Masuk...Bab 100Yudha duduk santai menyandarkan kepalanya di kursi bambu bawah pohon kelapa sembari menghisap rokoknya dalam-dalam.“Lah, ngapain berhenti? Lanjutin, belum ada yang mati, kan?” seru Yudha. Tetap tenang seolah tengah menyaksikan tontonan seru di layar lebar.Dirga menghempaskan cekalan tanganya di kerah Ryuga dengan kasar. Menatapnya dingin, lalu pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.Tatapan Yudha mengikuti pergerakan Dirga hingga bayangan laki-laki itu meninggalkan area pesisir pantai. Kemudian, ia beralih pada Ryuga yang masih mengatur napas dengan raut wajah frustasi.Yudha berjalan, mendudukan tubuhnya di atas pasir pantai tempat di samping Ryuga berdiri. “Kenapa nggak dihabisin aja tuh, bocah? Tadi cuma pura-pura ngalah, kan?”“Huh!” Ryuga turut merebahkan tubuhnya.“Aku udah cerita semuanya sama kakak ipar.”Ryuga menoleh.“Tentang siapa ayahnya Zio dan sebagain cerita rumit kalian,” lanjut Yudha.Ryuga sudah menduganya, sekarang ia tak sanggup mendengar tanggapa
...Bab 99“Gue pikir tuhan nggak adil. Saat gue dibuang dan dianggap nggak pernah ada di dunia ini, lo masih bisa hidup dengan tenang. Bahkan lo balas dendam dengan nikahin tunangan gue. Anjing!!!” suara Dirga meninggi.Makian-makian masuk menghantam telinga Ryuga. Namun, masih tetap bergeming.Dirga membalikkan badannya hendak menjauh. Puas sekali melihat Ryuga yang penuh dengan ketidakberdayaannnya saat ini.“Puas kamu?” suara berat Ryuga menghentikan pergerakan lelaki di belakangnya.Tanpa berbalik, ia menyahutnya. “Tentu! Ngeliat lo yang angkuh dan sok bisa segalanya ternyata nggak bisa ngelakuin apa-apa buat Zionathan. Itu belum seberapa, tunggu aja sampai Dara tahu niat busuk lo yang nikahin dia cuma karena dia tunangan gue!”Ryuga memutar kepala, terus bungkam melihat bayangan orang yang terus mengoceh—menghakiminya dan bertingkah layaknya korban.Selalu seperti itu, Ryuga tak bisa mendebat atau menyanggah lontaran kebencian yang ditujukan padanya. Dia pikir kebencian it
...Bab 98Yudha menggeleng.“Setelah semua kejadian itu, segala hal yang berkaitan dengan adik Komandan dihilangkan. Semuanya. Bahkan jejak digital pun nggak ada.”“Mbak Diandra juga?” tanya Dara, ragu.“Orang-orang luar hanya akan tahu, kalau Diandra adalah mantan istri Ryuga yang meninggal usai melahirkan. Gitu doang.”Dara kembali terdiam. Kuasa keluarga suaminya memang besar, tapi Dara tidak menyangka akan sampai seperti itu untuk menutupi skandal.“Bukannya keluarga Komandan bertindak kejam,” lanjut Yudha. “Mereka hanya tidak mau luka mendalam itu suatu saat akan terbuka lagi dan kembali menyakiti orang-orang yang bahkan tidak tahu apa-apa.”Pantas saja Dara dan Dealova tidak pernah menemukan jejak atau identitas adik kandung Ryuga, karena memang tidak ada yang tersisa untuk ditemukan.Dan, Dara teringat dulu saat menemukan foto dan cincin Diandra di laci. Ryuga sempat menjelaskan kalau hanya itu barang Diandra yang tersisa rupanya memang semua yang berkaitan dengan istrinya s
...Bab 97Terkadang ada hal-hal yang memang sebaiknya tidak pernah kita ketahui saja, agar tidak menimbulkan luka baru yang tidak penting. Dara sempat berpikir begitu tentang suaminya.Apa pun masa lalunya, Dara tidak ingin tahu. Semua orang selalu punya cerita buruk di mata orang lain. Begitu juga dengan dirinya sendiri yang bahkan mungkin menyimpan cerita jauh lebih buruk dari suaminya.“Aku nggak mau tahu sebenernya, Yud,” ujar Dara. “Tapi, aku juga takut salah paham karenanya. Aku udah sering salah paham sama dia.”“Wajar, Kak. Manusia seperti Komandan Ryuga itu memang menguras emosi. Makanya dia memilih lajang selama bertahun-tahun dulu sebelum kenal Kakak ipar. Temennya cuma senapan doang.”Yudha terkekeh dengan ucapannya sendiri.“Dia baik banget,” gumam Dara, tulus.Yudha menatap Dara serius, dari wajahnya laki-laki itu juga kali ini tidak lagi becanda.“Zio itu bukan anak kandung Komandan.”Degh!Kalimat itu membuat Dara terhenyak. Jantungnya seakan dipaksa untuk berhenti b
...Bab 96Lebih dari tiga puluh menit berlalu, pintu IGD akhirnya terbuka. Menampilkan Dokter dan Perawat keluar dari dalamnya.“Dok, gimana keadaan anak saya?” Dara menodong pertanyaannya begitu tergesa.Dokter Adrian di depannya melepas masker, lalu tersenyum hangat.“Ada dua kabar yang harus saya sampaikan. Pertama kabar baik, dan yang kedua ada kabar yang sedikit membutuhkan perhatian ekstra.”Lutut Dara lemas. Antara ingin mendengar keduanya atau memilih tak mengetahui saja hal buruknya.“Tolong jelaskan keadaan anak saya. Dia tidak sakit parah, kan?” desak Ryuga. Panik dan sedikit tidak terkontrol.Dokter Adrian pun berdehem. “ Kabar baiknya, putra bapak dan ibu sudah berhenti pendarahan, mulai stabil keadaannya. Masa kritisnya sudah lewat.”Semua orang di sana kompak mengembuskan napas lega. Ryuga memejamkan matanya sambil terus menggumamkan rasa syukur.“Tapi, masih ada kabar buruknya,” lanjut Dokter. Seluruh keluarga kembali memusatkan perhatiannya.“Diagnosis sementara me
...Bab 95Yudha melaporkan hasil penyelidikannya semalam dengan singkat. Hanya dari garis besarnya saja, Ryuga sudah bisa menyimpulkan banyak hal. Ia pun segera memberikan instruksi yang cukup rinci dan penuh perhitungan.Ryuga segera memutus panggilan, tidak ingin Dara mendengar apa pun lagi soal Dirga yang akan berpotensi membuatnya panik lagi.Sebelum makin kesiangan, mereka segera kembali ke kota. Begitu duduk di mobil Dara segera mengecek ponsel yang ia tinggalkan sejak kemarin.“Mas, ada masalah besar?”Sejak menerima telpon dari Yudha, wajah Ryuga terus menegang.“Nggak sebesar yang kamu buat,” sahut Ryuga, menoleh dengan senyum tipisnya.Di sampingnya Dara mencebik. Lalu mencubit pinggang pria itu. “Nyebelin!”“Dara, kamu bisa janji sama saya?” ryuga menatap lurus, Jemarinya mencengkeram kemudi lebih erat.“Janji apa?” Dara menyimpan ponselnya.“Saya nggak bisa memastikan Dirga benar-benar menghilang saat ini. Bagaimana pun inginnya, saya harus tetap menaati prosedur. Janji







