Halim mengangkat tangannya. "Tidak, cukup. Saya mau pulang." Ia beranjak meninggalkan tempat itu. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya limbung. Pandangannya mengabur, lalu ia ambruk ke lantai, ia baru terbangun keesokan harinya dengan kepala yang pening dan penyesalan mendalam. Namun, di tengah keputusasaannya untuk menyelamatkan NTV, sebuah nama terlintas di kepalanya: Kenzo. Dua hari kemudian, ia sudah berada di bandara, bersiap menempuh penerbangan menuju Jepang. Rasa lelah setelah berjam-jam di pesawat akhirnya terbayar begitu ia menginjakkan kaki di Negeri Sakura tersebut.Sore itu, angin musim gugur berembus kencang, menyapu tribun sebuah stadion besar. Lampu-lampu sorot berskala raksasa sudah menyala, menerangi lapangan baseball dan menciptakan siluet para pemain yang sedang bergerak cepat di tengah lapangan.Halim duduk di antara barisan penonton yang riuh, menatap ke arah lapangan dengan senyum tipis. Jujur saja, ia sama sekali tidak paham aturan main baseball. Namun, ia
Terakhir Diperbarui : 2026-07-14 Baca selengkapnya