Chapter: Chapter 51Mobil sedan hitam itu meluncur mulus membelah jalanan malam yang sepi. Di dalam kabin yang kedap suara, Reynard menyetir dengan santai. Tangan kanannya yang terbalut perban diletakkan di atas paha. Sesekali rasa perih menyengat dari luka goresan itu, tapi Reynard justru menikmatinya. Luka ini adalah tanda mata dari perpisahan yang manis.Dia melirik ke kursi penumpang. Tas ransel kusam berisi seluruh kekayaan Adrian tergeletak di sana.Reynard tertawa pelan. Tawanya terdengar jahat.Adrian si pengusaha sukses. Adrian si suami teladan. Pria itu begitu bangga dengan rumah mewahnya dan pagar tingginya. Dia pikir tembok tebal bisa melindungi miliknya. Dia tidak sadar kalau musuhnya sudah ada di dalam pagar setiap hari, memotong rumput halamannya, menyiram bunganya, dan meniduri istrinya.Selama enam bulan ini, Reynard menikmati peran terbaik dalam hidupnya. Menjadi Rusdi, si tukang kebun bisu yang kotor dan bau tanah.Reynard teringat aroma gudang peralatan di belakang rumah Adrian. Tempa
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: Chapter 50Mobil Reynard menjauh dan hilang di ujung jalan. Adrian berdiri kaku di teras. Dia tidak berteriak. Dia cuma mengepal tangannya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih. Dia menahan marah dan takut setengah mati. Dia berbalik melihat pintu rumahnya. Rusak parah. Kuncinya jebol karena ditendang keras, bukan dicongkel maling biasa. Ini kerjaan orang profesional. Adrian masuk. Langkahnya berat. Matanya awas melihat sekeliling yang gelap gulita. Kakinya menginjak pecahan kaca vas bunga tapi dia tidak peduli. Sofa kulit mahalnya terbalik. Lukisan robek. Masa bodoh dengan harta benda. Pikirannya cuma satu. Di mana Vivian? Dia lari naik tangga. Di lantai atas baunya beda. Bau keringat laki-laki, rokok murah, dan alkohol tumpah. Pintu kamar utama terbuka sedikit. Adrian mendorong pintu pelan-pelan. Cahaya bulan masuk menerangi kamar. Kasur hancur disayat pisau. Baju-baju di lemari ditarik keluar semua ke lantai. "Vivian?" panggilnya. Suaranya rendah tapi tegas. Ada suara gesekan di pojok k
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: Chapter 49"Pulang," jawab Reynard singkat tanpa menoleh. Tangannya memutar kemudi dengan santai, mengarahkan sedan hitam itu membelah jalanan malam Jakarta. "Kau butuh ganti baju, dan kita perlu bicara strategi. Reputasimu sedang di ujung tanduk, Adrian. Kita harus bergerak cepat sebelum media mencium bau busuk penangkapanmu." Adrian mengangguk lemah. "Benar. Benar, Pak. Saya harus pastikan Vivian baik-baik saja." Mobil memasuki kawasan perumahan elite di Pondok Indah. Sepi. Lampu jalan berpendar kuning suram. Saat mobil berbelok ke pelataran rumah Adrian, jantung Adrian seakan berhenti berdetak. Gerbang rumahnya terbuka lebar. Pos satpam kosong. Dan yang paling mengerikan: rumah itu gelap gulita. Tidak ada satu pun lampu yang menyala. "Vivian..." desis Adrian. Bahkan sebelum mobil berhenti sempurna, Adrian sudah melompat keluar. Dia berlari terpincang-pincang menuju pintu utama yang ternyata sudah tidak terkunci—engselnya rusak bekas paksaan. Reynard mematikan mesin. Dia mengambil sebuah
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Chapter 48Di Gudang Tua, Kawasan Industri. Mesin motor bebek itu mati. Hening. Rusdi turun menenteng tas belanja lusuh yang dia apit di kaki sejak tadi diangkat dengan hati-hati. Isinya bukan emas, melainkan tumpukan map merah dan dua hard disk enkripsi. Itu adalah nyawa perusahaan Adrian, dokumen rahasia berisi aliran dana gelap yang dibawa "si tukang kebun" saat kekacauan terjadi. Tanpa buang waktu, tas itu dilempar ke bagasi sedan hitam yang terparkir di sudut gelap. Dia bergerak efisien. Kaos dekil penuh getah pohon dilepas. Celana kargo kotor masuk ke tong pembakaran. Identitas "Rusdi" menjadi abu dalam hitungan detik. Ia berganti pakaian kemeja putih licin, jas navy rapi, dan jam tangan seharga satu unit apartemen. Reynard Aryasatya kembali ke wujud aslinya. Dia masuk ke mobil. Ponsel ditempel ke telinga. "Tarik berkas Adrian di Kantor Wilayah. Sekarang." "Tapi Pak, Kapolres bilang..." "Katakan padanya, investasi untuk putrinya di London akan lancar jika Adrian keluar malam ini.
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Chapter 47Rusdi tidak membalas pelukan itu. Tangannya menggantung kaku di udara, lalu turun. Tepukan pelan di punggung Vivian. Dua kali. "Nyonya. Baju nanti kotor. Oli." Vivian terisak, tapi melepas pelukan. Aroma parfum Chanel miliknya bertabrakan dengan bau oli gardan di kaos Rusdi. Dia mundur, menyeka mata, lalu meraih gelas anggur di meja. Kosong. "Duduk, Rus." Rusdi menggeleng. Dia mundur selangkah, membungkuk dalam. "Saya di lantai." Dia bersila di karpet, persis di dekat kaki Vivian yang telanjang. Matanya menunduk, tapi ekor matanya memindai ruangan. "Tuan Adrian..." Rusdi berbisik, memancing. "Tadi di garasi tangannya gemetar. Seperti orang dikejar setan." Vivian membanting gelas kosong ke meja. Klang. "Dia memang setan. Sertifikat rumah ibuku digadaikan." Rahang Vivian mengeras. "Kalau bank datang..." "Bukan cuma bank, Nyonya." Rusdi mendongak sedikit. Wajahnya polos, tapi matanya tajam. "Kalau Tuan bangkrut atau ditangkap malam ini, semua akan dijarah. Polisi, debt collector.
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: Chapter 46Suara sapu lidi yang menggaruk paving block terdengar ritmis, hampir seperti hitungan mundur. Rusdi tidak melihat ke arah pintu rumah, tapi telinganya menangkap setiap pergerakan. Fokus matanya hanya satu, noda lumpur kering yang memanjang di kap mesin sedan hitam itu. Sebuah cacat visual yang sengaja ia tinggalkan. Perangkap sederhana untuk ego laki-laki yang sedang retak.Pintu depan terbuka kasar.Pak Hendra keluar duluan. Langkahnya tegap, tas kerjanya dikepit erat di ketiak—bahasa tubuh orang yang ingin segera pergi dari situasi buruk. Adrian mengekor di belakangnya seperti anjing yang dipukul. Kemejanya kusut, keringat membasahi kerah. Bau asam kepanikan tercium jelas bahkan dari jarak dua meter."Pak Hendra, dengar dulu! Aset gudang itu masih bisa dicairkan!" seru Adrian parau."Itu barang sengketa, Pak Adrian. Bank tidak main judi." Pak Hendra menjawab tanpa menoleh, terus berjalan menuju mobilnya.Adrian tercekat. Napasnya memburu. Dia butuh sasaran tembak, dan matanya langsu
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: Rantai pengikat Pagi harinya, Kirana terbangun bukan karena suara ombak, melainkan bau kopi dan roti panggang yang masuk ke kamar. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai matanya melihat Ardan yang sedang berdiri di depan lemari besar sambil memilihkan baju untuknya."Bangun, Sayang," ucap Ardan dengan nada ringan, seolah-olah pelarian Kirana selama beberapa waktu lalu hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat. "Aku sudah siapkan sarapan. Aku ingin kamu pakai gaun sutra biru ini. Ini warna favoritku kalau kamu yang pakai."Kirana bangun perlahan, tubuhnya masih terasa kaku. "Ardan, apa yang kamu lakukan?"Ardan berbalik sambil memegang gaun itu di depan tubuhnya sendiri. Ia tersenyum—sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya yang tetap terasa dingin. "Kita mulai lagi dari awal, Kirana. Hari ini, tidak ada Barra, tidak ada Zara. Cuma ada kita. Aku sudah batalkan semua janji di kantor. Kita akan habiskan waktu bersama di rumah."Kirana melangkah menuju meja rias, tapi ia tersentak saat menyadari s
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: Titik awal lagi Bunyi bip dari kunci pintu digital itu terdengar seperti peringatan yang mengerikan di koridor yang sepi. Ardan masuk lebih dulu. Gerakannya tenang tapi waspada, persis seperti pemburu yang sedang mengawasi mangsanya. Ia sengaja tidak menyalakan lampu utama; hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala otomatis, menciptakan bayangan panjang yang terlihat seram di atas lantai marmer."Selamat datang kembali, Kirana," ucap Ardan tanpa menoleh. Suaranya rendah, hampir berbisik, tapi sanggup membuat Kirana merinding.Kirana terpaku di depan pintu. Dadanya terasa sesak saat menghirup bau ruangan itu—campuran wangi kayu cendana dan aroma pembersih ruangan yang mahal. Inilah tempat yang ia kira sudah ia tinggalkan selamanya. Setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu saat ia dikurung berbulan-bulan sebelum akhirnya berhasil kabur ke Amerika."Kenapa kita balik ke sini?" tanya Kirana dengan suara serak yang hampir pecah. "Aku benci tempat ini, Ardan. Kamu tahu itu."Setelah menaruh kunci m
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: Diajak pulang Hening yang menyelimuti kamar itu terasa begitu rapuh, siap pecah kapan saja. Kirana menahan napas, mencoba membedakan suara di sekelilingnya. Hanya ada dua, deburan ombak yang ritmis di kejauhan, dan gemuruh detak jantungnya sendiri yang memukul-mukul gendang telinga. Ia menajamkan pendengarannya ke arah sofa, menangkap irama napas Ardan yang dalam dan teratur. Yakin suaminya telah terlelap, ia menarik ponsel dari balik selimut dengan gerakan sepelan mungkin.Tubuhnya masih bergetar hebat, tetapi tekadnya membara lebih panas dari rasa takutnya. Jari-jarinya yang sedingin es nyaris tak mampu menekan tombol daya. Sedetik kemudian, layar ponsel menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang terasa membutakan di dalam kegelapan pekat. Kirana buru-buru meredupkan tingkat kecerahan, lalu menyembunyikan diri lebih dalam di bawah selimut, menciptakan tenda kecil yang remang-remang sebagai benteng pertahanannya.Ia bahkan tidak tahu siapa yang harus dihubungi. Polisi? Teman? Siapa pun. Siapa pun y
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: Semakin posesif Rasa dingin menjalar di punggung Kirana, bukan karena angin laut, melainkan karena tatapan Ardan yang menguncinya. Genggaman pria itu di pergelangan tangannya terasa seperti borgol yang mustahil dilepaskan. Keputusasaan yang tadinya sempat mereda, kini kembali mencengkeramnya dengan lebih erat.“Ini bukan cinta, Dan,” desis Kirana, berusaha menarik tangannya meski sia-sia. Air matanya mulai menggenang, campuran antara amarah dan ketakutan. “Ini obsesi. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin memilikiku.”“Apa bedanya?” balas Ardan, suaranya rendah dan berbahaya. Ia menarik Kirana lebih dekat, memaksa wanita itu menatap matanya. “Aku melihat foto pernikahan kita di meja. Kamu tidak membuangnya. Itu artinya kamu masih merasakan hal yang sama, Kirana. Kamu hanya sedang bingung dan terluka.”“Aku menyimpannya sebagai pengingat,” sahut Kirana dengan suara bergetar. “Pengingat betapa bodohnya aku pernah percaya pada ilusi kebahagiaan bersamamu.”Penolakan Kirana yang begitu tajam membuat r
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: Penolakan Kirana “Boleh aku tetap menjagamu sampai kamu benar-benar pulih? Bukan sebagai suami, tapi sebagai seseorang yang pernah kamu cintai.”“Tidak,” jawab Kirana dengan suara pelan tapi tetap tegas. “Aku tidak butuh itu, Dan. Aku butuh ruang. Aku ingin menjauh dari kamu.”Ardan terdiam. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Ia hanya bisa mengangguk perlahan, seolah menerima kekalahan yang sudah ia ketahui. Hatinya terasa hancur. Ia ingin terus berada di dekat Kirana, memastikan wanita itu baik-baik saja, tetapi ia tak punya hak lagi.“Baiklah,” ucapnya sambil menghela napas panjang. “Aku akan urus semuanya. Nanti kamu bisa tandatangani berkasnya.”Ardan pun bangkit dan keluar dari kamar. Kirana hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh. Ada rasa lega, tetapi juga perih yang tak bisa ia jelaskan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir perlahan di pipinya. Perpisahan ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa bernapas kembali.Beberapa hari berlalu. Luka di pergelangan tangan Kirana sudah
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: 49. Mengurus perceraian Setelah keluar dari kamar, Ardan melangkah cepat ke arah ruang tengah. Wajahnya tegang, matanya penuh amarah yang ditahan. Ia langsung memanggil Bagas, asistennya yang sudah lama bekerja dengannya. “Bagas,” ucap Ardan dengan nada dingin, “Mulai sekarang, jaga semua pintu dan gerbang. Jangan biarkan Kirana keluar dari rumah ini tanpa izin dariku.” “Bos… apakah ini tidak berlebihan?” tanya Bagas tampak ragu. Ardan menatapnya tajam. “Lakukan saja. Aku tidak mau dia pergi. Dia pikir bisa lepas begitu saja? Tidak semudah itu.” Bagas mengangguk pelan, meski hatinya tidak tenang. Ia tahu hubungan antara bos dan Nonanya sedang buruk, dan tindakan ini bisa memperburuk keadaan. Sementara itu, di dalam kamar, Kirana duduk diam. Ia tahu Ardan tidak akan membiarkannya pergi. Ia merasa terjebak, seperti dikurung di dalam rumah yang dulu ia anggap tempat berlindung. Matanya menatap kosong ke arah jendela, lalu beralih ke meja kecil di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat membuka laci dan menemu
Last Updated: 2025-09-07