author-banner
Millanova
Millanova
Author

Novels by Millanova

Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan

Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan

Dalam rumah tangga Arka dan Clara yang retak, hadirnya Nia sang pembantu cantik bagai angin segar. Tapi di balik senyumannya tersimpan dendam terselubung terhadap Clara. Ketika godaan dan kesepian mempertemukan Arka dan Nia di ambang pengkhianatan, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa? Sebuah kisah tentang cinta, balas dendam, dan pilihan-pilihan yang mengubah segalanya. Akankah Nia berhasil menghancurkan rumah tangga mereka, atau justru jatuh cinta pada suami wanita yang ingin dihancurkannya?
Read
Chapter: Bab 248
Jam dinding digital di kamar tidur utama menunjukkan pukul 01.30 dini hari.Arka melepas jas tuksedonya dan melemparnya sembarangan ke sofa. Ia melonggarkan dasi kupu-kupunya yang terasa mencekik leher, sementara Nia duduk di tepi ranjang, masih memijat keningnya yang pening akibat emosi di pesta tadi."Mas..." panggil Nia pelan. "Kamu mikirin apa? Kok tiba-tiba diam begitu?"Arka tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung di depan jendela kamar yang gelap, matanya menatap kosong ke arah hujan di luar. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan amarah yang meledak di kepalanya."Aku baru saja menyadari betapa bodohnya aku, Nia," gumam Arka getir."Bodoh kenapa?"Arka berbalik, menatap istrinya dengan tatapan tajam namun penuh penyesalan. "Kamu ingat beberapa bulan lalu? Waktu aku cerita kalau aku tidak sengaja melihat mobil Bella di parkiran Rutan Pondok Bambu?"Nia mengernyit, mencoba mengingat. "Oh... yang waktu itu kamu pulang marah-marah, tapi besoknya kamu bilang kalau kamu sala
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 247
Gemuruh tepuk tangan perlahan mereda, berganti dengan denting gelas dan tawa renyah para sosialita yang kini kembali sibuk dengan obrolan mereka. Namun, topik utama malam itu sudah bergeser. Bukan lagi tentang lelang amal, melainkan tentang Bella gadis "biasa" yang berhasil memukau semua orang dengan pidato yang menyentuh hati.Dimas tampak seperti pria paling bahagia di dunia. Ia dikelilingi oleh rekan-rekan bisnis mendiang ayahnya yang memberinya selamat karena telah menemukan "berlian yang belum diasah".Sementara itu, Bella meminta izin sebentar untuk mengambil minuman. Dimas, yang sedang sibuk meladeni seorang direktur bank, mengangguk dan membiarkan tunangannya berjalan sendirian ke arah meja prasmanan VIP yang agak sepi.Arka dan Nia, yang sejak tadi mengawasi dari balik pilar marmer besar, bergerak mengikuti arah Bella. Mereka menjaga jarak, bersembunyi di balik keramaian, namun mata mereka setajam elang."Lihat langkah kakinya," bisik Nia pelan. "Tadi di panggung dia pura-pur
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 246
"Bella!"Teriakan Dimas menggema di ballroom yang sunyi senyap itu. Dengan gerakan refleks yang cepat, Dimas sudah berlutut di samping tunangannya, menahan tubuh Bella yang terduduku lemas di anak tangga marmer.Wajah Bella pucat, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Ia memegangi pergelangan kakinya yang tampak bengkok di balik belahan gaun midnight blue-nya."Sayang, kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Dimas panik, tangannya gemetar saat menyentuh kaki Bella.Bella mendongak, menatap Dimas dengan mata basah yang membuat hati siapa pun yang melihatnya akan luluh."Maaf, Mas..." isaknya pelan, namun cukup terdengar oleh tamu-tamu di barisan depan yang hening. "Aku... aku ceroboh. Aku bikin kamu malu di depan semua orang penting ini.""Nggak, Sayang. Jangan ngomong gitu. Kamu nggak bikin malu siapa-siapa," hibur Dimas lembut, membantu Bella untuk berdiri perlahan."Gaun ini..." Bella menarik napas panjang, seolah menahan tangis. "Gaun ini terlalu indah, terlalu mewah buat aku, Ma
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 245
Malam amal Yayasan Barata & Adhiguna digelar di Grand Ballroom Hotel Mulia, salah satu tempat paling prestisius di Jakarta. Lampu-lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memendarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi oleh bunga-bunga segar dan denting gelas sampanye.Di pintu masuk utama, kilatan lampu kamera wartawan menyambut kedatangan keluarga tuan rumah.Sebuah limousine hitam berhenti. Pintu terbuka. Arka turun lebih dulu, mengenakan tuksedo hitam velvet yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Ia mengulurkan tangan pada Nia, yang tampil anggun namun tidak mencolok dengan gaun sutra berwarna champagne.Namun, sorotan malam itu bukan untuk mereka."Wah... siapa itu?" bisik seorang fotografer saat pintu mobil kedua terbuka.Dimas turun dengan wajah berseri-seri, menggandeng seorang wanita yang membuat napas para tamu undangan tertahan sejenak.Bella.Malam itu, Bella bukan lagi gadis desa yang polos. Ia mengenakan gaun midnight blue pilihan N
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab 244
Satu hari sebelum malam amal.Lampu kristal di walk-in closet kamar utama kediaman Adhiguna bersinar hangat, memantul pada deretan jas dan gaun malam yang tertata rapi. Namun, perhatian Nia malam itu terpaku pada satu gaun yang tergantung di tengah ruangan.Nia berdiri di depan cermin besar, memegang sebuah gaun panjang berwarna midnight blue dengan potongan bahu terbuka (off-shoulder) dan bagian punggung yang terekspos sangat rendah. Gaun itu indah, elegan, namun memancarkan aura dingin yang mengintimidasi."Ini terlalu... mirip dengan seleranya, Mas," gumam Nia pelan, jarinya menyusuri kain beludru halus gaun itu. "Potongannya, warnanya, bahkan detail korsetnya... ini teriakkan nama 'Clara' di setiap jahitannya."Arka, yang duduk di sofa beludru di tengah ruangan sambil menyesap espresso malamnya, mengangguk pelan."Itu tujuannya, Sayang," jawab Arka tenang. Matanya menatap gaun itu dengan tatapan menilai, seolah sedang melihat senjata, bukan pakaian. "Clara punya selera yang sangat
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab 243
"Kau bilang agenmu melihatnya? Dengan mata kepala sendiri?"Suara Arka Adhiguna memecah keheningan ruang kerjanya yang bergaya minimalis modern. Ia berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kolam renang pribadi di halaman belakang rumahnya. Tidak ada pilar-pilar besar atau ukiran emas seperti di rumah kakeknya; rumah ini adalah benteng pribadinya, simbol kesuksesan yang ia bangun dengan tangannya sendiri di bawah bendera Adhiguna.Hujan rintik-rintik masih membasahi Jakarta, menciptakan suasana melankolis yang kontras dengan api amarah di dada Arka."Sangat jelas, Pak," suara Anton terdengar jernih melalui sambungan telepon yang dienkripsi. "Agen saya, Napi 304 alias 'Baron', baru saja mengirim kabar lewat ponsel selundupan. Dia melihat Clara di jam makan siang tadi. Dia ada di kantin Blok Mawar, blok khusus tahanan wanita yang 'mampu bayar'."Arka mencengkeram ponselnya lebih erat. "Jadi, sipir di depan itu berbohong padaku. Dia bilang data Clara tidak ada.""
Last Updated: 2026-02-16
Agnia dan Cermin Pecah

Agnia dan Cermin Pecah

Ivan hanyalah penulis thriller biasa yang sedang mengalami kebuntuan ide (writer's block) parah. Namun, laptopnya tidak pernah berhenti bekerja. Setiap kali Ivan terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, ia menemukan bab-bab baru di dokumennya. Bab-bab yang tidak pernah ia ingat telah ditulisnya. Bab-bab yang menceritakan kejahatan Agnia—tokoh fiksi wanita ciptaannya—dengan detail yang terlalu mengerikan untuk sekadar imajinasi. Awalnya, Ivan mengira ia gila. Atau mungkin ada penguntit yang membobol apartemennya. Namun, ketika mayat-mayat di dunia nyata mulai bermunculan persis sesuai urutan bab di laptopnya, Ivan sadar. Agnia bukan lagi sekadar tinta. Dia ingin keluar. Dan dia tidak suka akhir cerita yang Ivan rencanakan.
Read
Chapter: Dunia yang Menyempit
itu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Last Updated: 2025-10-05
Chapter: Terkunci Rapat
Dua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Last Updated: 2025-10-02
Chapter: Langkah Pertama Menuju Bantuan
Kepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: Pelukan Sang Ilusi
Pintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Last Updated: 2025-09-29
Chapter: Konflik yang Meruncing
Sudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Last Updated: 2025-09-28
Chapter: Retakan Halus
Dua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu
Last Updated: 2025-09-27
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status