LOGIN
"Eummhff …."
Anya Shivani Aryatama memberontak untuk melepas ciuman paksa seorang penguasa gila yang menginginkannya. Setelah berhasil melepaskan ciuman gila itu, Anya menoleh ke arah lain lalu mengambil nafas dengan rakus. "Cih." Pria itu berdecih pelan, menatap Anya dengan gejolak gairah yang membara. Pria ini berada tepat di atas tubuh Anya, setengah menindih tubuh kecil Anya dengan kedua tangan Anya yang ia kunci di atas kepala. Smirk tipis muncul di bibirnya, menatap Anya yang masih betah memalingkan wajah. "Apa ini ciuman pertamamu, Amora?" Suara berat yang terasa dingin itu mengalun rendah ke indra pendengaran Anya. Anya menatap pria menakutkan yang sedang menindihnya. Anya mengangguk kaku, bersama dengan air mata yang jatuh dari pelupuk. "Kak Malik, to-tolong lepaskan aku. Pliss!" pintanya, memohon supaya pria ini melepasnya. Malik Damora Edelsteen, pria tampan berusia 32 tahun ini adalah penguasa kejam di kota mereka. Dia CEO dari perusahaan konglomerat Kharich Group—perusahaan raksasa di negaranya. Seluruh keluarga Anya tunduk pada Malik. Bagi orang-orang di keluarga Anya, Malik adalah perwujudan dari keagungan dan rasa hormat. Raja itu Malik! Malik adalah pria yang sangat tampan dan penuh pesona, Anya sepakat dan mengakuinya. Pria ini memiliki wajah maskulin—garis rahang tegas, alis tebal, sorot mata tajam, hidung mancung, dan bibir yang seksi. Selain wajah yang dipuja, pria dengan tinggi 195 cm itu juga punya tubuh kekar dan sehat yang menggoda para kaum hawa. Malik adalah ciptaan Tuhan yang mendekati kata sempurna. Namun, di mata Anya, pria ini adalah iblis berwujud manusia. Malik memang tampan tetapi tidak dengan pribadinya yang sungguh kejam dan suka berbuat seenaknya. Kekuasaan yang dia punya kerap kali digunakan untuk menekan seseorang yang ada di bawahnya, itu yang membuat Anya tidak suka pada sosok arogan ini. Sialnya! Malik sebaliknya pada Anya. Pria ini terobsesi padanya dan ingin memperistri Anya. Minggu lalu, pria ini melamarnya tapi Anya menolak! Sekarang, demi mewujudkan obsesinya pada Anya, Malik menculik Anya dari acara wisudanya—saat Anya mau pulang. Pria ini membawanya ke hotel dan sekarang pria ini sedang mencoba merampas mahkota Anya demi membuat Anya tunduk. "Melepaskanmu?" Malik menaikkan sebelah alis, mencengkeram pipi Anya cukup kuat sambil menyunggingkan smirk tipis pada perempuan ini. Anya menganggukkan kepala secara pelan. Air matanya terus jatuh, wajahnya penuh ketakutan, dan jantungnya berdebar sangat kencang. Baju kebaya yang ia pakai untuk acara wisuda, telah dilepas oleh pria ini. Roknya juga sudah dilepas. Tubuh Anya saat ini hanya berbalut dalaman yang tampak seksi dan semakin mengundang hasrat Malik. Namun, ini sangat memalukan bagi Anya! "Tidak akan, Amora," ucap Malik secara berat dan serak. Dia melepas cengkeramannya pada pipi Anya—tangannya tersebut mulai menari di atas kulit tubuh Anya. Gerakannya perlahan akan tetapi sensual. Smirk itu masih melekat di bibir Malik, sekalipun tipis tetapi itu menunjukan jika Malik masih bersenang-senang, "tubuhmu sangat indah, melebihi ekspektasi dan imajinasi-ku, Amora. Jadi tak mungkin aku melepasmu begitu saja," ujarnya dengan suara rendah dan serak. Suara ini seharusnya saksi dan menggoda, akan tetapi Anya merinding mendengarnya. "Hari ini juga aku akan membuatmu menjadi milikku, Anya Shivani Edelsteen!" tambah Malik, berkata dengan nada deep yang terasa dingin—berhasil membuat sekujur tubuh Anya merinding. Terlebih ketika nama belakang Anya diubah jadi 'Edelsteen, nama keluarga Malik. Itu semakin membuat Anya ketakutan, nama belakang itu seperti menjeratnya. Anya menggelengkan kepala secara cepat. Sebenarnya dia gadis pemberontak dan suka melawan. Akan tetapi untuk kali ini dia tidak punya keberanian apapun. "Ja-jangan, Kak. A-aku mohon jangan!" cicit Anya, "pliss!" pintanya lagi. Malik tak mengatakan apa-apa, tetapi tangannya yang mulai bermain di atas tubuh Anya adalah jawaban jika dia tak akan berhenti. "Ka-Kak Malik …-" rintih Anya, semakin memohon dan ketakutan saat tangan besar dan kekar pria itu bermain dengan keindahannya. "Aku hanya ingin kau jadi istriku. Tapi karena kau menolak kulamar secara baik-baik, maka cara ini kulakukan, Amora." Malik berkata berat sambil mencoba melepas pengait bra Anya. "A-aku setuju menikah dengan Kakak," pekik Anya tiba-tiba. Tangan Malik yang berupaya melepas bra-nya seketika diam dan tak bergerak. "A-aku setuju, Kak," ulangnya dengan suara pilu dan rapuh, menatap memohon pada Malik agar berhenti bertindak keji padanya. Sebenarnya alasan Anya menolak lamaran Malik, selain karena pria ini kejam juga karena Anya sudah punya kekasih. Namun, sekarang dia tak punya pilihan selain tunduk pada Malik. "Kau tidak sedang mempermainkanku, bukan?" dingin Malik, pindah dari atas tubuh Anya. Anya buru-buru duduk, meringkuk di kepala ranjang—menekuk kaki lalu memeluknya dengan kondisi tubuh yang gemetaran. "A-aku serius, Kak," ucap Anya pelan—sisa ketakutannya, "ta-tapi …-" Anya ingin mengatakan sesuatu akan tetapi diam langsung diam karena tiba-tiba Malik menarik tubuhnya cukup kasar—memindahkan Anya ke atas pangkuan Malik. "Tapi?" Malik berkata rendah dan serak, suaranya berat serta seksi. Satu tangannya mengalun di pinggang Anya lalu satu lagi membelai lembut pipi Anya. "A-aku masih berpacaran dengan Kak Gilian. Ak … ahck …-" ucapan Anya berhenti karena tiba-tiba Malik menyentak pinggangnya sehingga tubuh Anya lebih rapat pada tubuh Malik. Posisi Anya saat ini terlalu intim baginya. Bukit indahnya menempel pada dada bidang Malik, dia duduk tepat di atas benda tumpul yang terasa lebih keras. Anya sungguh malu, tidak nyaman, dan merasa dilecehkan. Namun, untuk saat ini, dia tidak bisa protes pada pria ini. Jika Malik marah, dia pasti akan mengalami hal buruk. Yang harus Anya lakukan adalah bagaimana cara tetap bersikap tenang dan bisa membujuk Malik supaya melepasnya. "Apa maksudmu, Hah?" marah Malik, lilitan tangannya di pinggang Anya semakin kuat. Lalu tangannya yang lain mencengkeram pipi Anya, "kau ingin tetap menjadikannya sebagai kekasih meskipun nanti kita sudah menikah?!" geramnya. Anya menggeleng pelan. "Bu-bukan, Kak. Ma-maksudku … tolong lepaskan dulu. Pipiku sakit," cicit Anya, meminta supaya Malik melepas cengkeraman di pipinya. Malik melepas pelan, tangan kanannya tak lagi mencengkeram pipi Anya akan tetapi tangannya tetap di wajah perempuan cantik itu. Dia membelai dan mengelus pipi Anya dengan gerakan sensual. Demi Tuhan! Anya tidak suka dengan Malik dan tindakan tercela pria ini padanya. Namun, dia tidak bisa melawan dengan tenaga karena Malik jelas lebih kuat darinya. Yang Anya bisa lakukan adalah berbicara baik-baik. Sekalipun horor dan keji, setidaknya Malik masih mau diajak kompromi. Pria ini mau mendengarnya. "Aku dan Kak Gilian masih menjalin hubungan, tapi … semenjak Kak Tamara pulang, Kak Gilian jadi sering mengabaikanku. Aku ingin … sebelum kita menikah, tolong berikan aku waktu untuk menghapus perasaanku pada Kak Gilian. A-aku ingin membersihkan hatiku darinya," cicit Anya pelan, menatap sendu dan penuh harap pada Malik. "Baiklah. Waktumu hanya dua minggu dari sekarang," ucap Malik rendah, tetapi menatap penuh peringatan pada Anya. "Selama dua minggu ini, aku akan menyiapkan pernikahan kita. Dan kau, jangan pernah berpikir untuk lepas dariku, Anya Shivani Edelsteen! Kau milikku, Istriku!" "I-iya, Kak." Anya menganggukkan kepala secara cepat. Dia tak ingin menikah dengan pria iblis ini, akan tetapi untuk saat ini lebih baik dia iya-iyakan saja ucapan pria ini. Terpenting hari ini dia selamat! "Dua minggu ini, kau cukup mencari cara untuk menghapus perasaanmu pada Gilian. Jangan coba-coba mencari jalan untuk kabur dariku!" Anya mengangguk patuh. Malik menyunggingkan smirk tipis, cukup senang karena akhirnya dia berhasil menundukkan perempuan yang suka membangkang ini. Hari ini dan detik ini, akhirnya dia bisa melihat Anya begitu patuh padanya. Biasanya, Anya bahkan berani berteriak serta mengata-ngatainya. Namun, lihatlah sekarang! Anya-nya sangat tidak berdaya! Malik mendaratkan bibirnya di atas bibir Anya. Namun, saar bibirnya baru menempel di atas bibir Anya, perempuan ini tiba-tiba memalingkan wajah—kembali memberontak. "Anya Shivani Edelsteen!" geram Malik marah, tak suka dan tersinggung karena Anya menolaknya. "A-aku tidak ingin disentuh oleh Kakak sebelum ki-kita resmi jadi suami istri," cicit Anya, penuh ketakutan—gugup setengah mati. Saat ini, Anya merasa dia sedang berhadapan dengan harimau lapar. Sekujur tubuhnya gemetar, jantungnya tidak mau tenang—terus berdebar kencang! "Oh." Malik ber-oh-ria, lagi-lagi suaranya berat dan serak. Smirk tipis muncul di bibirnya, di mana wajahnya ia dekatkan pada wajah Anya, "ini ciuman kesepakatan, Amora. Tanda jika kau setuju menikah denganku," ucapnya, berbicara tepat di depan bibir Anya—menatap penuh nafsu bibir perempuan ini."Kau … kenapa ada aroma pria yang menempel di rambutmu, Anya?!" marah Gillian, membuat Anya berhenti membuka hadiah dan menoleh padanya. "Jawab!" bentak Gillian. Anya tak mengatakan apa-apa, tetapi dia mengendus tubuhnya sendiri. 'Aroma Kak Malik.' batin Anya. "Aku habis ketemu dengan Ka--" Anya berniat menjawab dengan jujur karena dia ingin melihat seperti apa respon Gillian jika pria ini tahu dia habis berkencan dengan Malik. Namun, ucapan Anya tersebut tertahan karena tiba-tiba saja seorang pelayan masuk begitu saja ke kamar Anya. "Tu-Tuan … eh, Nona Anya, maafkan saya karena langsung masuk. Itu ... saya ke sini mencari Tuan Gillian. Nona Tamara …-" "Ada apa dengan Tamara?!" ucap Gillian cepat, terlihat panik dan khawatir. Dia segera berdiri dan beranjak keluar dari kamar Anya. Padahal maid belum mengatakan jelas, tetapi Gillian sudah sepanik itu. "Ma-maafkan saya, Nona." Pelayan itu berkata takut-takut pada Anya, merasa bersalah karena membuat Gillian pergi.
Gluk' Anya meneguk saliva secara kasar. Bulu kuduknya kembali meremang dan tubuhnnya sudah panas dingin. Anya langsung memasang senyum kaku, berusaha terlihat riang sekalipun takut pada perkataan Malik barusan. 'Aku belum menikah dengannya tetapi dia sudah seenaknya memanggilku istri dan mengubah nama belakangku. Gila! Kak Malik gila dan aku benci berurusan dengan orang yang ada gila-gilanya. Demi Tuhan, semoga istrimu kelak perempuan yang ada gila-gilanya juga biar kalian sejenis. Trus kamu sakit kepala sama darah tinggi setiap hari karena kelakuan istrimu yang rada itu.' batin Anya, masih senyum fake pada Malik. Namun, mendadak dia mengerjap berulang-ulang dan ekspresinya refleks berubah tegang saat ingat kalau dialah perempuan yang ingin Malik nikahi. Seketika itu juga dia menarik doa dalam batinnya tersebut. 'Maksudku … bukan aku, Tuhan. Aku masih berusaha agar tidak terjerat sama Kak Malik. Jadi bukan aku istrinya. I-iya kan, Tuhan? Bu-bukan aku kan istri Kak Malik di masa
"Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya? "Ya." Tamara menganggukkan kepala ragu. Dalam hati, dia kesal karena Gillian begitu senang saat dia berkata Anya cinta mati pada Gillian. "Anak itu cuma cari perhatian sama kamu." "Kau benar Tamara. Dia hanya mencari perhatian." Gillian senyum miring. Anya cinta mati padanya itu adalah kabar yang menggembirakan, "salahku juga. Bisa-bisanya aku lupa datang ke acara wisudanya." "Kamu kan sibuk kerja, Gillian," jawab Tamara, "sebagai kekasihmu, sudah seharusnya Anya mengerti sama keadaan kamu. Jika dia mempermasalahkan ini, berarti dia kurang dewasa dan tidak bijak." "Tapi aku harus memberikan hadiah padanya agar dia memaafkanku dan kembali padaku." Gillian berkata pelan, "menurutmu hadiah apa yang cocok untuk gadis nakal seperti Anya?" "Tas saja, Lian." Tamara menjawab acuh tak acuh. "Tadi Anya bilang dia tidak suka tas, Tamara," ucap Gillian rendah, mendongak pa
"Aku ingin Kakak menikahiku." "Apa?!" Wajah Gillian seketika berubah marah, "pernikahan bukan area bermain, Anya! Kau masih sangat muda, tubuhmu saja masih seperti anak kecil!" "Aku tahu, aku juga nggak mau nikah muda. Impianku masih banyak yang belum tercapai." Anya berkata frustasi, "tapi aku nggak punya pilihan. Seseorang sudah melamarku dan Kakek sudah menerima lamaran itu. Kalau Kakak nggak …-" "Gillian, menurutmu tas ini bagus tidak?" sela Tamara, tiba-tiba menghampiri Gillian lalu memperlihatkan gambar sebuah tas di tablet pada Gilian. "Menurutmu cocok nggak untukku?" Gillian dengan cepat mengubah atensinya, langsung menatap gambar tas di tablet miliknya. Sebenarnya itu tablet kerjanya. Hanya saja, karena Tamara datang berkunjung, dia meminjamkan tablet itu supaya Tamara tidak bosan di sini. "Bagus. Tasnya elegen, cocok denganmu yang juga elegan dan anggun," ucap Gillian lembut sambil senyum manis pada Tamara. "Kak, aku sedang bicara denganmu," ucap Anya pelan, me
"Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka. Anya membeku di ambang pintu, matanya memanas ingin menangis akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Dadanya bergemuruh hebat dan hatinya teramat sakit. Dia ingin datang untuk mendapatkan perlindungan dari Gillian, tetapi sepertinya kehadirannya tak diharapkan. "Gillian, sudahlah." Suara lembut seorang perempuan menyahut. Perempuan itu tak lain adalah Tamara Aryatama, sepupu Anya. Usianya sama dengan Gillian, 27 tahun. Tamara menoleh sejenak pada Anya, senyum tipis sambil memberi isyarat supaya Anya masuk. "Masuk saja, Anya." Anya segera masuk. Sekalipun hatinya sakit dibentak oleh Gillian, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan Gillian untuk menolongnya dari jeratan Malik. "Kak Gillian, aku mau bicara." Tanpa peduli pada Tamara yang duduk di sofa dan sedang minum teh, Anya langsung menghampiri Gillian ke meja kerja pria itu. "Kau lihat aku sedang sibuk?" Nada Gillian begitu ketus, mena
Cup' Anya berniat menolak akan tetapi bibir Malik lebih dulu menempel di atas bibirnya. Kali ini, Anya membiarkan. Walau dia benci! Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, Anya benar-benar mual dan jijik. Akan tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya, dia takut menyinggung pria ini lalu Malik akan melakukan hal yang lebih gila padanya. "Hah hah hah …." Anya terengah-engah setelah Malik melepas ciuman tersebut. Tangannya naik untuk mengusap bibirnya, sungguh dia benci sentuhan pria ini. Namun, karena Malik terus menatapnya secara tajam, Anya mengurungkan niat. "Cih." Malik berdecih pelan, mengulurkan tangan untuk mengusap bibir Anya—menyekat sisa pergulatan mereka dari sana, "sekarang kau sangat penurut, Heh? Di mana Anya Shivani Edelsteen yang suka melawanku, Humm?" Anya meraih bantal lalu menutup tubuhnya dengan bantal tersebut. "Namaku Shivani Aryatama, bukan Edelsteen." "Kembali ingin melawanku, Humm?" gertak Malik. Anya refleks menggeleng lalu menunduk penuh ketakutan.







