin, datar, dan tak tersentuh. Namun justru sikap dinginnya itulah yang membuat aura Vivian sangat menggoda. Sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang jarang tersenyum selalu sukses membuat darah Reynard berdesir pan
Terakhir Diperbarui: 2026-05-11
Chapter: Bab 298Beberapa hari kemudian...Pagi itu di penthouse, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Vivian sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan terusan berwarna nude berbahan brokat yang elegan tapi tidak terlalu mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi.Reynard masuk ke kamar setelah selesai berganti pakaian di ruangan sebelah. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu berdiri di belakang Vivian dan menatap pantulan istrinya di cermin."Sudah siap?" tanya Reynard.Vivian mengangguk. "Sudah. Apa menurutmu ini terlalu sederhana?""Tidak. Ibu justru lebih suka kalau kau tampil apa adanya. Beliau tidak suka sesuatu yang berlebihan," jawab Reynard sambil memegang bahu Vivian."Aku hanya merasa sedikit gugup. Aku takut mengecewakan ibumu," kata Vivian jujur.Reynard membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. "Tidak perlu gugup. Ibu sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat mu. Sekarang, ayo berangkat. Sopir sudah menunggu di bawah.
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Bab 297Dentingan lift pribadi itu terdengar pelan saat pintu terbuka. Vivian melangkah keluar dengan santai. Karena ini adalah malam keduanya di penthouse, dia tidak lagi melayangkan pandangan kagum pada langit-langit tinggi atau pilar marmer yang megah. Dia berjalan langsung menuju meja konsol eboni, meletakkan tas tangannya yang mungil di sana dengan gerakan yang sangat terbiasa.Gaun merah hati berbahan satin yang ia kenakan tampak mengikuti setiap gerak tubuhnya dengan sempurna. Saat ia berjalan, cahaya lampu kristal memantul di permukaan kain yang mengilap, menciptakan gradasi warna merah yang elegan. Potongan gaun itu benar-benar menonjolkan kulit bahunya yang seputih porselen.Reynard berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jam tangan dan melonggarkan dasinya. Ia memperhatikan bagaimana Vivian merapikan rambut hitamnya di depan cermin besar."Aku sudah meminta koki untuk menyiapkan semuanya di dapur sebelum kita sampai," kata Reynard. Suaranya berat, menggema
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Bab 296"Katakan pada wanita ini, siapa aku," perintah Reynard dingin.Manajer itu menatap Adisty dengan bingung. "Beliau adalah Tuan Muda Reynard, pemilik dari Grup Aryasatya. Mal ini, butik ini, dan hampir sebagian besar gedung di kota ini adalah miliknya."Wajah Adisty seketika berubah menjadi sangat pucat. Dia menatap Reynard dengan tidak percaya. "Pemilik Grup Aryasatya? Tapi... tapi..."Reynard melangkah maju satu langkah, membuat Adisty mundur ketakutan. "Kau bilang Vivian tidak pantas memakai berlian? Kau bilang suamimu, eh maksudku, kakakmu yang dipenjara itu lebih baik dariku?""Sa... saya tidak bermaksud begitu, Tuan," gagap Adisty."Kau juga menghina Rusdi," lanjut Reynard dengan nada yang sangat rendah. "Kau tidak tahu kalau Rusdi dan aku adalah orang yang sama? Aku hanya sedang ingin melihat seberapa busuk hati keluarga kalian."Adisty seolah tersambar petir. Dia hampir saja jatuh pingsan. Pria miskin yang dulu selalu dia injak-injak dan dia hina ternyata adalah salah satu orang
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Bab 295Reynard melangkah masuk ke dalam butik perhiasan dengan sorot mata yang tajam. Di belakangnya, Anton mengikuti dengan langkah yang tertata. Kehadiran Reynard membuat seluruh pelayan di toko itu seketika menunduk hormat.Pandangan Reynard langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi beludru. Vivian. Dia mengenakan gaun merah hati yang sangat pas di tubuhnya. Potongan gaun itu memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah gaun tersebut.Namun, wajah Vivian terlihat gelisah. Dia memegang sebuah kotak perhiasan dengan tangan yang sedikit gemetar."Kenapa belum dibayar?" tanya Reynard. Suaranya berat dan memenuhi ruangan yang sunyi itu.Vivian tersentak. Dia menoleh dan melihat Reynard berdiri di sana dengan aura yang sangat kuat. "Reynard? Kamu sudah selesai rapatnya?"Reynard tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Vivian. Dia mengambil kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: Rantai pengikat Pagi harinya, Kirana terbangun bukan karena suara ombak, melainkan bau kopi dan roti panggang yang masuk ke kamar. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai matanya melihat Ardan yang sedang berdiri di depan lemari besar sambil memilihkan baju untuknya."Bangun, Sayang," ucap Ardan dengan nada ringan, seolah-olah pelarian Kirana selama beberapa waktu lalu hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat. "Aku sudah siapkan sarapan. Aku ingin kamu pakai gaun sutra biru ini. Ini warna favoritku kalau kamu yang pakai."Kirana bangun perlahan, tubuhnya masih terasa kaku. "Ardan, apa yang kamu lakukan?"Ardan berbalik sambil memegang gaun itu di depan tubuhnya sendiri. Ia tersenyum—sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya yang tetap terasa dingin. "Kita mulai lagi dari awal, Kirana. Hari ini, tidak ada Barra, tidak ada Zara. Cuma ada kita. Aku sudah batalkan semua janji di kantor. Kita akan habiskan waktu bersama di rumah."Kirana melangkah menuju meja rias, tapi ia tersentak saat menyadari s
Terakhir Diperbarui: 2025-12-18
Chapter: Titik awal lagi Bunyi bip dari kunci pintu digital itu terdengar seperti peringatan yang mengerikan di koridor yang sepi. Ardan masuk lebih dulu. Gerakannya tenang tapi waspada, persis seperti pemburu yang sedang mengawasi mangsanya. Ia sengaja tidak menyalakan lampu utama; hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala otomatis, menciptakan bayangan panjang yang terlihat seram di atas lantai marmer."Selamat datang kembali, Kirana," ucap Ardan tanpa menoleh. Suaranya rendah, hampir berbisik, tapi sanggup membuat Kirana merinding.Kirana terpaku di depan pintu. Dadanya terasa sesak saat menghirup bau ruangan itu—campuran wangi kayu cendana dan aroma pembersih ruangan yang mahal. Inilah tempat yang ia kira sudah ia tinggalkan selamanya. Setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu saat ia dikurung berbulan-bulan sebelum akhirnya berhasil kabur ke Amerika."Kenapa kita balik ke sini?" tanya Kirana dengan suara serak yang hampir pecah. "Aku benci tempat ini, Ardan. Kamu tahu itu."Setelah menaruh kunci m
Terakhir Diperbarui: 2025-12-18
Chapter: Diajak pulang Hening yang menyelimuti kamar itu terasa begitu rapuh, siap pecah kapan saja. Kirana menahan napas, mencoba membedakan suara di sekelilingnya. Hanya ada dua, deburan ombak yang ritmis di kejauhan, dan gemuruh detak jantungnya sendiri yang memukul-mukul gendang telinga. Ia menajamkan pendengarannya ke arah sofa, menangkap irama napas Ardan yang dalam dan teratur. Yakin suaminya telah terlelap, ia menarik ponsel dari balik selimut dengan gerakan sepelan mungkin.Tubuhnya masih bergetar hebat, tetapi tekadnya membara lebih panas dari rasa takutnya. Jari-jarinya yang sedingin es nyaris tak mampu menekan tombol daya. Sedetik kemudian, layar ponsel menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang terasa membutakan di dalam kegelapan pekat. Kirana buru-buru meredupkan tingkat kecerahan, lalu menyembunyikan diri lebih dalam di bawah selimut, menciptakan tenda kecil yang remang-remang sebagai benteng pertahanannya.Ia bahkan tidak tahu siapa yang harus dihubungi. Polisi? Teman? Siapa pun. Siapa pun y
Terakhir Diperbarui: 2025-10-09
Chapter: Semakin posesif Rasa dingin menjalar di punggung Kirana, bukan karena angin laut, melainkan karena tatapan Ardan yang menguncinya. Genggaman pria itu di pergelangan tangannya terasa seperti borgol yang mustahil dilepaskan. Keputusasaan yang tadinya sempat mereda, kini kembali mencengkeramnya dengan lebih erat.“Ini bukan cinta, Dan,” desis Kirana, berusaha menarik tangannya meski sia-sia. Air matanya mulai menggenang, campuran antara amarah dan ketakutan. “Ini obsesi. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin memilikiku.”“Apa bedanya?” balas Ardan, suaranya rendah dan berbahaya. Ia menarik Kirana lebih dekat, memaksa wanita itu menatap matanya. “Aku melihat foto pernikahan kita di meja. Kamu tidak membuangnya. Itu artinya kamu masih merasakan hal yang sama, Kirana. Kamu hanya sedang bingung dan terluka.”“Aku menyimpannya sebagai pengingat,” sahut Kirana dengan suara bergetar. “Pengingat betapa bodohnya aku pernah percaya pada ilusi kebahagiaan bersamamu.”Penolakan Kirana yang begitu tajam membuat r
Terakhir Diperbarui: 2025-10-09
Chapter: Penolakan Kirana “Boleh aku tetap menjagamu sampai kamu benar-benar pulih? Bukan sebagai suami, tapi sebagai seseorang yang pernah kamu cintai.”“Tidak,” jawab Kirana dengan suara pelan tapi tetap tegas. “Aku tidak butuh itu, Dan. Aku butuh ruang. Aku ingin menjauh dari kamu.”Ardan terdiam. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Ia hanya bisa mengangguk perlahan, seolah menerima kekalahan yang sudah ia ketahui. Hatinya terasa hancur. Ia ingin terus berada di dekat Kirana, memastikan wanita itu baik-baik saja, tetapi ia tak punya hak lagi.“Baiklah,” ucapnya sambil menghela napas panjang. “Aku akan urus semuanya. Nanti kamu bisa tandatangani berkasnya.”Ardan pun bangkit dan keluar dari kamar. Kirana hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh. Ada rasa lega, tetapi juga perih yang tak bisa ia jelaskan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir perlahan di pipinya. Perpisahan ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa bernapas kembali.Beberapa hari berlalu. Luka di pergelangan tangan Kirana sudah
Terakhir Diperbarui: 2025-10-09
Chapter: 49. Mengurus perceraian Setelah keluar dari kamar, Ardan melangkah cepat ke arah ruang tengah. Wajahnya tegang, matanya penuh amarah yang ditahan. Ia langsung memanggil Bagas, asistennya yang sudah lama bekerja dengannya. “Bagas,” ucap Ardan dengan nada dingin, “Mulai sekarang, jaga semua pintu dan gerbang. Jangan biarkan Kirana keluar dari rumah ini tanpa izin dariku.” “Bos… apakah ini tidak berlebihan?” tanya Bagas tampak ragu. Ardan menatapnya tajam. “Lakukan saja. Aku tidak mau dia pergi. Dia pikir bisa lepas begitu saja? Tidak semudah itu.” Bagas mengangguk pelan, meski hatinya tidak tenang. Ia tahu hubungan antara bos dan Nonanya sedang buruk, dan tindakan ini bisa memperburuk keadaan. Sementara itu, di dalam kamar, Kirana duduk diam. Ia tahu Ardan tidak akan membiarkannya pergi. Ia merasa terjebak, seperti dikurung di dalam rumah yang dulu ia anggap tempat berlindung. Matanya menatap kosong ke arah jendela, lalu beralih ke meja kecil di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat membuka laci dan menemu
Terakhir Diperbarui: 2025-09-07
Chapter: Bab 60Srek!Pintu kamar bayi di seberang sana tertutup pelan. Suasana di balik lemari kayu langsung berubah makin panas dan pengap.Whuushh!Aroma madu jantan yang pekat dari kulit Badru mengunci tubuh matang Laras. Badru menyeringai pongah. Tangan kekarnya mencengkeram erat pinggul sintal Laras, menahan posisi mereka yang sudah menyatu rapat."Dengar sendiri kan, Teh? Suamimu mengira kamu cuma berfantasi," bisik Badru dengan suara berat yang dominan tepat di tengkuk Laras. "Sekarang, rasakan fantasi yang sebenarnya."Sret!Badru menarik pinggul Laras mundur, lalu menyentaknya kembali ke depan dengan tekanan bertenaga."Ahhh! Badruhh... dalam pisan, Dru..." Laras melenguh dengan suara tertahan.Sepasang mata indahnya merem melek. Wajah cantiknya mendongak pasrah dengan napas memburu kencang. Daster satin merah marun yang tersingkap memperlihatkan bokong besar Laras yang padat dan putih bersih bergoyang sensual menerima gempuran. Dada besarnya yang ranum dan basah oleh rembesan air susu ber
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Bab 59Laras menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mata indahnya yang sayu tampak berkaca-kaca menahan gairah yang sudah membakar hingga ke ubun-ubun. Bibir bawahnya digigit kuat-kuat, mencoba menahan desahan yang nyaris meledak keluar dari tenggorokannya. Di balik kegelapan lorong, kegagahan Badru yang mengurungnya dari belakang benar-benar membuat wanita matang itu tidak berdaya.Badru menyeringai pongah. Ego lelakinya melesat tinggi melihat istri saudagar kaya ini sudah pasrah total di bawah kuasanya. Badru memajukan wajahnya, menempelkan bibirnya yang panas di daun telinga Laras yang sudah memerah hebat."Kalau tidak mau jujur, tidak apa-apa, Teh," bisik Badru dengan nada rendah yang sarat intimidasi dan dominasi. "Tapi kalau mau lubangmu yang sudah becek kuyup ini diisi dan dibelah sama punya saya sampai kamu ampun-ampunan, maka kamu harus patuh sama semua perintah saya. Mengerti?"Whuushh!Hawa panas dari tubuh kekar Badru semakin pekat, beradu dengan aroma madu jantan yang menusuk in
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Bab 58Deg!Jantung Laras serasa mau copot. Wajahnya yang semula merah padam karena gairah langsung berubah pucat pasi. Langkah kaki itu semakin dekat. Badru dengan sigap menarik tubuh matang itu masuk ke dalam celah sempit di balik lemari kayu besar, menyembunyikan mereka berdua di kegelapan yang pekat.Srek!Pintu ruang tengah terbuka lebar. Sosok Kang Yanto melangkah masuk sambil menenteng tas kain kosong. Wajah paruh bayanya tampak ditekuk masam."Laras! Kamu di dalam tidak, sih? Punya kuping kok budeg pisan! Ada suami datang bukan disambut, malah diam saja di dalam!" omel Kang Yanto ketus.Di balik lemari, tubuh Laras gemetar hebat. Posisinya benar-benar rapat menghadap dinding papan dengan Badru yang mengurungnya dari belakang. Kain daster satin merah marunnya sudah tersingkap tinggi sampai ke pinggang, memperlihatkan pinggul sintalnya yang lebar dan bulat, serta kulit paha mulusnya yang berkilau seksi di tengah keremangan.Whuushh!Aroma madu jantan yang pekat dari tubuh Badru justru
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Bab 57Badru tidak menanggapi lagi dengan kata-kata. Cengkeraman tangan kasarnya di pinggang sintal Laras semakin erat, meremas daging empuk di sana hingga Laras melenguh pendek.Plak!Badru menyentak tubuh Laras hingga punggung wanita itu membentur dinding papan rumah dengan cukup keras. Laras sama sekali tidak mengeluh sakit. Matanya justru semakin sayu, merem melek menahan gairah yang sudah membakar rahimnya.Whuushh!Hawa pekat madu jantan dari tubuh Badru mengurung Laras sepenuhnya di sudut remang itu. Badru memajukan tubuh kekarnya, menekan daster satin merah marun Laras dengan dada bidangnya yang telanjang."Kalau begitu, jangan sampai bersuara terlalu kencang, Teh. Nanti bayimu bangun," bisik Badru dengan nada rendah yang sarat kuasa."Ah... iya, Dru... k-kamu terserah mau apain Teteh," rintih Laras pasrah.Tangan kiri Badru bergerak naik, mencengkeram dagu Laras dengan jari-jarinya yang besar dan kasar, memaksa wajah matang itu mendongak. Tanpa aba-aba lagi, Badru langsung melumat b
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bab 56Badru melangkah masuk, lalu menutup kembali pintu kayu di belakangnya hingga rapat.Srek!Sepasang matanya yang tajam segera menyesuaikan diri dengan temaramnya ruangan. Bau minyak telon bayi bercampur dengan aroma keringat tipis seorang wanita langsung menyambut penciumannya. Di sudut ruang tamu yang remang, Teh Laras berdiri menyambutnya.Badru terpaku. Dadanya berdenyut hebat.Deg!Teh Laras hanya mengenakan daster satin tipis berwarna merah marun tanpa lengan. Kainnya yang halus dan jatuh tercetak ketat, menempel sempurna pada lekuk tubuh matangnya yang aduhai. Karena sedang dalam fase menyusui, sepasang dadanya terlihat jauh lebih besar, padat, dan penuh hingga menyembul kencang di balik belahan daster yang sangat rendah. Di bagian ujung dada yang ranum dan keras itu, tampak dua bulatan basah yang kentara menembus kain tipis, memperlihatkan ceplokan putingnya yang menegang karena rembesan air susu yang penuh menuntut pelampiasan.Badru menelan ludahnya berkali-kali. Tenggorokan
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bab 55Sore hari tiba. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar jingga kemerahan di sela-sela pohon kelapa. Badru baru saja selesai membersihkan sudut kandang terakhir.Sret!Badru mengambil kaos hitamnya, lalu menyampirkannya di pundak tegap yang kokoh. Dada bidang dan perut kotak-kotaknya yang basah oleh keringat sore tampak berkilau.Amang Jaka yang sedang mengikat tumpukan jerami kering di dekat pintu kandang menoleh.Plak!Amang Jaka menepuk sisa debu jerami di celananya, lalu berjalan mendekati Badru."Sudah rapi aja, Dru. Mau langsung pulang?" tanya Amang Jaka sambil terkekeh pelan."Iya, Mang. Kerjaannya kan sudah beres semua," jawab Badru santai. Suaranya yang berat terdengar mantap.Sniff! Sniff!Amang Jaka mengendus udara lagi. Dahinya berkerut sambil tersenyum."Gusti, Dru. Wangi madu kamu makin sore kok makin pekat begini? Amang sampai heran menciumnya," seloroh Amang Jaka. "Ya sudah, buruan balik ke gubuk, istirahat. Biar badan kamu itu gak lemas besok.""Iya, Mang. S
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: Bab 123. TAMATNiskala tertawa kecil. Suaranya bergema pelan di dalam penthouse yang sunyi. Dia mengusap punggung Dewa yang basah oleh keringat, lalu menarik wajah pria itu agar bisa menatap matanya yang berkilat merah."Kamu terlalu fokus pada rasa sakitnya, Dewa," bisik Niskala lembut. Jemarinya menelusuri garis rahang Dewa. "Setiap kali aku menyedot energimu, aku sebenarnya sedang meruntuhkan batas-batas manusiamu. Proses ini hampir selesai. Kekuasaan penuh Mandala sudah di depan mata."Niskala bangkit sedikit, menggeser tubuh Dewa agar pria itu bisa bersandar di bahunya. Dia membelai rambut Dewa, menyembunyikan lima uban yang masih berdiri tegak itu di balik poni hitam dengan gerakan lembut."Pelabuhan tadi adalah kuncinya. Kamu sudah menghancurkan fondasi terakhir mereka, bukan? Itu tandanya akhir dari perjuanganmu sudah sangat dekat. Rasa lemas ini adalah seleksi akhir. Sisa-sisa kemanusiaanmu yang lemah sedang dikikis habis, digantikan dengan kekuatan mutlak yang akan membuat seluruh kota ber
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Bab 122Hantaman telak itu membuat seluruh tubuh Niskala bergetar hebat di bawah kungkungan Dewa. Liang hangatnya menjepit milik Dewa dengan sangat ketat, memberikan sensasi jepitan yang luar biasa nikmat sekaligus mematikan.Dewa mengerang berat, mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat dan bertenaga. Setiap tusukannya dalam dan menghunjam, membuat sofa panjang di ruang tengah itu berderit halus.Bugh! Bugh!Niskala mencengkeram bahu kekar Dewa semakin erat. Mulutnya tidak berhenti mendesah parau, menikmati kebrutalan pria di atasnya. "Ah... Dewa... emmh... terus..."Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Baru beberapa belas kali Dewa melayangkan hentakan kuat, tiba-tiba—Deg!Jantung Dewa berdenyut dengan ritme yang sangat aneh. Bukan denyutan sakit seperti di pelabuhan tadi siang, melainkan rasa kosong yang teramat sangat, seolah-olah ada sebuah lubang hitam yang mendadak tercipta di dalam jiwanya dan mulai menyedot seluruh kesadarannya.Whuushh!Hawa dingin yang pekat men
Terakhir Diperbarui: 2026-07-10
Chapter: Bab 121Dewa mempererat cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Niskala. Dia menekan wanita itu ke bantal sofa. Tatapannya lurus mengunci mata Niskala."Jangan banyak bicara lagi," bisik Dewa. Suaranya berat.Niskala malah tersenyum. "Hihi... silakan, Tuan Dewa."Dewa menunduk. Dia langsung membungkam bibir Niskala.Cup!Lumatan Dewa terasa kasar dan menuntut. Dia melumat bibir bawah Niskala dengan kuat. Hawa hangat menjalar dari lidah Niskala, mengalir masuk ke tenggorokan Dewa. Rasa kosong di dadanya mendadak terasa sedikit terisi."Mmph..." Niskala melenguh.Kedua kaki Niskala yang berbalut rok satin hitam tipis bergerak gelisah di atas sofa. Kain satin itu bergesekan halus, tersingkap hingga ke paha atasnya yang putih mulus.Dewa melepaskan ciumannya sejenak. Napasnya memburu. Dia menatap wajah Niskala yang memerah dengan mata setengah terpejam.Plak!Dewa memindahkan tangannya ke pinggul jumbo Niskala, meremasnya dengan kasar hingga daging padat di sana berubah bentuk di balik kain
Terakhir Diperbarui: 2026-07-05
Chapter: Bab 120Mendengar kata-kata Dewa, Niskala tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum tipis. Dia bangkit dari sofa, lalu melangkah ke arah dapur bersih sambil membawa cangkir kosong. Langkah kakinya terdengar berirama di atas lantai marmer. Rok kulit marunnya yang ketat bergoyang pelan seiring ayunan pinggulnya.Dewa memperhatikan punggung wanita itu sampai hilang di balik sekat dapur. Pria itu menarik napas dalam-dalam. Dia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang terasa terkuras habis.‘Sial, kontrak ini benar-benar mengikatku hidup dan mati. Kalau setiap kali habis baku hantam aku harus sekarat begini, bisa-bisa aku mati muda sebelum menguasai seluruh aset Mandala,’ batin Dewa, merutuki kondisi tubuhnya sendiri yang sempat limbung tadi siang.Waktu berjalan merayap. Hawa panas dari pelabuhan di luar jendela kaca raksasa penthouse perlahan meredup. Warna langit berubah menjadi jingga tua, lalu perlahan menggelap total digantikan oleh kelap-kelip lampu ko
Terakhir Diperbarui: 2026-07-04
Chapter: Bab 119Niskala membiarkan Dewa bersandar beberapa menit di dadanya. Setelah napas Dewa mulai teratur, Niskala menggeser duduknya. Tangan lentiknya mengambil tisu, menyeka sisa darah di sudut bibir Dewa."Sudah enakan?" tanya Niskala."Lumayan," sahut Dewa. "Jantungku tidak seperti diperas lagi."Niskala berdiri. Dia berjalan ke kamar mandi, lalu kembali membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk putih. Niskala berlutut di samping sofa. Dia memeras handuk, lalu menyeka kening, leher, hingga dada Dewa dengan telaten. Hawa hangat dari handuk itu membuat otot Dewa yang tegang perlahan rileks.Dewa menatap gerakan tangan Niskala. Mengingat rasa sakit yang menyiksanya tadi, Dewa langsung teringat syarat kontrak mereka."Niskala," panggil Dewa."Ya?""Soal bayaran energi yang kurang itu... kapan kita mulai?" Dewa memperbaiki posisi duduknya yang lemas. "Aku tidak mau mendadak muntah darah lagi di jalan."Niskala menghentikan usapan handuknya. Dia menatap Dewa, lalu mendadak terkekeh geli."H
Terakhir Diperbarui: 2026-07-03
Chapter: Bab 118Niskala melangkah ke dapur bersih. Ruang tengah langsung sunyi.Dewa memegangi dadanya. Napasnya pendek-pendek. Dingin mendadak menjalar dari ujung kaki, naik cepat ke rongga dada.Deg!Jantung Dewa rasanya seperti diremas tangan besi. Sakitnya berkali-kali lipat dari yang di mobil tadi."Akh!" Dewa menggeliat kesamping. Tubuhnya menekuk di atas sofa. Keringat dingin sebesar biji jagung keluar di pelipis dan lehernya.Tenggorokannya mendadak penuh dan panas.Uhuk! Uhuk!Dewa terbatuk keras. Cairan merah pekat menyembur dari mulut, mengotori karpet bulu di bawah sofa. Belum sempat dia menyeka bibir, aliran darah segar mengalir deras dari kedua lubang hidungnya. Darah itu membasahi dagu lalu menetes ke kerah kemeja putihnya.Tuing! Tuing! Tuing!Dahi Dewa terasa gatal dan panas. Lima helai uban baru mendadak tumbuh paksa. Rambut-rambut putih itu berdiri tegak lurus, bergetar heboh ke kiri dan ke kanan seperti antena rusak. Pandangan Dewa langsung kabur. Semuanya berputar hitam.'Sial, a
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01