MasukHawa malam yang mulai mendingin sama sekali tidak mampu memadamkan api yang berkobar di kursi lukis itu. Begitu langkah Alora benar-benar menghilang, Kaelan tidak lagi menahan diri. Ia meraup bibir Vera dengan lumatan yang jauh lebih menuntut, seolah ingin menghapus setiap sisa kemarahan Vera terhadap Sila dengan gairah murni.Tangan Kaelan yang besar merayap ke bawah gaun sutra Vera yang tipis, menyusuri paha istrinya yang halus hingga ia menemukan pusat kehangatan yang sudah sangat siap untuknya."Ahhh... Kaelan! Ssshh... mmmhh," desah Vera panjang, kepalanya terkulai di bahu suaminya.Vera mencengkeram kemeja hitam Kaelan, menariknya hingga beberapa kancing atasnya terlepas, memperlihatkan dada bidang suaminya yang berkilau oleh keringat tipis. Ia tidak mau kalah; Vera menggerakkan pinggulnya perlahan, bergesekan dengan kejantanan Kaelan yang menegang keras di bawah sana, menciptakan sensasi panas yang menyengat saraf mereka berdua."Kamu benar-benar ingin melakuk
Langit di atas Sterling Manor mulai menjingga, lalu perlahan menggelap menjadi ungu pekat. Di taman belakang, Vera masih mematung di depan kanvasnya. Suasana sunyi, hanya terdengar suara gesekan kuas yang sesekali menggores kain. Vera tampak seperti pelukis yang sedang kerasukan; tubuhnya tegak, matanya fokus, dan gerakannya sangat presisi namun menyimpan amarah yang tertahan.Kaelan muncul dari balik pintu kaca besar. Ia melangkah tenang, tanpa suara. Tentu saja, ia sudah tahu tentang kunjungan tamu tak diundang itu dari laporan Marco. Tidak ada satu pun debu yang bergerak di Manor ini tanpa seizinnya, apalagi jika itu menyangkut Vera.Kaelan berhenti tepat di belakang istrinya. Ia tidak memanggil, tidak pula menyentuh. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan aura kehadirannya menyelimuti Vera.“Sayang, sudah malam,” bisik Kaelan pelan, suaranya halus seolah takut merusak mahakarya yang sedang dibuat istrinya.Vera tidak terkejut. Ia sudah merasakan kehadiran Kaelan sejak pria itu menap
Siang itu, Sterling Manor tampak tenang di bawah sinar matahari yang terik, hingga sebuah ketukan di pintu besar membuyarkan kesunyian. Seorang pelayan mengetuk pintu kamar utama, memberitahu Vera bahwa ada seorang tamu wanita yang bersikeras ingin menemuinya. Kaelan sedang tidak di rumah; pria itu sedang menepati janjinya membawa Alora ke pusat perbelanjaan untuk bermain.Vera melangkah keluar dari lift dengan keanggunan yang mutlak. Tatapannya datar, tanpa senyum yang menghias wajahnya yang cantik. Namun, saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk anggun di sofa ruang tamu, sudut bibir Vera terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan.“Selamat siang, Nona?” sapa Vera.Ia berdiri tegak di tengah ruangan, tidak langsung duduk. Isyarat fisik yang jelas bahwa ia tidak benar-benar menyambut kedatangan tamu tak diundang ini sebagai teman.Wanita itu berdiri. Rambutnya hitam lurus, jatuh sempurna di bahunya. Pakaian yang ia kenakan memiliki potongan yang sangat mirip dengan
Kaelan tidak memberikan jeda sedikit pun. Setelah berpindah dari kamar mandi, ia langsung menarik Vera ke tengah ranjang yang luas.Ia menidurkan Vera dalam posisi menyamping, lalu ia merapatkan tubuhnya dari belakang—sebuah posisi spooning yang sangat intim dan tanpa celah. Dengan satu dorongan yang dalam, Kaelan kembali menyatu dengan Vera, membuat napas wanita itu tercekat seketika.Kaelan melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di tubuh Vera, memeluk istrinya sangat erat dari belakang hingga dada bidangnya menempel sempurna pada punggung polos Vera. Kaki Vera melebar di atas sprei, memberikan ruang bagi Kaelan untuk terus bergerak, menekankan kejantanannya ke depan dengan sentakan-sentakan yang mantap dan berirama."Ahhh... Kaelan," desah Vera, kepalanya mendongak, merasakan bibir Kaelan mulai menghujani punggungnya dengan kecupan-kecupan panas yang basah.Kaelan terus menggenjot dengan ritme yang liar. Setiap dorongannya terasa begitu bertenaga, menyentak pusat kenikmatan Vera hi
Uap air hangat memenuhi kamar mandi luas yang berlapis marmer itu, menciptakan suasana remang yang sangat intim. Suara gemericik air yang sesekali tumpah dari pinggiran bathtub menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu. Vera duduk bersandar pada dada bidang Kaelan, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam busa putih yang melimpah.Jari-jari lentik Vera bermain dengan gelembung sabun di permukaan air, meniupnya pelan seolah pikirannya sedang mengembara jauh. Sementara itu, Kaelan hanya diam memerhatikan setiap gerak-gerik istrinya dari belakang. Matanya yang gelap tampak lebih teduh, namun tetap menyimpan sisa-sisa gairah dari pergulatan hebat mereka semalam yang berlanjut hingga subuh tadi.Kaelan melingkarkan lengannya yang kokoh di perut Vera, menarik wanita itu lebih rapat hingga punggung polos Vera menyentuh kulit dadanya yang hangat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera, menghirup dalam-dalam aroma sabun mewah yang bercampur dengan aroma alami tubuh istrinya.“Apa yang membuat
Hawa dingin dari pendingin ruangan di kamar utama Sterling Manor seolah tak berdaya melawan panas yang terpancar dari dua tubuh di atas ranjang. Vera tidak membiarkan Kaelan mengambil alih terlalu cepat. Setelah percikan gairah di depan meja rias tadi, ia menarik suaminya ke tengah tempat tidur, mengurung pria itu dalam pesonanya yang tak terbantah.Vera meraih sebuah dasi sutra hitam milik Kaelan yang tergeletak di ujung kasur—sisa dari pakaian kerja yang belum sempat dirapikan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia melingkarkan kain halus itu di kedua pergelangan tangan Kaelan, lalu mengikatnya pada kepala ranjang yang kokoh.“Vera… apa yang kamu lakukan?” geram Kaelan, suaranya parau, matanya menatap tajam namun ada binar pemujaan di sana.Vera tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyum tipis yang penuh rahasia. Ia naik ke atas tubuh Kaelan, menduduki perut pria itu yang keras dan berotot. Rambut panjangnya yang berantakan menjuntai, menyentuh dada Kaelan, menciptakan sensasi gat







