INICIAR SESIÓN"500 ribu dollar? Tunjukkan alasan kenapa aku harus mengeluarkan banyak uang untukmu. Apa kau begitu hebat?" - Aslan Moretz Luca "Sa-saya akan berusaha, Tuan." - Laura Daniella Moretti. Laura tak pernah mengira, ia akan menggunakan cara ekstrem demi menyelamatkan nyawa adiknya yang sedang sakit keras. Malam itu ia menyerahkan dirinya seharga 500 ribu dollar pada pria tak dikenal. Ia pikir segalanya hanya berakhir dalam satu malam saja. Namun, ayahnya dengan tega menjualnya demi melunasi hutang, sehingga membuatnya harus berada dalam genggaman lelaki asing yang bernama Aslan Moretz Luca. Pria yang sudah membayarnya malam itu dan tanpa diduga, ia malah diperlakukan seperti ratu, tapi juga terjerat dalam pusaran berbahaya sekaligus.
Ver más"Kuatkan hatimu Laura, jangan mundur. Lagipula hanya satu malam saja, dan setelah ini adikmu akan selamat."
Tak hentinya gadis cantik yang memakai dress maroon itu bergumam, guna menguatkan dirinya sendiri, karena sebenarnya disisi hatinya yang lain ia ingin melarikan diri. Ia terpaksa mengambil jalan ini, demi keselamatan adiknya. Jalan yang mungkin akan merenggut hidupnya. Lift yang dinaiki Laura akhirnya tiba di lantai 10, tempat yang ditujunya. Dengan gugup, Laura melangkah mencari nomor kamar disetiap pintu yang cocok dengan nomor kamar dari pria yang sudah membayarnya untuk semalam itu. Tiba-tiba saja ditengah perjalanan, seorang lelaki bertubuh tegap, berpakaian serba hitam berjalan menghampirinya. Laura tersentak kaget melihat sosok itu. "Apa kau orangnya Madam Brenda?" tanya lelaki bertubuh tegap itu pada Laura. "Be-benar Tuan, maaf...Tuan siapa ya?" tanya Laura gelagapan. "Mari ikut saya, Tuan saya sudah menunggu!" ujar lelaki itu tanpa menjawab pertanyaan Laura, wajahnya terlihat datar dan suaranya juga tegas. Ia pun mengikuti langkah lelaki itu, hingga akhirnya mereka sampai di kamar paling ujung, lorong tersebut. Kamar 1010. "Masuk!" ujar lelaki itu pada Laura. Ia membukakan pintu untuk Laura. Kemudian gadis pun melangkah masuk ke dalam sana dengan perasaan gelisah. Jantungnya berdegup kencang. Laura bisa mendengar dengan jelas, bagaimana suara pintu ruangan itu tertutup. Disinilah detak jantung Laura jadi berdebar 10 kali lipat dari biasanya. 'Gelap?' kata Laura dalam hatinya saat ia melihat kamar itu tanpa penerangan. Ia bingung mau berjalan kemana, sebab ia merasa tidak melihat siapapun di sana. Sampai ia melihat siluet seseorang pria yang baru saja masuk dari pintu balkon dan sekarang pria itu sudah berada didekat ranjang. Tubuhnya tinggi dan tegap, tidak seperti yang digambarkan oleh Madam Brenda kalau lelaki yang ingin tidur dengannya adalah bos besar dan dalam pikiran Laura, bos besar mungkin bertubuh gemuk, sudah tua, tidak tegap atletis seperti ini. Dari siluetnya saja sudah berbeda. "Kemari." Laura tersentak kaget saat mendengar suara bariton rendah milik pria itu, sesaat jantungnya berhenti berdetak. Rupanya pria itu menyadari kehadirannya. Namun, ia kembali ditampar oleh kenyataan bahwa sekarang ia tidak bisa mundur, semua demi adiknya. Gadis itu melangkah mendekat ke arahnya, hingga dalam beberapa detik kemudian mereka sudah saling berhadapan. Mata berwarna dark grey itu menatap Laura dengan tajam. Meskipun Laura belum bisa melihat wajah pria itu seluruhnya, tapi ia yakin bahwa pria ini adalah pria tampan dan masih muda. "Kau hanya wanita bayaran. Tapi kenapa hargamu sangat mahal. Apa skillmu sangat hebat?" Lelaki itu menarik dagu Laura dan sebelah tangannya lagi menarik pinggangnya. Sehingga tubuh mereka saling menempel, namun masih berjarak dengan pakaian yang masih menempel ditubuh mereka masing-masing. Laura tersentak dan refleks menahan napas. Bisa ia rasakan suhu tubuh lelaki ini tidak normal. "Bagaimana kemampuanmu di atas ranjang, sampai aku harus mengeluarkan 500 ribu dollar?" desis pria itu dengan nafas memburu. Laura dapat merasakan aroma menyengat dari bibir pria itu yang cukup dekat dengan hidung mancungnya. Ia juga merasakan bahwa suhu tubuh pria itu panas dan nafasnya terengah, ia semakin yakin, bahwa lelaki ini sedang tidak baik-baik saja. "Tuan, se-sepertinya anda sedang tidak sehat..." Laura memberanikan diri menyentuh dahi lelaki itu. "Shit!" umpat lelaki itu dengan nafas yang naik turun, tanpa aba-aba ia langsung menerkam bibir Laura tanpa permisi, menuntut dan tidak sabaran. "Hmphh..." Laura yang tidak siap dengan ciuman pertamanya itu, hampir kehabisan nafas oleh serangan lelaki asing ini. Ia baru pertama kali mengalaminya dan ia syok. Terlebih saat lelaki ini menggiring Laura ke atas ranjang dan menjatuhkannya disana. "Aaahhh ..." 'Ya Tuhan, semoga ini tidak menyakitkan' kata Laura dalam hatinya, sembari menahan tangis, karena mungkin setelah ini dia bukan seorang gadis lagi melainkan seorang wanita. Ia akan menyerahkan raganya pada lelaki asing yang sudah membelinya ini. 'Ini demi Alisha, aku harus tahan' Gadis itu bergumam dalam hati, saat pria yang tidak dikenalnya ini, mulai melucuti satu persatu pakaian yang menempel ditubuhnya. Laura tampak pasrah, karena ini adalah pilihan yang ia ambil sendiri. 'Maafkan aku, maaf untuk suami masa depanku, ini hakmu. Karena hakmu sudah direnggut oleh lelaki lain' Lelaki itu terus mencumbu Laura dengan intim, bagian atas gadis itu sudah dipastikan tak luput dari jamahan bibirnya. Sedangkan Laura, hanya bisa pasrah, ia menerima semua perlakuan lelaki ini padanya. "Aahhh... aahh... Tu-tuan..." Suara aneh mulai keluar dari bibir mungil Laura, memicu buncahan aneh di dalam diri lelaki itu menjadi semakin menggebu. Hingga ia semakin rakus menikmati bagian tubuh milik Laura yang sudah tanpa penghalangnya. Mata dark grey itu menatap Laura dengan intens, seperti orang yang sedang kelaparan dan kehausan. Napasnya semakin tidak teratur, meski dalam kondisi yang hampir kehilangan kendali, ia dapat melihat kecantikan Laura dibalik remang-remang kegelapan. Kembali, Laura merasakan bibirnya dihabisi oleh lelaki ini. Namun, Laura hanya diam, menerima, mengikuti ritme yang diciptakan oleh keadaan. Ia tidak melawan. Meski tangannya sudah mengepal, mencengkram kain seprai berwarna putih itu. Menunjukkan bahwa ia ada niat untuk melawan, tapi ia tahan. "Balas!" ujar lelaki itu kesal, karena Laura tidak membalasnya. Laura tersentak kaget kala mendengarnya. Ia masih berusaha menarik oksigen kembali ke dalam paru-parunya, karena aksi lelaki itu barusan. Bibirnya sampai kebas. "Sa-saya tidak bisa." "What?" Kening lelaki itu berkerut bingung mendengar jawaban Laura. "Sa-saya, i-itu, i-ini ..." Kepala lelaki itu berdenyut semakin sakit, rasa panas ditubuhnya semakin menggebu-gebu. Tak tahan lagi, ia pun kembali melakukan aktivitasnya. Nalurinya berkata, ia harus menghabisi wanita yang ada dibawah kuasanya. Wanita yang sudah ia bayar untuk menuntaskan segalanya malam ini. Gara-gara minuman dicampur sesuatu yang sudah meracuni tubuhnya. Dengan gerakan cepat, tidak sabaran, ia melepaskan pakaian wanita itu. Ia membuang dress yang dipakai Laura ke sembarang arah, dan kini gadis itu terlihat polos. Wajah Laura memerah, ia malu, aibnya terbuka dan rasanya ingin menutupi tubuhnya yang sudah polos, ini pertama kalinya ia berpenampilan seperti ini dihadapan seseorang. Ia menggigit bibirnya sendiri. Malu, gelisah. 'Alisha, ini demi dia' Laura menahan tangisnya sekuat mungkin, karena pada detik berikutnya lelaki itu sudah menyerangnya. Tanpa peduli tangisan dan apa yang ia alami, karena ini pertama kalinya ia merasakannya. "Kenapa kau sangat sempit?" Bersambung...Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman
Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…
Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,
Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas