LOGINMereka saudara kembar selalu kompak di mana saja sampai akhirnya ketika dewasa dan menemukan pendamping sesuai kriteria mereka masing-masing, disitulah untuk pertama kalinya mereka menjadi bumi dan langit. Suratman bekerja sebagai konsultan sebuah bank swasta terkemuka dan beristrikan seorang wanita penggila kerja sebagai sekretaris sebuah hotel berbintang lima. Sedangkan Suratmin hanya seorang cleaning servis di rumah makan dan beristrikan seorang Ibu Rumah Tangga saja. Dalam hal mendidik anak pun mereka berbeda, sehingga suatu hari anaknya pun yang menjadi korban. Apa yang terjadi dengan mereka?
View MoreThe moment I stepped out of my bedroom, counting started quietly inside my head.
One… two… three…
Right on cue, the television volume lowered.
Hesitating near the living room entrance, my hands smoothed nervously over the blue dress clinging to my body. Almost forty minutes had been wasted arguing with myself about whether to wear it before finally giving up.
Noah’s eyes lifted from the business channel playing on the television and landed directly on me. A deep frown formed on his face.
“Nora. Remind me again why you’re still dating this guy.”
A sigh escaped me as I walked further into the room. “Because he’s kind, supportive, and he loves me.”
Noah scoffed. “The lies you tell yourself.”
“Can we please not do this?”
But his attention had already dropped to the dress. “He picked that, didn’t he?”
“It was a gift.” My gaze moved over the material. “He said I’d look good in it.”
The truth was, the dress didn’t even feel like me. The fabric sat too tightly around my waist, and blue had never really been my color.
But Damien liked it.
“It’s not that bad,” I muttered. “Drop it, Noah.”
“No.” He stood abruptly and started pacing in front of the television. “Can’t you honestly see the problem here?”
“What problem?”
“The fact that everything is always about him.” He turned toward me sharply. “What he likes. What he wants. What makes him happy.”
“That’s not true.”
“Really?” His hand gestured toward my dress. “You hate that color, Nora.”
My eyes dropped to my knees, suddenly unable to hold Noah’s gaze anymore.
Dad had been wearing a blue shirt the night he died in the hospital. Since then, blue was a color I could never bring myself to wear.
“Love is about compromise,” I said quietly.
Noah looked at me with the same tired expression he had been wearing a lot lately before finally sitting back down and turning his attention to the television again.
Releasing a quiet breath, I dropped beside him on the couch. “Why do you hate him so much? Do you know how terrible it feels knowing my twin brother can’t stand my boyfriend?”
“You know why.” His attention remained on the news playing on the television. “You stop being yourself whenever he’s around.”
“Could you at least try to tolerate him?” I murmured. “For me.”
“Emotional blackmail won’t work this time, Nora.”
“Please?”
Noah shook his head again. “It’s pointless. Just go.”
My phone vibrated before another word could be said.
Damien: I’m outside.
The message had barely appeared before I stood.
As I reached the door, Noah spoke again. “My prayer for you,” he said quietly, “is that one day you realize you deserve better.”
My steps slowed.
“Nora.”
Turning back slowly, my eyes met his.
“Say amen.”
An unwilling smile pulled at my lips. “Amen.” Mostly so he would let me leave.
*******
Getting into Damien’s car, he leaned over and kissed me.
“You look beautiful.” His eyes moved slowly over the dress. “I knew that color would look perfect on you.”
“Thank you.”
He drove us to his favorite restaurant, the same place he always claimed had the best food in the city. Personally, the portions felt too small, and the food somehow always tasted strange to me, but Damien loved the place, so pretending to enjoy it became part of the routine.
We had barely started eating when he reached into his jacket pocket and pulled out a small velvet box.
A small gasp escaped me, my hand flying to my mouth.
“Nora.” He opened the box carefully between us. “Will you marry me?”
The ring sparkled beneath the restaurant lights while my heart nearly burst inside my chest.
“Yes!” A smile broke across my face as I nodded quickly. “Of course.”
Damien smiled softly before reaching across the table for my hand, gently sliding the ring onto my finger. “I’m going to be an amazing husband.”
A laugh slipped out of me as I admired the ring on my finger. “It’s so pretty,” I murmured. “Thank you.”
“Shit,” he suddenly muttered under his breath.
“Excuse me for a second,” he said quickly, already pushing back his chair. “I need to speak to someone.”
Looking up in confusion, I followed his line of sight toward the restaurant entrance. He rushed off before I could ask anything, disappearing deeper into the restaurant.
Damien was barely gone when his phone started vibrating nonstop against the table.
My eyes moved toward the screen just as another notification appeared, asking if I had said yes, followed by a laughing emoji.
Normally, touching Damien’s phone wasn’t something I ever did. He had always been strangely protective of it. But we were engaged now. Soon, we would be husband and wife. There shouldn’t be secrets between us anymore.
My fingers hovered over the phone before finally picking it up. The screen unlocked with a swipe.
At first, the messages didn’t make sense. Then slowly, painfully, everything started connecting together.
The woman texting Damien was his real fiancée.
The proposal had been her idea because she was tired of waiting for Damien to sleep with me so their little game could finally end.
My vision blurred with tears as I kept scrolling, hands trembling so badly the phone nearly slipped from my grip. Every message hurt worse than the last.
They had been laughing at me the entire time.
“What the fuck do you think you’re doing?”
My head jerked up at the sound of his voice.
Damien was standing beside the table again, breathing hard like he had rushed back the second he saw me with the phone.
His eyes locked onto it in my trembling hands before he snatched it away immediately.
“This is exactly the problem with you, Nora.” Anger rose sharply in his voice. “You never listen. Why would you go through my phone? Why is it so difficult for you to respect simple boundaries?”
Memang tidak diragukan dulu saat mereka satu kampus. Ayu yang terlahir dengan wajah cantik dan tubuh seksi, membuat siapa saja akan jatuh cinta dan tergoda, sehingga banyak para lelaki yang mencuri pandang dengannya dan ingin merasakan pelukan hangat dari Ayu. Apalagi cara berpakaian yang sangat terbuka membuat para pria panas dingin dibuatnya.“Apakah Ayu yang mengatakan hal itu dengan Bapak?” “Iya, kamu juga mencintai Ayu, kan?” tanya Suratman bersemangat dan melirik sinis kearah Suratmin. Rayhan menghela napas panjang, dia tahu akan terjadi seperti ini. Apalagi beberapa hari yang lalu Rayhan bersama Hanin melihat Ayu bergandengan tangan dengan pria yang lebih tua darinya.Saat mereka berbincang di ruangan Rayhan, tiba-tiba saja Pak Dibyo ayah kandung Rayhan masuk ke ruangan itu. Dia pun ikut terkejut dengan kehadiran dua orang saudara kembar itu. Dengan cepat Suratman berdiri untuk menyambut Pak Dibyo dan menghambur ke pelukan seakan mereka baru bertemu kembali sebagai seorang
Tepat pukul dua siang akhirnya Suratman sudah sampai di kantor Rayhan. Setelah memarkirkan mobilnya dia keluar dari mobil dengan senyuman semringah, berjalan tegak dengan membusungkan dadanya. Pria paru baya itu yakin kalau selain kerja sama itu dia juga menawarkan Ayu untuk dinikahinya. Apalagi kata putrinya sendiri kalau Rayhan juga sangat mencintai Ayu.“Ah sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milikku . Rasanya tidak sabar untuk bisa masuk di dalam keluarga Rayhan,” batin Suratman sambil menatap gedung tinggi itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift. Dia pun menekan tombol lift pergi ke lantai empat tempat di mana ruang kerja Rayhan berada. Rasa gugup dan sedikit gelisah sudah menyelimuti hatinya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dia ib berjalan sedikit cepat karena waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat lima menit.“Selamat siang Pak, dengan Bapak Suratman dari PT. Citra Kencana?” tanya Mila sekretaris Rayhan, menghentikan langkah Suratman yang ingin langsung masuk
“Ah sial ... kenapa harus sekarang?” tanyanya dalam hati.“Ada apa, Sayang?”“Nggak apa-apa, Pa!”Ayu lalu membalas pesan singkat itu sesaat lalu menaruh kembali ponselnya di dalam tas.“Sayang, kamu tidak usah ikut dulu, biar Papa yang bertemu Rayhan. Jika urusan Papa dengannya selesai dan menyetujui kerja sama ini maka itu sangat mudah kita masuk di dalam keluarga Wardana yang kaya raya,” jelas Suratman tersenyum bahagia.Namun saat mereka sedang membicarakan masalah itu, tiba-tiba perut Ayu terasa mual dan muntah.“Uek ... uek ...! Pa, perut Ayu sakit Pah!”Suratman yang melihat Ayu yang memegang perut langsung menghampiri dirinya dengan rasa panik.“Kenapa perut, Nak? Apakah tadi pagi kamu tidak makan atau kamu salah makan mungkin, kita ke dokter saja?” Suratman lalu mengambil kunci mobil dan ingin mengantar Ayu ke rumah sakit.Saat ingin memapah Ayu, dia merasa tidak tahan dan berlari ke toilet dengan cepat, Suratman begitu panik saat melihat Ayu muntah-muntah lagi.“Ayu ke kamar
“Oh ya kalian mau makan siang di sini?” tanya Hanin mengalihkan pembicaraan.“Nggak, mau main bola! Ya makan lah, kamu nggak lihat kita lagi nunggu antrean panjang itu, nyesel saya datang kemari dan bertemu kamu lagi di sini!” kilahnya berbohong.“Ayuk Dim, kita cari makan di tempat lain!” ajaknya lagi.“Kalian mau ke mana? Makan di sini saja,” ajak Hanin tersenyum.“Dengar ya Hanin, tidak usah berbaik hati dengan kami, memang hanya kamu saja yang menjual makanan, banyak kali dan pastinya enak juga,” Rayhan menatap lekat wajah Hanin yang masih terlihat lelah.“Kamu kenapa sih, dari awal kita bertemu kamu selalu jutek sama aku? Ada apa denganmu, Ray? Memang aku ada salah apa sama kamu?” tanya Hanin kesal kepada Rayhan.“Ayolah Ray, elo kenapa sih? Benar tuh yang dikatakan Hanin, elo itu bersikap aneh sama Hanin! Tunggu dulu kalian sudah saling kenal?” tanya Dimas penasaran.“Iya Mas, kita sudah kenal semenjak kami masih kecil,” jawab Hanin tersenyum.Rayhan hanya diam melihat Dimas ter
Suratmin sangat bahagia walaupun pemilik warung itu tidak pernah ke rumah, tetapi sosok beliau itu sangat bersahaja dan baik.“Assalamu’alaikum!” sapanya sembari melontarkan sebuah senyuman ramah.“Wa ’alaikumsalam, Pak Dirga, silakan masuk, Pak, Buk!” sahut Suratmin terkejut saat di datangi oleh m
“Wah, selamat ya Sus, Ratmin, kalian sudah menjadi orang tua, duh gemas banget lihatnya,” ucap Bu Retno bahagia.“Terima kasih, Bu Retno,” jawabnya dengan tersenyum bahagia.“Aku juga ngucapin selamat deh buat kalian, tetapi kok hidungnya pesek gitu dan kulitnya ... duh makanya Sus, kalau lagi hami
“Yang benar kamu, Sayang?”“Memang wajahku seperti bercanda memang, cepat Mas, antar aku ke Bidan Wati, nggak tahan nih, kok tiba-tiba mulesnya,” ucap Susi yang sedang memegang perutnya.“Mungkin kebanyakan makan sambal rujak, makanya mules,” ucap Bu Retno merasa khawatir.“Ayuk cepatan bawa perlen
“Ada Mas, nih seribu!” ucap Susi enteng.“Loh kok cuma seribu? Aku tadi kan ngasihnya seratus ribu, kok kembaliannya cuma seribu perak?” tanyanya dengan wajah yang sudah terlihat kusam dan jutek.“Loh Mas Ratman ini bagaimana sih? Tadi ada nggak nyuruh aku kembalikan uangnya harus berapa kan nggak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews