O Príncipe da Máfia

O Príncipe da Máfia

last updateLast Updated : 2026-10-13
By:  Santa FilomenaOngoing
Language: Portuguese
goodnovel16goodnovel
8
1 rating. 1 review
117Chapters
7.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

A Laise se apaixona a primeira vista por rapaz mal educado da faculdade, sendo ela a filha do chefe dos mafiosos ela tá acostumada a ter tudo o quer, então sentindo coisas desconhecidos pelo rapaz ele manda o seu pessoal o sequestrar obrigando ele a pertence-la e com tempo os mistérios a volta do rapaz começarão a aparecer e todos irão descobrir que ele na verdade é o verdadeiro herdeiro da maior máfia do mundo, o lugar que o pai da e Laise ocupa é na verdade do Dimitri Delcime, filho do lendário e poderoso Dante Delcime, que misteriosamente foi assassino na sua mansão.

View More

Chapter 1

l

Ziva tersenyum dan menyela ucapannya, "Aku mengerti. Kamu nggak perlu menjelaskan. Sana, lanjutkan bermain. Jangan sampai merusak keseruan semua orang."

Pada saat itu, Felix tertegun.

Selama sebulan terakhir, Ziva seolah benar-benar telah berubah menjadi orang lain.

Ziva tidak lagi mempermasalahkan kepulangannya yang larut malam, tidak lagi memeriksa ponselnya, dan tidak lagi menunjukkan sedikit pun kepedulian terhadap perempuan mana pun yang muncul di sekitarnya.

Bahkan saat kaki Vira terkilir beberapa waktu lalu, Felix mengantarnya ke rumah sakit dan menemaninya hingga baru pulang tengah malam. Ziva hanya tidur lebih awal dan keesokan harinya bahkan tidak menyinggung hal itu sepatah kata pun.

Dia seperti air dalam yang tiba-tiba tidak lagi menimbulkan riak, begitu tenang, tetapi justru membuat orang merasa gelisah.

"Aku nggak mau bermain lagi." Tenggorokan Felix terasa tercekat. Dia mengambil jaketnya. "Kamu memang nggak pernah suka acara seperti ini. Aku bakal mengantarmu pulang."

Ziva menghela napas tidak berdaya. "Kalian baru saja mulai ...."

"Ayo!"

Tanpa memberi Ziva kesempatan untuk menolak, dia menarik Ziva berdiri, berpamitan kepada semua orang, lalu meninggalkan ruangan itu.

Baru saja mereka masuk ke dalam mobil, jendela mobil itu diketuk.

Felix menurunkan jendela. Vira berdiri di luar dengan rambut panjang yang sedikit berkibar ditiup angin malam.

Sambil tersenyum, dia menunjuk awan yang menumpuk di kejauhan. "Sepertinya bakal hujan. Semua orang sudah bubar. Aku nggak bisa mendapatkan taksi. Boleh sekalian mengantarku pulang?"

Felix bahkan belum sempat membuka mulut ketika Ziva sudah tersenyum dan membukakan pintu mobil.

"Tentu saja boleh. Oh, ya, aku ingat kamu mabuk kendaraan. Duduklah di depan."

Felix tertegun.

Vira juga tertegun. Senyum yang telah dipersiapkannya membeku di sudut bibirnya. Dia menatap Ziva, seulas keterkejutan melintas di matanya, sebelum akhirnya masuk dan duduk di dalam.

"Kalau begitu ... terima kasih."

Mobil melaju menembus malam, sementara suara Vira mengalun lembut di dalam mobil.

"Felix, kamu masih ingat? Waktu SMA dulu, juga pada hari hujan seperti ini. Aku lupa membawa payung, tanpa berpikir panjang kamu langsung melepaskan seragam sekolahmu buat menutupi kepalaku. Kamu sendiri kehujanan sambil menemaniku berjalan pulang. Akibatnya, keesokan harinya kamu demam."

Jakun Felix bergerak. Suaranya terdengar agak rendah. "Ya, aku ingat."

"Selain itu, waktu itu aku sakit perut karena lagi haid. Kamu bahkan membolos dari bimbingan olimpiade, manjat tembok buat keluar, dan beliin aku wedang jahe. Tapi kamu tertangkap basah sama guru dan harus membacakan surat pernyataan di depan bendera."

"Aku ingat."

"Menjelang ujian masuk perguruan tinggi, aku sangat tertekan. Setiap hari, kamu melipat satu burung bangau kertas dan meletakkannya di dalam laci mejaku. Di atasnya tertulis kata-kata penyemangat, sampai terkumpul satu kotak penuh."

"Aku ingat."

Mereka saling menyambung percakapan tanpa memedulikan orang lain. Nada suara Vira manis dan lembut, dipenuhi nostalgia. Tanggapan Felix singkat, tetapi setiap ucapannya selalu menanggapi dengan tenang.

Sambil berbicara, Vira melirik melalui kaca spion dan melemparkan pandangan penuh kemenangan sekaligus provokatif ke arah kursi belakang.

Dia menunggu untuk melihat Ziva kehilangan kendali, menahan diri, atau setidaknya menunjukkan sedikit ketidaksenangan.

Namun, Ziva hanya duduk diam di kursi belakang, sedikit menundukkan kepala, sementara jemarinya dengan cepat menggeser layar ponsel.

Vira membelalakkan mata dengan tidak percaya!

Provokasinya sudah sejelas itu. Felix dan dirinya juga begitu asyik mengenang masa lalu, tetapi Ziva ... malah sedang bermain Candy Crush Saga?

Dia benar-benar tidak menunjukkan reaksi apa pun?

Felix juga melihat Ziva melalui kaca spion. Dia menatap layar ponselnya dengan penuh perhatian, sedikit mengernyitkan kening, seolah sedang kesulitan melewati suatu level. Dia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri dan sama sekali tidak memedulikan percakapan mereka sebelumnya.

Rasa kesal yang muncul entah dari mana itu kembali mencengkeramnya. Felix menggenggam erat setir dan baru saja hendak membuka mulut.

Meong!

Seekor kucing hitam tiba-tiba melompat keluar dari pinggir jalan.

Felix membanting setir, membuat mobil kehilangan kendali dan langsung menabrak pembatas jalan.

Dalam benturan hebat itu, Felix secara naluriah mengulurkan tangan untuk melindungi Vira yang duduk di kursi penumpang depan.

Sementara itu, Ziva yang duduk di kursi belakang terlempar keras ke depan hingga dahinya menghantam sandaran kursi depan.

Rasa sakit yang hebat langsung menyerang, diikuti cairan hangat yang seketika mengalir dari dahinya.

"Ziva!" Felix menoleh ke belakang. Melihat wajahnya berlumuran darah, wajahnya langsung pucat. "Kamu gimana? Bagian mana yang terluka? Sini, biar aku lihat!"

"Aku nggak apa-apa." Ziva menyeka darah yang menutupi matanya dengan punggung tangan. Suaranya terdengar sedikit lemah, tetapi tetap tenang. "Cuma terbentur sedikit. Nanti pulang tinggal dikasih obat. Antar Nona Vira dulu saja."

Felix tidak bisa membantahnya dan hanya bisa menyalakan kembali mobil.

Setelah mengantar Vira pulang, Felix langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi untuk membawa Ziva pulang.

Begitu masuk ke dalam rumah, dia segera mencari kotak P3K. Kedua tangannya bahkan gemetar.

"Ziva, tadi aku ..." Dia ingin menjelaskan.

"Aku tahu." Ziva mengambil kapas lidi dan mengobati lukanya sendiri sambil bercermin di depan cermin dekat pintu masuk. "Kamu lebih dekat dengannya. Wajar kalau secara naluriah kamu melindunginya. Aku mengerti."

Felix menatap wajah sampingnya yang tenang. Amarah yang dipendamnya selama sebulan, bersama dengan kegelisahan yang tidak jelas asalnya, tiba-tiba meluap.

Dia langsung merebut kapas lidi dari tangan Ziva dan melemparkannya ke lantai.

"Ziva! Sudah sebulan!" Felix mencengkeram bahunya, suaranya bergetar. "Kalimat yang paling sering kamu ucapkan cuma 'aku mengerti', 'aku paham', dan 'aku nggak marah'! Sebenarnya kamu maunya apa? Apa kamu masih marah karena kejadian malam itu? Aku waktu itu mabuk! Kita cuma sama-sama terbawa emosi! Aku juga sudah minta maaf! Kita juga nggak putus! Jadi, sebenarnya kamu mau aku bagaimana?"

Ziva sampai merasa pandangannya menggelap karena diguncang oleh Felix, sementara luka di dahinya berdenyut nyeri.

Dia menghela napas pelan, nadanya terdengar hampir tidak berdaya. "Felix, aku benar-benar nggak marah. Aku juga nggak memikirkannya lagi."

"Aku nggak percaya!"

Ziva menatapnya, lalu perlahan mengangkat tiga jari. "Aku bersumpah, kalau aku masih marah karena masalah itu, biar aku disambar petir. Puas?"

Tatapannya begitu jernih dan nadanya sangat meyakinkan, tanpa sedikit pun kemarahan atau kepura-puraan.

Felix tertegun. Cengkeramannya di bahu Ziva perlahan mengendur.

Dia benar-benar tidak marah?

Apa jangan-jangan selama ini dia hanya terlalu banyak berpikir? Ziva hanya ... menjadi lebih dewasa?

"Kalau begitu ...." Suaranya merendah. "Jangan begini lagi. Dulu, kamu nggak seperti ini."

"Memangnya aku dulu seperti apa?"

"Dulu, kamu bakal cemburu, mempermasalahkan banyak hal, dan peduli padaku."

Mendengar itu, Ziva tiba-tiba tersenyum tipis. "Bukannya itu berarti aku dulu nggak dewasa dan nggak pengertian? Bukannya sekarang lebih baik?"

Felix terdiam.

Dia membuka mulut, tetapi mendapati dirinya tidak mampu membantah.

Pada akhirnya, seolah berhasil meyakinkan dirinya sendiri, dia melepaskan Ziva dan berbalik menuju kamar mandi.

"Aku mandi dulu."

Pintu tertutup, lalu terdengar suara air mengalir.

Senyum di wajah Ziva perlahan menghilang, seolah tersapu oleh air laut yang surut.

Dia berjalan ke dekat jendela. Malam tampak begitu pekat.

Layar ponselnya menyala. Ada pemberitahuan surel baru.

[Nona Ziva, selamat! Anda telah lolos tahap akhir audisi pemeran utama untuk Tur Nasional Teater. Harap tiba di Neo Yark sebelum akhir bulan ini untuk memulai tur dunia selama tiga tahun. Mohon mengatur urusan pribadi Anda dengan baik.]

Ziva menundukkan pandangan dan mengetik balasan singkat. [Baik.]

Kemudian, dia mengangkat pandangannya ke arah kamar mandi.

Di balik kaca buram, uap air memenuhi ruangan, membuat sosok di dalamnya tampak samar.

Suara air yang mengalir terus terdengar.

Ziva memang benar-benar tidak marah lagi.

Karena syarat untuk tidak lagi marah adalah ....

Dia sudah tidak mencintainya lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.


reviews

Maria Elisa Guterres
Maria Elisa Guterres
o livro é bom,estou curiosa com oq acontece então por favor não demora para atualizar ele.......
2023-04-10 04:41:49
2
0
117 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status