Mag-log inPintu taksi bahkan belum mengatup sempurna ketika Kenzo melompat keluar, menerobos pintu kaca lobi rumah sakit.Matanya bergerak liar menautkan pandangan ke meja informasi.“Permisi! Pasien atas nama Ellena... di mana ya?”Petugas medis itu mendongak, mengamati raut panik di wajahnya.“Ellena?”“Ya, Ellena—” Kenzo tertahan sejenak, menelan ludah sebelum menyebutkan nama lengkap atasannya. “Dia baru masuk. Kondisinya mau melahirkan.”Jemari petugas menari cepat di atas papan ketik.“Pasien sudah dipindahkan ke unit bersalin.”“Lantai berapa? Sebelah mana?” potong Kenzo tak sabar.Petugas itu menunjuk ke arah koridor utama.“Lurus saja, lalu belok kiri. Tapi mohon tunggu di luar, Anda tidak bisa sembarangan masuk tanpa izin tim medis.”Kenzo mengangguk cepat tanpa menyimak penuh."Grazie!"Ia mengayunkan langkah setengah berlari menyusuri koridor steril yang berbau antiseptik menyengat.Langkahnya terhenti mendadak saat seorang dokter wanita berseragam hijau keluar dari salah satu ruang
Kenzo melangkah cepat menerobos pintu keluar butik tanpa membeli satu pun belanjaan.Otaknya masih berontak menolak fakta yang baru saja tertangkap matanya.Kecurigaan Ellena... ternyata tepat sasaran.Mahesa benar-benar sedang memadu kasih dengan Malhera. Bukan sekadar gestur rekan bisnis yang kaku, melainkan dua insan yang terikat gestur intim. Tawa renyah dan kemesraan mereka saat memilih barang memupus seluruh keraguan di kepala Kenzo.Doktrin Irfan yang tempo hari terdengar gila, kini mewujud jadi kenyataan pahit."Gila... Mahesa beneran main gila di belakang Ellena?" batin Kenzo mengutuk.Langkahnya kian terburu meninggalkan area belanja itu. Namun sesaat sebelum memutar sudut jalan, ia menyempatkan diri melirik ke belakang.Di balik dinding kaca butik transparan, Mahesa dan Malhera masih tampak larut menikmati momen berdua.Kenzo menghembuskan napas berat yang tertahan di dada."Sekarang harus gimana? Haruska fakta busuk ini disampaikan ke Ellena sekarang?"Dengan pikiran bertu
Ellena melempar tasnya begitu saja ke atas meja.Perjalanan panjang menuju Milan benar-benar menguras tenaganya. Ia melangkah lelah mendekati jendela, menyibak tirai sedikit untuk mengintip lanskap kota dari ketinggian.Namun, langkahnya mendadak terkunci.Dada Ellena mendadak tertekan, disusul rasa nyeri tajam yang menusuk singkat di balik tulang rusuknya.Refleks, jemarinya meremas kain baju di bagian dada.“Kenapa, ya? Tiba-tiba sesak begini...”gumamnya pelan, keningnya berkerut.Rasa tidak nyaman itu datang tanpa permisi. Bukan sakit yang luar biasa melumpuhkan, melainkan sengatan halus yang sanggup membuat fokusnya mendadak buyar.Ellena memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam untuk menata detak jantungnya yang meninggi.“Mungkin memang cuma kecapean.” Ia menggeleng pelan, berusaha menepis firasat buruk itu.Sayang, beberapa detik berselang, sengatan halus itu merayap kembali.Tanpa bisa ditahan, bayangan Mahesa mendadak terlintas begitu saja di kepalanya. Ellena berganti men
Setelah menempuh penerbangan lintas benua yang memeras tenaga, roda-roda pesawat yang membawa Ellena dan Kenzo akhirnya menyentuh landasan Bandara Milan Malpensa, Italia.Begitu jet besar itu melambat di runway, Ellena menghembuskan napas lega yang panjang. Tubuhnya terasa kaku dan pegal akibat terperangkap belasan jam di dalam kabin. Ia menyandarkan punggungnya, lalu mengusap pelan perutnya.“Kita udah sampai, Bu,” bisik Kenzo lirih seraya mencuri pandang ke sisinya.Ellena menoleh, mengulas anggukan tipis.“Iya.”Denting tanda kenakan sabuk pengaman mati, dan para penumpang mulai memadati lorong. Kenzo berdiri sigap merengkuh bagasi kabin mereka dari kompartemen atas, sementara Ellena menunggu dengan sabar sampai kerumunan sedikit terurai.“Pelan-pelan aja, Bu,” wanti Kenzo begitu mereka melangkah menyusuri garbarata. “Nggak usah buru-buru, jalan santai aja.”Mereka mengekor alur petunjuk arah menuju konter imigrasi. Setelah berdiri dalam barisan antrean beberapa saat, Ellena dan K
Pesawat akhirnya lepas landas, pelan-pelan menanjak membelah hamparan awan.Di dalam kabin, suasana mendadak lengang. Beberapa penumpang mulai menyandarkan kepala untuk tidur, menyisakan deru mesin pesawat yang terdengar konstan mengisi keheningan.Ellena duduk bersandar di dekat jendela.Sejak roda pesawat meninggalkan landasan, bibirnya terkunci rapat. Matanya cuma tertuju ke luar, menatap gumpalan awan putih yang membentang luas di bawah sana.Sesekali, napas berat lolos dari celah bibirnya.Kepalanya masih bising oleh bayang-bayang Mahesa.Jemari Ellena saling meremas cemas di atas pangkuan. Ia mengalihkan pandangan lagi ke balik kaca jendela, mencoba mengurai sesak di dadanya.Di sebelahnya, Kenzo hanya bisa mengamati dalam diam.Ada beberapa kali dorongan untuk membuka suara, tapi niat itu selalu ia urungkan. Wajah murung Ellena benar-benar membuatnya serbasalah. Ia bingung harus mulai bertanya, mencoba menghibur, atau malah membiarkan perempuan itu tenggelam dalam pikirannya se
Tak butuh waktu lama, sedan milik Kenzo sudah terparkir mulus di pelataran gedung NTV.Begitu menginjakkan kaki di lantai marmer lobi, ia langsung menyambungkan panggilan telepon ke Ellena.“Bu, saya sudah sampai di lobi.”“Langsung naik ke atas, Ken. Saya tunggu di ruangan.”“Baik, Bu.”Kenzo mengantongi ponselnya kembali, lalu mengayunkan langkah lebar menuju jajaran lift executive.Denting halus menandai berhentinya lift di lantai teratas. Pintu stainless bergeser terbuka, dan Kenzo bergegas memangkas jarak menuju ruang kerja atasannya.Tok. Tok.“Masuk.”Kenzo mendorong pintu tebal itu. Ellena tampak sudah berdiri anggun di sisi meja kerjanya, menyandang sebuah handbag bermerek di lengan.“Barang-barang kamu sudah siap?”“Sudah, Bu.” Kenzo mengangguk patuh, meski guratan bingung masih terpatri di wajahnya. “Tapi jujur... saya masih bingung untuk apa kita ke Italia?"Ellena menatapnya sekilas, memilih mengabaikan raut penasaran itu.“Nanti saya beberkan semuanya di perjalanan. Yang







