LOGINMalam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total.
Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih berstatus suaminya itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa jijik yang amat sangat. Pria di hadapannya ini tampak begitu menyedihkan, lemah dan sekedar mengandalkan kekerasan kasar yang tak berotak. Secara tidak sadar, kilasan wajah Baskara melintas di benak Aura. Kontras itu menghantamnya begitu telak. Baskara adalah seorang manipulator ulung yang elegan, dominan dan mengintimidasi tanpa perlu berteriak. Baskara menguasai ruangan hanya dengan satu tatapan dingin, sementara Reno hanyalah anjing jalanan yang menggonggong frustasi. Aura tidak tahu kenapa dulu ia bisa bersama dengan pria seperti ini. “Aku tidak punya uang, Reno. Dan aku tidak akan pernah mengemis pada Baskara untukmu,” desis Aura dingin, suaranya sarat akan penghinaan. “Jalang tidak tahu diuntung!” Reno maju dengan cepat. Tangan kasarnya mencengkram lengan atas Aura dengan kekuatan penuh, menyentaknya hingga punggung Aura membentur dinding dengan keras. “Ah, sakit Reno! Cengkeraman itu begitu brutal, menekan daging lengan Aura hingga wanita itu meringis menahan sakit. “Kalau besok kau tidak membawa uang, rentenir itu akan datang lagi ke rumah ini. Kau tahu apa yang bisa mereka lakukan pada ayahmu yang sekarat itu!” ancam Reno tepat di depan wajah Aura sebelum mengempaskan tubuh wanita itu ke lantai dan pergi berlalu, membanting pintu rumah hingga bergetar. Aura tidak menangis, tapi matanya berkaca-kaca. Sungguh sial hidupnya bersama dengan Reno, lebih baik suaminya mati saja. Keesokan harinya, Aura melangkah masuk ke ruang kerja Baskara dengan gaun desainer berwarna pastel berpotongan sabrina yang dipersiapkan di ruangannya. Ia sudah mencoba menyamarkan luka memar keunguan di lengan atasnya dengan concealer tebal, namun ia meremehkan ketajaman mata sang pemangsa. Baskara sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, menyesap kopi hitamnya. Begitu Aura meletakkan berkas laporan di meja, gerakan lengan Aura yang sedikit kaku langsung menarik perhatian pria itu. Matanya yang sehitam obsidian menyipit tajam. Dalam satu gerakan cepat namun terukur, Baskara menangkap pergelangan tangan Aura. Ia menarik lengan wanita itu ke atas, lalu dengan ibu jarinya, Baskara menghapus lapisan kosmetik di kulit Aura secara kasar. Begitu warna keunguan yang kontras itu terekspos di bawah cahaya lampu, atmosfer di dalam ruangan kedap suara itu mendadak turun hingga ke titik beku. Baskara murka! Tidak ada teriakan, tidak ada barang yang pecah. Namun, aura mematikan yang menguar dari tubuhnya jauh lebih mengerikan dari amukan Reno semalam. Rahang pria itu mengeras, dan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Aura mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya. “Siapa yang melakukan ini?” tanya Baskara. Suaranya begitu rendah, bergetar oleh amarah yang ditekan dalam-dalam, namun sangat berbahaya. “Bukan urusanmu, Pak Baskara. Ini masalah pribadiku,” jawab Aura, mencoba menarik lengannya, namun Baskara justru menarik tubuh Aura hingga membentur dada bidangnya. Baskara tidak melepaskan pandangannya. Perlahan, kemarahan yang meledak-ledak di matanya berganti menjadi tatapan posesif yang gelap dan intens. Pria itu mengangkat lengan Aura, membawa luka lebam itu ke depan bibirnya. Jemari Baskara yang kekar mendadak berubah menjadi sangat lembut saat menyentuh pinggiran memar tersebut, mengusapnya perlahan seolah takut menyakiti Aura lebih jauh, sebuah kontras yang membingungkan. “Dengar baik-baik, Aura,” bisik Baskara, bibirnya hampir menyentuh kulit lengan Aura yang terluka. Napas hangatnya menggelitik memar itu, mengirimkan gelombang desiran aneh ke seluruh tubuh Aura. “Aku sudah membeli seluruh hidupmu. Waktumu, jiwamu dan setiap senti dari tubuh ini adalah propertiku. Tidak ada satupun bajingan di dunia ini yang boleh menyentuhmu hingga meninggalkan bekas ... bahkan suamimu sekalipun!” Aura menatap wajah Baskara dari jarak yang begitu dekat. Kelembutan yang posesif ini terasa begitu beracun namun memabukkan. Hati Aura menjerit bahwa pria ini adalah musuhnya, dalang dari semua penderitaannya. Namun, perlindungan absolut yang ditunjukkan Baskara saat ini, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Reno, perlahan mulai meruntuhkan dinding pertahanan batin yang ia bangun dengan susah payah. “Kau ... kau hanya menganggapku sebagai barang pajanganmu,” lirih Aura, matanya mulai berkaca-kaca karena konflik batin yang menyiksa dadanya. Tapi Aura tidak akan mau menangis di depan pria gila ini. Baskara mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Aura yang goyah. Senyum tipis yang manipulatif muncul di sudut bibirnya. “Kau lebih dari sekedar pajangan, Asistenku,” bisik Baskara, beralih mencengkram tengkuk Aura dengan lembut namun mengikat, memaksa wanita itu merasakan dominasinya yang mutlak. “Kau adalah milikku yang paling berharga. Dan aku selalu menghancurkan siapa saja yang berani merusak barang milikku. Ingat itu!” Aura memejamkan mata, membiarkan dirinya bersandar pada dada Baskara untuk beberapa detik yang terlarang, menyadari bahwa ia perlahan-lahan mulai menikmati rasa aman yang ditawarkan oleh sang iblis sendiri.Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka. Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis. Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura. Brak!!! “Buka,” perintah Baskara dingin. Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan. Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama. Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana. Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya
Malam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa. Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara sal
Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.Keheningan yang diciptakan Baskara perl
Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.Sret!Kertas-kertas dokumen di atas mej
Malam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total. Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih ber
“Untunglah aku tepat waktu!”Pagi pertama sebagai properti Baskara Aditya dimulai dengan sebuah kotak beludru hitam besar di atas meja kerja Aura.“Apa ini?” tanya Aura dalam hati. Aura membukanya pelan.Di dalamnya, tidak ada seragam korporat biasa. Baskara telah menyiapkan deretan gaun desainer papan atas, sutra premium berpotongan bodycon yang memeluk setiap senti lekuk tubuh Aura bagai kulit kedua, dengan warna merah marun yang pekat dan berani.Aura masuk ke dalam ruangan Baskara dengan begitu berani menuntut penjelasan.“Maksudnya apa ini, Pak Baskara?” tanya Aura dengan tatapan tajam. “Pakai itu!” perintah Baskara dingin saat Aura masih menerka-nerka fungsinya. Pria itu bahkan tidak mendongak dari tabletnya.“Aku tidak suka asistenku terlihat seperti pegawai murahan yang bisa diganti kapan saja. Kau merepresentasikan seleraku.”Apa?“Masih ada lagi yang mau kau tanyakan, Aura?” Baskara hanya melirik dengan tatapan dingin. Shit! Aura keluar dengan kesal karena tidak bisa mem







