Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum yang sengaja ditancapkan di pelipisnya secara bersamaan. Dia mencoba menggerakkan lengannya, tetapi tekstur kain yang bersentuhan dengan kulitnya terasa asing. Terlalu halus, terlalu mahal, dan di balik selimut sutra berwarna abu-abu arang itu, Kania menyadari satu hal yang membuat darahnya mendadak membeku, dia benar-benar terbaring tanpa sehelai benang pun ."Oh, astaga ... tidak, tidak, tidak ….""Kamu sudah bangun?"Suara itu rendah, berat, dan datang dari sudut ruangan yang gelap. Kania merentangkan selimut setinggi mungkin, menutupi dadanya yang naik-turun dengan cepat. Di sana, di sebuah kursi kulit bergaya industrial, seorang pria duduk dengan santai s
Last Updated : 2026-04-07 Read more