Share

Bab 59

Penulis: Millanova
last update Tanggal publikasi: 2026-04-27 22:26:16

Dua jam telah berlalu sejak Long SUV hitam itu melintasi batas dua dunia yang hanya disadari oleh Kukuh. Perjalanan terasa seperti terjebak dalam lorong waktu yang melingkar tanpa henti. Di luar kaca jendela, pemandangan sama sekali tidak berubah; hanya ada deretan batang pohon raksasa yang berkelebat di bawah sorot lampu redup, menyerupai tiang-tiang penjara alam yang mengurung mereka dalam kegelapan abadi.

Tepat ketika angka digital di dashboard mobil berpendar menunjukkan pukul 03:00 pagi wa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 77

    Di dalam ruang rahasia yang luas itu, Dokter Harsha melangkah perlahan mendekati kursi roda Ratih. Matanya yang setajam elang menelisik sisa-sisa luka melepuh di leher dan lengan wanita cantik tersebut."Sejak kapan Ratih terkena penyakit seperti ini, Nak Kukuh?" tanya Dokter Harsha, suaranya berat dan memancarkan wibawa absolut seorang guru besar."Sudah sejak dua hari yang lalu, Dokter," jawab Kukuh dengan nada hormat yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. "Dan sore tadi... sempat kami bawa ke pelosok Banten, ke tempat tabib kepercayaan ayah mertua saya. Namun itu tidak berakhir baik. Pilihan mereka malah hampir membunuh kita semua di sana."Langkah Dokter Harsha terhenti. Ia memutar tubuhnya, menatap Kukuh dengan alis yang sedikit bertaut."Bagaimana bisa hampir terbunuh? Bukankah tabib itu adalah orang kepercayaan mertuamu sendiri?" tanya Dokter Harsha penasaran, tangannya menyilang di belakang punggung.Kukuh menghela napas pelan, mengingat kembali teror di padang ilalang be

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 76

    Dokter Adhi mengambil alih kemudi kursi roda Ratih, memberi isyarat kepada Kukuh dan mertuanya untuk mengikutinya lebih jauh ke dalam perut lantai 41. Lorong temaram berlapis kayu mahoni itu berujung pada sebuah jalan buntu yang ditutupi oleh sebuah mahakarya yang menggetarkan nyali.Langkah Kukuh terhenti. Sepasang mata elangnya menatap lurus dengan penuh kekaguman sekaligus kewaspadaan.Wah... besar sekali pintu ini? batin Kukuh takjub.Di hadapannya, berdiri kokoh sebuah pintu ganda dari kayu jati solid setinggi empat meter. Permukaan pintu itu tidak rata, melainkan dipenuhi oleh ukiran seekor ular raksasa yang melingkar rumit membentuk angka delapan. Di bagian tengah, tempat di mana kedua daun pintu bertemu, kepala ular ukiran itu menonjol keluar, rahangnya terbuka lebar menggigit sebuah gembok logam hitam bermotif kuno. Hawa magis yang menguar dari pintu itu sangat pekat."Tunggu sebentar," ucap Dokter Adhi pelan.Pria paruh baya itu melangkah menuju sebuah meja kecil beralas kai

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 75

    Kukuh hanya menatap dingin suster yang masih bersimpuh memohon ampun di bawah kakinya, lalu membalasnya dengan sebuah anggukan kecil tanda bahwa ia tidak akan memperpanjang masalah ini.Matanya kemudian langsung beralih menatap Ratih yang berada di dalam gendongannya. Napas istrinya semakin lemah."Cepat bawa aku ke ruangan ayahnya Ibu Pratiwi sekarang," perintah Kukuh dengan nada mutlak tak terbantahkan."B-baik, Tuan! Segera!" ucap suster itu gugup. Ia buru-buru bangkit dengan lutut yang masih gemetar, lalu setengah berlari mengambil sebuah kursi roda otomatis yang terparkir rapi di samping meja resepsionis.Dengan sangat hati-hati, Kukuh membaringkan tubuh Ratih ke atas kursi roda tersebut. Suster itu langsung mengambil alih kemudi dari belakang. "Mari, ikuti saya, Tuan."Melihat perubahan situasi yang sangat drastis itu, Nyonya Dian dan Adiwangsa yang masih berdiri terpaku seketika tersadar. Mereka langsung bergegas melangkah menyusul Kukuh dan suster tersebut dari belakang."Loh,

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 74

    Malam semakin larut ketika mobil SUV perak yang dikemudikan oleh Slamet berbelok memasuki gerbang megah Rumah Sakit Lohitajaya. Bangunan bertingkat dengan arsitektur modern bergaya Eropa itu berdiri angkuh di tengah ibu kota. Pilar-pilar besar, lampu kristal yang berpendar dari balik kaca lobi, serta lantai marmer yang mengilap langsung menegaskan status rumah sakit ini; tempat di mana Eyang Putri Aji Saka biasa melakukan kontrol kesehatan rutinnya, dan tempat di mana uang adalah bahasa utama.Setelah memarkir kendaraan di area VIP, rombongan itu melangkah masuk. Adiwangsa berjalan memapah Dian, sementara Kukuh berjalan di depan sambil menggendong Ratih yang masih lemas tak berdaya. Pak Supri diminta menunggu di mobil bersama Slamet.Perbedaan kasta langsung terlihat mencolok saat mereka melintasi pintu kaca otomatis. Adiwangsa dan Dian, meski tampak lelah, masih dibalut pakaian bermerek mahal yang sangat mudah dikenali. Sebaliknya, Kukuh yang hanya mengenakan kaus polos biasa dan cel

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 73

    Di dalam pos satpam yang temaram, Kukuh menekan deretan angka di layar ponsel pinjamannya dengan cepat. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu dijawab."Halo..."Suara lembut dan profesional seorang wanita terdengar dari seberang sana."Selamat malam, Ibu Pratiwi. Saya Kukuh, anaknya Pak Kasiman," sapa Kukuh dengan nada yang sangat sopan dan penuh kelegaan. "Saya menelpon untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena bapak saya sudah sembuh total. Jika bukan karena pertolongan Ibu waktu itu, saya benar-benar tidak tahu lagi bagaimana nasib bapak saya sekarang."Di ujung telepon, terdengar suara tawa kecil yang ramah. "Oh, iya, Mas Kukuh. Sama-sama. Sudah menjadi kewajiban saya dan pihak rumah sakit untuk menolong sesama. Syukurlah kalau Pak Kasiman sudah bisa pulang besok. Mungkin... ada hal lain yang bisa saya bantu lagi, Mas?" tanya Pratiwi dengan nada senang, menangkap ada sedikit keraguan dari jeda napas Kukuh.Kukuh menarik napas panjang

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 72

    Kukuh mengangguk pelan. "Bagus."Satu kata itu jatuh seperti palu hakim, menyegel perjanjian tak tertulis di meja plastik tersebut. Ego Adiwangsa dan Dian telah dipaksa berlutut. Tidak ada lagi perdebatan.Adiwangsa dengan tangan gemetar mencabut ponselnya dari kabel pengisi daya warung. Ia menelepon Slamet, kepala sekuriti sekaligus sopir pribadi keluarga Aji Saka.Dua jam penantian berlalu dalam kebisuan yang mencekik. Ratih bersandar lemas dengan mata terpejam, napasnya berembus pelan, dijaga ketat oleh Kukuh yang duduk kaku layaknya gargoyle pelindung.Sebuah SUV perak akhirnya membelah keramaian terminal dan menepi."Slamet sudah sampai," gumam Adiwangsa parau. Ia bangkit, susah payah memapah Dian yang masih shock.Kukuh kembali mengangkat Ratih ke dalam dekapannya, membawanya masuk ke kabin SUV yang sejuk. Di balik kemudi, mata Slamet melirik tajam dari kaca spion, menatap ngeri pada penampilan majikannya yang compang-camping dan berlumur lumpur kering. Namun, puluhan tahun beke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status