Chapter: Bab 34Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t
Last Updated: 2025-10-05
Chapter: Bab 33esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr
Last Updated: 2025-10-02
Chapter: Bab 32“Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: Bab 31Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band
Last Updated: 2025-09-29
Chapter: Bab 30Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t
Last Updated: 2025-09-28
Chapter: Bab 29"Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se
Last Updated: 2025-09-27

OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat
Di atas kertas, dia adalah pewaris garis Rajah Getih dan aset triliunan. Di dunia nyata, dia hanyalah tukang pel yang nyawanya diremehkan lebih rendah dari anjing penjaga.Kukuh Jaya Ludira terpaksa menelan ludah dan harga dirinya. Demi menyelamatkan nyawa bapak angkatnya yang sekarat , pemuda miskin berseragam cleaning service ini menerima sebuah kontrak gila: menikahi Ratih Puspa Aji Saka. Perempuan itu adalah pewaris angkuh bermata dingin dari klan "Rajah Wangi", keluarga bangsawan raksasa yang memonopoli industri kecantikan sekaligus penguasa ilmu gaib mematikan.Namun, pernikahan itu tak lebih dari neraka terselubung. Di rumah megah istrinya sendiri, Kukuh tak diakui, dihina sebagai parasit, dan dipekerjakan bak kuli kasar yang siap dilenyapkan kapan saja. Keluarga Aji Saka, dengan kekuatan gaib pelumpuh saraf dan kendali entitas gelap dari aroma mereka , bebas menginjak-injak pemuda miskin itu .Keluarga arogan itu melakukan satu kesalahan paling fatal: mereka buta.Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik seragam lusuh itu, mengalir intisari dari "Rajah Getih" tingkat mutlak —sistem kekuatan tertua dan paling ditakuti yang bisa mengendalikan hidup dan mati. Sementara keluarga istrinya hanya bermain-main dengan racun wangi, darah Kukuh sanggup meregenerasi daging yang hancur . Bahkan, kutukan iblis legendaris yang gagal disembuhkan oleh keluarga Aji Saka selama 75 tahun , hancur lebur tanpa sisa hanya dengan satu tetes darah tak sengaja dari ujung jari Kukuh! .Sang danyang kini telah terbangun dari tidurnya . Pertanyaannya sekarang bukanlah apakah Kukuh akan membalas perlakuan mereka, melainkan: seberapa hancur harga diri keluarga sombong itu saat menyadari gembel yang mereka tertawakan adalah sang penguasa absolut yang nyawanya saja tak sanggup mereka sentuh?
Read
Chapter: Bab 349"Tirakatan seperti apa yang harus saya jalani, Dok?" tanya Kukuh, suaranya masih terdengar serak namun sepasang mata cokelatnya kini menatap dengan jauh lebih jernih.Dokter Harsha tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu berjalan perlahan menuju sebuah kursi kayu jati di sudut ruangan, lalu duduk dan memberi isyarat agar Kukuh dan Ratih ikut beristirahat. Di dekat mereka, Dokter Adhi berdiri bersandar pada meja obsidian, menyimak dengan saksama."Duduklah kalian berdua," ucap Dokter Harsha tenang.Kukuh mengangguk pelan. Ia meraih kemejanya yang sempat dikoyak, mengenakannya seadanya untuk menutupi rajah baru yang masih berdenyut di dadanya, lalu duduk di sebelah Ratih. Gadis bermata abu-abu itu langsung menggenggam erat telapak tangan suaminya, seolah enggan melepaskannya barang sedetik pun."Tinta yang baru saja menyatu dengan dagingmu itu bukanlah benda mati, Nak Kukuh," jelas Dokter Harsha, memecah keheningan Lantai 41. "Campuran darah gagak putih, kobra hijau, kebo bule, genderuw
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Bab 348"Beritahu saya lokasinya, Dokter," desak Kukuh. Langkah kakinya yang panjang dan tegap bergerak lurus menuju pintu baja Lantai 41. Sepasang matanya yang masih menyala merah menatap tanpa keraguan. Hawa panas menguar dari sekujur tubuhnya, mengabaikan suhu steril ruangan yang dingin.Dokter Harsha tidak bergeser satu sentimeter pun. Pria sepuh itu berdiri tepat di depan pintu, melipat kedua tangannya di belakang punggung, menghalangi jalan keluar sang pewaris."Aku tidak akan memberitahumu, Nak Kukuh," jawab Dokter Harsha tenang. Nadanya tidak tinggi, namun bergema dengan otoritas mutlak yang membuat udara di sekeliling mereka terasa berat dan padat."Dokter!" Suara Kukuh meninggi, dadanya naik turun menahan gejolak energi yang meronta minta dilepaskan. "Anda sendiri yang baru saja bilang kalau tenaga saya sudah kembali utuh! Wadah fisik saya sudah diperluas! Kenapa Anda malah menahan saya di sini?! Biarkan saya menghabisi para pembunuh itu sekarang!""Jaga nada bicaramu, Kukuh!" sela
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Bab 347"Dokter... apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa seranganku bisa berbalik menghantam dadaku sendiri dengan kekuatan yang berlipat ganda?"Suara bariton Kukuh memecah keheningan di Lantai 41. Pemuda itu kini duduk tegak di atas altar galih randu alas. Napasnya perlahan mulai teratur, namun sepasang mata cokelatnya menatap tajam ke arah Dokter Harsha, menuntut sebuah jawaban logis atas kekalahan fatalnya malam itu. Tangannya secara refleks meraba dada dan punggungnya yang kini dipenuhi oleh ukiran rajah baru yang terasa menyatu utuh dengan dagingnya.Dokter Harsha yang baru saja selesai membersihkan sisa noda darah dari tangannya menghela napas panjang. Pria sepuh itu berbalik, menatap murid sekaligus pewaris sah keluarganya itu dengan raut wajah tenang namun sarat akan keseriusan."Kau terlalu gegabah, Nak Kukuh. Kau membiarkan amarah buta mengendalikan tenaga murnimu," jawab Dokter Harsha, suaranya menggema pelan di ruang operasi rahasia tersebut. "Ragil Bowo Sasmita bukanlah mus
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Bab 346"Tahan napasnya, Dhi! Sabuk di bahunya mulai melonggar, pastikan tidak terlepas! Ini titik yang paling krusial!" seru Dokter Harsha dengan napas tersengal-sengal. Tangannya yang memegang Jarum Tulang Kijang Kencana sedikit bergetar menahan tekanan gaib yang luar biasa pekat dari dalam raga Kukuh."Sudah saya kunci mati, Ayah! Lakukan sekarang sebelum tenaganya benar-benar habis!" balas Dokter Adhi. Wajahnya memerah karena menahan pinggul dan kaki Kukuh yang terus meronta beringas dalam posisi tengkurap.Di sisi altar, Ratih masih menggenggam erat telapak tangan suaminya. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak keputusasaan di pipinya yang pucat."Ayo, Kuh... satu tusukan lagi. Kamu pasti bisa," bisiknya parau tepat di dekat telinga Kukuh, memancing kesadaran pemuda itu agar tidak tertelan rasa sakit.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dokter Harsha mengangkat jarum emas pusaka yang telah menyerap tetesan terakhir tinta lima darah tersebut. Dengan satu tarikan napas panjang, pria
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: Bab 345"Tahan napasmu, Nduk Ratih. Siksaan yang sebenarnya baru saja dimulai," suara Dokter Harsha berat, membelah ketegangan di Lantai 41 yang dipenuhi uap darah mendidih.Ratih menggigit bibir bawah yang sudah pucat pasi, mempererat genggaman pada telapak tangan Kukuh yang terasa memanas layaknya bara api. Kukuh terbujur kaku, mata terpejam rapat, sepenuhnya tenggelam dalam ketidaksadaran akibat hantaman energi yang meremukkan organ dalamnya. Kehadiran Ratih di sisi altar bukan untuk menahan fisik suaminya Ratih tahu kekuatannya tak akan sebanding melainkan murni sebagai penyemangat, tali penambat agar kesadaran Kukuh tidak melayang pergi."Lakukan saja, Dok. Aku janji... aku nggak akan melepaskan tangan Kukuh sedetik pun. Dia pasti kuat."Dokter Harsha mengangguk samar, pandangan beralih ke seberang meja altar. "Dhi, pastikan semua sabuk pengaman sudah terkunci rapat. Energi yang akan meledak dari dalam dadanya nanti bisa membuat tubuhnya melenting lepas dari meja operasi ini.""Sudah, Ay
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: Bab 344"Dhi, ganti pisaunya! Singkirkan obsidian itu sekarang juga!" perintah Dokter Harsha tiba-tiba, membuat pisau bedah hitam di tangannya tertahan di udara, hanya beberapa milimeter dari kulit dada Kukuh yang memerah dan dihiasi urat-urat yang menonjol.Dokter Adhi yang berdiri bersiaga di seberang meja altar mengerutkan dahi kebingungan. "Kenapa, Ayah? Bukankah obsidian lebih tahan terhadap energi gaib dan tidak akan memicu reaksi penolakan?""Suhu di dalam nadinya melonjak terlalu cepat dan tidak stabil," potong Dokter Harsha dengan nada tegang, wajah sepuhnya dibanjiri keringat. "Obsidian akan pecah berkeping-keping jika berbenturan langsung dengan luapan energi purba yang sedang mendidih ini. Cepat, berikan pisau bedah perak murni itu. Hanya perak yang bisa menembus hawa panas ini tanpa memicu ledakan di dadanya."Tanpa banyak bertanya lagi, Dokter Adhi mengangguk cepat. Ia menukar instrumen tersebut di atas nampan perak dan menyodorkan sebilah pisau bedah perak yang berkilat tajam m
Last Updated: 2026-08-16
Chapter: Bab 350Tiga tahun kemudian.Denting gelas kristal yang saling beradu dan alunan lembut simfoni orkestra klasik memenuhi Grand Ballroom hotel paling eksklusif di jantung ibu kota. Malam ini, langit Jakarta seolah tunduk pada gemerlap gala dinner amal tahunan yang diselenggarakan oleh Barata Group.Di bawah kepemimpinan absolut Arka Adhiguna, Barata Group tidak hanya bangkit dari jurang kehancuran, tetapi telah menjelma menjadi raksasa konglomerasi nomor satu di Asia. Tidak ada lagi intrik berdarah, tidak ada lagi bayang-bayang pengkhianatan. Dinasti Barata kini berdiri tegak di atas fondasi yang bersih dan kokoh.Arka berdiri di dekat panggung utama, mengenakan setelan tuxedo hitam yang memancarkan karisma sang penguasa. Namun, pandangan mata hitam legamnya sama sekali tidak tertuju pada jajaran menteri, duta besar, atau para miliarder yang hadir malam itu.Seluruh atensi Arka hanya tertuju pada dua sosok yang baru saja melangkah memasuki ballroom."Papa!"Seorang gadis kecil berusia lima tah
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 349"Mas... apa tidak berlebihan kita datang ke sana dengan iring-iringan seperti ini? Warga desa pasti akan sangat terkejut melihat kita."Pertanyaan Nia yang diucapkan dengan nada ragu memecah keheningan di dalam kabin Range Rover hitam berlapis baja tersebut. Wanita itu duduk dengan canggung di atas jok kulit mewah, menatap deretan mobil SUV pengawal yang melaju di depan dan di belakang mereka melalui kaca jendela.Arka, yang duduk di sampingnya, menoleh dan tersenyum lembut. Tangannya yang besar dan hangat menggenggam erat jemari istrinya."Tidak ada yang berlebihan untuk memastikan keselamatan Ratu Adhiguna," jawab Arka tenang. "Lagipula, kita tidak datang untuk pamer, Sayang. Kita tidak lagi lari bersembunyi. Kita kembali untuk berpamitan dengan pantas kepada mereka yang sudah memanusiakan kita di saat dunia membuang kita."Nia mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu lebar suaminya saat mobil perlahan memasuki jalanan tanah berbatu yang sangat familier.Udara sejuk khas peg
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 348Asap tipis mengepul dari cangkir kopi espresso di atas meja kerja berbahan kayu eboni hitam. Arka Adhiguna duduk bersandar di kursi kebesarannya, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca kantor CEO di lantai teratas Menara Barata. Hanya dalam waktu tiga hari, ia telah menyapu bersih seluruh kroni pamannya dari perusahaan, mengukuhkan kekuasaannya tanpa ada satu pun yang berani membantah.Namun, kepuasan sejati sang Mastermind baru datang ketika pintu ganda ruangannya terbuka, menampilkan sosok Victor yang baru saja kembali dari perjalanan rahasianya.Mantan paramiliter itu melangkah tegap melintasi karpet tebal, lalu meletakkan sebuah tablet berspesifikasi militer di atas meja Arka."Tugas selesai, Bos. Paket sudah dikirim ke alamat yang Anda minta," lapor Victor dengan nada datar yang menjadi ciri khasnya.Arka meletakkan pulpennya. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia menarik tablet tersebut dan menekan tombol play pada sebuah rekaman video yang baru s
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 347Pantulan wajah di dinding cermin lift eksekutif itu terasa familier, sekaligus asing.Arka menatap lurus ke arah bayangannya sendiri saat kotak baja berkecepatan tinggi itu melesat naik menuju lantai teratas Menara Barata. Tidak ada lagi rambut gondrong yang berantakan, tidak ada lagi kumis dan brewok lebat yang menutupi rahangnya. Wajahnya telah dicukur bersih, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan tajam. Tubuhnya yang tegap kini dibalut setelan jas bespoke tiga potong berwarna navy blue yang dipotong dengan presisi tingkat dewa, memancarkan aura dominasi mutlak yang tak terbantahkan.Kuli kasar bernama Rudi telah mati dan dikubur dalam-dalam. Arka Adhiguna, sang Mastermind, telah kembali."Bos," panggil Anton yang berdiri di belakangnya, mengenakan setelan jas formal yang rapi, lengkap dengan koper logam di tangannya. "Keadaan di ruang rapat utama sangat kacau. RUPSLB sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Sesuai prediksi, dewan direksi panik luar biasa setelah berita
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 346"Waktumu sudah habis, Om Arya. Jadi, apa keputusanmu?"Suara dingin Arka memecah keheningan bunker yang terasa mencekik. Lima menit telah berlalu, terasa bagaikan berabad-abad bagi keempat tawanan yang duduk terikat di hadapannya.Arya Barata mengangkat wajahnya yang berkerut. Matanya memerah, memancarkan campuran antara keputusasaan dan sisa-sisa kesombongan seorang tiran tua yang menolak ditaklukkan. Ia meludah ke lantai, tepat di dekat sepatu pantofel Arka."Aku lebih baik membusuk di ruangan ini daripada menyerahkan jerih payahku padamu, keparat!" raung Arya dengan napas memburu. "Potong saja tanganku! Cungkil mataku! Lakukan sesukamu! Tapi aku tidak akan pernah memberikan tanda tangan itu!"Di sebelahnya, Clara menyeringai getir, mencoba mempertahankan egonya meski tubuhnya gemetar hebat. "Dengar itu, Arka? Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami. Bunuh saja kami sekarang."Arka tidak membalas umpatan itu. Ia hanya menatap pamannya dengan raut wajah kebosanan yang mematikan,
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 345Lantai beton safe house itu terasa dingin menembus sol sepatu pantofel hitam yang kini dikenakan Arka. Suara derap langkahnya bergema di sepanjang lorong sempit yang hanya diterangi lampu neon temaram. Tidak ada lagi langkah kaki yang menyeret atau bahu yang membungkuk rendah. Arka melangkah dengan punggung tegak dan dagu terangkat, memancarkan aura otoritas yang sempat terkubur selama setahun terakhir.Di ujung lorong, Victor dan Anton sudah menunggu di depan sebuah pintu besi berat. Victor berdiri tegak seperti pilar baja, sementara Anton tampak sibuk dengan tablet di tangannya, jemarinya menari lincah di atas layar."Semua sudah siap, Bos," lapor Anton tanpa mengalihkan pandangan. "Berita sudah meledak di semua media nasional. Pihak bursa saham sedang membekukan perdagangan Barata Group karena ketidakpastian manajemen. Narasi tentang pelarian mereka ke luar negeri sudah menjadi konsumsi publik."Arka mengangguk singkat. "Bagus. Buka pintunya."Victor memutar tuas besi dan mendorong
Last Updated: 2026-04-12