Mag-log inKukuh menatap lekat kartu nama beraroma lavender di telapak tangannya. Nama Pratiwi dan deretan angka di sana tercetak timbul dengan tinta emas. Jemari Kukuh mengusap permukaan kartu itu perlahan sebelum ia mengangkat wajahnya."Terima kasih atas tawarannya yang sangat luar biasa ini, Bu Manajer," ucap Kukuh tulus, memasukkan kartu itu ke dalam saku kemejanya dengan hati-hati.Namun, tepat setelah kartu itu masuk ke saku, suhu di sekitar Kukuh seolah menurun drastis. Sorot matanya yang semula tenang kini meredup, menyisakan kilatan dingin yang berbahaya."Tapi sebelum saya memikirkan pekerjaan baru, saya harus menyelesaikan sebuah perhitungan dengan Tuan Adiwangsa," lanjut Kukuh. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, tapi setiap suku katanya mengandung amarah yang tertahan. "Dia sudah menipu saya, dan di keluarga saya, pengkhianatan harus dibayar lunas."Merasakan aura intimidasi yang mendadak menguar dari pemuda itu, Pratiwi sedikit terkesiap. Namun anehnya, ia sama sekali tidak me
Derit roda brankar yang didorong perlahan oleh tim medis khusus membawa Bapak Kasiman menjauh dari lorong pengap Kelas 3. Mereka bergerak menuju lift eksklusif yang hanya bisa diakses menggunakan pemindai retina, membawa bapak angkat Kukuh menuju Unit Rakti yang mewah di lantai delapan.Kukuh berdiri mengawasi hingga pintu logam lift itu tertutup rapat. Beban berat yang sejak pagi menghimpit tulang rusuknya seolah terangkat seketika. Ia memutar tubuhnya, menghadap wanita anggun berjas abu-abu yang masih berdiri tak jauh darinya.Kukuh menundukkan kepalanya sedikit, sebuah gestur penghormatan tulus yang amat jarang ia berikan kepada siapa pun, apalagi kepada kaum elit Jakarta."Terima kasih, Bu Manajer, atas pertolongan Anda. Bapak saya sekarang bisa mendapatkan fasilitas yang bahkan jauh lebih bagus dari sebelumnya," ucap Kukuh. Nada suaranya terdengar jauh lebih hangat dibandingkan saat ia mengintimidasi perawat tadi.Pratiwi membalas tatapan itu dengan senyum manis yang membuat leku
Pratiwi mengedarkan pandangannya ke sekeliling bangsal Kelas 3 yang pengap, bising, dan berbau pesing. Alisnya yang tertata rapi bertaut rapat."Seharusnya Bapak Kasiman berada di ruang perawatan VIP lantai atas. Kenapa tiba-tiba beliau dipindahkan ke lorong ini tanpa ada catatan persetujuan medis dari dokter penanggung jawab?" tanya Pratiwi. Nada suaranya tetap profesional, namun ada ketegasan yang tajam di baliknya.Kukuh menatap lurus ke dalam mata wanita di hadapannya. Aneh. Instingnya yang biasanya meronta waspada ketika berhadapan dengan orang asing, kini justru terasa sangat tenang. Ada aura familiar dari Pratiwi yang membuat dinding pertahanan Kukuh sedikit menurun."Pihak penjamin memutus biayanya pagi ini," jawab Kukuh dengan nada sedatar permukaan meja.Kukuh
Langkah Kukuh setengah berlari menyusuri lorong sempit yang pengap di bangsal Kelas 3. Pemandangannya sungguh menyesakkan dada. Ranjang-ranjang besi tua berjejer rapat, bau obat-obatan murah bercampur dengan keringat pasien memenuhi udara, dan suara erangan sakit saling bersahutan.Di sudut paling ujung, dekat dengan pintu kamar mandi umum, mata Kukuh menangkap sosok ringkih yang sedang terbaring lemah."Pak..." Kukuh bergegas mendekat, suaranya parau. Ia langsung duduk di kursi plastik kecil di samping ranjang. "Pak, gimana keadaannya?" tanya Kukuh dengan nada sedih, tangannya menggenggam erat telapak tangan bapak angkatnya yang terasa sangat dingin dan kasar.Bapak Kasiman membuka matanya perlahan. Senyum tipis yang tulus merekah di wajah keriputnya saat melihat putra kesayangannya. "Alhamdulillah... lumayan, Le. Gimana kabarmu?""Alhamdulillah, Pak. Aku baik-baik saja," ucap Kukuh pelan, berusaha menyembunyikan getaran amarah yang masih membakar dadanya setelah mengetahui kelicikan
Di luar pintu kaca toko "Mutiara Kuno", terik matahari Jakarta seolah gagal menghangatkan tubuh Pak Supri. Sopir tua itu bersandar lemas pada jok motornya, napasnya masih memburu seolah baru saja dipaksa berlari jauh. Keringat dingin terus menetes dari pelipisnya, membasahi kerah jaket kulitnya yang sudah kusam.Sementara itu, Alex dan dua anak buahnya baru saja menunduk hormat untuk terakhir kalinya sebelum melangkah pergi membelah keramaian pasar.Pak Supri menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Kukuh dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan yang memancarkan campuran rasa takut dan takjub."Kuh... kowe iku jane sopo? (Kamu itu sebenarnya siapa?)" suara Pak Supri bergetar parah. Jari telunjuknya yang keriput menunjuk ke arah jalan tempat Alex menghilang. "Bos preman paling ngeri se-pasar loak ini sujud di depanmu?! Dengkulku rasanya mau copot, Kuh!"Melihat kepanikan di wajah pria tua itu, Kukuh hanya tersenyum kecil. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana
"Nah, di sini tempatnya, Kuh. Ini toko paling lengkap sejagat pasar," bisik Pak Supri antusias. Keduanya pun melangkah masuk. Hawa sejuk AC langsung menyapa kulit mereka yang berkeringat.Di balik etalase kaca utama, berdiri Juragan Karta, si pemilik toko. Pria buncit dengan kalung emas sebesar rantai kapal di lehernya itu sedang mengelap sebuah cincin berlian menggunakan kain beludru.Begitu bel pintu bergemerincing dan Karta melihat siapa yang masuk, gerakan tangannya seketika berhenti. Cih, gembel dari mana lagi ini yang berani mengotori lantai keramikku? batin Karta penuh kebencian. Orang-orang berpenampilan seperti ini biasanya hanya datang untuk menumpang ngadem atau berniat panjang tangan.Namun, Pak Supri yang tidak menyadari tatapan merendahkan itu melangkah maju ke meja etalase dengan senyum lebar."Permisi, Bos. Saya mau cari emban (cincin pengikat) dari bahan perak atau titanium asli untuk batu akik saya ini. Ada yang ukurannya pas nggak?" ucap Supri seraya meletakkan batu







