Short
O Padrasto que Levou a Enteada ao Cinema Privado

O Padrasto que Levou a Enteada ao Cinema Privado

By:  MangonelCompleted
Language: Portuguese
goodnovel18goodnovel
7Chapters
2.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

No cinema particular, mal iluminado, o meu padrasto tinha me levado para ver um filme adulto, dizendo que era o meu presente de maioridade. Ao ver na tela o homem e a mulher se amando com tanto prazer, eu sentia o meu corpo inteiro coçar por dentro. Eu não conseguia evitar apertar bem as minhas pernas úmidas, tentando resistir àquela corrente elétrica de formigamento entre as coxas. Quando meu padrasto me viu com o rosto todo corado, ele veio para entre as minhas pernas e arrancou de uma vez só a minha calcinha. — Filha, vou te ensinar como se tornar uma mulher de verdade, você vai obedecer direitinho, não vai?

View More

Chapter 1

Capítulo 1

"Saya membutuhkan wanita cantik sepertimu untuk dijadikan calon pengantin," ucap seorang lelaki tua yang berdiri tepat dihadapan Clarissa Anastasya.

Gadis itu melotot sempurna dengan tangan mengepal menatap berang ke arah lelaki tersebut. Seharian ini, Clarissa telah berkeliling mencari pekerjaan, rehat sejenak di sebuah Cafe menjadi pilihannya. Bagai disambar petir di siang hari, tawaran menjadi pengantin datang dari seorang lelaki yang sudah sangat sepuh bahkan lebih cocok dipanggil seorang Kakek.

Abraham Reevand, seorang pebisnis nomor satu yang terkenal dengan karakter tegas dan arogant. Sangat menjaga martabat dan kehormatan keluarga, harga diri menjadi prioritas utamanya.

"Anda siapa? Datang-datang bicara tentang pernikahan, apakah Anda tidak punya kaca? Cih!" Clarissa menatapnya kesal.

Abraham menyukai sikap galak itu dan mengeluarkan cek dari saku jasnya.

"Aku akan memberikan uang berapa pun yang kamu minta, asal kamu mau menjadi bagian dari keluarga Abraham Reevand."

Clarissa mengerutkan kening, nama itu tidak asing baginya. Clarissa adalah gadis sederhana. Impiannya yang selalu ingin menjadi seorang model membuatnya selalu menyisihkan uang untuk membeli majalah ternama. Nama Abraham tidak asing terdengar di telinga.

"Anda jangan kurang ajar, ya! Apakah saya terlihat seperti perempuan matre!"

Cla tidak tahan lagi, entah mimpi apa dia semalam hingga bertemu dengan lelaki ganjen seperti Abraham. Mimik tak suka jelas terpancar di wajah Clarissa, walau Abraham masih terlihat tampan dan berkarisma. Dia tidak pernah terpikirkan untuk menjadi istri seorang om-om.

"Saya tahu kamu sedang kesusahan, orang-orangku telah mengawasimu cukup lama. Kamu telah mencari pekerjaan beberapa hari belakangan ini. Saya tawarkan uang dan kemewahan, tentu beserta dengan kehormatan dan fasilitas. Kamu hanya perlu setuju dengan tawaran saya maka setiap keinginanmu akan menjadi nyata."

Cek dengan nominal satu milyar terpampang di depan mata. Clarissa terbelalak, bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini.

'Mimpi apa aku semalam?' batinnya.

Tertunduk dengan tatapan kosong, Cla lantas kembali ke akal sehatnya.

'Tidak, uang bukanlah segalanya!' batin gadis itu.

"A-anda pasti sedang bercanda, uang sebanyak itu. Apakah Anda sedang mempermainkan saya!" Tatapan tajam tak lepas dari sorot mata indahnya.

Abraham menjentikkan jari, dalam sekejap. Seorang lelaki dengan setelan jas yang sangat rapi. Tinggi dan tanpa ekspresi datang membawa koper di tangannya. Lelaki itu membuka koper dan memperlihatkan uang yang sangat banyak. Clarissa lagi-lagi dibuat melongo.

"Saya sangat serius, semua ini akan menjadi milikmu, beserta ceknya. Jika kamu mau menerima tawaranku."

"Gila!" Clarissa berdecak.

Gadis itu menelan salivanya berkali-kali. Cla kini melipat kedua tangannya ke dada menyembunyikan rasa gugup yang melanda hatinya. Abraham terlihat santai dengan kedua bodyguard yang selalu stay menemani.

Uang itu sangat banyak bahkan bisa menghidupinya dengan sang kakak yang telah berjuang keras membiayai sekolahnya. Sesaat Clarissa goyah dan berpikir. Dia masih muda, menjadi istri seorang kakek-kakek tak pernah terlintas di kepalanya, gadis itu mundur lalu bergidik ngeri.

"Maaf, saya tidak mau, silahkan pergi dan bawa uang itu pergi!" Clarissa menolak dengan lantang. Ya, dia masih punya harga diri.

Perasaan kakaknya pasti akan hancur jika tahu dia menerima lamaran dari seorang kakek-kakek, plus Clarissa tidak mengenal siapa lelaki itu.

Abraham tidak menyerah, dia mengeluarkan kertas dan menulis nomor telepon di sana. Lalu menyerahkannya pada gadis itu.

"Ini, simpan saja. Jika kamu berubah pikiran, orang-orangku akan datang menjemputmu kapanpun kamu bersedia." Abraham berlalu setelah mengatakannya.

"Cih, sombong sekali." Clarissa membuang pandangan. Abraham sangat percaya jika Clarissa akan menghubunginya suatu saat nanti.

Wangi parfum dari lelaki itu menusuk penciuman Cla. Cek dan uang tunai hilang dari pandangan, Clarissa menghembuskan napas kasar.

"Huh, andai dia seorang Pangeran. Tentu aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerimanya. Lagi pula, sudah tua, dia harusnya banyak beramal, bukannya malah mencari daun muda," ucapnya.

Clarissa memandang nomor ponsel itu lama. Dia sangat frustasi saat ini. Kakaknya sedang sakit di rumah dan dia tidak punya simpanan uang. Cafe yang tadi menyediakan lowongan pekerjaan tiba-tiba saja mencopot kertas pemberitahuan itu dari pintu kaca.

"Apes banget!" Dengan terpaksa Cla meninggalkan tempat itu.

Perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan begitu sulit, apalagi ditengah pandemi seperti sekarang. Biaya hidup mencekik, kebutuhan membengkak. Clarissa bingung harus bagaimana lagi, kini gadis itu berjalan ditengah teriknya panas mentari. Betis mulai pegal, lantaran selalu berjalan kaki demi menghemat ongkos.

"Jika terus begini, bagaimana bisa aku membawa Kak Helena ke Dokter."

Clarissa Anastasya adalah gadis yatim. Dia dan kakaknya hanya hidup berdua di pinggiran kota. Kakak perempuannya Bernama Helena Aurora. Mereka kehilangan kedua orang tuanya saat kecelakaan beberapa tahun silam. Saat itu, Helena sudah tamat sekolah menengah atas sedang Clarissa baru duduk di bangku menengah pertama.

Tidak ada warisan atau simpanan uang, mereka hanya memiliki rumah sederhana untuk berteduh. Perjuangan sampai ke titik ini tidaklah mudah, Cla berhutang banyak pada saudari perempuannya atas pengorbanan yang telah di berikannya selama ini.

Hari hampir gelap saat Cla tiba di rumah, suara perabotan yang di banting membuat langkah gadis itu kian cepat. Suara gaduh terdengar riuh membuat gadis itu kaget dan berlari kecil.

"Kosongkan rumah ini! Kalian tidak berhak lagi tinggal di sini!" Helena dilempar keluar beserta pakaian yang ikut berhamburan.

Tampak beberapa orang lelaki terlihat sangat sangar berjaga di depan pintu. Clarissa yang baru tiba, bingung melihat apa yang terjadi. Apalagi saat ini, Helena telah tersungkur di tanah.

"Apa-apaan ini! Kalian siapa?" tanya Cla berani.

Gadis itu membantu kakaknya bangkit, Helena sangat lemah karena demam dan asma yang dideritanya.

"Ha! Tanya saja pada wanita yang ada disampingmu. Rumah ini telah menjadi milik Bos kami. Helena telah menggadaikannya dan dia telat membayar hampir satu tahun lamanya."

Clarissa melotot dengan mulut menganga, gadis itu mendadak lemas, seolah tulang belulangnya lepas dari tubuh. Rumah itu adalah harta mereka satu-satunya. Clarissa tidak ingin percaya apa yang baru saja didengarnya. Netra gadis itu mulai berkaca-kaca.

"Tidak mungkin, itu tidak mungkin, pergi kalian atau aku akan berteriak!" Clarissa mengancam dengan napas memburu.

Bukannya takut, preman-preman itu justru menertawakannya.

"Haha haha coba saja jika kau berani. Kau hanya akan membuang tenaga saja, Nona."

Cla mengepalkan tangan. Pandangannya dan ketua preman itu saling beradu.

"Sial!" Cla kembali berlutut dan menatap Helena.

"Kak, katakan sesuatu. Mereka berbohong kan? Kakak nggak mungkin menggadaikan rumah kita. Iya kan!" Clarissa nyaris putus asa. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

Helena berusaha mengatur napasnya. Sangat sulit baginya untuk bicara sekarang.

"Gembok rumah itu! Jangan sampai mereka memasukinya kembali," titah seorang lelaki yang dianggap Bos.

"Baik, Bos."

Clarissa bangkit dan coba menghalangi.

"Tidak! Ini rumah kami, Ayah membuatnya untuk kami. Kalian tidak berhak apa-apa."

Helena sangat sedih melihat Clarissa yang berkeras di depan sana.

"Jika kau mau rumah ini kembali, bayar dulu hutang-hutang kalian!"

"Tapi aku tak punya uang, tolong. Kemana kami harus pergi, kami tak punya siapa-siapa."

"Emang gua pikirin!!"

Clarissa di tarik dan di dorong keluar. Gadis itu meringis saat lututnya mendarat di tanah.

Brakk!

"Auuw!"

"Haha hahaha. Makanya jangan belagu."

Cla menangis pilu, dia tak mau menjadi gembel dan tidur di pinggir jalan.

"Kalian kej am! Kalian ja hat!" ma kinya.

Cla menyeka airmatanya. Hal yang sangat dia benci adalah ketidakberdayaan. Di hadapannya saat ini. Saudarinya tersungkur lemah.

"Kami hanya menjalankan tugas, ingat! Tinggalkan rumah ini segera atau kita seret kalian ke jalan."

Bruk.

Perabotan berserakan.

Helena tergeletak sembari memegang dadanya, napasnya makin sesak. Dan suhu tubuhnya makin panas.

Clarissa yang melihatnya sontak mendekat.

"Kak, apa kau baik-baik saja?" Clarissa melupakan soal hutang, dia fokus pada kesehatan Helena. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya sekarang.

"Urus, tu. Makanya kalau udah penyakitan jangan ngutang!" Preman itu mencela sebelum berlalu meninggalkan mereka.

Clarissa tidak dapat membalas, hatinya diliputi rasa takut yang luar biasa.

"Kak,"

"Maaf, Claaa. Ka ... kak terpak .. sa mengambil pinjaman untuk biaya sekolahmu." Helena berusaha menyelesaikan ucapannya.

Airmata Cla jatuh berlinang, semenjak kehilangan kedua orang tuanya. Helena mengambil peran dan tanggung jawab lebih untuk mengurusnya. Helena selalu bilang jangan memikirkan soal biaya, apapun itu. Biarkan saja dia yang mengurusnya. Tapi, dia tidak pernah menyangka jika sang kakak akan menggadaikan harta mereka satu-satunya.

"Maafkan kakak, Cla." Bibir Helena bergetar, wanita itu kedinginan dengan wajah pucat pasi.

Clarissa membayangkan hal yang paling terburuk. Dia tidak mau kehilangan kakaknya.

"Kakak bertahan, kita akan ke Rumah Sakit." Clarissa berusaha tegar.

Gadis itu mulai panik dan melihat ke sekitar.

"Tolong! Siapapun itu tolong kami!" teriaknya sekuat tenaga.

Dalam hatinya, Cla begitu cemas.

Tidak ada yang datang, tetangga terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang ingin pusing dengan kehidupan Clarissa dan saudarinya.

"Kakak, bertahanlah."

Clarissa mencari selimut atau pakaian yang bisa membantu menghangatkan tubuh Helena.

Nafas yang sesak menggebu membuat saudarinya begitu tersiksa.

"Bertahan, Kak. Aku akan mencari bantuan."

Helena memejamkan mata, sungguh meski Cla mengatakan itu, dia tahu adiknya tak bisa berbuat apa-apa.

"Cla,"

"Jangan bicara, tolong."

Clarissa berlari ke tepi jalan.

"Seseorang, tolong kami!"

"Tolong!" teriakan gadis itu tak berarti. Tidak ada yang datang membuat Clarissa mengutuk hari itu.

"Kenapa tidak ada rasa iba untuk kami, Tuhan." Gadis itu mengeluh, entah kenapa tidak ada yang peduli dengan mereka.

Helena berusaha bernapas, sesak membuatnya sangat tersiksa.

"Kak aku akan keluar mencari bantuan," ucap Clarissa tiba-tiba.

Helena menggeleng dia tidak setuju dan takut di tinggalkan.

"Aku harus keluar ke jalan raya untuk mendapatkan taksi, Kak."

Tangan Helena mengenggamnya erat. Clarissa tidak bisa pergi. Helena tak mengizinkannya. Di tengah kekalutannya, Clarissa teringat dengan nomor telepon yang ditinggalkan Abraham.

"Orang itu, apa aku hubungi saja dia."

Dengan cepat, Clarissa merogoh tas dan mengeluarkan ponsel jadul miliknya. Jari-jarinya dengan cepat menekan tombol angka yang di salinnya dari kartu nama. Sebentar lagi, hanya tinggal menunggu panggilan itu bersambut.

Detik demi detik berjalan terasa sangat lama.

[Hallo,] sapa Abraham pada akhirnya.

Clarissa gemetar, dihadapkan antara dua pilihan.

'Oh Tuhan, inikah akhirnya?" batin gadis itu.

Waktu seolah berhenti.

"Uhuk uhuk uhuk." Helena terbatuk menyadarkan Cla dari lamunan.

[Siapa di sana?] tanya Abraham.

Clarissa menarik napas panjang, nyawa kakaknya lebih penting dari segalanya saat ini. Tidak ada uang dan kendaraan, gadis itu gundah, menyerahkan hidup sebagai seorang pengantin membuatnya tak berdaya.

[Hallo, jika kamu orang iseng. Aku akan mematikan panggilan ini sekarang juga.]

[Jangan!]

Cla terpejam meremas celana panjang yang di kenakannya.

[Kamu!]

[Ini saya, gadis di cafe tadi.]

Abraham tersenyum penuh kemenangan.

[Tolong kirimkan bantuanmu, Tuan. Kakak saya sekarat dan saya tidak mau kehilangan dia.]

Tangisnya luruh tanpa suara. Cla seperti telur di ujung tanduk.

[Apa kamu yakin menerima tawaranku?]

Cla menyeka air matanya lalu mengangguk.

[Jawab aku!]

Clarissa menoleh melihat wajah pucat Helena, bahkan selimut yang di pakainya tidak berpengaruh. Clarissa meyakinkan diri untuk menolong Kakaknya terlebih dulu.

[Ya, aku terima. Asal kamu bisa menyelematkannya, aku akan melakukan apa saja.]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.


No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status