ホーム / Romansa / Obsesi Gila Tuan Baskara / Bab 5 Permainan Tuan Baskara

共有

Bab 5 Permainan Tuan Baskara

last update 公開日: 2026-10-01 12:46:10

Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.

Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.

Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.

“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.

Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.

Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.

Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.

Sret!

Kertas-kertas dokumen di atas meja berserakan akibat gerakan itu.

Aura terkejut!

Kedua telapak tangannya bertumpu pada permukaan meja untuk menahan keseimbangan.

Gaun sutra ketatnya terangkat naik, mengekspos paha mulusnya langsung pada pandangan Baskara yang gelap dan obsesif.

Pria itu melangkah maju, menelusup di antara kedua kaki Aura yang terbuka, mengunci tubuh wanita itu sepenuhnya di bawah dominasinya.

Pandangan Baskara terkunci pada Aura, tatapannya tajam dan penuh perhitungan. Tekanan psikologis di dalam ruangan itu begitu kuat, membuat Aura merasa terpojok sepenuhnya di bawah kuasa pria itu.

Baskara tahu persis bagaimana menggunakan posisinya untuk mengintimidasi dan meruntuhkan kepercayaan diri lawannya.

Aura menahan napas.

Logikanya menjerit untuk mundur, namun konfrontasi langsung ini mengunci pergerakannya.

“Apa maunya?” tanya Aura dalam hati.

Di bawah tekanan tatapan intens dari sang manipulator, Aura hanya bisa terdiam, merasakan ketegangan yang mendalam akibat permainan kekuasaan yang sedang berlangsung.

Wajah Baskara mendekat, memberikan tekanan intimidasi yang nyata. Jantung Aura berpacu menggila, bersiap menghadapi konfrontasi berikutnya yang terasa begitu menekan.

Namun, tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, Baskara mendadak mundur dan menghentikan interaksi tersebut secara sepihak.

Matanya yang sehitam obsidian menatap Aura dengan kilat dingin yang sarat akan kendali penuh.

Senyum sinis terukir di sudut bibirnya saat ia melangkah mundur, menciptakan jarak yang seketika membuat atmosfer ruangan terasa kembali hampa dan membeku.

“Turun!” perintah Baskara, suaranya kembali datar dan tanpa emosi.

“Permainan selesai. Pulanglah!”

Aura terengah-engah, mencoba menguasai dirinya kembali.

Rasa frustasi yang teramat sangat menghantam dadanya, bercampur dengan kemarahan yang membakar. Ia merasa dipermainkan secara psikologis dalam situasi yang tidak seimbang ini.

Aura mengepalkan tangannya, mencoba merapikan penampilannya dengan gemetar.

“Kau ... kau mempermainkanku, Baskara!” desisnya penuh kemarahan. Aura menyentuh tangan Baskara.

“Lepas!” bentak Baskara tiba-tiba, suaranya meninggi, begitu tegas hingga membuat Aura tersentak di tempatnya.

Baskara menatap Aura dengan pandangan menghakimi dari atas ke bawah. Pria itu menyulut sebuah cerutu kecil, membiarkan asapnya mengepul dingin di antara mereka.

“Jangan pernah lupa dengan kontrak yang mengikat lehermu saat ini, Aura,” ucap Baskara dingin, nadanya sekeras baja.

“Sebagai asisten pribadi, kau seharusnya punya inisiatif sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan malah menggunakan cara-cara murahan di atas mejaku. Atau ... kau sebenarnya lebih senang mendekam di penjara sekarang karena telah membohongiku tentang niat aslimu menyusup ke sini?”

Kata-kata itu bagai tamparan keras yang menyadarkan Aura dari tekanan mental yang diberikan Baskara.

Sialan! Aura terlalu berharap.

Aura mengumpat habis-habisan di dalam hatinya.

Kemarahan dan penyesalan yang mendalam bergejolak hebat di dadanya. Ia menatap Baskara dengan tatapan benci yang membara, menyadari betapa cerobohnya ia beberapa hari lalu.

Seharusnya ia tidak datang ke perusahaan ini tanpa persiapan yang matang. Aura merutuki keputusannya di hari wawancara, di mana ia dengan terlalu percaya diri mengira tipu dayanya akan berhasil.

Saat itu, Aura berpikir Baskara hanyalah pria kaya biasa yang akan dengan mudah jatuh ke dalam perangkap pesonanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria ini adalah seorang manipulator kejam yang justru memanfaatkan umpan tersebut untuk mengurungnya dalam situasi yang mematikan.

“Aku mengerti, Pak Baskara. Mana mungkin juga aku berpikir ingin menyentuh tubuhmu, kau terlalu berharap! Aku sudah punya suami, tolong hargai itu!” jawab Aura dengan suara bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Ia turun dari meja, menyambar tasnya, dan melangkah cepat meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

Di balik punggungnya, Baskara menatap kepergian Aura dengan senyum kepuasan yang dingin.

Permainan kekuasaan ini baru saja dimulai dan ia tahu pasti langkah berikutnya untuk memastikan kendali penuh atas situasi tersebut.

“Bajingan kau Baskara!” rutuk Aura saat keluar dari kantor. Baskara sengaja membuat tubuh Aura mendamba kehadirannya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 8 Dalam Kendali Tuan Baskara

    Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka. Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis. Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura. Brak!!! “Buka,” perintah Baskara dingin. Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan. Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama. Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana. Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 7 Kepatuhan Total

    Malam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa. Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara sal

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 6 Candu Tuan Baskara

    Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.Keheningan yang diciptakan Baskara perl

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 5 Permainan Tuan Baskara

    Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.Sret!Kertas-kertas dokumen di atas mej

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 4 Hak Milik Tuan Baskara

    Malam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total. Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih ber

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 3 Jejak Sang Predator

    “Untunglah aku tepat waktu!”Pagi pertama sebagai properti Baskara Aditya dimulai dengan sebuah kotak beludru hitam besar di atas meja kerja Aura.“Apa ini?” tanya Aura dalam hati. Aura membukanya pelan.Di dalamnya, tidak ada seragam korporat biasa. Baskara telah menyiapkan deretan gaun desainer papan atas, sutra premium berpotongan bodycon yang memeluk setiap senti lekuk tubuh Aura bagai kulit kedua, dengan warna merah marun yang pekat dan berani.Aura masuk ke dalam ruangan Baskara dengan begitu berani menuntut penjelasan.“Maksudnya apa ini, Pak Baskara?” tanya Aura dengan tatapan tajam. “Pakai itu!” perintah Baskara dingin saat Aura masih menerka-nerka fungsinya. Pria itu bahkan tidak mendongak dari tabletnya.“Aku tidak suka asistenku terlihat seperti pegawai murahan yang bisa diganti kapan saja. Kau merepresentasikan seleraku.”Apa?“Masih ada lagi yang mau kau tanyakan, Aura?” Baskara hanya melirik dengan tatapan dingin. Shit! Aura keluar dengan kesal karena tidak bisa mem

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status