Share

Bab 22

Auteur: Sya Reefah
last update Dernière mise à jour: 2026-01-15 22:53:51

Durand masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bantingan keras. Ia duduk di sofa empuk pinggir jendela besar, yang menghadap langsung ke arah luar.

Ia mengambil tablet di atas meja, mencoba mengalihkan pikirannya pada list pengiriman barang. Namun, suasana hening di kamarnya membuat perkataan Sora terasa jelas di ingatannya.

“Meski aku membencimu, tapi, semoga lukamu itu lekas membaik.”

Durand kembali meletakkan tabletnya di atas meja, kedua tangannya dilipat di depan dada. Ia sudah t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 28

    Di sisi lain mansion yang luas itu, Sora masih tergulung rapat di balik gundukan selimutnya. Ini hari minggu, ia tak berniat sedikitpun beranjak dari tempat tidur. Tak ada rencana yang lebih baik untuk hari ini, selain menghabiskan waktunya untuk tidur sampai siang. Udara di kamar terasa lebih dingin dari sebelumnya. Sora menarik selimut, hingga menutupi kepalanya. Ia meringkuk di dalamnya, seperti kucing yang mencari kehangatan. Benar-benar dingin. Suasana mansion yang tenang dan dingin mendukungnya untuk bermalas-malasan. Lagipula, ia tak memiliki kebebasan sekarang. Setiap langkah yang ia ambil kini dibayangi oleh anak-anak buah Durand. Alih-alih melindungi, justru menguntitnya, seperti buronan jahat di bawah kekuasaan ketat.Namun, ketenangan itu tak berangsur lama. Suara ketukan pintu dari luar cukup keras, membuatnya terbangun paksa. “Nona Sora, apa Anda sudah bangun?” Sora terduduk. Dengan mata yang masih terpejam ia menyahut dengan nada malas, “Ya … aku sudah bangun.”“N

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 27

    Pagi itu, udara Moskow terasa lebih dingin dari sebelumnya, menandakan musim dingin semakin dekat. Hanya menghitung hari. Durand duduk di kursi menatap keluar jendela ruang kerjanya. Di luar sana, kabut tipis menyelimuti hamparan taman luas dan menyamarkan patung-patung marmer. Cahaya matahari belum sepenuhnya mengusir warna gelap langit, ruangan itu terasa sunyi dan tenang. Tak ada hiruk pikuk klakson kota atau dentingan lift, di mansion ini, hanya ada keheningan yang megah dan penjagaan ketat di luar sana. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Stepan. Meski matahari belum sepenuhnya muncul, ia sudah tiba di Mansion Volkov. Jas panjang yang dikenakan menunjukkan bagaimana dinginnya pagi ini.Stepan membungkuk sedikit, lalu memberikan map tebal berwarna hitam pada Sang Tuan.Durand membuka map. Beberapa lembar menampilkan catatan keuangan, dan beberapa lembar lainnya menampilkan daftar nama. Stepan mulai menjelaskan, “Baltic memindahkan pusat distribusinya ke pelabu

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 26

    “Sudah berapa kali kau melanggar aturan di rumahku?!” Suaranya berat dan penuh ancaman, tetapi tak membuat Sora mundur. “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku?!”“A-aku sudah memanggilmu berkali-kali,” jawab Sora cepat, menutupi kegugupannya. “Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Aku hanya ingin mengantarkan makanan untukmu.”Tak ada lagi bahasa formal yang terucap. Sora masih berdiri di tempatnya, sementara Durand menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Alih-alih takut karena kemarahan Durand, justru Sora melangkah maju, masuk ke kamar pria itu tanpa menunggu izin sang empunya. Dengan gerakan tenang, ia meletakkan nampan itu di atas meja. “Dokter bilang padaku kalau Anda sama sekali belum menyentuh makanan, apalagi obatnya,” lanjut Sora tanpa menoleh, tangannya sibuk menata mangkuk dan gelas di atas meja. Durand diam di tempat. Matanya mengamati setiap pergerakan yang Sora lakukan. Sora kembali menegakkan tubuh, menatap Durand yang memandanginya tajam. “Kalau Anda in

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 25

    Sora mengerutkan kening, menatap Belin dengan serius. Permintaan itu terlalu tiba-tiba, tetapi cara Belin mengatakannya terlihat serius dan tak bisa diabaikan. “Membantu?” tanya Sora ragu. “Apa itu?”Belin menarik napas panjang sebelum menjawab. “Saya butuh bantuan Nona untuk membujuk Tuan Durand agar mau makan,” katanya terus terang. “Sejak pagi, Tuan Durand tidak mau menyentuh makanannya. Pelayan baru saja melapor.”Penjelasan itu membuat Sora terdiam. Bukan karena tidak mau, tetapi karena bingung. Ia tak mengerti mengapa dokter pribadi Durand itu melibatkannya dalam urusan ini. “Apa yang terjadi dengannya?” tanya Sora.Belin menggeleng. Ia sendiri tidak memiliki jawaban pasti untuk masalah ini. “Saya juga tidak tahu, Nona. Pelayan mengatakan padaku jika Tuan Durand menolak makan, bahkan Tuan Stepan tidak bisa membujuknya. Obat yang saya berikan juga tidak tersentuh sama sekali.”Kening Sora berkerut semakin dalam. Penjelasan itu justru membuatnya semakin tak mengerti kemauan Dur

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 24

    Keheningan itu membuat pikiran Helena terseret pada putri mendiang teman lama suaminya. Meski ia belum pernah bertemu secara langsung, ia tahu banyak tentang gadis itu melalui laporannya. Mulai dari latar belakang, pendidikan, dan posisi Sora yang dipilih bukan karena sembarangan. Helena kembali bersuara, “Bagaimana dengan Sora? Papa yakin ini akan berhasil?”Viktor meletakkan cangkirnya kembali, lalu menyandarkan punggungnya di punggung kursi. “Semua akan berjalan semestinya,” jawabnya tenang. “Dia selalu membawa wanita tidak jelas ke rumah. Sampai kapan kebiasaan itu dibiarkan?”Helena menggeleng pelan, tampak ragu dengan keputusan besar suaminya. Viktor terlalu percaya pada peraturan dan rencananya. Ia yang melahirkan Durand, yang melihat tumbuh, memahami bagaimana cara berpikirnya. Durand bukan anak yang mudah diikat oleh peraturan, terlebih jika itu dirasa tidak penting. Viktor terlalu optimis jika Durand akan menyesuaikan diri—mengikuti rencana yang dibuatnya. Namun, Helena

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 23

    Stepan meletakkan ponselnya yang menampilkan foto-foto laporan penyelidikan kejadian semalam. “Mereka bukan hanya satu orang, Tuan. Mereka membentuk kelompok untuk menyerang Anda.”Durand menatap foto-foto di ponsel Stepan dingin. Ia mengenali wajah-wajah di sana. Salah satu dari mereka berasal dari rival lama, dan pria yang pernah ia kalahkan dari meja negosiasi setahun terakhir.“Jadi, mereka bersatu?” ucap Durand. “Kelompok dari barat, sisa-sisa keluarga pengusaha dari selatan. Kerja sama yang menyedihkan.”Durand menyeringai tipis memandangi wajah mereka di layar ponsel. Aliansi mereka terlahir rapuh, bukan karena kekuatan, melainkan dari ketakutan. Ia tahu persis alasannya—kekuasaannya sudah terlalu besar untuk ditantang satu per satu.Mereka tak punya nyali menghadapinya secara langsung, maka mereka melakukan apa pun untuk menyerangnya. Termasuk membentuk aliansi. Sebuah upaya nekat, yang bagi Durand itu sangat menyedihkan.“Tapi … ada yang lebih menarik, Tuan.”Durand menatap

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status