author-banner
Millanova
Millanova
Author

Novels by Millanova

Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan

Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan

Dalam rumah tangga Arka dan Clara yang retak, hadirnya Nia sang pembantu cantik bagai angin segar. Tapi di balik senyumannya tersimpan dendam terselubung terhadap Clara. Ketika godaan dan kesepian mempertemukan Arka dan Nia di ambang pengkhianatan, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa? Sebuah kisah tentang cinta, balas dendam, dan pilihan-pilihan yang mengubah segalanya. Akankah Nia berhasil menghancurkan rumah tangga mereka, atau justru jatuh cinta pada suami wanita yang ingin dihancurkannya?
Read
Chapter: Bab 334
Moncong baja Glock 19 menekan pelipis kanan Arka, mengantarkan hawa dingin yang kontras dengan peluhnya.Waktu seakan membeku. Di bawah tenda itu, hanya desah napas Victor dan bunyi pelatuk yang menegang yang memecah keheningan.Insting purba Arka meronta, mendesaknya untuk mematahkan leher Dimas sekarang juga sebelum peluru meletus. Namun, bayangan Gendhis berkelebat. Diikuti tatapan Nia yang berdiri tak jauh dari sana. Jika isi kepalanya berceceran di karpet ini, keluarganya tak lagi punya pelindung.Rahang Arka mengeras. Perlahan, otot lengannya yang sekaku beton mulai mengendur. Kuncian maut itu terlepas.Dimas langsung ambruk ke atas karpet merah. Ia meringkuk sambil memegangi lehernya yang kini dihiasi cetakan jari kemerahan. Suara batuknya terdengar menyiksa, diselingi bunyi tarikan napas kasar dan serakah saat paru-parunya kembali meraup oksigen.Tanpa membuang detik, Victor menendang lipatan lutut Arka dari belakang. Sang Mastermind terpaksa jatuh berlutut."Jangan bergerak,"
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Bab 333
"...Karena hantu... tidak akan bisa melindungi putri kecilnya dari monster yang sebenarnya."Kalimat itu meluncur dari bibir Dimas, rendah, nyaris seperti bisikan, namun ditutup oleh tarikan senyum miring yang meremehkan. Di kepalanya, kalimat itu adalah skakmat. Sebuah gertakan pamungkas yang ia yakini akan membuat pria di hadapannya menciut, menelan ludah, dan menunduk dalam diam demi menjaga penyamarannya tetap aman.Dimas salah perhitungan.Dua kata itu—"putri kecilnya"—memotong habis tali kendali yang sudah mati-matian dijaga Arka selama bertahun-tahun. Topeng 'Rudi' si tukang servis lusuh retak, lalu hancur tak bersisa. Di detik itu juga, sosok Arka Adhiguna mengambil alih, merangkak naik ke permukaan membawa amarah murni yang membekukan.Prang!Nampan perak yang menyangga tumpukan piring kotor merosot dari cengkeraman Arka, menghantam lantai berbatu. Pecahan keramik dan porselen berhamburan ke segala arah, bunyinya merobek dengung pidato membosankan yang sedari tadi mengalun da
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Bab 332
"Ba-baik, Tuan Bos... hampura... hampura abdi, Tuan. Teu dihaja..."Suara itu keluar dari tenggorokan Arka dengan getaran yang meyakinkan. Ia menjepit pita suaranya sendiri hingga menghasilkan nada parau melengking suara khas pria kecil yang ketakutan setengah mati di hadapan penguasanya.Bahunya diturunkan, punggung dibungkukkan hingga ia tampak sepuluh sentimeter lebih pendek. Arka buru-buru merogoh saku celana komprangnya. Dikeluarkannya sehelai lap kain kusam penuh noda kecap, lalu tangannya terulang ke atas meja berlapis taplak putih itu.Arka tidak sekadar berakting. Ia menjadi. Jari-jari kasarnya mulai bergetar hebat tremor pura-pura yang nyaris sempurna. Ia mengelap tumpahan kopi dengan gerakan panik dan kikuk, sengaja menyenggol pinggiran piring kecil hingga berbunyi cling keras."Aduh, hampura, Bos. Leungeun abdi ngeleper, duka teuing kunaon. Panginten can sarapan," celoteh Arka sambil terus mengelap meja, kepalanya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata pria berpakai
Last Updated: 2026-04-02
Chapter: Bab 331
"Teh Lastri! Cilaka!"Gebrakan keras di meja kayu membuat Nia tersentak. Mandor Haris berdiri di depan warung dengan napas memburu. Helm proyeknya miring dan seragamnya basah kuyup oleh keringat.Di sudut warung, Arka menghentikan putaran obengnya pada kipas angin rusak. Instingnya langsung awas."Ada apa, Pak Mandor? Pucat amat," tanya Nia. Ia menyodorkan gelas teh tawar hangat, menjaga intonasi suaranya tetap seperti ibu warung yang keheranan.Haris menenggak teh itu sampai tandas, lalu mengusap wajahnya kasar. "Katering VIP dari hotel Cianjur kecelakaan di tikungan Puncak. Mobilnya guling, makanannya hancur semua. Padahal sejam lagi acara groundbreaking mulai. Bos-bos Jakarta sama Singapura udah di jalan!"Nia mengerjapkan mata. "Terus... apa hubungannya sama warung saya, Pak?""Mister Victor yang nyuruh saya ke mari," Haris menatap Nia memelas. "Mister bilang bos Jakarta lumayan penasaran sama masakan lokal di sini. Tolong banget, Teh. Teteh yang handle meja VIP siang ini. Geco, a
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 330
Suara derit engsel pintu bambu membuat Arka otomatis menoleh.Ia sedang duduk bersila di lantai, memegang alat solder bersuhu tinggi di atas papan sirkuit radio butut. Namun, ujung timah yang baru saja meleleh itu seketika ia lupakan saat melihat sosok istrinya berdiri di ambang pintu.Nia tidak langsung masuk. Tangannya mencengkeram kusen pintu. Wajahnya pucat pasi, dan dadanya naik turun dengan ritme yang terlalu cepat.Tanpa membuang waktu, Arka mencabut colokan solder. Ia meletakkannya begitu saja ke lantai, lalu melangkah cepat menghampiri Nia. Ia menarik istrinya masuk, menutup pintu kayu itu, dan menggeser slot kuncinya."Ada apa?" tanya Arka pelan, langsung pada intinya. Ia memegang kedua bahu Nia. Kulit istrinya terasa dingin menembus kain baju. "Victor bikin ulah di warung?"Nia menelan ludah, membiarkan Arka menuntunnya duduk di tepi kasur. Aroma bumbu tauco di celemeknya kalah oleh bau keringat dingin yang mengucur di pelipisnya."Tadi pagi," suara Nia keluar berupa bisika
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 329
Satu bulan berlalu. Tiga puluh hari yang terasa seperti tarikan napas panjang yang tak kunjung diembuskan.Bertentangan dengan antisipasi Arka, tidak ada baku hantam atau kejar-kejaran berdarah yang terjadi. Victor Huang ternyata tipe pemburu yang sangat sabar. Dalam sebulan ini, pria itu hanya muncul di warung Geco empat kali. Selalu datang mengekor Mandor Haris, memesan menu yang sama, makan tanpa banyak bicara, lalu pergi.Rutinitas yang acak itu justru lebih menggerogoti kewarasan. Arka dan Nia dipaksa terus berjaga di ujung tanduk, tanpa tahu kapan jebakan sebenarnya akan menutup.Pagi itu, langit Ciloto masih kelabu. Arka memilih tetap berada di rumah kontrakan mereka yang merangkap sebagai bengkel servis, sibuk membongkar televisi tabung berdebu milik warga. Mereka sengaja membagi area pengawasan Nia menjaga warung di pinggir jalan utama, sementara Arka memantau dari rumah sebuah taktik dasar untuk memperluas radius pandang dan menghindari kesan bahwa mereka selalu menempel ber
Last Updated: 2026-03-30
Agnia dan Cermin Pecah

Agnia dan Cermin Pecah

Ivan hanyalah penulis thriller biasa yang sedang mengalami kebuntuan ide (writer's block) parah. Namun, laptopnya tidak pernah berhenti bekerja. Setiap kali Ivan terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, ia menemukan bab-bab baru di dokumennya. Bab-bab yang tidak pernah ia ingat telah ditulisnya. Bab-bab yang menceritakan kejahatan Agnia—tokoh fiksi wanita ciptaannya—dengan detail yang terlalu mengerikan untuk sekadar imajinasi. Awalnya, Ivan mengira ia gila. Atau mungkin ada penguntit yang membobol apartemennya. Namun, ketika mayat-mayat di dunia nyata mulai bermunculan persis sesuai urutan bab di laptopnya, Ivan sadar. Agnia bukan lagi sekadar tinta. Dia ingin keluar. Dan dia tidak suka akhir cerita yang Ivan rencanakan.
Read
Chapter: Dunia yang Menyempit
itu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Last Updated: 2025-10-05
Chapter: Terkunci Rapat
Dua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Last Updated: 2025-10-02
Chapter: Langkah Pertama Menuju Bantuan
Kepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: Pelukan Sang Ilusi
Pintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Last Updated: 2025-09-29
Chapter: Konflik yang Meruncing
Sudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Last Updated: 2025-09-28
Chapter: Retakan Halus
Dua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu
Last Updated: 2025-09-27
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status