LOGIN"Mas Kukuh. Mas, dengar saya. Mas Kukuh."Suara Manager Pratiwi terdengar dari kejauhan. Seperti seseorang yang berteriak dari dasar sumur. Jauh. Samar. Tapi ada.Kukuh membuka matanya.Langit-langit Lantai 41. Lampu operasi yang redup. Dinding baja nirkarat. Bau antiseptik bercampur sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tajam. Lebih menyengat. Bau daging yang terbakar.Dan rasa sakitnya.Rasa sakitnya datang bersamaan dengan kesadaran. Seperti gelombang yang menghantam pantai. Tiba-tiba. Tanpa peringatan. Tanpa ampun.Kukuh mencoba menggerakkan tangannya. Tidak bisa. Mencoba menggerakkan kakinya. Tidak bisa. Mencoba menarik napas. Bisa. Tapi setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca."Jangan bergerak, Mas."Suara Manager Pratiwi lebih jelas sekarang. Lebih dekat. Dan di samping tempat tidur itu, Kukuh bisa melihat wajah Pratiwi. Pucat. Mata sembab. Tapi tangannya stabil. Tangan seorang profesional yang tidak boleh gemetar meskipun hatinya sudah hancur."Berapa..." Su
Api itu menghantam Kukuh seperti tembok.Bukan panas yang biasa. Bukan panas yang bisa ditahan dengan tenaga dalam atau diserap oleh liontin kamboja. Panas ini berbeda. Panas ini masuk ke dalam. Menembus kulit. Menembus daging. Menembus tulang. Seperti seseorang yang menuangkan magma langsung ke dalam nadinya.Kukuh terlempar. Punggungnya menghantam dinding koridor. Lantai marmer di bawah kakinya retak. Dan di dadanya, liontin kamboja berdenyut. Keras. Cepat. Seperti jantung yang berpacu melawan waktu."Bangun, Kukuh."Suara Bhanu terdengar dari balik tirai api. Datar. Tenang. Seperti seseorang yang berbicara pada lawan yang sudah tidak layak dilawan.Kukuh bangun. Lututnya gemetar. Kemeja kerjanya hangus di bagian dada. Kulit di balik kemeja itu merah. Bukan merah luka bakar biasa. Merah yang berdenyut. Merah yang bergerak. Seperti api Rajah Geni yang sudah mulai merambat di bawah kulitnya."Kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Kukuh. Suaranya serak. Tapi tidak pecah. "Kenapa rumah
Satu minggu yang terasa terlalu tenang untuk menjadi nyata.Dan Kukuh tahu. Ketenangan seperti ini tidak pernah bertahan lama."Mas Kukuh."Manager Pratiwi muncul di ambang pintu ruang perawat. Kemeja putihnya sudah digulung sampai siku. Tablet di tangannya menyala, menampilkan jadwal pasien Bangsal C."Pasien kamar 12 minta dipindah ke kamar 3. Katanya jendela kamar 12 terlalu silau."Kukuh mengangkat alis. "Silau? Ini rumah sakit, bukan hotel.""Saya tahu. Tapi Pak Suryadi itu keras kepala. Kalau tidak dipindah, dia tidak mau minum obat." Manager Pratiwi menghela napas. "Saya sudah coba bicara tiga kali. Tetap tidak mau.""Ya sudah. Pindahkan. Tapi bilang sama dia kalau kamar 3 itu dekat ruang isolasi. Kalau ada bunyi-bunyi aneh malam-malam, jangan kaget."Manager Pratiwi tersenyum. Kecil. Tulus. "Siap, Mas."Pratiwi berbalik. Melangkah menuju Bangsal C. Dan Kukuh menatap punggungnya sejenak. Menggeleng pelan. Lalu kembali ke meja kerjanya.Di luar jendela, langit Jakarta siang itu
"Mas Kukuh."Suara itu terdengar dari ambang pintu Lantai 41. Pelan. Ragu. Seperti seseorang yang sudah berdiri di sana selama beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan untuk bersuara.Kukuh menoleh dari meja kerja Dokter Harsha. Dan di ambang pintu itu, berdiri seorang perempuan muda.Rambutnya diikat sederhana. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Ada noda tinta di jari-jarinya. Dan di matanya, ada sesuatu yang familiar. Sesuatu yang sudah lama tidak Kukuh lihat tapi tidak pernah benar-benar ia lupakan.Pratiwi Dwarawati Rakti."Manager Pratiwi," ucap Kukuh. Nama itu keluar dari mulutnya dengan sebutan yang sudah melekat sejak pertama kali mereka bertemu. Formal. Profesional. Tapi ada sesuatu di balik dua kata itu yang tidak bisa disembunyikan. Sesuatu yang mirip dengan rasa hormat yang sudah lama tersimpan.Pratiwi tersenyum. Kecil. Ragu. "Mas masih memanggil saya seperti itu.""Susah lupa sama orang yang pernah nolongin Bapak saya waktu nggak ada orang lain yang mau nolong."Sen
"Ki. Ki Karto."Mayor Yudha menuruni tangga kayu yang berderit. Satu anak tangga demi satu anak tangga. Tangannya memegang senter. Cahayanya berayun-ayun di dinding ruang bawah tanah yang lembab dan berbau tanah basah."Ki Karto, ini saya. Yudha."Tidak ada jawaban.Mayor Yudha berhenti di anak tangga terakhir. Senter di tangannya menyapu ruangan. Dan di sudut paling gelap, di balik tumpukan buku-buku tua dan dupa yang sudah lama tidak dinyalakan, duduk sesosok tubuh.Bersila. Tegak. Mata terbuka.Ki Karto.Tubuh guru spiritual itu kurus. Sangat kurus. Tulang pipinya menonjol di balik kulit yang sudah menguning. Janggutnya panjang dan kusut. Jubahnya yang dulu selalu bersih kini penuh noda. Dan matanya. Matanya terbuka. Lebar. Tidak berkedip. Menatap dinding di depannya tanpa melihat apa pun."Ki." Mayor Yudha melangkah mendekat. Perlahan. Seperti mendekati binatang liar yang tidak bisa diprediksi. "Ki Karto, ini Yudha. Muridmu. Kau dengar aku?"Ki Karto tidak menoleh. Bibirnya berger
"Kau bilang Bhanu adalah anak dari orang yang pernah Dokter hancurkan," ucap Kukuh. Suaranya datar. Tapi ada getaran di baliknya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa orang itu, Dok?"Dokter Harsha tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu berjalan ke jendela. Menatap langit Jakarta yang penuh polusi cahaya. Punggungnya menghadap Kukuh. Dan di punggung itu, Kukuh bisa melihat bahu gurunya sedikit lebih tegang dari biasanya."Satya Dahana Wahnindara," ucap Dokter Harsha akhirnya. "Gen Dua Puluh Dua Rajah Geni. Ayah Bhanu."Kukuh mengernyit. Nama itu tidak asing. Tidak dari berita. Tidak dari buku. Dari sesuatu yang lebih dalam. Dari ingatan yang bukan miliknya. Dari bisikan yang kadang terdengar di balik ukiran rajah di lengannya saat ia memejamkan mata."Aku kenal nama itu," bisik Kukuh. "Tapi aku tidak tahu dari mana.""Dari darahmu," jawab Putri Puspa Sekar Kidung Dalu dari kursinya. Wanita tua itu masih duduk. Masih menatap. Tapi kali ini matanya tidak menatap Kukuh. Menatap Dokter H
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik







