Home / Romansa / Obsesi Dosen Tampan / 7. Di Kediaman Sang Dosen.

Share

7. Di Kediaman Sang Dosen.

Author: Amaleo
last update Last Updated: 2025-11-14 10:00:51

Begitu pria itu berjalan menjauh menuju dapur, pandangan Zelda perlahan berkeliling ruangan. Barulah ia sadar—ini bukan sekadar apartemen biasa. Ini adalah Penthouse milik Noah.

Tempat tinggal Noah tampak begitu rapi dan mahal, seolah setiap detailnya sengaja dipilih untuk menegaskan status pemiliknya.

“Ini … tempat tinggalnya?” gumamnya berbisik pelan.

Tak lama, Noah kembali dengan segelas air dan kotak P3K di tangannya. Ia meletakkannya di meja kaca di depan sofa.

“Ini untukmu,” ucapnya singkat. Suaranya terdengar datar, tapi tatapannya tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kekhawatiran. “Kau bisa anggap tempat ini seperti rumah sendiri.”

Zelda mengangguk pelan dengan tubuhnya masih bergetar. “Terima kasih,” bisiknya pelan, menunduk.

Noah menghela napas pendek sambil duduk di samping Zelda, lalu membuka kotak P3K di hadapannya.

Gerakannya teratur, hati-hati, seperti seseorang yang sudah terbiasa menangani luka orang lain—tapi kali ini ada sesuatu yang lain di matanya.

“Kemari lah, aku mau obati sudut bibirmu itu.”

Zelda sempat ragu, tapi akhirnya menuruti ucapan itu. Ia mencondongkan tubuh perlahan, cukup dekat hingga bisa merasakan aroma maskulin yang khas milik Noah.

Noah mengambil kapas, menuangkan cairan antiseptik, lalu mengusap lembut luka di sudut bibirnya.

Zelda meringis kecil, menahan perih.

“Sedikit lagi,” gumam Noah pelan tanpa menatapnya langsung. “Tahan sebentar.”

Suara itu rendah, namun menenangkan. Ada nada tanggung jawab di dalamnya—dan juga sesuatu yang sulit dijelaskan.

Begitu selesai, Noah menempelkan plester kecil di bibir Zelda, lalu memeriksa lagi jika ada luka lain di tubuh Zelda.

“Ada lagi yang terluka?”

Zelda mengerjap pelan. Tatapannya terarah ke pergelangan tangannya—bekas lilitan rafia yang meninggalkan garis kemerahan di kulitnya. Ia tidak berkata apapun, hanya menatap dengan diam.

Tanpa perlu penjelasan, Noah mengikuti arah pandangnya. Seketika ia paham.

“Oke,” ucapnya rendah, nyaris seperti bisikan dalam. “Sebentar.”

Ia mengambil kasa steril dan cairan antiseptik dari kotak itu. Gerakannya pelan, seolah takut membuatnya semakin gugup.

Cairan antiseptik menyentuh kulit yang memerah di pergelangan tangan gadis itu. Zelda tersentak kecil, napasnya tercekat.

“Sedikit perih,” ucap Noah pelan, hampir seperti bisikan permintaan maaf.

Gadis itu mengangguk tanpa berani menatapnya. Suara detak jam dinding terasa begitu jelas di antara mereka.

Untuk beberapa detik, hanya bunyi kapas yang menggesek kulit Zelda yang terdengar—dan entah mengapa, keheningan itu terasa jauh lebih berat daripada kata-kata.

Setelah semua sudah diobati, Noah menutup kotak P3K dengan satu gerakan tenang, lalu menarik napas pelan.

“Sudah,” katanya, suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya. “Kau cukup beristirahat malam ini. Aku akan siapkan pakaian bersih dan selimut.”

Zelda menatap tangannya yang kini sudah dibalut rapi. Ada kehangatan aneh yang tersisa di sana—bukan hanya dari perban, tapi juga dari sentuhan yang terasa terlalu hati-hati untuk disebut sekadar kebaikan dari seseorang.

“Terima kasih,” ucapnya nyaris tak terdengar.

Noah berdiri, menatap gadis itu sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju kamar sebelah.

“Jangan terlalu banyak berpikir hal yang tak penting dulu malam ini,” ujarnya tanpa menoleh. “Cukup tenangkan dirimu, kau aman di sini.”

Noah beranjak untuk meninggalkan Zelda sebentar sebelum langkahnya berhenti tiba-tiba oleh suara Zelda.

“K-Kau–!” panggil Zelda terputus.

Noah menoleh, alisnya berkerut sebentar, sebelum senyum kecilnya merekah—ejekan tipis yang familiar. Ia kembali menjadi Noah yang Zelda kenal: licik, obsesif dan pengontrol.

Tapi di balik dominasi itu, ada secercah kelegaan yang tak bisa ia sembunyikan. Zelda menangkapnya tanpa sadar, membuat dadanya berdebar.

“Ada yang ingin kau katakan? Aku kira kau akan terus membisu seperti tadi,” ucap Noah, suaranya rendah tapi menantang.

Zelda menelan ludah berat, tubuhnya masih gemetar saat berdiri dari sofa. Pikirannya berkecamuk antara bingung, takut, dan merasa aman dalam waktu bersamaan. Ia akui, kali ini Noah bersikap lebih perhatian dan lembut dari biasanya.

Noah yang ia kenal adalah pria dengan ego setinggi langit—dingin, pengontrol, dan nyaris tak memberi ruang bagi siapapun untuk menebak isi hatinya. Tapi malam ini terasa berbeda.

Ada sesuatu dalam caranya memperlakukan dirinya yang membuat Zelda goyah, seolah tembok yang ia bangun perlahan retak tanpa izin.

Ia ingin percaya bahwa sikap itu bukan sekadar bentuk kasihan, tapi bagian kecil dari sisi Noah yang manusiawi—yang mungkin selama ini disembunyikannya di balik tatapan tajam itu. Dan di saat yang sama, ia benci dirinya karena membiarkan perasaan itu tumbuh, bahkan sebelum tahu alasan di balik kebaikan itu.

Zelda menggeleng kepala pelan, “T-Tidak. Bukan apa-apa,” jawabnya dengan nada tercekat.

Zelda kembali melirik Noah, kedua mata tajam pria itu terlihat seperti menangkap sesuatu di pandangannya. Ia lantas berjalan mendekati Zelda sebelum tangannya bergerak cepat, menarik lembut pada syal yang menutupi leher Zelda seharian.

Zelda terlambat menghentikannya, hingga syal itu terlepas, dan tatapan Noah langsung tertuju pada bekas ungu kemerahan yang sengaja ia tanam tadi pagi.

Noah membeku sejenak sebelum memejamkan matanya sambil menggeram pelan. “Astaga …”

Noah membopong tubuh ringan Zelda, hingga gadis itu menjerit kecil.

‘Apa yang dia mau lakukan padaku? Jangan bilang ….’, batin Zelda dengan perasaan terlalu cemas.

Sesampai di sebuah kamar, Zelda di dorong ke sebuah ranjang berukuran King Size. Gerakan pria itu sangat efisien dan cepat saat tangannya sudah meraih sesuatu sebelum dikeluarkan.

Zelda mengerjap dengan ekspresi panik yang sulit dijelaskan. Firasat buruk yang menghantui gadis itu sepertinya akan terjadi malam ini.

“I-ini … apa?” Tanya Zelda polos.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-159. Takut Terulang Lagi.

    Zelda menelan ludah berat, napasnya tercekat beberapa detik. Noah hanya menatap lurus pada Zara. Napasnya tersendat sepersekian detik. Zara melanjutkan dengan nada yang di tekankan perlahan. “Tidak ada lagi sentuhan kecil yang bisa disalahartikan. Kalau kalian harus bicara, lakukan lewat pesan atau telepon. Kalau harus ketemu, ketemu di luar kampus. Di tempat yang tidak ada mahasiswa.” Noah mengangguk tanpa protes. “Aku mengerti.” Zelda menatap ibunya. “Mom, aku sedang banyak ujian dan proyek riset essay. Kalau aku tiba-tiba menjauh dari Noah sepenuhnya … orang mungkin curiga juga.” Zara mengangguk. “Itu benar. Makanya kau tidak perlu menjauh sepenuhnya. Kau hanya perlu menjaga jarak fisik di lingkungan kampus. Tetap profesional. Tetap seperti mahasiswi biasa yang berinteraksi dengan Ketua Yayasan kalau memang ada urusan resmi.” Noah menambahkan pelan. “Aku akan batasi kehadiranku di area fakultas. Rapat dengan dosen atau mahasiswa bisa via online kalau memungkinkan.”

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-158. Jangan Mendekat di Kampus!

    Sore itu cahaya matahari sudah condong ke barat, menyelinap melalui jendela besar ruang Ketua Pembina Yayasan. Ruangan terasa lebih sepi dari biasanya. Noah duduk di balik meja kayu gelap saat ia membaca laporan terakhir hari itu. Pintu terbuka tanpa ketukan. Zara masuk dengan langkah mantap, blazer hitamnya masih rapi meski hari sudah panjang. Ia menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Noah mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu dengan mata Zara. “Zara,” sapanya singkat, sudah berdiri setengah jalan dari kursi. “Ada apa?” Zara tidak langsung duduk. Ia berjalan mendekat ke meja, tangannya menyentuh tepi kayu sejenak sebelum akhirnya menarik kursi tamu dan duduk tegak. “Aku baru saja bertemu Ariana,” katanya tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi ada nada dingin yang Noah langsung kenali—nada yang muncul saat Zara sedang menahan amarah atau kekhawatiran besar. Noah menegang pelan. Ia kembali duduk, tangannya terlipat di atas meja. “Dia datang ke ruanganku siang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-157. Polisi Moral.

    Siang hari di kampus terasa cukup melelahkan setelah jam mengajar selesai. Zara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca baris demi baris yang terpampang.Sejak semalam, Zara merasakan firasat aneh dan tak asing yang kembali mengetuk pelan, perasaan yang dulu sering muncul sebelum sesuatu akan terjadi.Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.“Masuk,” ucapnya tenang.Pintu terbuka perlahan. Seorang mahasiswi berdiri di ambang, rapi, berkacamata, tegak, dengan map tipis di tangan. Zara mengenalnya. Bukan karena prestasi semata, melainkan karena cara gadis itu membawa dirinya.“Ariana,” kata Zara, bukan bertanya.Ariana tersenyum sopan. “Selamat pagi, Professor Zara. Maaf mengganggu waktu Anda.”Zara menunjuk kursi di seberangnya. “Silakan duduk.”Ariana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Ia duduk tanpa gelisah, meletakkan map di pangkuannya. Tidak terburu-buru. Tidak gugup.Zara mengamati semuanya dalam diam.“Jadi

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-156. Hanya Sekadar Usapan Kepala.

    Zelda menarik napas pelan. Ada denyut kecil di dadanya, refleks lama yang ingin mundur satu langkah, menghindar. Tapi suara Zara tadi pagi terlintas begitu jelas di kepalanya. Jangan takut. Ia mengangkat wajahnya kembali. Bahunya yang sempat menegang kini diturunkan perlahan, seolah ia sedang mengingat cara berdiri yang benar. “Iya,” jawab Zelda akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar. “Dari pacar.” Untuk pertama kalinya sejak duduk di hadapannya, Ariana tampak sedikit terkejut. “Oh ….” Nada itu keluar terlalu singkat, nyaris lolos begitu saja. Senyum tipis yang tadi bertahan di sudut bibirnya meredup sepersekian detik. Matanya bergerak cepat, seperti seseorang yang sedang menimbang ulang langkah berikutnya. Zelda menangkap keraguan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, telapak tangannya terasa dingin, tapi ia tidak mundur. Justru kali ini, ia yang bergerak lebih dulu. “Ada apa?” Ariana mendongak. Zelda menyambung, suaranya tetap terkontrol, meski ada nada ujung yang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-155. Pedang Bermata Dua.

    Esok harinya. Diperjalanan menuju kampus, Zelda duduk di kursi penumpang belakang bersama Zara. Mereka seperti biasa diantar oleh pengawal Noah yang selalu siap siaga. Namun, Zelda tak banyak bicara sejak pembicaraannya semalam dengan Noah. Belum lagi dengan isi pesan singkat dari Sarah yang masih mengganggu pikirannya, hingga ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Ia merasakan firasat yang tak enak, tapi ia terus menahannya hingga Zara menyadari raut wajah anaknya yang tidak ada rona cahaya sama sekali. Wajah Zelda terus muram, tegang, dan kedua alis sedikit mengerut. Zara akhirnya bertanya di sampingnya. Nadanya datar, tapi ada kekhawatiran disana. “Kau kenapa, Zelda?” Zelda tersentak kecil dan menoleh ke Zara. Bibirnya dipaksakan untuk tersenyum. “Tak apa, Mom. Hanya sedikit masalah yang mungkin … sejak awal aku sadari resikonya.” Zara seketika menunduk sambil tersenyum kecil. “Resiko karena menjalin hubungan dengan Noah?” Zelda terdiam sebelum akhirnya mengangguk, denga

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-154. Ariana Kepo.

    Sarah tidak langsung menjawab. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pikirannya sudah berlari terlalu jauh. Suara Ariana di seberang sana terdengar terlalu tenang untuk sekadar pertanyaan iseng. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” Sarah akhirnya balik bertanya, berusaha terdengar santai. Di seberang, Ariana terkekeh kecil. “Aku cuma penasaran.” “Kampus penuh gosip,” lanjutnya ringan, seolah membicarakan cuaca. “Dan Zelda … sejak awal sering jadi pusat perhatian. Aku khawatir.” Sarah menghela napas pendek. “Dia memang dikenal karena prestasinya. Dia juga penerima beasiswa. Kalau soal keterlibatannya dengan Prof Noah—” “Kau sudah keceplosan dua kali dengan wajah sumringah itu, Sarah,” potong Ariana cepat. “Aku hanya ingin tahu hubungan mereka. Itu saja.” Sarah menelan ludah berat, jantungnya berdegup cepat dari biasanya. Dalam benaknya, ia merasa ceroboh dan bodoh pada dirinya sendiri. Di waktu bersamaan pula, ia merasa semakin tak enak hati pada Zelda. Sarah akhirnya bertanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status