Home / Romansa / Obsesi Gila Tuan Baskara / Bab 2 Kontrak Eksklusif

Share

Bab 2 Kontrak Eksklusif

last update publish date: 2026-10-01 12:43:19

Sebelum Aura berdiri di podium megah itu sebagai asisten yang gemetar, ia adalah seorang perempuan pintar dalam bisnis. Setidaknya, begitu pikirnya.

Dua minggu sebelum wawancara, di sebuah rumah kontrakan sempit yang berbau lembab di pinggiran kota, Aura menatap pantulan dirinya di cermin yang retak.

Di kamar sebelah, ayahnya terbaring lemah dengan selang oksigen, sementara ibunya meratap tanpa suara sambil menghitung sisa uang lembaran.

Reno, suaminya, sudah menghilang entah kemana setelah membawa lari sisa tabungan mereka untuk membayar bunga hutang pada rentenir.

Aura tidak menangis.

Jemarinya yang lentik menyisir rambut hitamnya, sementara matanya menyalang penuh kebencian menatap lembaran dokumen di atas meja kerja.

Profil perusahaan Aditya Holdings dan foto sang CEO, Baskara Aditya.

“Kau menghancurkan keluargaku, Baskara,” bisik Aura pada kegelapan malam, mengoles lipstik merah menyala ke bibirnya, sebuah warna yang ia pilih sebagai lambang perang.

“Kau pikir bisa bersembunyi di balik jas mahalmu? Aku akan merangkak masuk ke hidupmu, menemukan setiap borokmu, dan menyeretmu ke neraka bersamaku.”

Kini, Aura berdiri di dalam ruang wawancara lantai teratas gedung Aditya Holdings.

Ruangan itu luas, minimalis dan sepenuhnya kedap suara.

Dindingnya dilapisi kaca gelap satu arah yang memperlihatkan tampilan kota Jakarta dari ketinggian.

Aura sengaja memilih pakaian yang berani hari ini, sebuah terusan ketat dengan potongan dada rendah yang mengekspos kulit mulusnya, serta belahan rok yang sangat tinggi hingga ke paha.

Ia melangkah masuk, berlenggok sensual dengan ritme yang sengaja diperlambat.

Setiap ketukan sepatu hak tingginya sengaja dirancang untuk memecah keheningan ruangan.

Ia mendekati meja Baskara, menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi melalui tatapannya.

Aura tersenyum tenang, condong ke depan di hadapan meja kerja kayu mahoni coklat milik sang CEO, mengasumsikan bahwa Baskara adalah tipe pria berkuasa yang mudah terpengaruh oleh penampilan luar wanita.

Di otaknya, terpeta sebuah keyakinan bahwa pria ini akan mudah goyah begitu dihadapkan pada pesona feminin dan kecantikannya.

“Selamat pagi, Pak Baskara. Saya Aura,” ucap Aura, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar memikat.

Ia mengulurkan tangannya, bergerak lambat mendekati dokumen di atas meja kerja Baskara.

“Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda.” Begitu lembut hingga Aura berpikir kalau ia pasti berhasil mendapatkan hati pria busuk ini.

Namun, respons yang didapatnya jauh dari ekspektasi.

Baskara sama sekali tidak bergeming.

Pria yang mengenakan kemeja hitam dan ditutup oleh jas dengan warna senada itu tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun.

Tatapannya justru sedingin es, menatap Aura dengan ekspresi datar dan penuh selidik.

Baskara bukanlah pria yang mudah dipengaruhi oleh taktik semacam itu. Baginya, strategi Aura sangat mudah dibaca.

Baskara terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang sarat akan ketegasan. Ia memajukan tubuhnya, menepis spekulasi Aura dan menatapnya dengan tajam.

“Kau pikir apa yang sedang kau coba lakukan?” tanya Baskara, suaranya rendah namun bergaung jelas di ruangan kedap suara itu.

“Kau datang ke sini dengan penampilan seperti ini, mengira hal itu bisa mengalihkan perhatianku dari niat aslimu?”

Wajah Aura mendadak pucat.

Kepercayaan dirinya seketika menguap, digantikan oleh rasa tegang yang amat sangat.

Baskara menjatuhkan sebuah map kulit berwarna merah darah ke atas meja dengan ketukan keras.

Brak!

Di bagian atas dokumen itu tertulis dengan huruf kapital yang tegas.

KONTRAK KERJA EKSKLUSIF.

“Reno, suamimu, meninggalkan seluruh informasi tentangmu sebelum dia menghilang,” ucap Baskara berkata dengan begitu tenang, menatap Aura yang mulai tampak cemas.

Pria ini tahu semua latar belakangnya!

“Dia menyerahkan semua data pribadimu untuk menyelesaikan urusannya. Termasuk rencana bodohmu untuk menyusup dan memata-matai perusahaanku.”

Sialan!

Bahkan hal seperti ini pun, Reno juga mengetahuinya. Aura benar-benar menemukan jalan buntu.

Seluruh pertahanan Aura runtuh.

Rasa syok atas situasi ini bercampur menjadi satu.

“Aku tidak butuh pekerja yang fokus pada hal-hal kantoran,” ucap Baskara dingin.

“Kontrak ini menyatakan kau wajib mematuhi seluruh instruksi operasional perusahaan secara penuh, tanpa pengecualian. Ada penalti finansial yang sangat besar jika kau melanggar kesepakatan ini.”

Baskara menyeringai.

Aura menatap klausul itu dengan mata membelalak.

“Apa ini Pak Baskara? Ini tidak adil. Saya tidak akan pernah menandatanganinya!”

Baskara menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap Aura dengan pandangan yang mengunci pergerakannya.

“Kau tidak punya banyak pilihan, Aura," ucap Baskara, suaranya tenang namun menekan.

“Tolak kontrak ini dan detik ini juga aku akan melaporkanmu atas tuduhan spionase industri dan penyusupan ilegal. Dengan bukti-bukti yang ada, tindakan hukum ini akan memastikan kau menghadapi tuntutan berat dan semua fasilitas yang menopang keluargamu akan dihentikan.”

Tidak! Jangan! Bukan ini yang Aura inginkan.

Aura gemetar hebat.

Ruangan kedap suara itu mendadak terasa mencekik. Rencana awal yang ia susun kini justru berbalik menjebak dirinya sendiri di hadapan sang pengusaha.

“Tindakan Anda sangat kejam, Pak Baskara,” desis Aura, menahan amarah yang bergejolak.

“Bisnis adalah bisnis,” jawab Baskara singkat. Ia mendorong sebuah pulpen ke hadapan Aura.

“Tanda tangani. Atau hadapi konsekuensi hukum sebagai mata-mata.”

Dengan tangan yang gemetar, Aura mencengkeram pulpen itu.

Di bawah tekanan situasi yang tidak memihak padanya, ia menggoreskan tanda tangannya di atas kertas tersebut, secara resmi mengikatkan dirinya pada aturan yang dirancang oleh Baskara.

“Bagus!”

Baskara mengambil kembali dokumen itu, memastikan semuanya sah.

“Nerakamu akan dimulai sekarang, Aura!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 8 Dalam Kendali Tuan Baskara

    Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka. Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis. Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura. Brak!!! “Buka,” perintah Baskara dingin. Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan. Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama. Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana. Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 7 Kepatuhan Total

    Malam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa. Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara sal

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 6 Candu Tuan Baskara

    Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.Keheningan yang diciptakan Baskara perl

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 5 Permainan Tuan Baskara

    Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.Sret!Kertas-kertas dokumen di atas mej

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 4 Hak Milik Tuan Baskara

    Malam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total. Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih ber

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 3 Jejak Sang Predator

    “Untunglah aku tepat waktu!”Pagi pertama sebagai properti Baskara Aditya dimulai dengan sebuah kotak beludru hitam besar di atas meja kerja Aura.“Apa ini?” tanya Aura dalam hati. Aura membukanya pelan.Di dalamnya, tidak ada seragam korporat biasa. Baskara telah menyiapkan deretan gaun desainer papan atas, sutra premium berpotongan bodycon yang memeluk setiap senti lekuk tubuh Aura bagai kulit kedua, dengan warna merah marun yang pekat dan berani.Aura masuk ke dalam ruangan Baskara dengan begitu berani menuntut penjelasan.“Maksudnya apa ini, Pak Baskara?” tanya Aura dengan tatapan tajam. “Pakai itu!” perintah Baskara dingin saat Aura masih menerka-nerka fungsinya. Pria itu bahkan tidak mendongak dari tabletnya.“Aku tidak suka asistenku terlihat seperti pegawai murahan yang bisa diganti kapan saja. Kau merepresentasikan seleraku.”Apa?“Masih ada lagi yang mau kau tanyakan, Aura?” Baskara hanya melirik dengan tatapan dingin. Shit! Aura keluar dengan kesal karena tidak bisa mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status