Chapter: Bab 54Tidak berselang lama."Makan siang sudah siap, Pak, Bu," suara Nia terdengar sopan dari arah ruang makan, memecah ketegangan tersembunyi yang baru saja Arka rasakan.Arka berdiri, merapikan jasnya seolah-olah dia baru saja mendapatkan kabar bisnis terbaik di dunia, bukan vonis pengkhianatan istrinya. "Ah, pas sekali. Perut saya sudah mulai protes. Mari, Pak Dirga? Clara? Kita lanjutkan obrolan santai ini di meja makan."Dirga bangkit dengan gerakan santai, masih menyunggingkan senyum kemenangannya yang menjijikkan. "Tentu, tentu. Saya penasaran dengan masakan di rumah ini. Clara selalu bilang dia makan sangat sehat belakangan ini."Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan. Meja panjang dari kayu jati itu sudah ditata dengan rapi. Nia berdiri di sudut ruangan, tangan te
Last Updated: 2025-12-04
Chapter: Bab 53Arka berjalan keluar menuju dapur. Apa yang tidak diketahui Clara dan Dirga adalah bahwa laptop itu tidak sedang rendering. Arka telah mengaktifkan fitur Remote Listen. Mikrofon laptop itu menyala dengan sensitivitas tinggi, dan audio-nya dialirkan secara real-time ke earpiece bluetooth yang kini terpasang di telinga kiri Arka.Jangkauan bluetooth-nya cukup sampai ke dapur.
Last Updated: 2025-12-03
Chapter: Bab 52Siang itu, matahari bersinar terik di luar, namun suhu di dalam ruang tamu terasa sedingin kamar mayat. AC sentral diputar ke suhu terendah atas permintaan Clara, yang beralasan bahwa kehamilannya membuat tubuhnya terus-menerus terasa gerah. Namun bagi Arka, dingin itu berasal dari antisipasi akan tamu yang sebentar lagi tiba."Ingat, Arka," ujar Clara sambil merapikan bantal sofa untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Dia tidak mengenakan daster hari ini, melainkan dress kerja longgar yang menyamarkan perutnya namun tetap terlihat profesional. "Pak Dirga datang untuk membahas kelanjutan proyek besar yang tertunda karena... kondisiku. Tolong bersikaplah selayaknya tuan rumah yang baik. Jangan buat aku malu."Arka berdiri di dekat jendela, mengenakan kemeja kasual yang rapi. D
Last Updated: 2025-12-03
Chapter: Bab 51Ke esokan harinya, pagi itu dipecahkan oleh rengekan Clara yang tidak biasa. Bukan rengekan kesakitan, melainkan rengekan manja yang menuntut, jenis yang membuat Arka harus menarik napas panjang sebelum memasang topeng "suami siaga"-nya."Aku tidak mau bubur ayam, Arka," tolak Clara, mendorong mangkuk yang baru saja disajikan Nia. Dia duduk bersandar di tumpukan bantal sofa, wajahnya masam. "Rasanya hambar. Teksturnya membuatku mual.""Tapi kamu harus makan, Sayang," bujuk Arka sabar, duduk di tepi sofa. "Dokter bilang...""Lupakan apa kata dokter soal bubur!" potong Clara. Matanya menerawang, lidahnya menyapu bibir seolah membayangkan rasa tertentu. "Aku mau sesuatu yang... rich. Sesuatu yang lumer di mulut, gurih, berlemak, tapi lembut."Arka mengerutkan kening. "Daging wagyu?""Bukan," Clara menggeleng cepat. "Itu terlalu berserat. Aku mau... foie gras."Arka terdiam. Hati angsa? Di pagi buta seperti ini?"Clara, ini Jakarta, bukan Paris. Dan ini masih jam delapan pagi. Di mana aku
Last Updated: 2025-12-02
Chapter: Bab 50Udara di ruang kerja itu terasa pengap dan berdebu. Kardus-kardus bertumpuk tinggi, menciptakan labirin sempit di antara sisa-sisa perangkat server yang belum terangkut. Ruangan yang dulu dingin dan steril oleh pendingin udara khusus server, kini terasa panas dan menyesakkan.Arka masuk ke dalam ruangan itu, menutup pintu di belakangnya dan memutar kuncinya dengan bunyi klik yang nyaris tak terdengar.Di sudut ruangan, di balik benteng tumpukan kardus, Nia sedang berjongkok. Dia sedang melakban kotak terakhir berisi buku-buku referensi Arka. Mendengar pintu terkunci, Nia menoleh cepat. Matanya membelalak, waspada."Pak... Arka?" bisiknya, melirik panik ke arah pintu. "Ibu ada di kamar utama. Dia baru saja tidur siang, tapi..."
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: Bab 49"Dia membuang susunya. Dia menekan perutnya dengan benci," Nia berbisik ngeri. "Bagaimana kalau dia tidak berniat melahirkan anak ini, tapi hanya memanfaatkan momen 'kehamilan' ini untuk mengikatmu dan mengambil hartamu... sebelum dia membuat skenario 'keguguran' yang menyedihkan?"Malam semakin larut, namun Arka masih terjaga di sisi tempat tidur. Lampu tidur di nakas memancarkan cahaya kuning redup, menyinari wajah Clara yang terlelap. Napas istrinya teratur, wajahnya tampak damai sebuah kontras yang mengerikan dengan kekacauan dan rencana jahat yang mungkin sedang disusun di balik kelopak mata itu.Kata-kata Nia di gudang tadi siang terus bergaung di kepala Arka seperti mantra yang menakutkan."Bagaimana kalau dia tidak berniat melahirkan anak ini? Bagaimana kalau dia hanya butuh 'keguguran' untuk mengi
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: Dunia yang Menyempititu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Last Updated: 2025-10-05
Chapter: Terkunci RapatDua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Last Updated: 2025-10-02
Chapter: Langkah Pertama Menuju BantuanKepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: Pelukan Sang IlusiPintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Last Updated: 2025-09-29
Chapter: Konflik yang MeruncingSudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Last Updated: 2025-09-28
Chapter: Retakan HalusDua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu
Last Updated: 2025-09-27