LOGINNo cinema particular, mal iluminado, o meu padrasto tinha me levado para ver um filme adulto, dizendo que era o meu presente de maioridade. Ao ver na tela o homem e a mulher se amando com tanto prazer, eu sentia o meu corpo inteiro coçar por dentro. Eu não conseguia evitar apertar bem as minhas pernas úmidas, tentando resistir àquela corrente elétrica de formigamento entre as coxas. Quando meu padrasto me viu com o rosto todo corado, ele veio para entre as minhas pernas e arrancou de uma vez só a minha calcinha. — Filha, vou te ensinar como se tornar uma mulher de verdade, você vai obedecer direitinho, não vai?
View More"Saya membutuhkan wanita cantik sepertimu untuk dijadikan calon pengantin," ucap seorang lelaki tua yang berdiri tepat dihadapan Clarissa Anastasya.
Gadis itu melotot sempurna dengan tangan mengepal menatap berang ke arah lelaki tersebut. Seharian ini, Clarissa telah berkeliling mencari pekerjaan, rehat sejenak di sebuah Cafe menjadi pilihannya. Bagai disambar petir di siang hari, tawaran menjadi pengantin datang dari seorang lelaki yang sudah sangat sepuh bahkan lebih cocok dipanggil seorang Kakek. Abraham Reevand, seorang pebisnis nomor satu yang terkenal dengan karakter tegas dan arogant. Sangat menjaga martabat dan kehormatan keluarga, harga diri menjadi prioritas utamanya. "Anda siapa? Datang-datang bicara tentang pernikahan, apakah Anda tidak punya kaca? Cih!" Clarissa menatapnya kesal. Abraham menyukai sikap galak itu dan mengeluarkan cek dari saku jasnya. "Aku akan memberikan uang berapa pun yang kamu minta, asal kamu mau menjadi bagian dari keluarga Abraham Reevand." Clarissa mengerutkan kening, nama itu tidak asing baginya. Clarissa adalah gadis sederhana. Impiannya yang selalu ingin menjadi seorang model membuatnya selalu menyisihkan uang untuk membeli majalah ternama. Nama Abraham tidak asing terdengar di telinga. "Anda jangan kurang ajar, ya! Apakah saya terlihat seperti perempuan matre!" Cla tidak tahan lagi, entah mimpi apa dia semalam hingga bertemu dengan lelaki ganjen seperti Abraham. Mimik tak suka jelas terpancar di wajah Clarissa, walau Abraham masih terlihat tampan dan berkarisma. Dia tidak pernah terpikirkan untuk menjadi istri seorang om-om. "Saya tahu kamu sedang kesusahan, orang-orangku telah mengawasimu cukup lama. Kamu telah mencari pekerjaan beberapa hari belakangan ini. Saya tawarkan uang dan kemewahan, tentu beserta dengan kehormatan dan fasilitas. Kamu hanya perlu setuju dengan tawaran saya maka setiap keinginanmu akan menjadi nyata." Cek dengan nominal satu milyar terpampang di depan mata. Clarissa terbelalak, bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini. 'Mimpi apa aku semalam?' batinnya. Tertunduk dengan tatapan kosong, Cla lantas kembali ke akal sehatnya. 'Tidak, uang bukanlah segalanya!' batin gadis itu. "A-anda pasti sedang bercanda, uang sebanyak itu. Apakah Anda sedang mempermainkan saya!" Tatapan tajam tak lepas dari sorot mata indahnya. Abraham menjentikkan jari, dalam sekejap. Seorang lelaki dengan setelan jas yang sangat rapi. Tinggi dan tanpa ekspresi datang membawa koper di tangannya. Lelaki itu membuka koper dan memperlihatkan uang yang sangat banyak. Clarissa lagi-lagi dibuat melongo. "Saya sangat serius, semua ini akan menjadi milikmu, beserta ceknya. Jika kamu mau menerima tawaranku." "Gila!" Clarissa berdecak. Gadis itu menelan salivanya berkali-kali. Cla kini melipat kedua tangannya ke dada menyembunyikan rasa gugup yang melanda hatinya. Abraham terlihat santai dengan kedua bodyguard yang selalu stay menemani. Uang itu sangat banyak bahkan bisa menghidupinya dengan sang kakak yang telah berjuang keras membiayai sekolahnya. Sesaat Clarissa goyah dan berpikir. Dia masih muda, menjadi istri seorang kakek-kakek tak pernah terlintas di kepalanya, gadis itu mundur lalu bergidik ngeri. "Maaf, saya tidak mau, silahkan pergi dan bawa uang itu pergi!" Clarissa menolak dengan lantang. Ya, dia masih punya harga diri. Perasaan kakaknya pasti akan hancur jika tahu dia menerima lamaran dari seorang kakek-kakek, plus Clarissa tidak mengenal siapa lelaki itu. Abraham tidak menyerah, dia mengeluarkan kertas dan menulis nomor telepon di sana. Lalu menyerahkannya pada gadis itu. "Ini, simpan saja. Jika kamu berubah pikiran, orang-orangku akan datang menjemputmu kapanpun kamu bersedia." Abraham berlalu setelah mengatakannya. "Cih, sombong sekali." Clarissa membuang pandangan. Abraham sangat percaya jika Clarissa akan menghubunginya suatu saat nanti. Wangi parfum dari lelaki itu menusuk penciuman Cla. Cek dan uang tunai hilang dari pandangan, Clarissa menghembuskan napas kasar. "Huh, andai dia seorang Pangeran. Tentu aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerimanya. Lagi pula, sudah tua, dia harusnya banyak beramal, bukannya malah mencari daun muda," ucapnya. Clarissa memandang nomor ponsel itu lama. Dia sangat frustasi saat ini. Kakaknya sedang sakit di rumah dan dia tidak punya simpanan uang. Cafe yang tadi menyediakan lowongan pekerjaan tiba-tiba saja mencopot kertas pemberitahuan itu dari pintu kaca. "Apes banget!" Dengan terpaksa Cla meninggalkan tempat itu. Perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan begitu sulit, apalagi ditengah pandemi seperti sekarang. Biaya hidup mencekik, kebutuhan membengkak. Clarissa bingung harus bagaimana lagi, kini gadis itu berjalan ditengah teriknya panas mentari. Betis mulai pegal, lantaran selalu berjalan kaki demi menghemat ongkos. "Jika terus begini, bagaimana bisa aku membawa Kak Helena ke Dokter." Clarissa Anastasya adalah gadis yatim. Dia dan kakaknya hanya hidup berdua di pinggiran kota. Kakak perempuannya Bernama Helena Aurora. Mereka kehilangan kedua orang tuanya saat kecelakaan beberapa tahun silam. Saat itu, Helena sudah tamat sekolah menengah atas sedang Clarissa baru duduk di bangku menengah pertama. Tidak ada warisan atau simpanan uang, mereka hanya memiliki rumah sederhana untuk berteduh. Perjuangan sampai ke titik ini tidaklah mudah, Cla berhutang banyak pada saudari perempuannya atas pengorbanan yang telah di berikannya selama ini. Hari hampir gelap saat Cla tiba di rumah, suara perabotan yang di banting membuat langkah gadis itu kian cepat. Suara gaduh terdengar riuh membuat gadis itu kaget dan berlari kecil. "Kosongkan rumah ini! Kalian tidak berhak lagi tinggal di sini!" Helena dilempar keluar beserta pakaian yang ikut berhamburan. Tampak beberapa orang lelaki terlihat sangat sangar berjaga di depan pintu. Clarissa yang baru tiba, bingung melihat apa yang terjadi. Apalagi saat ini, Helena telah tersungkur di tanah. "Apa-apaan ini! Kalian siapa?" tanya Cla berani. Gadis itu membantu kakaknya bangkit, Helena sangat lemah karena demam dan asma yang dideritanya. "Ha! Tanya saja pada wanita yang ada disampingmu. Rumah ini telah menjadi milik Bos kami. Helena telah menggadaikannya dan dia telat membayar hampir satu tahun lamanya." Clarissa melotot dengan mulut menganga, gadis itu mendadak lemas, seolah tulang belulangnya lepas dari tubuh. Rumah itu adalah harta mereka satu-satunya. Clarissa tidak ingin percaya apa yang baru saja didengarnya. Netra gadis itu mulai berkaca-kaca. "Tidak mungkin, itu tidak mungkin, pergi kalian atau aku akan berteriak!" Clarissa mengancam dengan napas memburu. Bukannya takut, preman-preman itu justru menertawakannya. "Haha haha coba saja jika kau berani. Kau hanya akan membuang tenaga saja, Nona." Cla mengepalkan tangan. Pandangannya dan ketua preman itu saling beradu. "Sial!" Cla kembali berlutut dan menatap Helena. "Kak, katakan sesuatu. Mereka berbohong kan? Kakak nggak mungkin menggadaikan rumah kita. Iya kan!" Clarissa nyaris putus asa. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Helena berusaha mengatur napasnya. Sangat sulit baginya untuk bicara sekarang. "Gembok rumah itu! Jangan sampai mereka memasukinya kembali," titah seorang lelaki yang dianggap Bos. "Baik, Bos." Clarissa bangkit dan coba menghalangi. "Tidak! Ini rumah kami, Ayah membuatnya untuk kami. Kalian tidak berhak apa-apa." Helena sangat sedih melihat Clarissa yang berkeras di depan sana. "Jika kau mau rumah ini kembali, bayar dulu hutang-hutang kalian!" "Tapi aku tak punya uang, tolong. Kemana kami harus pergi, kami tak punya siapa-siapa." "Emang gua pikirin!!" Clarissa di tarik dan di dorong keluar. Gadis itu meringis saat lututnya mendarat di tanah. Brakk! "Auuw!" "Haha hahaha. Makanya jangan belagu." Cla menangis pilu, dia tak mau menjadi gembel dan tidur di pinggir jalan. "Kalian kej am! Kalian ja hat!" ma kinya. Cla menyeka airmatanya. Hal yang sangat dia benci adalah ketidakberdayaan. Di hadapannya saat ini. Saudarinya tersungkur lemah. "Kami hanya menjalankan tugas, ingat! Tinggalkan rumah ini segera atau kita seret kalian ke jalan." Bruk. Perabotan berserakan. Helena tergeletak sembari memegang dadanya, napasnya makin sesak. Dan suhu tubuhnya makin panas. Clarissa yang melihatnya sontak mendekat. "Kak, apa kau baik-baik saja?" Clarissa melupakan soal hutang, dia fokus pada kesehatan Helena. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya sekarang. "Urus, tu. Makanya kalau udah penyakitan jangan ngutang!" Preman itu mencela sebelum berlalu meninggalkan mereka. Clarissa tidak dapat membalas, hatinya diliputi rasa takut yang luar biasa. "Kak," "Maaf, Claaa. Ka ... kak terpak .. sa mengambil pinjaman untuk biaya sekolahmu." Helena berusaha menyelesaikan ucapannya. Airmata Cla jatuh berlinang, semenjak kehilangan kedua orang tuanya. Helena mengambil peran dan tanggung jawab lebih untuk mengurusnya. Helena selalu bilang jangan memikirkan soal biaya, apapun itu. Biarkan saja dia yang mengurusnya. Tapi, dia tidak pernah menyangka jika sang kakak akan menggadaikan harta mereka satu-satunya. "Maafkan kakak, Cla." Bibir Helena bergetar, wanita itu kedinginan dengan wajah pucat pasi. Clarissa membayangkan hal yang paling terburuk. Dia tidak mau kehilangan kakaknya. "Kakak bertahan, kita akan ke Rumah Sakit." Clarissa berusaha tegar. Gadis itu mulai panik dan melihat ke sekitar. "Tolong! Siapapun itu tolong kami!" teriaknya sekuat tenaga. Dalam hatinya, Cla begitu cemas. Tidak ada yang datang, tetangga terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang ingin pusing dengan kehidupan Clarissa dan saudarinya. "Kakak, bertahanlah." Clarissa mencari selimut atau pakaian yang bisa membantu menghangatkan tubuh Helena. Nafas yang sesak menggebu membuat saudarinya begitu tersiksa. "Bertahan, Kak. Aku akan mencari bantuan." Helena memejamkan mata, sungguh meski Cla mengatakan itu, dia tahu adiknya tak bisa berbuat apa-apa. "Cla," "Jangan bicara, tolong." Clarissa berlari ke tepi jalan. "Seseorang, tolong kami!" "Tolong!" teriakan gadis itu tak berarti. Tidak ada yang datang membuat Clarissa mengutuk hari itu. "Kenapa tidak ada rasa iba untuk kami, Tuhan." Gadis itu mengeluh, entah kenapa tidak ada yang peduli dengan mereka. Helena berusaha bernapas, sesak membuatnya sangat tersiksa. "Kak aku akan keluar mencari bantuan," ucap Clarissa tiba-tiba. Helena menggeleng dia tidak setuju dan takut di tinggalkan. "Aku harus keluar ke jalan raya untuk mendapatkan taksi, Kak." Tangan Helena mengenggamnya erat. Clarissa tidak bisa pergi. Helena tak mengizinkannya. Di tengah kekalutannya, Clarissa teringat dengan nomor telepon yang ditinggalkan Abraham. "Orang itu, apa aku hubungi saja dia." Dengan cepat, Clarissa merogoh tas dan mengeluarkan ponsel jadul miliknya. Jari-jarinya dengan cepat menekan tombol angka yang di salinnya dari kartu nama. Sebentar lagi, hanya tinggal menunggu panggilan itu bersambut. Detik demi detik berjalan terasa sangat lama. [Hallo,] sapa Abraham pada akhirnya. Clarissa gemetar, dihadapkan antara dua pilihan. 'Oh Tuhan, inikah akhirnya?" batin gadis itu. Waktu seolah berhenti. "Uhuk uhuk uhuk." Helena terbatuk menyadarkan Cla dari lamunan. [Siapa di sana?] tanya Abraham. Clarissa menarik napas panjang, nyawa kakaknya lebih penting dari segalanya saat ini. Tidak ada uang dan kendaraan, gadis itu gundah, menyerahkan hidup sebagai seorang pengantin membuatnya tak berdaya. [Hallo, jika kamu orang iseng. Aku akan mematikan panggilan ini sekarang juga.] [Jangan!] Cla terpejam meremas celana panjang yang di kenakannya. [Kamu!] [Ini saya, gadis di cafe tadi.] Abraham tersenyum penuh kemenangan. [Tolong kirimkan bantuanmu, Tuan. Kakak saya sekarat dan saya tidak mau kehilangan dia.] Tangisnya luruh tanpa suara. Cla seperti telur di ujung tanduk. [Apa kamu yakin menerima tawaranku?] Cla menyeka air matanya lalu mengangguk. [Jawab aku!] Clarissa menoleh melihat wajah pucat Helena, bahkan selimut yang di pakainya tidak berpengaruh. Clarissa meyakinkan diri untuk menolong Kakaknya terlebih dulu. [Ya, aku terima. Asal kamu bisa menyelematkannya, aku akan melakukan apa saja.]Geraldo olhava para mim com ódio, e tinha uma faca, brilhando sob a luz, jogada ali perto do pé dele.Eu senti uma vontade súbita de avançar e matar o meu padrasto, mas a minha razão ainda conseguiu me segurar.Eu levei as mãos para trás, escondendo o movimento, e disquei o número da polícia no celular, chamando a emergência em silêncio.O meu padrasto continuou falando:— Vocês duas já nasceram para ser minhas cadelas de estimação. Eu já enjoei da velha faz tempo. Agora eu quero brincar com a novinha. Se vocês obedecerem direitinho, eu juro que levo vocês de volta pra casa, sem guardar rancor!A minha mãe estava caída no chão e gritou com a voz rouca:— Não! Daise, vai embora, não olha para trás! O Geraldo é um monstro, a culpa é minha por ter acreditado nele, por ter sido cega.Geraldo deu um chute na barriga da minha mãe:— Cala a boca, sua desgraçada. Não estraga a minha diversão.Quando eu vi a minha mãe levando aquele chute, o meu peito pareceu se rasgar por dentro:— Não bate na
Mas a minha mãe ainda ficou desconfiada. Depois disso, ela começou a prestar atenção em cada movimento do meu padrasto.O olhar da minha mãe mudou. Ela passou a reparar em qualquer barulho dentro de casa. Eu percebi que, de madrugada, ela ia conferir se a porta do banheiro estava bem fechada e, uma vez, ela chegou até a revirar o meu diário.Naquele fim de tarde, ela me perguntou do nada:— O seu padrasto andou… se comportando de um jeito estranho com você?Eu balancei a cabeça, mas os meus lábios tremiam. Ela ficou muito tempo em silêncio e, depois, disse:— Se ele fizer qualquer coisa com você, você tem que me contar. Eu tiro você daqui na hora!Quando eu a ouvi falar em me tirar dali, eu senti como se tivesse ganhado forças de novo.Eu finalmente ia conseguir escapar das garras do meu padrasto.Então eu juntei coragem e contei para a minha mãe tudo o que o meu padrasto tinha feito comigo.A minha mãe ficou tão furiosa que o rosto dela chegou a ficar esverdeado. Na mesma hora, ela pe
Cada vez que eu acordava assustada, o travesseiro já estava encharcado de suor frio.Eu não tinha coragem de acender a luz. Eu só conseguia me encolher no canto da cama, cobrindo os ouvidos com o cobertor, como se isso fosse o bastante para bloquear qualquer som de passos vindo do corredor.Depois disso, o meu padrasto ficou cada vez mais ousado.De madrugada, quando eu levantava para ir ao banheiro, sempre que eu passava pela sala ele estava sentado no sofá, "vendo TV", mas a tela estava desligada.Uma vez, a alça do meu pijama afrouxou. Eu me abaixei para pegar algo no chão e, de repente, ele segurou minha cintura por trás:— Cuidado, vai acabar caindo.A palma da mão dele, encostada direto na minha pele, parecia quente demais, assustadora demais.Fiquei rígida no lugar, sem conseguir me mexer, até ele soltar a minha cintura e completar, bem devagar:— Você já é maior de idade. Precisa aprender a cuidar de si mesma.O banheiro tinha virado o meu pior pesadelo. Ele sempre tomava banho
Aproveitando que eu tinha ficado distraída, o meu padrasto enfiou a mão dentro da minha gola e apertou com força o meu peito.Eu levei um susto e tirei a mão dele na mesma hora. Só então o meu padrasto deu um sorriso safado e se afastou.Eu fiquei na dúvida se devia ou não contar tudo para a minha mãe. Se eu contasse, ela com certeza ia ficar arrasada e talvez até terminasse com o meu padrasto.Mas, se eu não contasse nada, o meu padrasto com certeza ia piorar e me perturbar cada vez mais. Eu fiquei presa naquele dilema, sem saber o que fazer.Logo a minha mãe terminou de lavar a louça. Eu também fui para o banheiro tomar um banho. Eu me sentia toda grudenta, precisava de um bom banho quente.Eu estava ali, sentindo a água escorrendo pelo meu corpo, quando, de repente, a porta do banheiro se abriu.Como o vaso ficava dentro do box, o meu padrasto entrou sem nenhuma cerimônia, tirou o pau para fora bem na minha frente e começou a mijar.Na mesma hora, eu vi aquela coisa enorme.— Pai, e
O meu padrasto agarrou minha calcinha de repente e puxou com força para baixo. Num instante, toda a parte de baixo do meu corpo ficou exposta diante dos olhos do meu padrasto. Eu me senti como um ovo descascado.Eu me assustei por um segundo e apertei as coxas com pressa:— Pai, isso é...O toque do
Eu lancei um olhar furtivo para o meu padrasto e percebi que ele estava claramente excitado, o corpo tenso, deixando transparecer um vigor masculino impressionante.Ao notar meu olhar, meu padrasto pareceu adivinhar exatamente o que estava passando pela minha cabeça. Ele se ajeitou no sofá, sentando
Eu me chamava Daise Pedrosa e morava com a minha mãe na casa do meu padrasto.O meu padrasto, Geraldo Pedrosa, sempre me tratava muito bem. Ele vivia dizendo que eu precisava comer mamão, porque isso fazia bem para a saúde do corpo da mulher.Todos os dias eu tomava uma tigela de creme de mamão. Com






Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.