LOGINKetegangan di meja makan itu rasanya mencekik leher Rusdi. Dia berdiri kaku di samping kursi Tuan Adrian dengan botol minuman di tangan kanan. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya karena situasi di bawah meja semakin gila.Adisty benar-benar nekat.Di atas meja, wanita itu tersenyum manis ke arah Walikota seolah dia wanita paling sopan di dunia. Tapi di bawah taplak meja yang panjang itu, ujung sepatu hak tingginya sedang menekan paha Rusdi dengan kuat."Aduh," desis Rusdi pelan sekali.Ujung sepatu yang lancip itu menekan tepat di saku kiri celana Rusdi. Di sana ada kotak beludru berisi gelang palsu. Adisty sepertinya tahu kalau Rusdi menyimpan barang itu di sana dan dia sengaja menekannya sebagai kode keras."Kenapa diam saja? Tuang dong," tegur Adisty dengan nada manja.Rusdi menunduk sedikit untuk menuang minuman ke gelas Adisty. Mata Rusdi langsung disuguhi pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Gaun malam Adisty yang berwarna hitam itu potongannya sangat rendah.Ka
Jantung Rusdi rasanya mau copot. Dia sudah mengepalkan tangan kanan, siap melayangkan pukulan ke rahang siapa pun yang berani menyergapnya.Tapi begitu dia berbalik, wajah brengos Pak Ujang yang merah padam memenuhi pandangannya. Kumis tebal pria tua itu bergetar saking marahnya."Pak Ujang..." desis Rusdi, menurunkan kepalan tangannya perlahan. Kakinya masih gemetar sisa kaget tadi."Pak Ujang, Pak Ujang! Mata kamu buta apa?" semprot Pak Ujang. Telunjuknya menusuk-nusuk dada Rusdi, tepat di samping saku kemeja. "Itu di depan sudah kayak perang dunia! Tamu VVIP di meja nomor satu minta refill wine dari lima menit lalu, pelayan lain malah sibuk angkut piring kotor!""Ma-maaf, Pak Ujang. Saya tadi...""Simpan maafmu buat Tuan Adrian kalau dia ngamuk!" potong Pak Ujang kasar.Tanpa babibu, Pak Ujang mencengkeram lengan atas Rusdi. Cengkeramannya kuat sekali, jari-jari tua yang biasa memeras kain pel itu menekan otot bisep Rusdi. Pak Ujang menyeretnya paksa menjauh dari kamar, kembali ke
Rusdi menyelinap keluar dari ruang laundry dengan langkah cepat. Udara di lorong belakang terasa panas dan pengap. Bau bumbu sate yang dibakar di dapur katering bercampur dengan asap rokok para sopir tamu yang mulai berdatangan memenuhi area parkir."Awas! Minggir!" teriak salah satu koki yang membawa panci besar berisi kuah panas.Rusdi melompat ke samping, nyaris saja tersiram. "Santai, Bang. Tumpah melepuh semua itu badan.""Makanya jangan menghalangi jalan! Tamu sudah mulai masuk!" balas koki itu ketus tanpa menoleh.Rusdi tidak menjawab. Dia mempercepat langkah kakinya, setengah berlari melewati deretan tong sampah besar di area belakang yang baunya menyengat. Suara musik jazz dari arah taman terdengar sayup-sayup, tertutup oleh suara piring beradu di tempat cuci piring.Dia menuju deretan kamar petak pelayan di ujung lahan yang sepi. Begitu sampai di depan pintu kamarnya yang catnya sudah mengelupas, Rusdi menengok kanan-kiri.Sepi. Aman.Dia memutar kunci, masuk, dan langsung m
Matahari siang itu terasa seperti membakar ubun-ubun. Halaman belakang rumah Tuan Adrian sudah berubah menjadi medan perang. Teriakan mandor dekorasi bersahutan dengan bunyi besi tenda yang dipasang.Rusdi baru saja membanting peti kayu berisi botol wine mahal ke atas meja bar di pinggir kolam. Otot bisepnya menegang, urat-urat di lengannya menyembul jelas karena kerja keras. Kaos kerjanya sudah basah kuyup, mencetak jelas bentuk dada bidangnya."Rusdi! Sini!"Suara berat Pak Ujang memecah kebisingan. Rusdi menoleh, menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan. Kepala pelayan tua itu berjalan cepat ke arahnya, wajahnya kusut dan tegang."Kenapa, Pak? Ada yang pecah?" tanya Rusdi, napasnya masih memburu.Pak Ujang berkacak pinggang, matanya memindai tubuh Rusdi dari ujung kaki sampai kepala. Tatapannya seperti orang mau menaksir harga sapi."Badanmu tegap. Muka juga nggak hancur-hancur amat kalau dilap," gumam Ujang."Maksud Bapak?""Dua pelayan sewaan dari agensi tepar. Keracuna
Rusdi melangkah mendekat sedikit lagi. Matanya sekilas melihat belahan dada Nyonya Vivian yang putih bersih dan sangat dalam di balik gaun birunya."Besok malam saat pesta, saya disuruh memasukkan gelang emas dan foto-foto yang kemarin Nyonya kasih itu ke dalam tas Hermes merah Nyonya di ruang ganti," lapor Rusdi.Senyum Vivian melebar dan matanya berbinar penuh kemenangan."Bagus sekali. Rencananya berjalan mulus," bisik Vivian puas."Tapi Nyonya, kalau Tuan Adrian menemukan gelang dan foto itu di tas Nyonya, nanti Nyonya bisa celaka. Tuan Adrian pasti marah besar kalau lihat itu," Rusdi mengingatkan dengan cemas.Vivian menutup map menu di tangannya. Dia berdiri perlahan dan berjalan mendekati Rusdi, pura-pura memeriksa daun anggrek yang dibawa Rusdi tadi. Aroma tubuhnya yang wangi mawar langsung menyapa hidung Rusdi."Dengar baik-baik, Rus," bisik Vivian. "Gelang itu sebenarnya bukan gelang sembarangan. Itu gelang yang dulu pernah Adrian berikan ke selingkuhannya lima tahun lalu. S
Napas Rusdi tercekat dan rasanya seperti berhenti di tenggorokan. Dia benar-benar tidak punya pilihan lain saat ini. Di bawah sorot mata Adisty yang tajam dan menuntut itu, Rusdi perlahan mengangkat tangannya yang kasar. Jari-jarinya gemetar hebat saat menyentuh pinggang ramping adik ipar majikannya itu. Kulit Adisty terasa dingin karena AC kamar, namun sentuhan itu justru terasa membakar di telapak tangan Rusdi."Bagus. Jangan cuma diam seperti patung begitu," desis Adisty tidak sabar.Wanita itu mulai bergerak lebih dulu. Dia sama sekali tidak menunggu Rusdi untuk memimpin. Dengan gaya yang sangat angkuh, Adisty menggerakkan pinggulnya yang berisi. Dia sengaja menggesekkan bagian kewanitaannya tepat di atas selangkangan Rusdi yang masih tertutup celana bahan itu."Nghh..." Rusdi mengerang tertahan.Sensasi gesekan itu luar biasa nikmatnya, apalagi ditambah dengan pemandangan di depan mata Rusdi yang begitu menggoda. Payudara Adisty yang berukuran jumbo itu terguncang hebat di balik







