Chapter: Bab 129Arka melirik Herman yang bersembunyi di belakang bahu Radit dengan senyum licik. Arka paham permainannya."Saya hanya membersihkan sampah dari perusahaan saya, Tuan Radit," jawab Arka tenang. "Dan soal keluarga Anda... saya tidak pernah bicara apa-apa. Sepertinya anjing peliharaan Anda ini..." Arka menunjuk Herman, "...terlalu banyak menggonggong hal yang tidak nyata."Wajah Herman memucat, tapi dia buru-buru membela diri. "Bohong, Bos! Dia emang sombong! Liat aja gayanya!"Radit tertawa sinis. Matanya beralih menatap Nia yang berdiri anggun di samping Arka. Nafsu dan keinginan untuk mendominasi muncul di matanya."Kau punya nyali juga bicara begitu di pestaku," ucap Radit. Dia mengabaikan Arka dan beralih ke Nia. "Dan siapa wanita cantik ini? Sayang sekali permata seindah ini jatuh ke tangan pebisnis kaku yang tidak tahu cara menghormati hierarki Jakarta."Radit mengulurkan tangan pada Nia. "Nyonya, tinggalkan pria sombong ini. Bagaimana jika berdansa dengan saya? Saya bisa ajarkan p
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: Bab 128Lobi Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan malam itu dipenuhi aroma parfum mahal yang bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Lampu gantung kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan ke lantai marmer, menciptakan panggung megah bagi kaum elit Jakarta yang sedang berkumpul.Arka melangkah keluar dari Rolls-Royce Phantom hitamnya. Petugas valet yang membukakan pintu membungkuk hormat, mengenali lambang Spirit of Ecstasy di kap mobil sebagai tanda kekuasaan mutlak.Arka mengenakan setelan tuxedo hitam velvet dengan potongan slim-fit yang membalut tubuh atletisnya. Di wajahnya, terpasang sebuah topeng setengah wajah (venetian mask) berwarna hitam polos tanpa ornamen. Sederhana, namun misterius.Dia berbalik, mengulurkan tangan ke dalam mobil."Siap, Ratu?" bisik Arka.Sebuah tangan halus dengan kulit seputih pualam menyambut uluran tangannya. Nia turun dengan anggun. Gaun merah marun backless yang dipilihkan Arka membalut tubuhnya dengan sempurna, menjuntai hingga menyapu lanta
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: Bab 127Kantor Yayasan Arka Foundation, Lantai 15.Nia sedang sibuk memeriksa proposal beasiswa ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Hanya satu orang di dunia ini yang berani masuk ke ruangan Ketua Yayasan tanpa mengetuk."Mas?" Nia mendongak, tersenyum melihat suaminya masuk. "Tumben ke lantai 15? Biasanya Direktur Utama sibuk di lantai 40."Arka tidak menjawab. Dia menutup pintu, menguncinya, lalu menurunkan tirai kaca ruangan itu dengan remote.Nia mengangkat alis. "Arka? Ini masih jam kerja."Arka berjalan mendekat, memutar kursi kerja Nia agar menghadapnya. Dia menumpukan kedua tangannya di sandaran lengan kursi, mengurung Nia dalam dominasinya."Aku merindukanmu," bisik Arka, lalu menunduk untuk mencuri ciuman singkat di bibir Nia. "Dua jam tidak melihatmu rasanya seperti dua tahun."Nia tertawa renyah, pipinya merona. "Gombal. Padahal kita baru makan siang bareng tadi.""Itu beda. Tadi banyak staf. Aku harus jaga wibawa," Arka berlutut dengan satu kaki di hadapan Nia, menatap
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 126Malam telah larut di kediaman keluarga Arka. Kirana sang Tuan Putri kecil sudah terlelap di kamar tidurnya yang bernuansa pastel, lelah setelah seharian bermain dan belajar.Di kamar utama yang luas, suasana terasa tenang dan hangat. Lampu tidur temaram menyinari ruangan, menciptakan bayang-bayang lembut di dinding. Arka baru saja selesai mandi, rambutnya yang masih sedikit basah dia biarkan acak-acakan. Dia mengenakan piyama sutra berwarna biru tua, duduk bersandar di headboard ranjang sambil memegang sebuah buku tebal yang tidak benar-benar dia baca.Pintu kamar mandi terbuka. Nia keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, aroma lulur mandi mawar menguar darinya. Dia naik ke atas ranjang, menyusup ke dalam selimut di samping Arka, dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang kokoh."Jadi..." Nia memulai percakapan, jarinya menelusuri kancing piyama Arka. "Bagaimana 'pertunjukan' tadi siang? Aku dengar dari sekretaris Pak Darmawan, ada yang sampai menangis d
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 125Tiga puluh menit kemudian. Ruang Rapat Utama Blackmining Corp.Ruangan itu dingin dan tegang. Meja oval panjang dari kayu mahoni dikelilingi oleh dua puluh orang penting. Ada direktur operasional, manajer proyek, dan lima kontraktor yang lolos seleksi tahap akhir termasuk Herman.Herman duduk dengan gelisah namun tetap berusaha terlihat arogan. Dia sudah menyuap salah satu manajer proyek, jadi dia yakin akan menang."Selamat pagi, Bapak-bapak sekalian," ucap CEO Blackmining, Pak Darmawan, membuka rapat. "Hari ini kita akan memfinalisasi pemenang tender. Namun sebelum itu, kita harus menunggu kedatangan pemegang saham mayoritas kita. Beliau ingin meninjau langsung kredibilitas kalian."Herman berbisik pada asistennya, "Siapa sih investornya? Bule ya?""Saya dengar orang lokal, Pak. Tapi sangat misterius. Dia yang memegang 50% saham holding ini," bisik asistennya.Tiba-tiba, pintu ganda di ujung ruangan terbuka."Silakan masuk, Pak Arka," ucap sekretaris dengan hormat.Semua orang di ru
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 124"Papa... kenapa Om itu panggil Papa sopir? Papa kan Bos?" bisik Kirana, suaranya terdengar takut.Arka tersenyum lembut. Dia tidak membalas bentakan Pak Herman. Dia justru berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan putrinya, mengabaikan Pak Herman yang masih menggerutu di belakangnya."Sstt... Lulu dengar Papa," ucap Arka lembut namun tegas. "Itu rahasia kita. Biarkan Om itu berpikir apa yang dia mau. Singa tidak perlu meladeni anjing yang menggonggong, Nak. Yang penting Lulu tahu Papa siapa, kan?"Kirana mengangguk pelan, meski matanya masih berkaca-kaca karena kaget dibentak orang asing. "Papa Super Hero-nya Lulu.""Pintar. Sekarang masuk kelas. Belajar yang rajin. Jangan dengarkan omongan orang yang tidak kenal kita."Arka mengecup kening putrinya, lalu berdiri tegak. Dia menatap Pak Herman sekilas. Tatapan itu bukan tatapan takut seorang sopir, melainkan tatapan tajam seorang predator puncak yang sedang mengamati mangsanya yang berisik.Hanya sedetik, Arka menatapnya. Cukup membuat
Last Updated: 2025-12-29
Chapter: Dunia yang Menyempititu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Last Updated: 2025-10-05
Chapter: Terkunci RapatDua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Last Updated: 2025-10-02
Chapter: Langkah Pertama Menuju BantuanKepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: Pelukan Sang IlusiPintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Last Updated: 2025-09-29
Chapter: Konflik yang MeruncingSudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Last Updated: 2025-09-28
Chapter: Retakan HalusDua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu
Last Updated: 2025-09-27