เข้าสู่ระบบRusdi merasakan keberaniannya membara setelah mendengar desahan dan pujian Vivian. Ia mengangkat wajah sejenak, melihat wajah Vivian yang memerah padam, mata sayu penuh gairah, bibir merah terbuka sedikit. Lalu ia kembali membenamkan wajah di paha bagian dalam yang halus itu, menghirup aroma tubuh Vivian dalam-dalam yang terasa manis, hangat, memabukkan. Ini nyata.
‘Shhh ,,, tahan, Rus dia ini majikanmu,’ ingat Rusdi dalam hati.
Tiba-tiba Vivian menarik bahunya agar Rusdi tegak. Napas Vivian putus-putus, matanya langsung tertuju ke kaos putih Rusdi yang basah kuyup, menempel ketat di dada dan perutnya, membuat setiap otot tercetak jelas.
“Kaos basah ini mengganggu sekali,” keluh Vivian, nada tidak sabar. Tangannya menyentuh dada Rusdi yang terhalang kain.
Tanpa menunggu, tangan Vivian meraih ujung bawah kaos Rusdi. “Lepaskan saja. Saya ingin melihat badan kamu yang kuat itu tanpa terhalang kain basah dan kotor ini.”
Rusdi membelalakkan matanya terkejut, sementara kaosnya telah diangkat setengah oleh Vivian.
“Nyonya …” ragu Rusdi.
Namun, Vivian seolah tak peduli. Ia hanya menatap Rusdi dengan satu alis terangkat. “Kenapa, Rus? Saya kasihan loh sama kamu kalau masih harus pakai kaos kotor begitu.”
Rusdi sekali lagi membasahi tenggorokannya dengan ludahnya. Tatapan Vivian benar-benar seperti sihir. Refleks, ia justru mengangguk lemah dan mengangkat kedua tangannya, membiarkan Vivian menarik kaos itu lepas.
“Nah, gitu dong,” kata Vivian puas.
Kini tubuh atas Rusdi telanjang di bawah lampu remang. Dada bidang, perut keras berotot karena kerja kasar di kebun, kulit mengkilap oleh keringat.
Rusdi merasakan udara dingin AC menyentuh kulit panasnya, tapi pandangannya tetap tertuju pada Vivian.
Setengah malu, Rusdi menutup badannya dengan tangan, lalu menundukkan kepalanya. “Maaf, Nyonya. Badan saya sepertinya bau.”
Vivian tidak peduli. Matanya justru menyusuri dada Rusdi, turun ke perut six-pack yang basah, lalu naik lagi dengan tatapan lapar. Jemarinya langsung menyentuh dada telanjang itu, telapak halusnya menekan otot dada Rusdi.
“Indah sekali,” bisik Vivian pelan. Ia memajukan tubuh, menempelkan pipi halusnya ke dada Rusdi.
Kulit dingin wajah Vivian bertemu kulit panas Rusdi, dan sensasi itu membuat bulu kuduk Rusdi merinding.
Glek!
‘Bisa gila aku lama-lama kalau begini,’ batin Rusdi.
Jantungnya berdetak makin tak karuan.
“Gak usah ditahan, Rus. Kasihan dia ingin keluar,” bisik Vivian, tatapannya tertuju pada kebanggaan Rusdi yang telah sesak di dalam celana.
“T–Tidak, Nyonya. Ini tidak pantas,” lirih Rusdi ragu dan takut.
Namun, Vivian justru mengeratkan pelukannya pada Rusdi. Tangannya bermain membelai punggung polos Rusdi.
Merasakan sensasi itu, Rusdi langsung memejamkan matanya menahan diri.
“Lepaskan saja, Rus,” bisik Vivian lagi. “Saya tidak keberatan, kok.”
Vivian menuntun tangan Rusdi untuk membelai pinggang rampingnya.
Ketika merasakan itu, darah Rusdi semakin mendidih. Hangat dan lembut pinggang moleh itu benar-benar berbahaya.
Pada akhirnya, Rusdi kalah. Ia menatap majikannya dengan mata gelap akan hasrat.
Rusdi baru saja hendak membaringkan Vivian ke kasur, ingin melanjutkan, tapi tiba-tiba—
Drt... Drt... Drt…
Suara getaran ponsel keras dari meja samping tempat tidur memecah semuanya.
Tubuh Rusdi langsung menegang kaku. Jantungnya berdegup kencang sekali, terasa seperti mau loncat keluar dari dada. Matanya membelalak panik, langsung tertuju ke ponsel yang layarnya menyala terang di ruangan gelap.
Di layar tertulis nama penelepon, “Suamiku”.
“Nyonya … Tuan menelpon.”
Rusdi menatap Vivian, mencari reaksi. Napasnya pendek-pendek, dada naik-turun cepat. Tubuhnya masih tegang keras, tapi sekarang ada rasa dingin yang menusuk. Jantungnya terus berdegup gila-gilaan, seperti drum yang tak mau berhenti.
Vivian menatap ponsel itu dengan ekspresi datar, bibirnya sedikit mengerucut. Getaran masih berbunyi.
“Biarkan saja, dia pasti lagi sibuk. Tidak akan peduli.” bisik Vivian, suara rendah. “Sekarang, sampai mana kita tadi?”
“T–Tapi, Nyon—”
Belum selesai Rusdi bicara, bibirnya telah dibungkam dengan bibir lembut majikannya.
Rusdi terbelalak. Tubuhnya kaku sejenak, ingin menarik diri karena panik, tapi sensasi bibir lembut itu langsung melumpuhkannya.
Akhirnya, ia hanya diam dan mulai menikmati. Ciuman Vivian liar dan menuntut, bibirnya melumat bibir Rusdi dengan gerakan tidak sabar, lidah menyusup masuk, menghapus segala keraguan.
Rusdi perlahan membalas. Rasa manis bibir Vivian dan aroma parfum kuatnya membuat kepalanya pusing.
“Mhh …” lenguh keduanya di sela ciuman itu.
Tangan Rusdi yang tadi ragu kini mencengkeram pinggang ramping Vivian lebih erat, menarik tubuh wanita itu hingga menempel rapat pada dadanya yang telanjang.
Kulit dada keras Rusdi bergesekan dengan kain sutra tipis lingerie merah yang membungkus dada Vivian. Sensasi panas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Mmmhh…” erang Vivian di sela ciuman. Tangannya melingkar di leher Rusdi, jari-jarinya meremas otot bahu lebar itu kuat-kuat.
Vivian membaringkan tubuhnya ke belakang, menarik Rusdi ikut turun. Rusdi menahan berat badannya dengan kedua tangan. Vivian langsung menarik punggungnya hingga dada mereka menempel sempurna.
Kini Rusdi di atas, mengurung Vivian di kasur empuk. Dari sana, ia bisa melihat moleknya tubuh Vivian.
Dada penuh itu tampah ‘meluber’ seolah ingin segera keluar. Sementara bibir basah dan bengkak Vivian seperti kembali memanggilnya untuk dijamah.
“Nyonya …” panggil Rusdi, seolah ingin mengingatkan apa yang sedang mereka lakukan.
"Panggil Vivian," potong wanita itu cepat. "Saat kita berduaan di atas kasur seperti ini, tidak ada Nyonya. Cuma ada Vivian dan Rusdi."
Mendengar itu, Rusdi mengangguk ragu.
“Lanjutkan, Rus,” kata Vivian rendah, suara serak penuh perintah, tapi manja. “Jangan berhenti sekarang.”
Desir jiwa lelaki Rusdi meronta. Melihat pemandangan seperti itu, dengan suara yang menggoda telinganya, ia ingin segera memainkannya.
Rusdi menunduk, mengungkung tubuh Vivian dengan tatapan penuh hasrat.
“Kamu berat sekali, Rus,” bisik Vivian sambil tersenyum nakal, mata menyipit menggoda. Tangannya mengelus lengan Rusdi yang menumpu, jari telunjuknya menyusuri urat-urat tegas di lengan itu. “Tapi saya suka. Rasanya… jantan sekali.”
“Bukanya tubuh Tuan juga besar begini, Nyonya?” tanya Rusdi memastikan.
Vivian menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya pelan, tatapannya turun ke dada telanjang Rusdi yang mengkilap keringat, lalu naik lagi dengan pandangan penuh tantangan. Jari-jarinya menyentuh dagu Rusdi, menarik wajahnya lebih dekat.
"Berbeda, Rus. Kamu terasa lebih … perkasa."
Kalimat itu seperti memberi validasi paling memuaskan bagi Rusdi.
“Buka, Rus,” perintah Vivian lembut, napasnya memburu menanti sentuhan itu. "Saya gerah. Saya mau kulit saya bersentuhan langsung dengan kulit kamu tanpa penghalang kain ini."
Tangan Rusdi sedikit gemetar saat memegang simpul tali sutra yang licin itu. Dengan satu tarikan pelan, ikatan itu terlepas.
Gaun merah itu seketika terbuka lebar, menampilkan keindahan tubuh Vivian yang selama ini tersembunyi.
Mata Rusdi membelalak kagum. Pemandangan di depannya begitu sempurna.
Kulit Vivian yang putih mulus terlihat kontras dengan seprai, dan lekuk tubuhnya yang indah kini terpampang nyata tanpa sehelai benang pun yang menghalangi pandangan, kecuali pakaian dalam renda yang sangat tipis.
Rusdi menelan ludah, tenggorokannya tercekat. Ia merasa seperti orang biasa yang baru saja menemukan harta karun paling berharga di dunia.
"Kenapa diam saja?" tantang Vivian sambil menggigit bibir bawahnya, menikmati tatapan memuja dari Rusdi. "Sentuh saya, Rusdi. Buat saya lupa kalau saya punya suami."
Vivian tidak mengubah posisi duduknya. Kakinya yang ramping tetap menyilang dengan anggun. Jari lentiknya yang berkuku merah perlahan mengetuk meja kaca di depannya. Sebuah senyum tipis dan dingin akhirnya muncul di bibir Vivian. Senyum itu tidak sampai ke matanya, tapi justru membuat wajahnya terlihat semakin menggoda dan mematikan. "Membesarkan?" ulang Vivian pelan. "Maksud Paman membesarkan rekening pribadi Paman dengan menggelapkan dana proyek selama tiga tahun berturut-turut?" Anton maju setelah mendapat isyarat dari mata Reynard. Dia meletakkan sebuah tumpukan map merah di depan Pak Broto. Itu adalah semua bukti aliran dana gelap yang sudah diselidiki tim keamanan Aryasatya. Melihat tumpukan map itu, tubuh Pak Broto langsung lemas. Dia jatuh terduduk di kursinya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di dahinya. Reynard berdiri diam di belakang kursi Vivian. Matanya menatap puas ke arah istrinya. Garis leher Vivian yang terekspos dari potongan kerah blazernya t
Pintu tertutup rapat setelah Anton dan Felicia keluar. Reynard menyandarkan tubuh besarnya ke kursi. Matanya langsung terkunci pada Vivian yang duduk di seberang meja.Wanita itu sedang serius membaca lembaran profil di dalam map. Blus sutra berwarna krem yang dia pakai melekat pas di tubuhnya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan kulit leher dan tulang selangkanya yang seputih susu. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggul hingga pahanya. Kakinya menyilang santai di bawah meja, memperlihatkan betisnya yang mulus.Reynard menelan ludah pelan. Ingatannya mundur ke masa lalu.Dulu, saat Reynard masih menyamar menjadi Rusdi si tukang kebun, dia sering mencuri pandang saat Vivian duduk sendirian di teras belakang rumah. Wajah Vivian saat itu selalu dingin, datar, dan tak tersentuh. Namun justru sikap dinginnya itulah yang membuat aura Vivian sangat menggoda. Sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang jarang tersenyum selalu sukses membuat darah Reynard berdesir pan
Beberapa hari kemudian...Pagi itu di penthouse, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Vivian sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan terusan berwarna nude berbahan brokat yang elegan tapi tidak terlalu mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi.Reynard masuk ke kamar setelah selesai berganti pakaian di ruangan sebelah. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu berdiri di belakang Vivian dan menatap pantulan istrinya di cermin."Sudah siap?" tanya Reynard.Vivian mengangguk. "Sudah. Apa menurutmu ini terlalu sederhana?""Tidak. Ibu justru lebih suka kalau kau tampil apa adanya. Beliau tidak suka sesuatu yang berlebihan," jawab Reynard sambil memegang bahu Vivian."Aku hanya merasa sedikit gugup. Aku takut mengecewakan ibumu," kata Vivian jujur.Reynard membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. "Tidak perlu gugup. Ibu sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat mu. Sekarang, ayo berangkat. Sopir sudah menunggu di bawah.
Dentingan lift pribadi itu terdengar pelan saat pintu terbuka. Vivian melangkah keluar dengan santai. Karena ini adalah malam keduanya di penthouse, dia tidak lagi melayangkan pandangan kagum pada langit-langit tinggi atau pilar marmer yang megah. Dia berjalan langsung menuju meja konsol eboni, meletakkan tas tangannya yang mungil di sana dengan gerakan yang sangat terbiasa.Gaun merah hati berbahan satin yang ia kenakan tampak mengikuti setiap gerak tubuhnya dengan sempurna. Saat ia berjalan, cahaya lampu kristal memantul di permukaan kain yang mengilap, menciptakan gradasi warna merah yang elegan. Potongan gaun itu benar-benar menonjolkan kulit bahunya yang seputih porselen.Reynard berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jam tangan dan melonggarkan dasinya. Ia memperhatikan bagaimana Vivian merapikan rambut hitamnya di depan cermin besar."Aku sudah meminta koki untuk menyiapkan semuanya di dapur sebelum kita sampai," kata Reynard. Suaranya berat, menggema
"Katakan pada wanita ini, siapa aku," perintah Reynard dingin.Manajer itu menatap Adisty dengan bingung. "Beliau adalah Tuan Muda Reynard, pemilik dari Grup Aryasatya. Mal ini, butik ini, dan hampir sebagian besar gedung di kota ini adalah miliknya."Wajah Adisty seketika berubah menjadi sangat pucat. Dia menatap Reynard dengan tidak percaya. "Pemilik Grup Aryasatya? Tapi... tapi..."Reynard melangkah maju satu langkah, membuat Adisty mundur ketakutan. "Kau bilang Vivian tidak pantas memakai berlian? Kau bilang suamimu, eh maksudku, kakakmu yang dipenjara itu lebih baik dariku?""Sa... saya tidak bermaksud begitu, Tuan," gagap Adisty."Kau juga menghina Rusdi," lanjut Reynard dengan nada yang sangat rendah. "Kau tidak tahu kalau Rusdi dan aku adalah orang yang sama? Aku hanya sedang ingin melihat seberapa busuk hati keluarga kalian."Adisty seolah tersambar petir. Dia hampir saja jatuh pingsan. Pria miskin yang dulu selalu dia injak-injak dan dia hina ternyata adalah salah satu orang
Reynard melangkah masuk ke dalam butik perhiasan dengan sorot mata yang tajam. Di belakangnya, Anton mengikuti dengan langkah yang tertata. Kehadiran Reynard membuat seluruh pelayan di toko itu seketika menunduk hormat.Pandangan Reynard langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi beludru. Vivian. Dia mengenakan gaun merah hati yang sangat pas di tubuhnya. Potongan gaun itu memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah gaun tersebut.Namun, wajah Vivian terlihat gelisah. Dia memegang sebuah kotak perhiasan dengan tangan yang sedikit gemetar."Kenapa belum dibayar?" tanya Reynard. Suaranya berat dan memenuhi ruangan yang sunyi itu.Vivian tersentak. Dia menoleh dan melihat Reynard berdiri di sana dengan aura yang sangat kuat. "Reynard? Kamu sudah selesai rapatnya?"Reynard tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Vivian. Dia mengambil kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung







