เข้าสู่ระบบBunyi ledakan ban itu masih terngiang jelas di telinga Kania, seperti gema yang tak mau hilang. Namun, mobil mereka kini sudah melaju jauh, meninggalkan kekacauan di belakang. Satu per satu, lampu kendaraan yang mengejar mereka menghilang, tertelan oleh kegelapan malam yang pekat.
Sunyi kembali merajai kabin mobil. Namun, sunyi kali ini terasa berbeda—lebih berat, lebih berisi.Kania masih menggenggam pistol itu. Jemarinya kaku, belum sepenuhnya bisa riPagi itu Kyoto terasa terlalu tenang—dan Kania mulai membenci ketenangan semacam ini. Selama beberapa minggu terakhir, setiap kali segalanya terasa berjalan baik, hidup selalu menyiapkan sesuatu yang siap menghancurkan dunianya kembali.Pikirannya terus terpaku pada satu nama: Bu Ratih.Tatapannya masih tertuju pada foto lama Lentera Harapan yang terbuka di atas meja ruang kerja. Jemarinya bergerak pelan menyusuri wajah-wajah kecil yang dulu pernah menjadi seluruh dunianya—anak-anak penghuni panti, para pengurus, para relawan, hingga sosok wanita yang selama ini ia anggap seperti ibu sendiri.Bu Ratih. Wanita lembut yang selalu membangunkannya pagi-pagi, diam-diam menyisihkan lauk lebih saat ia sedang murung, dan yang selalu mengusap kepala Rivan kecil saat anak itu duduk sendirian di pojokan. Wanita yang seharusnya ikut menjadi korban dalam kebakaran sepuluh tahun lalu.Namun, namanya sama sekali tidak ada di mana pun. Tidak ada di daftar korban, tidak ada di daftar penyintas—seolah
Pagi datang dengan begitu lambat. Kyoto masih diselimuti langit abu-abu yang suram ketika Kania perlahan membuka matanya. Selama beberapa detik, ia hanya diam mematung, menatap langit-langit kamar yang asing. Lalu, ingatan itu kembali menghantamnya sekaligus: lorong bawah tanah, Dokumen Luna, pengkhianatan ayahnya, dan Rivan. Kania bangkit dan membuka pintu kamar. Langkahnya terhenti seketika. Lorong lantai dua sudah sepi, namun di lantai—tepat di tempat Rivan duduk semalam—terdapat selimut tipis yang terlipat dan sebuah cangkir kopi yang sudah kosong. Kania menatap benda-benda itu sedikit terlalu lama. Pria itu benar-benar tidur di luar kamarnya semalaman hanya karena ia memintanya pergi. "Bos keluar pagi-pagi sekali." Suara Kelia membuat Kania menoleh. Wanita itu berdiri di ujung tangga dengan tablet di tangannya, wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari
Ruang bawah tanah itu kembali diselimuti kesunyian. Namun kali ini, sunyinya terasa berbeda. Bukan karena ketiadaan suara, melainkan karena tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apa yang harus dikatakan untuk memecah ketegangan. Layar tablet di tangan Kelia masih menyala, menampilkan rekaman buram dengan kualitas kamera sepuluh tahun lalu. Di sana, terekam sosok laki-laki yang baru saja keluar dari lorong bawah tanah, hanya beberapa menit sebelum api pertama melahap bangunan itu. Armand Hardian. Papa Kania. Kania tidak bergerak sedikit pun. Ia tidak bicara, tidak menangis. Ia hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong—sebuah ketenangan yang justru membuat Rivan jauh lebih takut daripada jika Kania histeris. "Kania," panggil Rivan pelan. Tidak ada jawaban. "Kania," ulangnya sekali lagi. Wanita itu tetap diam, tatapannya masih terkunci pada layar yang menampilkan kenyataan pahit yang perlahan menghancurkan sisa-sisa dunianya. "Dia tahu," suara Kania akhirnya keluar, san
Ruangan bawah tanah itu mendadak terasa terlalu sunyi. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bicara. Hanya suara napas Kania yang mulai pendek dan tidak teratur, menggema di antara dinding beton yang lembap. Tangannya masih mencengkeram map hitam itu, namun jemarinya terasa dingin, hampir mati rasa. NAMA SUBJEK : KANIA HARDIANKODE INTERNAL : LUNA-17 Tatapannya terhenti pada angka itu. Tujuh belas. Bukan lima belas, bukan sepuluh. Angka itu seolah menertawakannya. Dan entah kenapa, sesuatu di dalam dirinya berteriak bahwa ada yang salah. "Kania," suara Rivan terdengar pelan di dekatnya. Pria itu tidak menyentuh, tidak pula memaksa. Mungkin karena saat ini, bahkan seorang Rivan Aryawiguna tidak yakin apa yang harus ia lakukan. "Jangan," bisik Kania lirih. "Aku ingin melihatnya sendiri." Tangannya bergerak gemetar membuka halaman berikutnya. Dokumen medis, grafik perkembangan, catatan psikologis, dan foto—lebih banyak
Lorong bawah tanah itu terasa semakin dingin. Atau mungkin, bukan suhu udara yang berubah, melainkan isi kepala Kania yang mendadak membeku.SUBJEK LUNA — RUANG OBSERVASI UTAMATulisan pudar di dinding tua itu seolah hidup, memaksa masuk dan membongkar sesuatu yang selama ini terkunci terlalu rapat di ingatannya. Napas Kania berubah: pendek, cepat, dan tidak teratur. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah masuk ke tempat ini, ia benar-benar merasa ingin lari sejauh mungkin."Luna..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.Nama itu lagi. Selalu kembali. Seolah hidupnya sendiri terus memaksanya untuk melihat sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari mati-matian."Kania."Tangan hangat itu menyentuh lengannya—pelan dan hati-hati. Rivan ada di sana. "Aku di sini."Biasanya, kalimat sederhana itu sudah cukup untuk menenangkannya. Tapi tidak kali ini."Kania," suara Kelia terdengar lebih pelan sambil menatap layar tablet di tangannya. "Hasil pemindaian dinding..."Semua mata beralih ke a
Lorong bawah tanah itu mendadak terasa lebih sempit, lebih dingin, dan jauh lebih sunyi. Cahaya lampu senter memantul di permukaan besi tua yang dipenuhi karat. Simbol lentera dengan api biru di tengah pintu itu tampak terlalu utuh dibandingkan dinding di sekelilingnya yang sudah hancur, seolah seseorang sengaja menjaganya tetap bersih selama bertahun-tahun. "Kelia," suara Rivan berubah. Dingin dan fokus. "Cek sekeliling." "Baik, Bos." Beberapa orang bergerak cepat, memeriksa sudut lorong, retakan dinding, hingga jalur ventilasi tua. Namun, perhatian Kania tetap tertahan pada pintu besi itu. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan sekadar rasa takut, melainkan sesuatu di dalam dirinya seolah mengenali tempat ini. Dan perasaan "kenal" itu jauh lebih mengerikan daripada rasa asing. "Kania," suara Rivan muncul di dekatnya, pelan. "Aku di sini." Lagi-lagi kalimat sederhana itu. Namu







