เข้าสู่ระบบMereka saudara kembar selalu kompak di mana saja sampai akhirnya ketika dewasa dan menemukan pendamping sesuai kriteria mereka masing-masing, disitulah untuk pertama kalinya mereka menjadi bumi dan langit. Suratman bekerja sebagai konsultan sebuah bank swasta terkemuka dan beristrikan seorang wanita penggila kerja sebagai sekretaris sebuah hotel berbintang lima. Sedangkan Suratmin hanya seorang cleaning servis di rumah makan dan beristrikan seorang Ibu Rumah Tangga saja. Dalam hal mendidik anak pun mereka berbeda, sehingga suatu hari anaknya pun yang menjadi korban. Apa yang terjadi dengan mereka?
ดูเพิ่มเติมWhen I woke up this morning, I thought I knew what I was walking into. But that didn’t stop the nerves from tangling in my stomach like a tight, twisting knot. The first-day jitters hit me harder than expected, like a gust of wind whipping wild beneath my skin, cold and anxious and electric.
I wasn’t even sure I was in the right room. The paper in my hand filled with instructions and classroom numbers, said I was. But no one else had arrived yet. The lecture hall stood empty and echoing, giving me too much time to overthink. I slid into a seat at the very back, hoping to stay out of sight. If I didn’t make eye contact, or didn’t speak to anyone, maybe I could just observe, learn how things worked before being noticed. The silence wrapped around me like a blanket… but not a warm one. More like the hush before a storm. Still, beneath the nerves, something else stirred. Something darker and Hungrier. Maybe it was the tightness between my thighs, the pulse already drumming low in my body before the day had even started. Maybe it was the way I had barely slept last night, too wired, too restless. Whatever it was, I needed a release. A sharp, fast escape. Just one little fantasy to get me through the morning. I clenched my thighs together and waited. The day will be over soon.. The door burst open. A swarm of students poured in like they’d all been waiting for some invisible bell. Laughter, voices, bags hitting desks, chaos filled the air. And then, a voice low, confident, a little too close. “Are you new?” A blonde boy leaned in, his piercing blue eyes flicking across my face like he already knew I was flustered. He was cute objectively but far too young. Too. . . boyish. Not what I craved. “Yes,” I replied. “CSC class.” His grin spread, cocky and playful. “You’re in the wrong room, baby girl. CSC is next door.” My heart dropped. Shit. Now I had to stand up, interrupt everything, and walk out while everyone watched. Regret burned hot across my chest. Why had I chosen the back row? “Maybe I’ll just sit this one out,” I mumbled. He laughed. “I wouldn’t want a beautiful girl like you slipping through my fingers, but I don’t think you want to miss Professor Collins’ class. Especially not on your first day.” He winked. I barely heard the rest. Professor Collins. That name echoed in my head like a warning, or a promise. I muttered a quick thank you and practically fled. The next lecture hall looked nearly identical. Not my fault, I told myself. Anyone could’ve made the mistake. But as soon as I opened the door, all eyes turned to me. And just like that, I froze. Too many faces. Too much attention. Without thinking, I shut the door again. Breathed. Reopened it slower. And stepped in. This time, I was painfully aware of everything: the way my short black skirt clung to my thighs, how bare my legs were, how the tan top under my ripped jacket dipped just a little too low. I’d dressed to feel confident, but now, I felt exposed. Stripped bare. “I’m sorry, sir,” I whispered to the man at the front of the room. “I walked into the wrong classroom.” He didn’t look at me right away, but when he spoke, his voice rippled through the room. Deep. Authoritative. Smooth like whiskey. “Find a seat, Miss…?” “Lily,” I replied, barely louder than a breath. “Miss Lily. Sit and see me in my office after class.” That made me look up, really look up at him. And sweet God. Nothing could’ve prepared me for Professor Collins. He was tall, broad-shouldered, dressed in a dark, fitted lumberjack shirt tucked into slacks that hugged his hips and thighs too well for a man who had no business being that sexy. His hair was a thick golden blonde, cropped close, and his jaw, sharp, unshaven, carved from stone, tightened when he spoke. Even from across the room, I could see the veins in his forearms as he adjusted a folder on the desk. He looked like he belonged in a fantasy. My fantasy. And based on the heat in my cheeks and the flutter in my core, he already was. I sat quickly, heart hammering. The seat I chose placed me directly across from him, close enough to watch, far enough not to draw attention again. I tried not to stare, but it was impossible. As he started lecturing, my eyes locked on his lips. My thoughts… slipped. In my head, I imagined them moving down my neck, over my chest, sucking one nipple into his mouth while his hand teased the other. My thighs clenched. My core pulsed. I tried to focus, but all I could think about was how his hands would feel tangled in my hair, how he might growl my name while pulling me tighter against his chest. God, I was getting wet. In the middle of class. On my first day. My fingers twitched in my lap. I rubbed my thighs together, subtle but desperate. The desk shielded me, but not enough. If I moved too much, someone would notice. If he noticed… Shit. That thought made it worse. I bit my lip, tried to breathe evenly. Tried to stay sane. But every time he turned, every time his shirt stretched across his back or those slacks tightened around his ass, I wanted to slide my hand under my skirt and give myself the relief I was aching for. Then, thank God! A distraction. A girl beside me leaned in with a smile. “Nice to meet you, Lily. Don’t mind Professor Collins, he’s always that grumpy.” Grumpy? I nearly laughed. If she only knew. “Thanks,” I murmured. “I guess I made a bad impression.” “Just grovel a bit in his office. Trust me, you don’t want to be on his bad side.” Her words made my stomach clench, but not with fear. What did she think he would do in that office? What did I want him to do? I packed up quickly after the class, my heartbeat pounding, but before I could ask her name, she’d already disappeared into the crowd. And now, I had to face him. Alone. Behind a closed door. Just me… and the man I couldn’t stop thinking about. My skin tingled as I headed down the hall. The warm, wicked ache between my legs hadn’t faded. If anything, it was worse. Professor Collins was waiting and I was ready to be taught.Memang tidak diragukan dulu saat mereka satu kampus. Ayu yang terlahir dengan wajah cantik dan tubuh seksi, membuat siapa saja akan jatuh cinta dan tergoda, sehingga banyak para lelaki yang mencuri pandang dengannya dan ingin merasakan pelukan hangat dari Ayu. Apalagi cara berpakaian yang sangat terbuka membuat para pria panas dingin dibuatnya.“Apakah Ayu yang mengatakan hal itu dengan Bapak?” “Iya, kamu juga mencintai Ayu, kan?” tanya Suratman bersemangat dan melirik sinis kearah Suratmin. Rayhan menghela napas panjang, dia tahu akan terjadi seperti ini. Apalagi beberapa hari yang lalu Rayhan bersama Hanin melihat Ayu bergandengan tangan dengan pria yang lebih tua darinya.Saat mereka berbincang di ruangan Rayhan, tiba-tiba saja Pak Dibyo ayah kandung Rayhan masuk ke ruangan itu. Dia pun ikut terkejut dengan kehadiran dua orang saudara kembar itu. Dengan cepat Suratman berdiri untuk menyambut Pak Dibyo dan menghambur ke pelukan seakan mereka baru bertemu kembali sebagai seorang
Tepat pukul dua siang akhirnya Suratman sudah sampai di kantor Rayhan. Setelah memarkirkan mobilnya dia keluar dari mobil dengan senyuman semringah, berjalan tegak dengan membusungkan dadanya. Pria paru baya itu yakin kalau selain kerja sama itu dia juga menawarkan Ayu untuk dinikahinya. Apalagi kata putrinya sendiri kalau Rayhan juga sangat mencintai Ayu.“Ah sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milikku . Rasanya tidak sabar untuk bisa masuk di dalam keluarga Rayhan,” batin Suratman sambil menatap gedung tinggi itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift. Dia pun menekan tombol lift pergi ke lantai empat tempat di mana ruang kerja Rayhan berada. Rasa gugup dan sedikit gelisah sudah menyelimuti hatinya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dia ib berjalan sedikit cepat karena waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat lima menit.“Selamat siang Pak, dengan Bapak Suratman dari PT. Citra Kencana?” tanya Mila sekretaris Rayhan, menghentikan langkah Suratman yang ingin langsung masuk
“Ah sial ... kenapa harus sekarang?” tanyanya dalam hati.“Ada apa, Sayang?”“Nggak apa-apa, Pa!”Ayu lalu membalas pesan singkat itu sesaat lalu menaruh kembali ponselnya di dalam tas.“Sayang, kamu tidak usah ikut dulu, biar Papa yang bertemu Rayhan. Jika urusan Papa dengannya selesai dan menyetujui kerja sama ini maka itu sangat mudah kita masuk di dalam keluarga Wardana yang kaya raya,” jelas Suratman tersenyum bahagia.Namun saat mereka sedang membicarakan masalah itu, tiba-tiba perut Ayu terasa mual dan muntah.“Uek ... uek ...! Pa, perut Ayu sakit Pah!”Suratman yang melihat Ayu yang memegang perut langsung menghampiri dirinya dengan rasa panik.“Kenapa perut, Nak? Apakah tadi pagi kamu tidak makan atau kamu salah makan mungkin, kita ke dokter saja?” Suratman lalu mengambil kunci mobil dan ingin mengantar Ayu ke rumah sakit.Saat ingin memapah Ayu, dia merasa tidak tahan dan berlari ke toilet dengan cepat, Suratman begitu panik saat melihat Ayu muntah-muntah lagi.“Ayu ke kamar
“Oh ya kalian mau makan siang di sini?” tanya Hanin mengalihkan pembicaraan.“Nggak, mau main bola! Ya makan lah, kamu nggak lihat kita lagi nunggu antrean panjang itu, nyesel saya datang kemari dan bertemu kamu lagi di sini!” kilahnya berbohong.“Ayuk Dim, kita cari makan di tempat lain!” ajaknya lagi.“Kalian mau ke mana? Makan di sini saja,” ajak Hanin tersenyum.“Dengar ya Hanin, tidak usah berbaik hati dengan kami, memang hanya kamu saja yang menjual makanan, banyak kali dan pastinya enak juga,” Rayhan menatap lekat wajah Hanin yang masih terlihat lelah.“Kamu kenapa sih, dari awal kita bertemu kamu selalu jutek sama aku? Ada apa denganmu, Ray? Memang aku ada salah apa sama kamu?” tanya Hanin kesal kepada Rayhan.“Ayolah Ray, elo kenapa sih? Benar tuh yang dikatakan Hanin, elo itu bersikap aneh sama Hanin! Tunggu dulu kalian sudah saling kenal?” tanya Dimas penasaran.“Iya Mas, kita sudah kenal semenjak kami masih kecil,” jawab Hanin tersenyum.Rayhan hanya diam melihat Dimas ter
Suratmin sangat bahagia walaupun pemilik warung itu tidak pernah ke rumah, tetapi sosok beliau itu sangat bersahaja dan baik.“Assalamu’alaikum!” sapanya sembari melontarkan sebuah senyuman ramah.“Wa ’alaikumsalam, Pak Dirga, silakan masuk, Pak, Buk!” sahut Suratmin terkejut saat di datangi oleh m
“Ayuk Sus, kalau mau bareng ke warung kebetulan kita juga mau ke sana, rencananya kita mau rujakan, kamu ikut saja,” ajak Bu Retno dengan senang hati mengajak Susi.Siska yang mendengar kalau ada makanan gratis pun dengan sigap mendatangi mereka yang asyik ngerumpi.“Loh, Bu saya kok nggak diajak i
Baiklah, kalian seperti benalu kok di rumah orang miskin, benalu itu di rumah orang kaya, ini nggak bisa dibiarin , pokoknya aku akan membuat mereka nggak ke sini lagi pelitnya minta ampun malah kita lagi yang dibilang pelit!” rutuknya dengan kesal.Setelah selesai makan mereka bersantai ria duduk
“Min, kapan anakmu lahir?” tanya Suratman saudara kembar Suratmin dengan nada mengejek.“Alhamdulilah, Mas, kata bidan sih tinggal menghitung hari saja paling tidak tiga atau lima hari lagi,” jawab Suratmin dengan santai sembari membuat meja kecil dari kayu untuk di dapurnya.“Berarti istri kamu me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น