Home / Romansa / Obsesi Gila Tuan Baskara / Bab 1 Jebakan Sang Predator

Share

Obsesi Gila Tuan Baskara
Obsesi Gila Tuan Baskara
Author: Madamme Yellow

Bab 1 Jebakan Sang Predator

last update publish date: 2026-10-01 12:42:36

“Aku terjebak, shit!” umpat Laura sebelum masuk ke aula pertemuan.

“Silahkan dimulai!” Suara pria gila itu, seketika membangunkan lamunan Aura.

Lampu aula pertemuan temaram, menyisakan sorot tajam yang jatuh tepat di atas podium tempat Aura berdiri.

Di layar besar di belakangnya, grafik keuangan perusahaan terpampang nyata, angka-angka yang menentukan hidup dan mati ratusan karyawan.

Namun bagi Aura, pertaruhan di ruangan ini jauh lebih intim dan mematikan.

Aura sempat menelan ludahnya sebelum mulai, ia memperhatikan wajah-wajah Direksi dan pemegang saham di ruangan ini.

Keringat dingin mulai membasahi punggung gaun formalnya yang ketat. Suaranya bergema melalui mikrofon, terdengar tenang dan profesional di telinga para pemegang saham yang duduk dalam kegelapan auditorium.

“Baiklah, Melalui akuisisi aset kuartal ketiga, kita memproyeksikan lonjakan keuntungan hingga dua puluh lima persen….”

Aura menahan napas. Kalimatnya terjeda di tenggorokan.

Di balik meja podium yang tinggi dan tebal, tersembunyi sepenuhnya dari pandangan audiens, sepasang tangan kekar dan dingin mulai bergerak.

Baskara berdiri tepat di belakangnya, begitu dekat hingga Aura bisa merasakan kehangatan dada pria itu menempel di punggungnya.

Aroma parfum mahal bercampur tembakau premium mengepung indra penciuman Aura, pekat dan mengintimidasi.

“Eugh!”

Jemari Baskara yang panjang dan dihiasi cincin stempel perak merayap perlahan, mengusap lekuk pinggang Aura dengan tekanan yang disengaja.

“Pak Baskara!” Peringatan dari Aura.

Sentuhan itu turun lambat, menelusuri pinggul hingga ke paha bagian dalam wanita itu, meremasnya lembut namun penuh tuntutan posesif.

“Lanjutkan, Aura,” bisik Baskara, sangat rendah, tepat di samping telinganya.

Napas pria itu terasa menggelitik sekaligus mengerikan.

“Ouhhhh, please!”

“Satu getaran pada suaramu, dan aku akan memastikan sisa utang suamimu berpindah ke kepalamu malam ini juga.”

Aura mencengkram sisi podium hingga buku-buku jarinya memutih.

“Sialan, Baskara!” umpatnya dalam hati.

Logikanya menjerit untuk berbalik dan menampar wajah arogan itu, namun kontrak kerja eksklusif dua puluh empat jam dengan penalti miliaran rupiah mengunci kakinya di lantai.

Ini kesalahan!

Pria ini bukan sekadar bos, dia adalah pemangsa yang tahu persis di mana harus menekan tanpa meninggalkan bekas luka fisik.

“Emm, S-strategi ini, ehem….”

Aura berdeham kecil, memaksa otot wajahnya tetap rileks, menjaga senyum profesional yang palsu di hadapan para investor.

“...strategi ini berfokus pada efisiensi biaya operasional.”

Baskara terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada yang menempel pada punggung Aura.

Jemarinya naik kembali, mencengkram rahang Aura dari belakang, memaksa kepala wanita itu sedikit mendongak tanpa mengubah posisi tubuhnya yang menghadap audiens. Shit!

Baskara jelas ingin membuatnya malu di depan umum.

“Pintar!”

bisik Baskara lagi, matanya yang sehitam obsidian menatap tajam profil samping wajah Aura yang tegang.

“Kau menyusup ke sarangku seperti tikus kecil yang haus darah, mengira aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, hmm? Katakan padaku, jalang kecil ... bagaimana rasanya mempresentasikan kemenangan pria yang menghancurkan hidupmu?”

Sambil mempertahankan sentuhan sensual yang menyiksa itu, ingatan Aura terlempar kembali pada malam terkutuk beberapa minggu lalu.

Malam di mana rumah keluarganya disita, ibunya menangis histeris dan ayahnya terserang stroke. Keluarganya terpaksa menumpang di rumah kontrakan sempit di pinggiran kota

Aura harus menahan semua ini, keluarganya sekarang bergantung padanya.

Semua itu karena Reno, bajingan yang berstatus sebagai suaminya, kalah judi dan terjerat hutang dua miliar pokoknya saja pada jaringan rentenir kelas kakap.

Namun, Aura bukan wanita bodoh. Dari sisa berkas transaksi ilegal milik Reno, ia menemukan satu nama yang mengendalikan seluruh aliran uang gelap tersebut.

Baskara Aditya!

Didorong oleh dendam membara dan keputusasaan finansial, Aura menyusun rencana rapi. Ia menggunakan kecerdasannya untuk melamar menjadi asisten pribadi Baskara, berniat mencari bukti untuk menjatuhkan sang CEO dari dalam.

Namun, Aura meremehkan kegelapan pria di belakangnya.

Baskara tidak butuh waktu lama untuk menyadari umpan yang masuk ke perangkapnya.

Pria itu justru menikmati permainan ini, menjerat Aura dengan kontrak kerja yang tak ubahnya rantai besi tak kasat mata, mengisolasinya dari dunia luar dan perlahan mengikis kewarasannya.

“Pak Baskara ... kumohon,” lirih Aura hampir tak terdengar, memanfaatkan jeda saat slide presentasi berganti secara otomatis.

Matanya menatap lurus ke depan, menatap kegelapan aula, sementara tubuhnya gemetar di bawah dominasi pria itu.

Baskara menarik jemarinya dari paha Aura, bergerak naik untuk mengusap bibir bawah wanita itu dengan ibu jarinya, menghapus sedikit lipstik merah yang dikenakan Aura.

“Presentasikan bab terakhirnya dengan lancar, Asistenku!” perintah Baskara dingin, namun matanya memancarkan kepuasan yang sadis.

“Setelah ini, kita punya urusan panjang di ruanganku. Dan kau tahu betul ... aku tidak suka budakku yang tidak patuh.”

Budak?

Aura memejamkan mata sesaat, menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan.

Kebencian di dadanya bergejolak hebat, namun anehnya, ada sensasi lain yang mulai menyelinap, sebuah sengatan gairah terlarang yang dipicu oleh rasa takut dan ketergantungan.

Ia menarik napas dalam, membuka mata dan kembali berbicara ke arah mikrofon dengan suara yang kembali tegas, melangkah lebih dalam ke dalam sangkar emas yang dirancang khusus untuk menghancurkannya.

“Rapat selesai, keluar semuanya!” Baskara menatap tajam seluruh audiens.

“Kecuali kau Asistenku!” perintah Baskara mutlak. Aura mencengkram laporan di depannya sampai ruas buku-buku jarinya memutih.

“Ahhh, kau mau apa?” Aura mendesah saat Baskara menarik pinggangnya sampai dada mereka bertabrakan.

“Apa lagi, Asisten kecilku! Pekerjaan kita belum selesai.” Baskara mendudukan aura ke meja dan membuang semua kertas di meja hingga lembaran kertas itu berantakan di lantai.

“Lebarkan kakimu Aura!”

Pundak aura menegang. Pria gila ini jelas-jelas tidak ingin melepaskannya.

“Apa maumu, ahhhh! Lepaskan Baskara!” Baskara menyeringai saat jemarinya mulai menelusup bagian paling intim tubuh Aura.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 8 Dalam Kendali Tuan Baskara

    Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka. Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis. Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura. Brak!!! “Buka,” perintah Baskara dingin. Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan. Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama. Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana. Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 7 Kepatuhan Total

    Malam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa. Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara sal

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 6 Candu Tuan Baskara

    Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.Keheningan yang diciptakan Baskara perl

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 5 Permainan Tuan Baskara

    Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.Sret!Kertas-kertas dokumen di atas mej

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 4 Hak Milik Tuan Baskara

    Malam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total. Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih ber

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 3 Jejak Sang Predator

    “Untunglah aku tepat waktu!”Pagi pertama sebagai properti Baskara Aditya dimulai dengan sebuah kotak beludru hitam besar di atas meja kerja Aura.“Apa ini?” tanya Aura dalam hati. Aura membukanya pelan.Di dalamnya, tidak ada seragam korporat biasa. Baskara telah menyiapkan deretan gaun desainer papan atas, sutra premium berpotongan bodycon yang memeluk setiap senti lekuk tubuh Aura bagai kulit kedua, dengan warna merah marun yang pekat dan berani.Aura masuk ke dalam ruangan Baskara dengan begitu berani menuntut penjelasan.“Maksudnya apa ini, Pak Baskara?” tanya Aura dengan tatapan tajam. “Pakai itu!” perintah Baskara dingin saat Aura masih menerka-nerka fungsinya. Pria itu bahkan tidak mendongak dari tabletnya.“Aku tidak suka asistenku terlihat seperti pegawai murahan yang bisa diganti kapan saja. Kau merepresentasikan seleraku.”Apa?“Masih ada lagi yang mau kau tanyakan, Aura?” Baskara hanya melirik dengan tatapan dingin. Shit! Aura keluar dengan kesal karena tidak bisa mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status