author-banner
Arandiah
Arandiah
Author

Novels by Arandiah

Parfum Pemikat Wanita

Parfum Pemikat Wanita

"Aroma apa ini, Badru? Sejak kapan penggembala sapi sepertimu tahu cara memakai parfum seseksi ini?" bisik Laras sambil mengendus nakal dada bidang Badru. Dulu, jangankan mendekat, melirik pun para wanita enggan pada Badru si 'Banteng Bau'. Bertubuh raksasa, berkulit cokelat eksotis, namun beraroma kandang, kehadirannya seolah menjadi pengusir wanita sejati. Tapi, sebuah botol parfum usang dari pasar loak mengubah segalanya. Kini, wangi misterius itu tak hanya menyamarkan peluhnya, tapi juga mengundang birahi. Dari janda kesepian hingga kembang desa, semua tiba-tiba mengantre ingin dicumbu sang Banteng. Rahasia gelap apa yang sebenarnya tersimpan di dalam parfum pemikat itu? Dan 'bayaran' berbahaya apa yang kelak menanti Badru di balik setiap tetes wangi penakluk wanita tersebut?
Read
Chapter: Bab 129
Glek!Jakun Badru naik turun kaku saat ujung hidung mancung Binar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Napas wanita itu tersengal halus, mengembuskan uap panas yang langsung menggelitik bulu kuduk Badru.Srekk...Jemari lentik Binar tak sekadar bertaut di sela jemari kasar Badru, tapi perlahan merambat naik, meremas otot bisep di lengan pria tegap itu. Wangi pelet Kencana Wilis yang menguar makin pekat seakan membakar sisa-sisa kewarasan di kepala Binar."Mas Badru..." bisik Binar lirih, suaranya terdengar begitu rapuh bercampur gelora yang tertahan. "Jangan suruh saya menjauh... Saya gak kuat kalau harus nahan dingin sendirian di kamar belakang..."Badru memejamkan mata sesaat. Otot-otot rahangnya mengeras kaku, menahan darah mudanya yang mendidih deras ke seluruh tubuh."Teh Binar, sadar," tegur Badru dengan suara ditekan rendah, mencoba menarik tangannya perlahan. "Ini bukan rasa kedinginan biasa. Pikiran Teteh lagi kacau kena pengaruh hawa malam.""Bukan, Mas..." bantah Binar cep
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 128
Srek...Pintu kamar belakang berderit pelan. Binar merangkak keluar dari bawah kolong ranjang kayu. Seluruh badannya masih gemetar hebat, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona sedikit pun.Melihat Badru berdiri tegap di ambang pintu tengah, pertahanan Binar seketika runtuh. Langkah kakinya yang goyah bergegas mendekat, lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya melingkar erat memeluk pinggang liat Badru dari depan.Gruk!Wajah Binar terbenam di dada bidang Badru yang hangat. Isak tangisnya pecah tertahan, membasahi kulit telanjang pria itu dengan air mata yang hangat."Mas Badru... hiks... saya takut banget..." bisik Binar tersengal-sengal, cengkeraman jemarinya meremas kain sarung di punggung Badru kian kencang. "Kalau dia bawa saya balik... hidup saya pasti abis disiksa lagi..."Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Kehangatan tubuh Binar yang hanya terbalut kaos tipis menempel lekat di badannya, membuat detak jantung Badru ikut terpacu. Namun, melihat kepanikan murni di mata wanita itu, Badr
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 127
Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu kayu rumah panggung tua milik Badru berdentum keras membelah sunyi malam, merontokkan debu-debu halus dari kusen kayu. Hawa merah yang semula Badru kira jelmaan Bantara buyar seketika, berganti dengan suara bentakan kasar seorang laki-laki dari luar teras."Woi! Buka pintunya! Jangan pura-pura tidur lu di dalam!"Deg!Wajah Binar seketika pias seperti mayat. Begitu mendengar lengkingan suara berat dan serak itu, kedua matanya membelalak dipenuhi teror yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat sampai bibirnya bergetar kencang, jemarinya refleks membekap mulut sendiri agar tak menjerit."I-Itu suara Mas Joko... suami saya..." bisik Binar tercekat, air matanya luruh membasahi pipi. Jemarinya mencengkeram lengan Badru dengan kuku-kuku yang menancap panik. "Dia beneran nyari saya sampai ke kampung ini, Mas..."Badru menatap sorot mata Binar yang kalut setengah mati. Tanpa banyak bicara, Badru menepuk punggung tangan wanita itu seraya memberi isyarat ke arah
Last Updated: 2026-08-22
Chapter: Bab 126
Malam makin larut. Hawa dingin kebun pisang menyusup lewat celah dinding bambu.Di lantai beralas sarung, Badru tidur dengan kening berkerut dalam. Napasnya memberat saat dadanya mendadak terasa tertindih beban tak kasat mata.Whuushh...Udara di sekitarnya mendadak panas. Bau belerang dan anyir darah menyengat indra penciumannya.Di alam bawah sadarnya, kabut merah berputar pekat. Sosok Bantara muncul dengan mata menyala dan seringai bertaring."Badru..." dengus suara berat itu tepat di telinganya. Cengkeraman kuku hitamnya terasa membakar bahu Badru. "Wanita-wanita itu sudah basah oleh aromamu... Semakin liar mereka, semakin dekat purnama tiba. Siapkan ragamu untuk melayaniku!"'Pergi, iblis laknat!' tolak Badru menggeram kuat dalam tidurnya."Hahaha! Kau tak bisa lari, Badru!" tawa Bantara menggelegar buas.Bruk!"Hah... hah... hah!"Badru tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kening dan kaos kusamnya. Tangannya refleks meraba saku sarung, memastikan botol M
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: Bab 125
Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Punggungnya yang bersandar di dingklik kayu mendadak menegak tegang. Peringatan Aki Warsa soal hawa panas dan candu minyak gaib itu beradu dengan bayangan sosok gaib Bantara yang terus meneror alam mimpinya, menuntut bayaran pelayanan tiap malam bulan purnama.'Sialan... Baru aja dibilangin Aki Warsa, ini wangi malah nyengat lagi pas kena angin malam,' batin Badru menggeram cemas, jemarinya mengepal di atas lutut. 'Kalau Binar makin terjerat, hawa nafsu di gubuk ini bakal ngundang si iblis Bantara datang lebih cepat sebelum purnama.'Binar yang bersimpuh di lantai pandan tampak makin gelisah. Dadanya yang padat tanpa balutan bra naik turun kencang di balik kaos kusam Badru. Kedua matanya yang sayu mulai berair, menatap leher tegap Badru seolah melihat sesuatu yang paling manis di dunia."Mas..." bisik Binar makin parau, tangannya yang lembut bergerak ragu ke atas, lalu mendarat di atas lutut kekar Badru. "Mas Badru beneran gak pakai minyak apa-apa? W
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: Bab 124
Tak butuh waktu lama, atap gubuk bambunya yang kusam mulai tampak di balik rimbunnya rumpun pisang ambon. Di dalam gubuk, pendar cahaya lampu tempel minyak tanah terlihat samar-samar menerobos celah anyaman dinding bambu.Suara sayup-sayup azan magrib mulai berkumandang dari musala kampung yang letaknya cukup jauh di seberang sungai.Allahu Akbar... Allahu Akbar...Badru memantau situasi sekitar gubuk sejenak. Gelap dan sepi. Hanya ada suara jangkrik malam yang mulai bersahutan di balik semak belukar.Badru melangkah mendekati pintu depan, lalu mengetuknya pelan tiga kali sesuai sandi rahasia mereka.Tok! Tok! Tok!"Teh Binar, ini saya, Badru," bisik Badru rendah di depan celah pintu.Srek...Terdengar langkah kaki bergegas dari dalam gubuk. Suara selot bambu ditarik perlahan, dan daun pintu langsung terbuka menganga sedikit.Wajah cantik Binar menyembul dari balik pintu. Begitu melihat sosok jangkung Badru berdiri di hadapannya, senyum manis dan raut lega seketika merekah di wajahnya
Last Updated: 2026-08-20
Nyonya Puas Abang Lemas

Nyonya Puas Abang Lemas

"Bagaimana kalau kamu masuk ke kamar saya sebentar? Saya butuh bantuan laki-laki yang ... kuat kayak kamu, Rus." Rusdi tediam mendengar ucapan Nyonya Vivian, majikannya yang terasa ambigu itu. Selama ini, Rusdi bekerja sebagai tukang kebun, tapi tidak sekali dua kali majikannya itu seolah berusaha menggodanya dan membuatnya hilang kewarasan.
Read
Chapter: Bab 300 TAMAT
Vivian tidak mengubah posisi duduknya. Kakinya yang ramping tetap menyilang dengan anggun. Jari lentiknya yang berkuku merah perlahan mengetuk meja kaca di depannya. Sebuah senyum tipis dan dingin akhirnya muncul di bibir Vivian. Senyum itu tidak sampai ke matanya, tapi justru membuat wajahnya terlihat semakin menggoda dan mematikan. "Membesarkan?" ulang Vivian pelan. "Maksud Paman membesarkan rekening pribadi Paman dengan menggelapkan dana proyek selama tiga tahun berturut-turut?" Anton maju setelah mendapat isyarat dari mata Reynard. Dia meletakkan sebuah tumpukan map merah di depan Pak Broto. Itu adalah semua bukti aliran dana gelap yang sudah diselidiki tim keamanan Aryasatya. Melihat tumpukan map itu, tubuh Pak Broto langsung lemas. Dia jatuh terduduk di kursinya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di dahinya. Reynard berdiri diam di belakang kursi Vivian. Matanya menatap puas ke arah istrinya. Garis leher Vivian yang terekspos dari potongan kerah blazernya t
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Bab 299
Pintu tertutup rapat setelah Anton dan Felicia keluar. Reynard menyandarkan tubuh besarnya ke kursi. Matanya langsung terkunci pada Vivian yang duduk di seberang meja.Wanita itu sedang serius membaca lembaran profil di dalam map. Blus sutra berwarna krem yang dia pakai melekat pas di tubuhnya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan kulit leher dan tulang selangkanya yang seputih susu. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggul hingga pahanya. Kakinya menyilang santai di bawah meja, memperlihatkan betisnya yang mulus.Reynard menelan ludah pelan. Ingatannya mundur ke masa lalu.Dulu, saat Reynard masih menyamar menjadi Rusdi si tukang kebun, dia sering mencuri pandang saat Vivian duduk sendirian di teras belakang rumah. Wajah Vivian saat itu selalu dingin, datar, dan tak tersentuh. Namun justru sikap dinginnya itulah yang membuat aura Vivian sangat menggoda. Sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang jarang tersenyum selalu sukses membuat darah Reynard berdesir pan
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Bab 298
Beberapa hari kemudian...Pagi itu di penthouse, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Vivian sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan terusan berwarna nude berbahan brokat yang elegan tapi tidak terlalu mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi.Reynard masuk ke kamar setelah selesai berganti pakaian di ruangan sebelah. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu berdiri di belakang Vivian dan menatap pantulan istrinya di cermin."Sudah siap?" tanya Reynard.Vivian mengangguk. "Sudah. Apa menurutmu ini terlalu sederhana?""Tidak. Ibu justru lebih suka kalau kau tampil apa adanya. Beliau tidak suka sesuatu yang berlebihan," jawab Reynard sambil memegang bahu Vivian."Aku hanya merasa sedikit gugup. Aku takut mengecewakan ibumu," kata Vivian jujur.Reynard membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. "Tidak perlu gugup. Ibu sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat mu. Sekarang, ayo berangkat. Sopir sudah menunggu di bawah.
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab 297
Dentingan lift pribadi itu terdengar pelan saat pintu terbuka. Vivian melangkah keluar dengan santai. Karena ini adalah malam keduanya di penthouse, dia tidak lagi melayangkan pandangan kagum pada langit-langit tinggi atau pilar marmer yang megah. Dia berjalan langsung menuju meja konsol eboni, meletakkan tas tangannya yang mungil di sana dengan gerakan yang sangat terbiasa.Gaun merah hati berbahan satin yang ia kenakan tampak mengikuti setiap gerak tubuhnya dengan sempurna. Saat ia berjalan, cahaya lampu kristal memantul di permukaan kain yang mengilap, menciptakan gradasi warna merah yang elegan. Potongan gaun itu benar-benar menonjolkan kulit bahunya yang seputih porselen.Reynard berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jam tangan dan melonggarkan dasinya. Ia memperhatikan bagaimana Vivian merapikan rambut hitamnya di depan cermin besar."Aku sudah meminta koki untuk menyiapkan semuanya di dapur sebelum kita sampai," kata Reynard. Suaranya berat, menggema
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab 296
"Katakan pada wanita ini, siapa aku," perintah Reynard dingin.Manajer itu menatap Adisty dengan bingung. "Beliau adalah Tuan Muda Reynard, pemilik dari Grup Aryasatya. Mal ini, butik ini, dan hampir sebagian besar gedung di kota ini adalah miliknya."Wajah Adisty seketika berubah menjadi sangat pucat. Dia menatap Reynard dengan tidak percaya. "Pemilik Grup Aryasatya? Tapi... tapi..."Reynard melangkah maju satu langkah, membuat Adisty mundur ketakutan. "Kau bilang Vivian tidak pantas memakai berlian? Kau bilang suamimu, eh maksudku, kakakmu yang dipenjara itu lebih baik dariku?""Sa... saya tidak bermaksud begitu, Tuan," gagap Adisty."Kau juga menghina Rusdi," lanjut Reynard dengan nada yang sangat rendah. "Kau tidak tahu kalau Rusdi dan aku adalah orang yang sama? Aku hanya sedang ingin melihat seberapa busuk hati keluarga kalian."Adisty seolah tersambar petir. Dia hampir saja jatuh pingsan. Pria miskin yang dulu selalu dia injak-injak dan dia hina ternyata adalah salah satu orang
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab 295
Reynard melangkah masuk ke dalam butik perhiasan dengan sorot mata yang tajam. Di belakangnya, Anton mengikuti dengan langkah yang tertata. Kehadiran Reynard membuat seluruh pelayan di toko itu seketika menunduk hormat.Pandangan Reynard langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi beludru. Vivian. Dia mengenakan gaun merah hati yang sangat pas di tubuhnya. Potongan gaun itu memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah gaun tersebut.Namun, wajah Vivian terlihat gelisah. Dia memegang sebuah kotak perhiasan dengan tangan yang sedikit gemetar."Kenapa belum dibayar?" tanya Reynard. Suaranya berat dan memenuhi ruangan yang sunyi itu.Vivian tersentak. Dia menoleh dan melihat Reynard berdiri di sana dengan aura yang sangat kuat. "Reynard? Kamu sudah selesai rapatnya?"Reynard tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Vivian. Dia mengambil kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung
Last Updated: 2026-04-30
Terjebak Gairah (Calon) Mantan Suamiku

Terjebak Gairah (Calon) Mantan Suamiku

Nasib pernikahan yang Kirana kira akan segera kandas, justru membuka kehidupan baru yang tak pernah terpikirkan olehnya. Ia terjebak dalam gairah pria yang sebentar lagi jadi mantan suaminya. Bagaimana bisa, suami dingin yang tak pernah menyentuhnya selama bertahun-tahun, kini menjadi liar dalam kubangan gairah di atas ranjang panasnya.
Read
Chapter: Rantai pengikat
Pagi harinya, Kirana terbangun bukan karena suara ombak, melainkan bau kopi dan roti panggang yang masuk ke kamar. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai matanya melihat Ardan yang sedang berdiri di depan lemari besar sambil memilihkan baju untuknya."Bangun, Sayang," ucap Ardan dengan nada ringan, seolah-olah pelarian Kirana selama beberapa waktu lalu hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat. "Aku sudah siapkan sarapan. Aku ingin kamu pakai gaun sutra biru ini. Ini warna favoritku kalau kamu yang pakai."Kirana bangun perlahan, tubuhnya masih terasa kaku. "Ardan, apa yang kamu lakukan?"Ardan berbalik sambil memegang gaun itu di depan tubuhnya sendiri. Ia tersenyum—sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya yang tetap terasa dingin. "Kita mulai lagi dari awal, Kirana. Hari ini, tidak ada Barra, tidak ada Zara. Cuma ada kita. Aku sudah batalkan semua janji di kantor. Kita akan habiskan waktu bersama di rumah."Kirana melangkah menuju meja rias, tapi ia tersentak saat menyadari s
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: Titik awal lagi
Bunyi bip dari kunci pintu digital itu terdengar seperti peringatan yang mengerikan di koridor yang sepi. Ardan masuk lebih dulu. Gerakannya tenang tapi waspada, persis seperti pemburu yang sedang mengawasi mangsanya. Ia sengaja tidak menyalakan lampu utama; hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala otomatis, menciptakan bayangan panjang yang terlihat seram di atas lantai marmer."Selamat datang kembali, Kirana," ucap Ardan tanpa menoleh. Suaranya rendah, hampir berbisik, tapi sanggup membuat Kirana merinding.Kirana terpaku di depan pintu. Dadanya terasa sesak saat menghirup bau ruangan itu—campuran wangi kayu cendana dan aroma pembersih ruangan yang mahal. Inilah tempat yang ia kira sudah ia tinggalkan selamanya. Setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu saat ia dikurung berbulan-bulan sebelum akhirnya berhasil kabur ke Amerika."Kenapa kita balik ke sini?" tanya Kirana dengan suara serak yang hampir pecah. "Aku benci tempat ini, Ardan. Kamu tahu itu."Setelah menaruh kunci m
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: Diajak pulang
Hening yang menyelimuti kamar itu terasa begitu rapuh, siap pecah kapan saja. Kirana menahan napas, mencoba membedakan suara di sekelilingnya. Hanya ada dua, deburan ombak yang ritmis di kejauhan, dan gemuruh detak jantungnya sendiri yang memukul-mukul gendang telinga. Ia menajamkan pendengarannya ke arah sofa, menangkap irama napas Ardan yang dalam dan teratur. Yakin suaminya telah terlelap, ia menarik ponsel dari balik selimut dengan gerakan sepelan mungkin.Tubuhnya masih bergetar hebat, tetapi tekadnya membara lebih panas dari rasa takutnya. Jari-jarinya yang sedingin es nyaris tak mampu menekan tombol daya. Sedetik kemudian, layar ponsel menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang terasa membutakan di dalam kegelapan pekat. Kirana buru-buru meredupkan tingkat kecerahan, lalu menyembunyikan diri lebih dalam di bawah selimut, menciptakan tenda kecil yang remang-remang sebagai benteng pertahanannya.Ia bahkan tidak tahu siapa yang harus dihubungi. Polisi? Teman? Siapa pun. Siapa pun y
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: Semakin posesif
Rasa dingin menjalar di punggung Kirana, bukan karena angin laut, melainkan karena tatapan Ardan yang menguncinya. Genggaman pria itu di pergelangan tangannya terasa seperti borgol yang mustahil dilepaskan. Keputusasaan yang tadinya sempat mereda, kini kembali mencengkeramnya dengan lebih erat.“Ini bukan cinta, Dan,” desis Kirana, berusaha menarik tangannya meski sia-sia. Air matanya mulai menggenang, campuran antara amarah dan ketakutan. “Ini obsesi. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin memilikiku.”“Apa bedanya?” balas Ardan, suaranya rendah dan berbahaya. Ia menarik Kirana lebih dekat, memaksa wanita itu menatap matanya. “Aku melihat foto pernikahan kita di meja. Kamu tidak membuangnya. Itu artinya kamu masih merasakan hal yang sama, Kirana. Kamu hanya sedang bingung dan terluka.”“Aku menyimpannya sebagai pengingat,” sahut Kirana dengan suara bergetar. “Pengingat betapa bodohnya aku pernah percaya pada ilusi kebahagiaan bersamamu.”Penolakan Kirana yang begitu tajam membuat r
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: Penolakan Kirana
“Boleh aku tetap menjagamu sampai kamu benar-benar pulih? Bukan sebagai suami, tapi sebagai seseorang yang pernah kamu cintai.”“Tidak,” jawab Kirana dengan suara pelan tapi tetap tegas. “Aku tidak butuh itu, Dan. Aku butuh ruang. Aku ingin menjauh dari kamu.”Ardan terdiam. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Ia hanya bisa mengangguk perlahan, seolah menerima kekalahan yang sudah ia ketahui. Hatinya terasa hancur. Ia ingin terus berada di dekat Kirana, memastikan wanita itu baik-baik saja, tetapi ia tak punya hak lagi.“Baiklah,” ucapnya sambil menghela napas panjang. “Aku akan urus semuanya. Nanti kamu bisa tandatangani berkasnya.”Ardan pun bangkit dan keluar dari kamar. Kirana hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh. Ada rasa lega, tetapi juga perih yang tak bisa ia jelaskan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir perlahan di pipinya. Perpisahan ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa bernapas kembali.Beberapa hari berlalu. Luka di pergelangan tangan Kirana sudah
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: 49. Mengurus perceraian
Setelah keluar dari kamar, Ardan melangkah cepat ke arah ruang tengah. Wajahnya tegang, matanya penuh amarah yang ditahan. Ia langsung memanggil Bagas, asistennya yang sudah lama bekerja dengannya. “Bagas,” ucap Ardan dengan nada dingin, “Mulai sekarang, jaga semua pintu dan gerbang. Jangan biarkan Kirana keluar dari rumah ini tanpa izin dariku.” “Bos… apakah ini tidak berlebihan?” tanya Bagas tampak ragu. Ardan menatapnya tajam. “Lakukan saja. Aku tidak mau dia pergi. Dia pikir bisa lepas begitu saja? Tidak semudah itu.” Bagas mengangguk pelan, meski hatinya tidak tenang. Ia tahu hubungan antara bos dan Nonanya sedang buruk, dan tindakan ini bisa memperburuk keadaan. Sementara itu, di dalam kamar, Kirana duduk diam. Ia tahu Ardan tidak akan membiarkannya pergi. Ia merasa terjebak, seperti dikurung di dalam rumah yang dulu ia anggap tempat berlindung. Matanya menatap kosong ke arah jendela, lalu beralih ke meja kecil di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat membuka laci dan menemu
Last Updated: 2025-09-07
Ciuman Ratu Iblis Membuatku Dikelilingi Banyak Wanita

Ciuman Ratu Iblis Membuatku Dikelilingi Banyak Wanita

“Woy! Siapapun itu! Mau Tuhan, iblis, setan, mak lampir, atau semuanya! Dengerin Aku!” teriak Dewa sambil menatap langit dengan kesal. “Siapapun yang bisa bikin semua orang tunduk sama aku, kalian bisa ambil apapun yang aku punya. Ambil nyawaku juga gak masalah! Aku capek diinjak-injak terus!”
Read
Chapter: Bab 123. TAMAT
Niskala tertawa kecil. Suaranya bergema pelan di dalam penthouse yang sunyi. Dia mengusap punggung Dewa yang basah oleh keringat, lalu menarik wajah pria itu agar bisa menatap matanya yang berkilat merah."Kamu terlalu fokus pada rasa sakitnya, Dewa," bisik Niskala lembut. Jemarinya menelusuri garis rahang Dewa. "Setiap kali aku menyedot energimu, aku sebenarnya sedang meruntuhkan batas-batas manusiamu. Proses ini hampir selesai. Kekuasaan penuh Mandala sudah di depan mata."Niskala bangkit sedikit, menggeser tubuh Dewa agar pria itu bisa bersandar di bahunya. Dia membelai rambut Dewa, menyembunyikan lima uban yang masih berdiri tegak itu di balik poni hitam dengan gerakan lembut."Pelabuhan tadi adalah kuncinya. Kamu sudah menghancurkan fondasi terakhir mereka, bukan? Itu tandanya akhir dari perjuanganmu sudah sangat dekat. Rasa lemas ini adalah seleksi akhir. Sisa-sisa kemanusiaanmu yang lemah sedang dikikis habis, digantikan dengan kekuatan mutlak yang akan membuat seluruh kota ber
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 122
Hantaman telak itu membuat seluruh tubuh Niskala bergetar hebat di bawah kungkungan Dewa. Liang hangatnya menjepit milik Dewa dengan sangat ketat, memberikan sensasi jepitan yang luar biasa nikmat sekaligus mematikan.Dewa mengerang berat, mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat dan bertenaga. Setiap tusukannya dalam dan menghunjam, membuat sofa panjang di ruang tengah itu berderit halus.Bugh! Bugh!Niskala mencengkeram bahu kekar Dewa semakin erat. Mulutnya tidak berhenti mendesah parau, menikmati kebrutalan pria di atasnya. "Ah... Dewa... emmh... terus..."Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Baru beberapa belas kali Dewa melayangkan hentakan kuat, tiba-tiba—Deg!Jantung Dewa berdenyut dengan ritme yang sangat aneh. Bukan denyutan sakit seperti di pelabuhan tadi siang, melainkan rasa kosong yang teramat sangat, seolah-olah ada sebuah lubang hitam yang mendadak tercipta di dalam jiwanya dan mulai menyedot seluruh kesadarannya.Whuushh!Hawa dingin yang pekat men
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab 121
Dewa mempererat cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Niskala. Dia menekan wanita itu ke bantal sofa. Tatapannya lurus mengunci mata Niskala."Jangan banyak bicara lagi," bisik Dewa. Suaranya berat.Niskala malah tersenyum. "Hihi... silakan, Tuan Dewa."Dewa menunduk. Dia langsung membungkam bibir Niskala.Cup!Lumatan Dewa terasa kasar dan menuntut. Dia melumat bibir bawah Niskala dengan kuat. Hawa hangat menjalar dari lidah Niskala, mengalir masuk ke tenggorokan Dewa. Rasa kosong di dadanya mendadak terasa sedikit terisi."Mmph..." Niskala melenguh.Kedua kaki Niskala yang berbalut rok satin hitam tipis bergerak gelisah di atas sofa. Kain satin itu bergesekan halus, tersingkap hingga ke paha atasnya yang putih mulus.Dewa melepaskan ciumannya sejenak. Napasnya memburu. Dia menatap wajah Niskala yang memerah dengan mata setengah terpejam.Plak!Dewa memindahkan tangannya ke pinggul jumbo Niskala, meremasnya dengan kasar hingga daging padat di sana berubah bentuk di balik kain
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 120
Mendengar kata-kata Dewa, Niskala tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum tipis. Dia bangkit dari sofa, lalu melangkah ke arah dapur bersih sambil membawa cangkir kosong. Langkah kakinya terdengar berirama di atas lantai marmer. Rok kulit marunnya yang ketat bergoyang pelan seiring ayunan pinggulnya.Dewa memperhatikan punggung wanita itu sampai hilang di balik sekat dapur. Pria itu menarik napas dalam-dalam. Dia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang terasa terkuras habis.‘Sial, kontrak ini benar-benar mengikatku hidup dan mati. Kalau setiap kali habis baku hantam aku harus sekarat begini, bisa-bisa aku mati muda sebelum menguasai seluruh aset Mandala,’ batin Dewa, merutuki kondisi tubuhnya sendiri yang sempat limbung tadi siang.Waktu berjalan merayap. Hawa panas dari pelabuhan di luar jendela kaca raksasa penthouse perlahan meredup. Warna langit berubah menjadi jingga tua, lalu perlahan menggelap total digantikan oleh kelap-kelip lampu ko
Last Updated: 2026-07-04
Chapter: Bab 119
Niskala membiarkan Dewa bersandar beberapa menit di dadanya. Setelah napas Dewa mulai teratur, Niskala menggeser duduknya. Tangan lentiknya mengambil tisu, menyeka sisa darah di sudut bibir Dewa."Sudah enakan?" tanya Niskala."Lumayan," sahut Dewa. "Jantungku tidak seperti diperas lagi."Niskala berdiri. Dia berjalan ke kamar mandi, lalu kembali membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk putih. Niskala berlutut di samping sofa. Dia memeras handuk, lalu menyeka kening, leher, hingga dada Dewa dengan telaten. Hawa hangat dari handuk itu membuat otot Dewa yang tegang perlahan rileks.Dewa menatap gerakan tangan Niskala. Mengingat rasa sakit yang menyiksanya tadi, Dewa langsung teringat syarat kontrak mereka."Niskala," panggil Dewa."Ya?""Soal bayaran energi yang kurang itu... kapan kita mulai?" Dewa memperbaiki posisi duduknya yang lemas. "Aku tidak mau mendadak muntah darah lagi di jalan."Niskala menghentikan usapan handuknya. Dia menatap Dewa, lalu mendadak terkekeh geli."H
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 118
Niskala melangkah ke dapur bersih. Ruang tengah langsung sunyi.Dewa memegangi dadanya. Napasnya pendek-pendek. Dingin mendadak menjalar dari ujung kaki, naik cepat ke rongga dada.Deg!Jantung Dewa rasanya seperti diremas tangan besi. Sakitnya berkali-kali lipat dari yang di mobil tadi."Akh!" Dewa menggeliat kesamping. Tubuhnya menekuk di atas sofa. Keringat dingin sebesar biji jagung keluar di pelipis dan lehernya.Tenggorokannya mendadak penuh dan panas.Uhuk! Uhuk!Dewa terbatuk keras. Cairan merah pekat menyembur dari mulut, mengotori karpet bulu di bawah sofa. Belum sempat dia menyeka bibir, aliran darah segar mengalir deras dari kedua lubang hidungnya. Darah itu membasahi dagu lalu menetes ke kerah kemeja putihnya.Tuing! Tuing! Tuing!Dahi Dewa terasa gatal dan panas. Lima helai uban baru mendadak tumbuh paksa. Rambut-rambut putih itu berdiri tegak lurus, bergetar heboh ke kiri dan ke kanan seperti antena rusak. Pandangan Dewa langsung kabur. Semuanya berputar hitam.'Sial, a
Last Updated: 2026-07-01
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status