Home / Romansa / Obsesi Gila Tuan Baskara / Bab 3 Jejak Sang Predator

Share

Bab 3 Jejak Sang Predator

last update publish date: 2026-10-01 12:44:01

“Untunglah aku tepat waktu!”

Pagi pertama sebagai properti Baskara Aditya dimulai dengan sebuah kotak beludru hitam besar di atas meja kerja Aura.

“Apa ini?” tanya Aura dalam hati. Aura membukanya pelan.

Di dalamnya, tidak ada seragam korporat biasa. Baskara telah menyiapkan deretan gaun desainer papan atas, sutra premium berpotongan bodycon yang memeluk setiap senti lekuk tubuh Aura bagai kulit kedua, dengan warna merah marun yang pekat dan berani.

Aura masuk ke dalam ruangan Baskara dengan begitu berani menuntut penjelasan.

“Maksudnya apa ini, Pak Baskara?” tanya Aura dengan tatapan tajam.

“Pakai itu!” perintah Baskara dingin saat Aura masih menerka-nerka fungsinya.

Pria itu bahkan tidak mendongak dari tabletnya.

“Aku tidak suka asistenku terlihat seperti pegawai murahan yang bisa diganti kapan saja. Kau merepresentasikan seleraku.”

Apa?

“Masih ada lagi yang mau kau tanyakan, Aura?” Baskara hanya melirik dengan tatapan dingin.

Shit!

Aura keluar dengan kesal karena tidak bisa membantah Baskara, sialnya ia tidak bisa menolak apapun yang diberikan pria kotor itu.

Saat Aura bercermin di toilet, ia mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.

Gaun itu sangat elegan, namun potongannya begitu sensual hingga menegaskan setiap garis tubuhnya.

Di koridor kantor, setiap pasang mata menatapnya dengan pandangan memuja sekaligus berspekulasi.

Aura tahu persis taktik ini.

Baskara tidak sedang mendandaninya, pria itu sedang menandai wilayah kekuasaannya secara visual di hadapan seluruh karyawannya.

Pria itu ingin dunia tahu bahwa Aura adalah miliknya!

Kesempatan yang ditunggu Aura datang saat makan siang. Baskara harus menghadiri pertemuan singkat di lantai bawah, meninggalkan ruang kerja pribadinya yang luas dalam keadaan kosong.

“Dia pasti sudah keluar kantor sekarang,” gumam Aura sambil melirik kiri dan kanan.

Ceklek!

Jantung Aura berdegup kencang bagai tabuhan genderang perang. Dengan langkah seringan kucing, ia menyelinap ke balik meja kerja kayu mahoni coklat milik Baskara.

Jemarinya dengan cepat menyalakan layar monitor komputer sang CEO.

Bermodalkan keahlian peretasan dasar dan sandi yang sempat ia intip kemarin, Aura berhasil masuk ke dalam sistem penyimpanan internal perusahaan.

“Ayo, cepat Aura..." bisik Aura pada dirinya sendiri. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.

Ia membuka folder terenkripsi berkode ‘Project Eclipse’.

Nama proyek yang ia curigai sebagai dalang di balik manipulasi saham yang membangkrutkan perusahaan ayahnya.

Lembar demi lembar dokumen transaksi ilegal mulai terpampang di layar.

Matanya membelalak melihat nama ayahnya tertera di sana, dikelilingi oleh angka-angka merah yang mengerikan.

Klik!

Suara pintu yang menutup pelan di belakangnya membuat darah Aura seketika membeku. Aura menelan ludahnya.

“Mencari sesuatu yang menarik, Asistenku?”

Suara bariton Baskara memecah keheningan ruangan bagai petir di siang bolong.

Pria itu berdiri di dekat pintu yang kini telah terkunci otomatis, jas mahalnya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya.

Senyum di wajahnya begitu tenang, namun matanya memancarkan kilat sadis yang mematikan.

Pria itu sengaja menjebaknya!

Baskara tidak pernah benar-benar pergi.

Aura tersentak mundur, mencoba menjauh dari komputer, namun Baskara melangkah maju dengan ritme yang lambat dan penuh intimidasi.

Setiap langkah pria itu seolah mengikis pasokan oksigen di dalam ruangan.

“Pak B-Baskara ... A-aku hanya ingin memeriksa jadwal pertemuanmu….”

“Jangan membohongiku dengan mulut manismu itu, Aura!”

“Awwwhhh!”

Baskara mencengkram lengan Aura, sentuhannya begitu kuat hingga membuat Aura memekik pelan.

Baskara menyentak tubuh Aura, menyeret wanita itu ke sudut ruangan yang gelap, menghimpit tubuh ramping Aura di antara dinding marmer yang dingin dan dada bidangnya yang keras.

Gaun ketat yang dikenakan Aura membuat setiap gesekan tubuh mereka terasa begitu intens dan menyesakkan.

“Kau melanggar aturan di hari pertama, Kelinci Kecil,” bisik Baskara, suaranya rendah dan penuh bahaya tepat di depan wajah Aura.

Napasnya yang hangat berbau mint dan tembakau menyapu bibir Aura.

“Kau tahu apa hukuman bagi mata-mata yang tertangkap basah?”

Aura menatap Baskara dengan tajam!

“Pecat aku kalau begitu! Laporkan aku pada polisi!” tantang Aura, matanya menyala penuh kebencian, mencoba menyembunyikan rasa takut yang mulai melumpuhkan kakinya.

“Kau yang menghancurkan keluargaku! Kau iblis yang merancang semua ini!”

Baskara terkekeh rendah, sebuah suara yang menggetarkan dada keduanya yang saling menempel.

“Memecatmu? Terlalu mudah Aura. Menjebloskanmu ke penjara? Terlalu membosankan. Aku lebih suka melihatmu membusuk di sini, di bawah kendaliku.”

Sebelum Aura sempat membalas, Baskara mencengkram rahang wanita itu dengan satu tangan, memaksa kepalanya mendongak.

Tanpa peringatan, Baskara menurunkan wajahnya, menyerang leher Aura dengan ciuman yang kasar dan posesif.

“Aahhh ... Baskara, lepas!”

Aura melenguh, mencoba mendorong bahu kokoh pria itu, namun tenaganya sia-sia.

Baskara tidak berhenti.

Sentuhan bibir dan gigitan kecil pria itu berpindah dari ceruk leher naik ke rahang Aura, meninggalkan jejak panas yang membakar kulitnya.

Itu bukan ciuman penuh cinta, itu adalah klaim dominasi yang mutlak, sebuah hukuman yang dirancang untuk menghancurkan harga diri Aura.

Namun, di tengah rasa benci yang membara dan ketakutan yang mencekik, sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam diri Aura.

Tubuhnya mengkhianati logikanya sendiri. Sebuah desiran aneh, panas, liar dan memabukkan, mulai menjalar dari titik sentuhan Baskara menuju ke seluruh aliran darahnya.

Jantungnya berpacu, bukan lagi karena takut, melainkan karena gairah terlarang yang dipicu oleh intensitas pria itu.

“Eumph.”

Aura mencengkeram kemeja Baskara, awalnya untuk mendorong, namun jemarinya justru meremas kain hitam itu dengan erat saat ciuman Baskara semakin dalam dan menuntut.

Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam dadanya.

“Bagaimana bisa aku menikmati sentuhan pria yang telah menghancurkan hidup ayah dan ibuku?” gumam Aura di sela sensasi cumbuan panas Baskara.

Air mata keputusasaan akhirnya menetes di sudut mata Aura, bercampur dengan napasnya yang memburu.

Baskara perlahan melepaskan cengkeramannya pada rahang Aura, namun tetap membiarkan tubuh mereka menempel intim.

Ia menatap wajah Aura yang merona merah dengan air mata yang membasahi pipi, menikmati kehancuran emosional yang baru saja ia ciptakan.

“Ingat posisi dan tempatmu, Aura,” bisik Baskara, jemarinya menghapus air mata di pipi Aura dengan kelembutan yang manipulatif.

“Komputer itu, ruangan ini, dan bahkan tubuh yang terbungkus gaun indah ini ... semuanya adalah milikku! Jangan pernah mencoba bermain api denganku lagi atau aku akan memastikan kau terbakar habis tanpa sisa.”

Baskara mundur satu langkah, merapikan kemejanya yang sedikit kusut tanpa mengalihkan pandangan obsesifnya dari Aura yang masih bersandar lemas di dinding, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya yang telah hancur lebur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 8 Dalam Kendali Tuan Baskara

    Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka. Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis. Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura. Brak!!! “Buka,” perintah Baskara dingin. Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan. Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama. Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana. Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 7 Kepatuhan Total

    Malam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa. Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara sal

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 6 Candu Tuan Baskara

    Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.Keheningan yang diciptakan Baskara perl

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 5 Permainan Tuan Baskara

    Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.Sret!Kertas-kertas dokumen di atas mej

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 4 Hak Milik Tuan Baskara

    Malam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total. Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih ber

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 3 Jejak Sang Predator

    “Untunglah aku tepat waktu!”Pagi pertama sebagai properti Baskara Aditya dimulai dengan sebuah kotak beludru hitam besar di atas meja kerja Aura.“Apa ini?” tanya Aura dalam hati. Aura membukanya pelan.Di dalamnya, tidak ada seragam korporat biasa. Baskara telah menyiapkan deretan gaun desainer papan atas, sutra premium berpotongan bodycon yang memeluk setiap senti lekuk tubuh Aura bagai kulit kedua, dengan warna merah marun yang pekat dan berani.Aura masuk ke dalam ruangan Baskara dengan begitu berani menuntut penjelasan.“Maksudnya apa ini, Pak Baskara?” tanya Aura dengan tatapan tajam. “Pakai itu!” perintah Baskara dingin saat Aura masih menerka-nerka fungsinya. Pria itu bahkan tidak mendongak dari tabletnya.“Aku tidak suka asistenku terlihat seperti pegawai murahan yang bisa diganti kapan saja. Kau merepresentasikan seleraku.”Apa?“Masih ada lagi yang mau kau tanyakan, Aura?” Baskara hanya melirik dengan tatapan dingin. Shit! Aura keluar dengan kesal karena tidak bisa mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status