MasukSetelah kepergian Panji dan Kyai Agus, keheningan di meja VVIP itu perlahan mencair, digantikan oleh kasak-kusuk para elit yang masih terheran-heran."Baiklah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, silakan melanjutkan menikmati hidangan dan acara pesta ini. Saya mohon pamit sebentar," ucap Pak Eko dengan raut wajah sedikit tegang. Tanpa membuang waktu, tuan rumah acara itu bergegas melangkah pergi untuk mengejar Kyai Agus dan sang dewa perbankan.Adiwangsa dan Eyang Putri menatap kepergian Pak Eko dengan raut kekecewaan yang tak bisa ditutupi. Di mata mereka, sebuah peluang emas baru saja terlepas begitu saja dari genggaman.Melihat wajah masam keluarga Cokro, Nyonya Broto tak melewatkan kesempatan untuk kembali memanaskan suasana. Matriark keluarga saingan itu menutup mulutnya dengan kipas lipat dan tertawa pelan."Wah, wah... sayang sekali ya. Ternyata cuma salah orang," sindir Nyonya Broto dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh meja di sekitarnya. "Padahal, kalau sea
(Waduh, ini bahaya,) batin Kukuh cepat.Otaknya berputar. Jika identitas aslinya terbongkar di hadapan puluhan konglomerat dan pejabat VVIP ini, tidak hanya rencananya yang akan berantakan, tapi posisi Ratih dan Keluarga Cokro juga akan langsung menjadi sorotan utama musuh-musuhnya di dunia bawah.Dengan ekspresi wajah yang diatur sedatar dan sepolos mungkin, Kukuh menundukkan kepalanya, bersikap layaknya bawahan yang sedang kebingungan."Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang," ucap Kukuh dengan nada yang sangat sopan dan merendah. "Saya ini hanya tenaga angkut dan perawat dari Keluarga Adiwangsa. Saya hanya orang biasa yang kebetulan beruntung bisa mengabdi di sini. Tidak mungkin saya ini Tuan Besar yang Anda maksud."Sambil mengucapkan hal itu, pandangan Kukuh melirik tajam ke arah Kyai Agus yang berdiri tak jauh di belakang Panji. Lewat sorot matanya, Kukuh memberikan kode keras: Tarik dia sekarang, atau situasi ini akan memancing bahaya yang lebih besar.Memahami isyarat dari sa
Kukuh menghentikan kursi roda Eyang Putri tepat di salah satu meja bundar berlapis taplak emas di area khusus VVIP. Di meja tersebut, telah duduk beberapa sesepuh dari keluarga konglomerat, termasuk Nyonya Broto, kompetitor sosialita abadi Keluarga Cokro.Melihat siapa yang datang, Nyonya Broto memindai Kukuh dari atas ke bawah sambil tersenyum sinis."Wah, wah... Raras Trenggono. Kulihat keluargamu semakin sukses saja. Tapi... kenapa seleramu malah menurun?" sindir Nyonya Broto dengan suara pelan namun tajam. "Acara sekelas ini, kau malah membawa pelayan ke meja kita. Apa Keluarga Cokro sudah tidak sanggup menyewa perawat medis profesional?"Mendengar ejekan itu, wajah Eyang Putri langsung merah padam. Rasa malunya memuncak."Dia ini cuma tenaga angkut gratisan yang tidak tahu aturan," sahut Eyang Putri ketus, melampiaskan kekesalannya pada Kukuh. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap menantunya dengan berang. "Heh, Gembel! Untuk apa kamu berdiri mematung di situ? Cepat tuangkan mi
Kukuh mendorong kursi roda Eyang Putri dengan pelan dan stabil, membelah kerumunan tamu elit yang saling sibuk memamerkan kekayaan dan pengaruh mereka. Tujuannya adalah area VVIP yang terletak di sisi sayap kanan ballroom, tempat di mana hidangan dan sofa-sofa mewah telah disiapkan khusus untuk tamu kehormatan.Namun, baru beberapa meter mereka berjalan, sebuah suara berat dan penuh hormat terdengar menyapanya dari arah samping."Tuan Kukuh..."Kukuh menghentikan langkahnya dan menoleh. Berdiri tak jauh darinya adalah seorang pria paruh baya dengan busana batik sutra yang sangat elegan namun bersahaja. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit saat pandangan mereka bertemu.Kukuh segera tersenyum dan membalas sapaan itu, menjulurkan tangannya untuk bersalaman. "Kyai Agus. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."Pria itu adalah Kyai Agus, putra dari Eyang Bayu manik waja salah satu tetua dan tokoh spiritual tingkat tinggi yang sangat mengetahui identitas asli dan kekuatan mutlak di balik
Belum lama Keluarga Cokro berdiri di area penyambutan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu perak melangkah menghampiri mereka. Pria itu didampingi oleh seorang wanita anggun bergaun marun. Keduanya memancarkan aura aristokrat yang kuat, berbaur dengan energi perlindungan tak kasat mata yang mengelilingi tubuh mereka."Selamat malam, Keluarga Adiwangsa," sapa pria itu dengan senyum ramah yang sangat terlatih.Melihat siapa yang datang, mata Adiwangsa langsung berbinar. Tubuhnya sedikit membungkuk, menampilkan gestur hormat yang nyaris berlebihan."Oh, selamat malam, Pak Eko! Selamat atas ulang tahun pernikahan Anda dan Ibu Rahayu yang ke-30," ucap Adiwangsa penuh antusiasme. Ia lalu menoleh sedikit ke arah istrinya. "Sayang, tolong kadonya diberikan."Dian dengan senyum manis yang sudah disiapkan langsung membuka tas mewahnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kristal transparan berukir indah. Di dalamnya, bertengger sepasang botol parfum dengan desain yang sangat elegan."Ad
Tok... tok... tok..."Kuh... Kuh... wes ditunggu Nyonya Dian ning ngarep (sudah ditunggu Nyonya Dian di depan)," panggil Pak Supri sembari mengetuk pintu kamar Kukuh yang terletak di sudut area garasi mobil."Iya, Pak Pri! Sebentar, ini sudah siap kok," sahut Kukuh dari dalam.Terdengar suara kenop pintu diputar. Kukuh melangkah keluar dari kamar sempitnya di garasi itu. Penampilannya malam ini sangat berbeda dari biasanya. Jika sehari-hari ia hanya mengenakan kaus polos atau kemeja sederhana, malam ini pemuda itu dibalut dengan setelan tuksedo hitam pekat yang potongannya pas menempel di tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi, dan tak lupa, sebuah gelang emas murni dengan ukiran kepala naga simbol otoritas tertinggi telah melingkar pas di pergelangan tangan kanannya, tertutup rapi oleh lengan jas.Melihat Kukuh keluar dari garasi dengan setelan setampan itu, Pak Supri sempat tertegun sejenak. Sopir tua itu seolah melihat aura wibawa yang berbeda dari sang mantan Office Boy, meski ia
"Dokter, tadi Nyai Janari mencari Anda. Katanya, Nyai sudah menunggu di ruang tengah," ucap Kukuh begitu melihat Dokter Harsha keluar dari kamarnya. Pria sepuh itu kini sudah tampak segar, mengenakan setelan khas dokternya yang memancarkan wibawa dan karisma."Bagus. Bawa kotakmu dan ranselmu, Kuh.
Kukuruyukk..... kukuruyukkkk..... kukuruyukkk....Sayup-sayup, suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan menembus dinding tebal kamar tamu, menarik Kukuh dari lelapnya. Ia mengerjap perlahan, merasakan udara pagi yang menusuk tulang.(Jam berapa ini kok sudah ada suara ayam berkokok?) batin Ku
Kukuh bangkit dari kasurnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia menahan napas, melangkah perlahan dengan telanjang kaki mendekati pintu kayu jati kamarnya.(Tidak mungkin ini Dokter Harsha,) batin Kukuh, matanya menatap tajam ke arah gagang pintu kuningan yang memantulkan cahaya remang. (Bagaim
Kukuh mengunyah makanannya dalam diam. Di kepalanya berputar ribuan pertanyaan tentang kejanggalan rumah ini, yang sengaja ia simpan untuk ditanyakan nanti kepada Dokter Harsha saat mereka hanya berdua."Silakan, Dokter... nambah lagi..." racau Nyai Janari dengan mulut penuh. Wanita tua itu masih a







