Home / Romansa / OBSESI sang Berondong HYPER / KR 58. Ketakutan Rivan

Share

KR 58. Ketakutan Rivan

Author: Ziya_Khan21
last update publish date: 2026-05-11 22:54:16

Laut mulai tenang menjelang dini hari. Kabut tipis menggantung rendah di atas permukaan air, menyamarkan batas antara langit dan samudera, membuat dunia di sekitar yacht itu terasa jauh dan tidak nyata. Mesin kapal berdengung stabil, sebuah irama monoton yang membawa mereka semakin jauh dari daratan dan pengejaran yang seolah tak berujung.

Namun, semakin jauh mereka melaju, Kania justru merasa semakin terjebak. Bukan lagi oleh jeruji besi atau ancaman senjata, melainkan oleh kehadiran Rivan—dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
kak ros
siapa si ayah Rivan sbnrnya???
goodnovel comment avatar
Disava lasmawati
dah kalah dwmi cinta nggak masalah kania hhh
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Aslinya Rivan itu laki laki yang baik kania
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 113. Saudara yang Hilang

    Malam terasa semakin panjang dan mencekam. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat tujuh belas menit dini hari, namun tak ada seorang pun di kediaman keluarga Aryawiguna yang berpikir untuk memejamkan mata.Terlalu banyak hal yang jungkir balik hanya dalam hitungan hari. Bu Ratih menghilang tanpa jejak, Profesor Surya yang dikira sudah tiada ternyata masih bernapas, dan Rayhan—anak panti yang pernah disaksikan kematiannya oleh Rivan—ternyata masih hidup. Kini, satu fakta baru mulai merayap masuk dan mengganggu pikiran mereka: Armand Hardian tidak sendirian di malam kebakaran itu.Rivan berdiri mematung di depan jendela besar ruang kerjanya. Kedua tangannya terbenam dalam saku celana, tatapannya lurus menembus kegelapan malam Kyoto, namun pikirannya mengembara jauh ke masa sepuluh tahun silam. Ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang terasa janggal dan tidak cocok dengan ingatannya."Kelia," suara Rivan memecah keheningan yang menyesakkan."Ya, Bos?""Kalau Rayhan memang masih h

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 112. Ternyata Dia Masih Hidup

    "Tiga bulan setelah peristiwa kebakaran terjadi, ada pihak yang sengaja mengubah catatan resmi di dalam arsip itu," Kelia memperbesar bagian tulisan yang paling penting di layar. "Nama Rayhan dihapus dari daftar, lalu diganti dengan keterangan jenazah tak dikenali identitasnya." Napas Kania seketika terasa berat dan sesak di dalam dada. Fakta ini menyiratkan satu makna yang tak bisa dielakkan: ada seseorang yang sengaja membantu Rayhan untuk menghilang, atau bahkan ada yang berniat membuat seluruh dunia percaya bahwa orang itu telah meninggal dunia selamanya. Pukul dua dini hari telah berlalu, namun mereka semua masih tetap berada di dalam ruang kerja. Kertas‑kertas, foto‑foto, dan berkas dokumen berserakan di mana‑mana, namun jawaban yang mereka cari masih belum cukup untuk menyatukan seluruh kepingan teka‑teki ini. "Jika Rayhan memang masih hidup selama ini," gumam Kania pelan memecah keheningan, "kenapa ia justru memilih bersembunyi dan tak pernah muncul?" Tak ada satu pun y

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 111. Yang Ternyata Masih Hidup

    Hujan tak kunjung reda, malam di kota Kyoto pun semakin larut, namun tak ada seorang pun yang ada di dalam ruang kerja keluarga Aryawiguna yang memperhatikan berlalunya waktu. Sebab satu nama yang baru saja terungkap telah kembali mengubah segalanya: Rayhan Pratama. Sosok anak panti yang selama ini diyakini telah meninggal dunia. Anak panti yang mayatnya bahkan pernah dilihat langsung oleh mata kepala Rivan sendiri. Namun kenyataannya, orang yang sama kini muncul kembali hidup‑hidup, mengawasi gerak‑gerik mereka, dan menunggu saat yang tepat untuk bertindak. "Kita pastikan sekali lagi," suara Rivan memecah keheningan, nadanya rendah dan dingin. "Kelia." "Sudah kami lakukan, Bos," wanita itu langsung menjawab sigap. "Kami sudah mencocokkan data usia, foto wajah, rekam jejak biometrik lama, hingga rekaman terbaru yang berhasil kami dapatkan. Tingkat kecocokannya mencapai sembilan puluh dua persen." Suasana kembali tenggelam dalam keheningan. Angka sembilan puluh dua persen i

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 110. Merasa Dikhianati

    Suasana di dalam kamar rawat kembali tenggelam dalam keheningan, namun kali ini kesunyian itu terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Surat yang ditinggalkan Bu Ratih masih tergenggam erat di tangan Rivan, kertas tua di dalamnya bahkan sedikit berkerut karena cengkeraman tangannya yang makin mengencang menahan gejolak batin.Di sisi lain, Kania masih berdiri mematung di tempat. Pandangannya terpaku pada satu kalimat terakhir yang tertulis jelas di atas kertas itu:“Jangan percaya segala kata yang diucapkan Armand. Karena di malam kejadian itu, ia tidak datang sendirian.”Sebuah kalimat yang terlihat sederhana, namun cukup untuk mengguncang dan memutarbalikkan segala kebenaran yang baru saja mereka ketahui dan yakini.“Apa maksud kalimat itu sebenarnya?” bisik Kania pelan, hampir terdengar seperti ia sedang bertanya pada dirinya sendiri.Tak ada seorang pun yang menjawab. Bukan karena mereka tak tahu, melainkan karena tak ada satu pun di antara mereka yang memiliki jawabannya. Atau mu

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 109. Pesan Terakhir

    Seluruh ruangan seketika membeku, benar‑benar tak bergerak sedikitpun. Tak ada yang bicara, tak ada yang mengubah posisi, karena kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kelia masih tergantung tajam di udara:“Bu Ratih hilang.”Kania langsung berdiri dengan gerakan yang terlalu cepat, sampai‑sampai kursi di belakangnya bergeser dan menimbulkan bunyi keras memecah keheningan.“Apa maksudmu bilang dia hilang?” suaranya pecah. Untuk pertama kalinya sejak segala kebenaran mulai terungkap, rasa takut kembali menguasai hatinya sepenuhnya. Bu Ratih bukan sekadar saksi peristiwa, bukan sekadar pengurus panti asuhan—wanita tua itu adalah satu‑satunya orang yang masih menjadi jembatan penghubung antara dirinya dan masa lalu yang sebenarnya. Dan kini, orang yang paling berharga itu lenyap begitu saja.“Kelia,” suara Rivan terdengar rendah dan mengandung bahaya, “jelaskan semuanya.”“Seluruh kamera pengawas di rumah sakit mati selama sembilan menit, dan sistem listrik cadangan pun gagal menyala sa

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 108. Tidak Semudah Itu

    Ruangan kecil itu terasa semakin sempit dan pengap. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Satu-satunya hal yang terdengar hanyalah tarikan napas berat dari orang-orang yang berada di dalam sana. Dan di tengah keheningan itu, satu pertanyaan masih menggantung tajam di udara:"Kalau begitu... kenapa kamu pergi?"Tatapan Kania tak bergeser sedikit pun. Sudah terlalu banyak kebohongan, terlalu banyak rahasia yang disembunyikan darinya. Kali ini, ia tak akan beranjak sebelum mendengar jawaban yang sebenarnya.Armand Hardian memejamkan mata dalam waktu yang terasa begitu lama, seolah sedang berusaha mengumpulkan keberanian yang selama sepuluh tahun terakhir tak pernah berhasil ia miliki."Aku tidak pergi karena aku menginginkannya," akhirnya kata itu keluar. Suaranya pelan dan parau.Namun hati Kania tak lagi mudah percaya seperti dulu. "Tetap saja, Papa pergi. Tetap saja, Papa meninggalkanku sendirian di sana," bisiknya, dan matanya mulai terasa panas menahan tangis."Aku tahu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status