เข้าสู่ระบบ“Kau tak mungkin tidak tahu apa yang ada ditanganku, bukan? Dan …,” Noah menunduk mendekatkan wajahnya pada Zelda sambil mengendus singkat. “jujur, aromamu terlalu menusuk di hidungku sejak tadi. Aku ingin kau bersihkan tubuhmu itu.” Akunya blak-blakan.
Noah kembali berdiri tegap tanpa mengindahkan tatapan kesal Zelda. Perasaan malu dan geram bercampur di wajah gadis itu. Melihat dirinya sekarang, rasanya Zelda hampir ingin menangis tersedu. Sebagian dirinya juga ingin memukul wajah Noah sekali saja, untuk melampiaskan kekesalannya. Namun, dengan cepat Zelda teringat bahwa Noah telah menyelamatkan dirinya dari komplotan pria pemabuk tadi. Bahkan … ia telah merawat luka-luka di beberapa bagian tubuhnya. Noah mendengus kecil, seolah membaca pikirannya. “Kau sadar, kan, seperti apa penampilanmu sekarang?” Kedua pipinya masih terasa panas, jantungnya seperti berlari tanpa arah. Ia segera mengambil perlengkapan mandi dari tangan Noah—sesuatu yang sejak tadi pria itu sodorkan tanpa banyak bicara dan membuang muka untuk menghindari tatapan dari Noah. “T-Tapi aku tak membawa pakaian bersih sama sekali,” katanya pelan menunduk. “Tak usah khawatir, aku akan urus keperluanmu,” ucap Noah yang kini sedikit lebih lembut dari biasanya, lalu menoleh pada ruangan di sekelilingnya. “Ini kamar tamu dan ada kamar mandi pribadi disini. Kau bisa menginap disini malam ini.” Namun tiba-tiba …. Drrt. Drrt. Ponsel Noah bergetar. Ia menatap layar, lalu tersenyum kecil. “Aku keluar sebentar. Ada yang harus kuambil. Kau di sini saja.” Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dan menutup pintu. Setelah sosoknya menghilang, Zelda menghela napas panjang, yang entah mengapa ia tak paham sama sekali. Ada perasaan lega, takut, kesal dan penasaran bercampur aduk menjadi satu. Pun ia juga tak paham apakah kebaikan Noah adalah sifat asli pria itu atau justru … karena ada motif lain seperti biasanya. Zelda tiba-tiba membayangkan apa yang telah ia alami setelah berkenalan dengan seorang pria. Dari pria acak yang ia temui di Night Club 2 bulan lalu, hingga sekarang pria itu menjadi dosen di Kampusnya. Rasanya Zelda merasakan ada keganjilan dari semua kebetulan yang terjadi. Apa yang sebenarnya diinginkan Noah padanya? Kenapa dirinya selalu terjebak di situasi di luar kehendaknya? Bahkan saat ia masih teringat ketika ia pernah melakukan hubungan panas, hingga pernah tidur bersama di satu ranjang itu … Zelda tak mampu membayangkannya lagi, sembari menggeleng kepala cepat. Tubuhnya bereaksi aneh hingga bulu kuduknya meremang. “Lebih baik aku tenangkan diri dulu selagi mandi!” gumamnya sembari berusaha mengalihkan perhatian, dan fokus pada apa yang ia harus lakukan sekarang. Tiga puluh menit berlalu terasa cepat. Zelda baru selesai membersihkan dirinya dan kini tubuhnya berbalut kimono handuk yang sudah tersedia sejak awal. Meski beberapa bagian tubuhnya masih terasa perih dan berdenyut, setidaknya ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Ketukan pintu terdengar saat gadis itu tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk, Zelda menoleh dan berjalan ke asal suara. Saat pintu terbuka, Noah terlihat di baliknya sambil membawa kantong belanja yang kelihatannya ia baru saja membeli sesuatu. “Aku sudah belikan pakaian untukmu. Kalau sudah selesai dengan urusanmu, keluarlah. Kita makan malam bersama jika kau lapar.” Noah melihat jam tangan singkat sebelum kembali menoleh. “Meski … sekarang sudah sangat larut.” Zelda sedikit membelalak dan tertegun bersamaan. ‘L-Logo di kantong belanjaannya? Ini kan … dari salah satu Brand termewah di dunia fashion?!’ pikirnya terkejut. “U-Untukku?” tanyanya gagap “Untuk siapa lagi? Terima lah.” Sahutnya enggan. Zelda mengerjap berkali-kali sambil ragu-ragu menerima kantong belanjaan dari tangan besar Noah. Tak lama, perasaan Zelda kembali waspada. Entah mengapa Zelda takut Noah membeli pakaian yang tidak senonoh mengingat sifatnya yang begitu obsesif padanya. Zelda mengerjap dengan wajahnya yang menegang. “Ku-Kuhargai kebaikanmu sejak tadi, Pro—” “Noah,” potongnya cepat dengan penuh penekanan. Zelda memejamkan mata beberapa detik, “Baik … Noah. Dan sekali lagi, terima kasih banyak.” “Jadi, kau ingin makan malam atau tidak?” Tanyanya lagi dengan nada tak sabaran. Zelda mendengus kesal dengan tingkah pria di depannya yang sulit ditebak. “Susu saja. Itu cukup,” “Susu?” Noah menggeleng pelan tak menyangka dengan permintaan Zelda yang baginya kekanakan. Zelda mengernyit sambil mendengus kesal. “Ada yang salah dengan itu, Noah?” Noah menggeleng cepat. “Tidak. Aku bukannya meremehkan atau mengejek permintaanmu itu. Jangan salah sangka.” Beberapa detik, hening menyergap di antara mereka setelah tawa kecil Noah menghilang. Zelda berbalik sambil menutup pintu tanpa memberi kesempatan Noah untuk berbicara. Ia menghela napas dan melanjutkan aktivitasnya di kamar tamu yang sempat tertunda karena gangguan kecil dari Noah, meski pria itu punya niat baik—tapi hanya di luar, menurutnya. Ada firasat aneh yang menggerogotinya sebagai peringatan bahwa ia seharusnya tak terlalu mempercayai Noah, yang baginya dia adalah sang penyiasat ulung. Ia dengan hati-hati membongkar isi kantong belanjaan yang berlogo brand mahal. Mata Zelda membulat karena terkejut saat melihat pakaian baru yang Noah belikan untuknya. “I-ini kan …?” Ternyata isinya tiga set pakaian baru untuknya, yang gadis itu tahu merupakan edisi terbatas di musim gugur ini. Salah satu setnya adalah piyama untuk tidur malamnya nanti. Dan dua lainnya adalah pakaian yang terlihat nyaman untuk dipakai sehari-hari, beserta long coat yang begitu elegan dan modern. Zelda mulai memakai piyama barunya dan mulai duduk di tepi ranjang yang lembut. Sentuhan kainnya terasa hangat dan nyaman di kulit, berbeda jauh dari seragam barista yang tadi terasa lengket dan kotor. Di balik pintu, sosok Noah masuk dengan ekspresi khasnya—tenang, namun kali ini disertai hembusan napas lelah. Di tangannya, ia membawa nampan berisi segelas susu dan beberapa perlengkapan pertolongan pertama untuk luka. Saat ia menaruh di nakas, Noah menoleh. “Aku obati lukamu lagi, sebelum itu menjadi infeksi.” “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya pelan, mencoba menyamarkan kegugupannya ketika Noah duduk tak jauh darinya, kemudian menatapnya lekat-lekat. “Aku sedang memastikan kau benar-benar baik-baik saja.” Keheningan kembali merambat. Hanya terdengar suara detak jam dinding dan gesekan lembut kain piyama yang dikenakan Zelda saat ia mengubah posisi duduknya. Noah menarik napas dalam sebelum akhirnya bersuara lagi. “Hei …” panggilnya lirih. Zelda menatap, sedikit waspada. “Apa lagi?” Pria itu menunduk, lalu menatap lurus ke matanya. “Kau tahu, aku tidak menyesal menemuimu malam itu.” Deg. Zelda spontan menegakkan tubuhnya, jantungnya seolah berdetak dua kali lipat. “A-Apa maksudmu?” Wajahnya tetap tenang tapi suaranya terdengar berat. “Malam di klub itu. Malam saat pertama kali kita bertemu.” Zelda menelan ludah. “Itu hanya kebetulan. Dan aku lebih memilih tidak mengingatnya.” Noah menyipit. “Sayangnya, aku justru mengingatnya terlalu jelas.” Udara di antara mereka seakan menegang. Zelda menaruh segelas susunya yang masih tersisa di nakas tepat di samping Noah, mencoba mengakhiri pembicaraan. “Sudah malam. Aku ingin tidur.” Namun sebelum Zelda hendak bangkit berdiri, Noah menyergap lengan Zelda tiba-tiba, “Kalau aku bilang … pertemuan itu bukan kebetulan, kau akan percaya?” Zelda berhenti seketika. Tubuhnya menegang. “... A-apa?” Belum sempat ada jawaban, Noah menarik lengan Zelda hingga tubuhnya limbung jatuh ke ranjang dan disusul oleh Noah yang menimpa di atas tubuh Zelda—begitu agresif hingga tak sadar kedua tangan Zelda dikunci ke atas kepalanya dengan tangan besar Noah. Zelda terperanjat kaget hingga ia panik oleh sikap Noah yang tiba-tiba berubah. Ia melihat kedua mata tajam Noah menggelap seketika. Noah mendekatkan wajahnya lalu pergerakannya terhenti ketika bola matanya beralih ke kedua buah dada gadis itu. Noah kembali membuka suara yang kali ini dengan bisikan tajamnya sambil menyeringai. “Atau … kau memang tidak percaya sama sekali dengan yang kukatakan?”Haii Gengs! Bantu support ogut dengan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar supaya ogut lebih semangat berkarya ya! Makasih ^^
“Tembak Noah Grimm di tempat umum. Buat panik. Buat Zelda Lynn takut.” Ucap Elena pelan.Noah menegang. Rahangnya mengeras.“Tapi,” lanjut Daniel, “dia tidak tahu siapa pemberi perintah utama. Hanya tahu kode nama: ‘C.V.’”Noah tertawa kecil—tawa tanpa humor. “Christopher Vayne.”Daniel mengangguk. “Kami sudah kirim surat penangkapan internasional. Semua bandara, pelabuhan, perbatasan—dia dalam radar.”Elena menambahkan. “Dan berkat penangkapan Victor Kane oleh tim Anda, kami punya bukti fisik. Senapan, peluru, komunikasi. Ini cukup untuk menjeratnya atas percobaan pembunuhan.”Noah menutup map itu pelan. “Berapa lama sampai dia ditangkap?”Daniel tersenyum tipis—senyum profesional. “Dengan kecepatan ini? Beberapa hari. Maksimal seminggu.”Noah mengangguk. “Bagus.” Ia menatap mereka berdua lama. “Terima kasih.”Elena menggeleng. “Kami yang terima kasih. Anda memberikan bukti yang kami butuhkan bertahun-tahun.”Daniel bangkit, diikuti Elena. “Kami akan hubungi lagi kalau ada perkembang
“Tuan, penembak sniper sudah kami tangkap.”Noah perlahan melepaskan pelukannya dari Zelda. Tangannya sempat tertahan di bahu gadis itu—sejenak, seolah memastikan ia benar-benar baik-baik saja—sebelum akhirnya menjauhIa menekan nomor dengan cepat. Nada sambung terdengar singkat di telepon.“Ya, Tuan,” suara di seberang terdengar tegas. Salah satu bawahan Halden.Noah melangkah sedikit menjauh dari kaca ICU, menurunkan suaranya.“Penembaknya?” tanya Noah langsung, suara rendah tapi tajam.“Sudah kami amankan, Tuan. Namanya Victor Kane. Mantan tentara bayaran—rekam jejaknya panjang. Dia disewa melalui perantara.”Noah menegang. “Bukti?”“Ada. Ponselnya, transfer uang, komunikasi terenkripsi. Semua mengarah ke Christopher Vayne.”Noah menghembuskan napas pendek. “Baik. Urus dia dan serahkan langsung ke Interpol.”Ada jeda sepersekian detik. “Kami punya kontak agen Interpol yang menangani kasus Vayne, Tuan. Sudah siap dihubungi.”“Bagus,” jawab Noah singkat. “Nanti malam aku ke sana.”Na
Zelda masih terpaku di kursi rodanya. Pandangan gadis itu tertuju pada satu sosok di kejauhan—Noah. Berdiri di dekat coffee truck, dikelilingi mahasiswa yang tertawa, dan secangkir kopi di tangannya. Wajahnya tenang, seolah dunia memang seharusnya sesederhana itu. Hangat, normal.Dan Aman.Zelda menghela napas pelan tanpa sadar. Dadanya terasa penuh oleh perasaan yang sulit ia namai.Lalu—Ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya bergetar aneh.Noah sedikit memiringkan kepala. Tangannya naik ke telinga. Baru saat itu Zelda menyadari—ada earbuds kecil terpasang di telinga Noah.Sejak kapan …?Noah tidak bicara. Tapi, rahangnya mengeras. Tatapan matanya berubah—bukan panik, melainkan fokus yang tajam dan siaga.Perasaan tidak enak menghantam Zelda seketika.“Kenapa …?” gumam Zelda lirih.Belum sempat ia memahami apa pun—“Tuan Noah! Awas!!”Suara teriakan keras memecah udara hingga Zelda tersentak.Dari arah kiri halaman kampus, seorang pria berlari cepat—terlalu cepat untuk pria set
Kevin berdiri tegak di atas atap van yang dimodifikasi itu, satu tangan masih terangkat. Senyumnya santai, tapi cukup percaya diri untuk menarik perhatian ratusan pasang mata. Beberapa detik hening berlalu. Lalu, bisik-bisik mulai menjalar seperti riak air. “Eh, itu siapa?” “Kenapa ada coffee truck …?” “The Daily Grind? Bukannya itu kedai terkenal di dekat sini?” “Temannya Zelda, ya?” “Seriusan? Bagi kopi di kampus?” “Ini acara apa, sih?” Zelda sendiri justru paling kebingungan. Ia menatap logo The Daily Grind di sisi van itu lama, alisnya berkerut halus. Jantungnya berdegup tidak sinkron. Sejak kapan …? Kevin punya coffee truck? Selama ia bekerja shift dulu—menutup kedai, menyeduh kopi, dan melayani pelanggan sampai larut malam—Kevin tak pernah sekalipun menyebut soal ini. Tidak ada bocoran, tidak ada rencana, maupun tidak ada isyarat sekalipun. “Apa yang aku lewatkan …?” gumam Zelda berbisik. Sebelum pikirannya semakin liar, suara tepuk tangan tunggal terd
Mobil berhenti tepat di depan gerbang utama. Zelda menatap keluar jendela, mata membulat perlahan—seolah tak percaya apa yang dilihatnya.Ratusan mahasiswa berdiri berbaris rapi di dua sisi jalan setapak menuju gedung fakultas. Mereka memegang spanduk kecil berwarna putih dengan tulisan tangan ….“WELCOME BACK, ZELDA!”“MAAFKAN KAMI.”“KAU INSPIRASI KAMI.”Dan spanduk besar di tengah bertuliskan ….“SELAMAT DATANG KEMBALI, ZELDA LYNN!”Bunga-bunga segar—mawar putih, lily, dan daisy—digantung di pagar dan dipegang oleh mahasiswa. Udara sore dipenuhi aroma bunga yang manis, bercampur suara tepuk tangan pelan yang mulai bergema saat mobil berhenti.Zelda menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung menggenang.Noah membuka pintu mobil, lalu mendorong kursi roda Zelda keluar dengan hati-hati. Zara mengikuti di belakang, matanya berkaca-kaca tapi senyumnya lebar.Begitu Zelda muncul, tepuk tangan meledak.“Zelda!!”“Selamat datang!!”“Maafkan kami!!”Suara-suara itu bercampur—ada yang
“Zelda …” suara Michael parau, rendah. “Terima kasih sudah mau datang.”Zelda tidak langsung menjawab. Ia menatap pria itu lama—mencari sesuatu di wajah yang selama ini hanya jadi bayangan buruk di cerita ibunya.Michael menelan ludah. “Aku … tidak tahu harus mulai dari mana.”Zelda mengangguk pelan. “Mulai dari mana saja, Sir.”Michael tersenyum kecil—pahit. “Aku sudah gagal sebagai ayah. Untuk Noah. Untuk Noelle.”Zelda menegang. Zara di sampingnya diam saja, tapi tangannya menggenggam tangan Zelda lebih erat.Michael menghela napas panjang dengan suara rendah yang tercekat. “Sebelas tahun yang lalu ….”Ia mulai melanjutkan. “Selama ini, aku tahu semua yang terjadi di St. Andrews,” lanjut Michael pelan. “Aku tahu Noelle yang sebarkan rumor itu. Aku tahu itu salah. Tapi aku diam—karena takut kehilangan kontrak Vayne.”Suara itu bergetar halus. “Aku pilih uang daripada kebenaran. Daripada martabat seorang wanita yang tidak bersalah.”Ia mengangkat wajahnya, mata berkaca-kaca. “Dan sek







