MasukMendengar itu, Rusdi tidak lagi menunggu. Ia menundukkan wajah, bibirnya langsung menyentuh leher jenjang Vivian yang putih mulus. Ia mencium dan menghisap pelan, meninggalkan jejak merah tipis.
“Ahh… Rus…” desah Vivian, mendongak, lehernya tertekuk indah. Kumis tipis Rusdi bergesekan dengan kulit sensitifnya.
Tangan besar Rusdi naik, meremas dada penuh yang lembut dan berat. Jemarinya memilin ujung dada yang mengeras, memutar pelan tapi tegas.
“Mmm… ya, di situ… lebih kuat lagi,” erang Vivian, tubuhnya menggeliat, payudara bergoyang ringan di genggaman Rusdi.
Rusdi menarik napas dalam. Matanya turun ke tubuh telanjang Vivian: pinggang ramping, pinggul lebar melengkung, kulit putih mengkilap tipis keringat. Ia mengait celana dalam renda tipis, menariknya turun cepat.
Vivian mengangkat pinggul sedikit. “Cepat, Rus… lepasin semuanya.”
Kain renda meluncur lepas. Area intim Vivian terbuka. Semua tampak sudah basah mengkilap, bibir merah muda terbuka sedikit. Benar-benar siap.
Rusdi menelan ludah. “Vivian… kamu basah sekali.”
Ia memegang kedua lutut Vivian, membukanya lebar-lebar. Paha mulus terbuka sepenuhnya, kulit dalam berkilau hangat.
Vivian mendesah panjang. “Ahh… lihat aku, Rus… jangan ragu.”
Rusdi membenamkan wajah di antara paha itu. Lidahnya menyentuh belahan basah, menjilat pelan dari bawah ke atas.
“Ahhh! Rusdi…!” pekik Vivian kaget, tangannya langsung meraih rambut Rusdi.
Lidah Rusdi bergerak lincah, menari di titik sensitif, melingkar, menekan, menyedot pelan.
“Mmm… ya… tepat di situ… jangan berhenti…” desah Vivian, pinggulnya terangkat mencari lebih dalam, paha menjepit kepala Rusdi ringan.
Rusdi merasakan kelembaban semakin banyak, rasa manis di lidahnya. Area itu membengkak, mengkilap lebih jelas di bawah lampu remang.
“Rus… lebih dalam… ahh… seperti itu…” erang Vivian, suara serak penuh kenikmatan, rambut panjang terurai liar di bantal, mata terpejam rapat.
Rusdi menekan lidah lebih kuat, tangan kasarnya meremas paha luar agar tetap terbuka lebar. Napasnya tersengal di antara desahan Vivian yang semakin keras.
“Astaga… Rus… aku… ahhh…!” Vivian menggeliat hebat, pinggul bergoyang tak terkendali.
Rusdi semakin bersemangat mendengar desahan Vivian. Ia menghisap kuncup sensitif itu kuat-kuat, lalu memasukkan satu jari ke dalam liang yang basah, mengocoknya seirama dengan gerakan lidahnya.
“Ahh… Rus… lebih dalam…!” erang Vivian, pinggulnya terangkat tinggi, paha mulus menjepit kepala Rusdi.
“Cukup! Cukup, Rus!” jerit Vivian tiba-tiba, tubuhnya gemetar hebat. “Jangan siksa saya lagi… Masukkan… Masukkan punya kamu sekarang!”
Rusdi mengangkat wajahnya yang basah oleh cairan Vivian. Ia menyeka bibir dengan punggung tangan, lalu menegakkan tubuh, berlutut di antara paha lebar yang terbuka.
Miliknya sudah menegang keras, urat-urat tegang menonjol.
Rusdi memegangnya, mengarahkannya tepat ke gerbang masuk Vivian yang basah mengkilap, bibir merah muda membengkak dan licin.
Dengan napas tertahan, ia mendorong masuk perlahan.
“Erghhh…” geram Rusdi panjang. Bagian dalam Vivian hangat, licin, menjepitnya erat dan nikmat. Jalan masuk terasa sangat pas, seperti dibuat untuknya.
Vivian terpekik tertahan. “Ahhh… besar sekali… penuh…!”
Rusdi masuk seluruhnya. Ia meraih kedua kaki jenjang Vivian, mengangkatnya tinggi dan meletakkannya di atas bahu lebarnya.
Paha mulus Vivian terbuka lebar, pinggul terangkat tinggi, area terlarang itu terpampang jelas di depannya, basah berkilau, bibir merah membuka lebar karena posisi baru ini.
“Tahan kakimu di sana,” perintah Rusdi, suara serak dominan.
Vivian menurut, kakinya terkunci di bahu Rusdi. Pinggulnya terangkat sempurna, membuat akses lebih dalam.
Rusdi mulai menghunjam. Tusukannya dalam sekali, menyentuh titik terdalam.
“Ahh… Rus… tepat di situ… lebih keras!” jerit Vivian, tangannya mencengkeram sprei, payudara penuh bergoyang setiap dorongan.
Rusdi menghunjam lebih cepat. Ia melihat semuanya.
Paha mulus yang bergetar di bahunya, pinggul Vivian bergoyang menyambut setiap tusukan, kenikmatan Vivian yang menjepitnya basah dan panas, dadanya naik-turun cepat di balik lingerie yang tersingkap total.
“Mmm… ya… Rus… isi saya sepenuhnya… ahhh!” desah Vivian, mata terpejam rapat, bibir terbuka lebar mengeluarkan erangan panjang.
Rusdi merasakan jepitan semakin kuat, kehangatan yang membungkusnya. Tubuhnya panas membara, napas tersengal, tapi ia terus menghunjam dalam dan kuat, fokus pada tubuh Vivian yang terbuka lebar di bawahnya.
Semua tampak seksi, basah, dan sepenuhnya miliknya saat ini.
“Ahh! Ya Tuhan! Rusdi… itu dalam sekali!” teriak Vivian, suaranya pecah.
Rusdi tidak berhenti. Tangannya mencengkeram paha mulus Vivian kuat-kuat, pinggulnya menghujam ritme cepat dan kuat.
Setiap tusukan membuat tubuh Vivian terguncang hebat, payudara penuh bergoyang liar, pinggul lebar terangkat menyambut dorongan.
Tiba-tiba Rusdi menarik miliknya keluar. Vivian mengerang panjang, tubuhnya gemetar karena rasa kosong yang mendadak.
“Kenapa berhenti…?” tanya Vivian tersengal, mata bingung dan kecewa.
Rusdi tidak jawab. Napasnya memburu. Ia turun dari kasur, menarik pinggang Vivian agar berbalik.
“Berbaliklah,” perintah Rusdi tegas, suara parau lapar.
Vivian menurut. Ia membalik badan, menekuk lutut, menungging di hadapan Rusdi. Bokongnya yang sintal dan putih terpampang jelas, bulat sempurna, kulit halus mengkilap keringat, celah di antara paha terbuka lebar, area intim basah berkilau dari belakang.
Rusdi menelan ludah kasar. Pemandangan punggung melengkung indah Vivian, pinggul lebar yang terangkat tinggi, dan kewanitaan yang terbuka mengundang benar-benar membakarnya.
Tangan kasar Rusdi mendarat di pinggul, mencengkeram kuat hingga meninggalkan bekas merah.
“Siap-siap, Nyonya,” bisik Rusdi.
Dengan satu dorongan kuat, ia menghunjam masuk dari belakang.
“Aaaahhh!” jerit Vivian, kepalanya terbenam ke bantal. Sensasi lebih dalam, lebih penuh, menyentuh titik yang belum tersentuh sebelumnya.
Rusdi memacu pinggul lagi. Ia melihat jelas miliknya keluar-masuk membelah kewanitaan Vivian yang basah dan merah muda. Suara kulit beradu nyaring.
Plak, plak, plak!
Setiap kali bokong Vivian bertabrakan dengan pangkal paha Rusdi.
Rusdi membungkuk, bibirnya mendekat ke telinga Vivian. Tangannya meremas payudara yang berayun seirama tusukan.
“Katakan, Vivian,” bisik Rusdi kotor. “Suami kamu yang kaya itu… apa dia pernah menghajarmu sekeras ini di kasur?”
Vivian bergetar hebat. “Tidaak… ahhh… dia tidak pernah…”
“Saya tahu,” potong Rusdi, mempercepat tempo, menghunjam brutal. “Dia pasti terlalu sopan, kan? Tidak seperti tukang kebunmu ini.”
Rusdi menarik rambut panjang Vivian, memaksa kepalanya mendongak. Ia melihat wajah Vivian dari samping. Matanya berkabut, bibir terbuka lebar mengeluarkan desahan, pipi memerah hebat.
“Bilang sama saya,” paksa Rusdi, napas panas menerpa leher Vivian. “Punya siapa yang lebih enak? Punya suami kamu yang lembek itu, atau punya Rusdi yang keras ini?”
Matahari siang terasa membakar leher. Rusdi berjalan cepat membelah taman belakang, langsung masuk ke kamar paviliunnya yang sempit. Pintu kayu dia dorong sampai rapat. Klik. Grendel terkunci dua kali.Napasnya memburu. Kemeja lusuh yang basah oleh keringat dia lepas taruh begitu saja, membiarkan dada bidangnya terbuka. Dia berlutut di sebelah ranjang besi yang berderit pelan. Tangannya cekatan merogoh celah papan lantai di bawah kasur, menarik satu ponsel hitam tebal.Panggilan darurat langsung tersambung."Barang sudah sampai ke tangan orangmu, Fel?" suara Rusdi pelan tapi menuntut. Matanya mengintip dari balik tirai jendela yang kusam. Kolam renang masih sepi."Aman. Orang kita sudah pegang flashdisk merah dan surat tanah itu. Kerjamu rapi, Rus," sahut Fel dari seberang. "Tapi ingat, misimu belum selesai.""Aku tahu. Ada perubahan. Aku baru saja bikin kesepakatan dengan Nyonya Vivian."Fel mendengus keras. "Kesepakatan? Kamu ini agen lapangan atau hidung belang? Jangan main main, R
Adrian dan Ferdi tertawa terbahak-bahak sambil melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu. Suara pintu depan yang tertutup dengan keras menyisakan sunyi yang menyesakkan di area kolam renang. Rusdi berdiri mematung, mencengkeram selang air sampai jari-jarinya memutih dan gemetar. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Dia segera mematikan keran air, lalu berjalan cepat menuju dapur belakang dengan langkah yang berat.Dia tahu Vivian pasti lari ke sana untuk menyembunyikan tangisnya. Benar saja, Rusdi menemukan Vivian sedang berdiri menyandarkan tubuhnya ke meja pantry kayu. Nyonya rumah itu tampak sangat hancur dan rapuh. Daster satin ungu yang dia pakai terlihat sangat ketat karena dia sedang membungkuk, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang lebar dan bokongnya yang berisi dengan sangat nyata."Nyonya," panggil Rusdi dengan suara rendah yang sedikit parau.Vivian tersentak kaget. Dia segera membalikkan badan dan mencoba mengusap air mata di pipinya yang putih. "Rusdi? Kenapa kamu masuk ke
Udara subuh masih sangat dingin saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang belakang. Rusdi yang sudah menunggu di balik pagar segera melangkah keluar dengan waspada.Kaca mobil turun sedikit, memperlihatkan seorang pria bertopi."Mana barangnya?" tanya pria itu tanpa basa-basi.Rusdi mengeluarkan flashdisk merah dari sakunya dan menyerahkannya. "Ini. Pastikan sampai ke tangan Fel sekarang juga.""Ayo masuk ke mobil. Fel sudah siapkan tempat aman buat kamu," ajak si sopir.Rusdi menggeleng pelan. "Bilang sama dia, saya belum bisa pergi. Masih ada urusan yang harus diselesaikan di dalam rumah ini.""Kamu jangan gila, Rus. Kalau Adrian tahu kamu pelakunya, kamu habis.""Saya tahu risikonya. Sudah, jalan sekarang."Mobil itu perlahan melaju pergi. Rusdi menarik napas panjang, lalu kembali menyelinap masuk ke arah paviliun.Sabtu pagi, matahari mulai terasa menyengat di kulit. Rusdi sedang sibuk mencangkul tanah di pojok taman saat Adrian keluar ke paviliun kolam renang bersam
Pintu paviliun tertutup rapat. Rusdi menyandarkan punggungnya di sana sambil mengatur napas yang tersengal. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Jaket hitam yang ia kenakan terasa sangat lembap dan tidak nyaman.Ia merogoh saku celana. Jari tangannya yang masih gemetar menarik keluar sebuah benda kecil berwarna merah. Sebuah flashdisk. Benda itu berkilau tertimpa lampu kamar yang redup.Rusdi segera menuju tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang tadi ia sembunyikan di bawah bantal. Layar ponsel itu menunjukkan tiga panggilan tak terjawab dari Fel. Tanpa membuang waktu, Rusdi menekan tombol panggil balik."Halo," suara Fel menyahut dengan cepat di seberang sana."Barangnya sudah ada di tangan saya, Fel," bisik Rusdi."Kamu yakin itu benda yang benar? Jangan sampai kita gagal karena kamu salah ambil barang."Rusdi menatap flashdisk merah itu lekat-lekat. "Sangat yakin. Saya mengambilnya dari laci rahasia di bawah meja jati di ruang kerja Adrian. Bahkan Adrian sangat panik tadi
Garis-garis tipis cahaya bulan menembus celah gorden, menyinari sisa kehangatan Vivian yang masih membekas di dada Rusdi.Namun, kehangatan itu menguap seketika saat Vivian menarik diri. Jemarinya yang gemetar merapikan tali daster satin hitamnya yang sempat melorot. Di bawah temaram lampu, Rusdi bisa melihat napas Vivian yang memburu, dada indahnya yang membusungkan daster tipis itu naik-turun dengan cepat, seolah sedang memompa sisa keberanian yang dia miliki."Rus, dengarkan aku," bisik Vivian. Dia mencengkeram lengan Rusdi, kulitnya yang halus terasa kontras dengan otot Rusdi yang menegang. "Adrian ada di kamar utama. Dia sedang mabuk dan emosi. Aku akan masuk ke sana. Aku akan membuatnya 'sibuk' supaya dia tidak keluar."Rusdi menggeleng keras. "Gila, Vi. Itu bunuh diri. Kalau dia main tangan lagi bagaimana?"Vivian memaksakan senyum getir. Dia mengelus pipi Rusdi dengan telapak tangannya yang licin dan harum. "Hanya ini caranya. Ambil flashdisk merah itu di laci rahasia ruang ke
Suasana kamar tamu makin pengap oleh gairah yang tertahan. Rusdi bisa merasakan deru napas Vivian yang menerpa lehernya."Jawab jujur, Rus. Apa kamu lindungi aku cuma karena aku majikanmu?" tanya Vivian pelan. Matanya yang sayu menatap Rusdi lekat-lekat.Rusdi menggeleng. Tangannya makin erat mendekap pinggul lebar Vivian."Bukan, Vi. Sama sekali bukan karena itu.""Lalu kenapa? Kamu tahu kan Tuan Adrian itu orangnya nekat? Kamu bisa hancur kalau dia tahu kamu ada di sini."Rusdi menatap belahan dada Vivian yang sangat dalam di balik daster satin hitamnya yang melorot. Gumpalan daging yang jumbo dan putih mulus itu tampak naik-turun dengan cepat."Saya tahu risikonya. Saya bisa saja dipecat atau dipenjara oleh Tuan Adrian," jawab Rusdi dengan suara serak."Terus kenapa kamu tetap nekat?""Karena saya nggak tahan lihat wanita seindah kamu disia-siakan. Tuan Adrian punya segalanya, tapi dia nggak punya hati buat jaga kamu."Vivian terdiam sebentar, lalu dia makin merapatkan tubuh montok







