Home / Romansa / Obsesi Gila Tuan Baskara / Bab 6 Candu Tuan Baskara

Share

Bab 6 Candu Tuan Baskara

last update publish date: 2026-10-01 12:46:49

Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.

“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.

Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.

Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.

Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.

“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”

Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.

“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.

Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.

Keheningan yang diciptakan Baskara perlahan-lahan mulai menggerogoti saraf-saraf di kepala Aura.

Di balik meja kerjanya yang terletak tepat di luar ruangan kaca sang CEO, fokus Aura hancur lebur.

Matanya terus-menerus melirik ke arah pintu kayu mahoni coklat yang tertutup rapat.

Tangannya bergetar saat mengetik laporan dan setiap kali ia mendengar derap langkah kaki di koridor, jantungnya berpacu menggila, berharap itu adalah Baskara yang datang untuk mencengkram rahangnya lagi.

Apa ia ketagihan sentuhan pria gila itu?

Namun kenyataannya, pria itu tidak kunjung datang.

Dan efeknya mengerikan.

Aura merasa goyah, gelisah dan hampa. Tubuh dan batinnya mengalami reaksi yang tak ubahnya seperti seseorang yang sedang sakaw.

Ia merindukan intimidasi itu. Ia mendambakan ketegangan yang mencekik, aroma tembakau premium bercampur mint dan bahkan rasa sakit dari cengkeraman posesif Baskara yang biasanya membakar kulitnya.

Ia juga merindukan kecupan panas itu, sialan!

Kehadiran sang bos telah bertransformasi menjadi sebuah candu yang pekat di dalam aliran darahnya.

Plak!

Aura menampar pipinya sendiri dengan keras di dalam kubikel kerjanya. Napasnya terengah-engah, matanya menatap pantulan dirinya di layar monitor yang gelap.

“Kau gila, Aura ... Kau sudah gila,” desisnya pada diri sendiri, suaranya bergetar oleh kombinasi rasa takut dan kejijikan yang mendalam terhadap dirinya sendiri.

Ia membenci fakta bahwa benteng pertahanannya runtuh secepat ini. Bagaimana bisa ia seorang wanita cerdas yang masuk ke gedung ini dengan sumpah darah untuk menghancurkan sang mafia korporat, justru berakhir merangkak secara mental, memohon-mohon dalam hati agar pria itu menatapnya kembali?

Bagaimana bisa ia merindukan sentuhan dari iblis yang telah merancang kebangkrutan keluarganya dan membuat ayahnya terbaring sekarat?

Ini masalah besar untuk Aura!

Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya bagai godam besar, membuatnya sesak napas.

Baskara tidak perlu menggunakan cambuk atau rantai besi untuk mengurungnya.

Dengan hanya menarik kehadirannya, pria itu telah membuktikan bahwa Aura sudah sepenuhnya terperangkap di dalam sangkar emas psikologis yang ia bangun.

Sore itu, pintu ruangan Baskara akhirnya terbuka. Pria itu melangkah keluar dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Ia melangkah melewati meja Aura tanpa memperlambat ritme jalannya, hanya menjatuhkan sebuah dokumen tebal di atas meja wanita itu.

“Ikut aku malam ini. Pertemuan dengan investor di klub pribadi. Pakai gaun hitam yang sudah kukirim ke rumah gubukmu,” ucap Baskara dingin, suaranya datar tanpa emosi sedikitpun, bahkan tanpa menoleh ke arah Aura.

“Baik, Pak Baskara.”

Mendengar suara bariton itu, seulas desiran aneh yang liar dan memabukkan langsung menyengat seluruh saraf Aura yang sempat mati rasa selama dua hari.

Ego dan logikanya menjerit menolak, namun jemarinya dengan gemetar langsung meraih dokumen tersebut.

Sambil menatap punggung tegap Baskara yang mulai menjauh menuju lift pribadi, Aura menyadari satu kenyataan pahit, ia membenci pria itu dengan seluruh jiwanya, namun ia jauh lebih takut jika pria itu mengabaikannya lagi.

Aura tertegun!

Jantungnya mencelos.

Dikirim ke rumahnya?

Rasa dingin seketika menjalar ke ujung jari-jarinya. Aura sama sekali tidak tahu kalau Baskara telah mengirimkan gaun hitam ke rumahnya.

Itu berarti, anak buah Baskara telah mendatangi rumah pribadinya tanpa izin, tempat di mana Reno, suaminya yang kasat mata dan temperamental, bisa saja berada.

Ini bukan sekadar perintah kerja, melainkan pesan terselubung bahwa Baskara memiliki akses penuh ke ruang paling privat dalam hidup Aura, kapanpun ia mau.

Mendengar suara bariton itu sekaligus menyadari betapa dalam Baskara telah menyusup ke hidupnya, seulas desiran aneh yang liar dan memabukkan justru menyengat seluruh saraf Aura yang sempat mati rasa selama dua hari.

Ego dan logikanya menjerit ketakutan, namun jemarinya dengan gemetar langsung meraih dokumen tersebut.

Sambil menatap punggung tegap Baskara yang mulai menjauh menuju lift pribadi, Aura menyadari satu kenyataan.

“Sejak kapan aku mulai ingin dekat dengannya?”

Aura membenci pria itu dengan seluruh jiwanya, namun ia telah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah bayang-bayang kendalinya.

Tidak! Aura harus sadar, pria ini jelas-jelas bukan pria yang bisa ia dekati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 9 Berhentilah Bersandiwara

    “Kau masih tidak menerima yang terjadi pada dirimu, Aura?”Ruangan kamar utama di penthouse itu selalu temaram. Gorden tebal berwarna kelabu menutupi seluruh dinding kaca, memutus sisa-sisa dunia luar dari pandangan Aura.Selama tiga hari berturut-turut, Aura hanya terbaring di atas ranjang king size sutra hitam, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kehancuran mental yang teramat sangat.Logikanya telah hancur total setelah mengetahui pengkhianatan Reno.Ternyata ia hanya lelucon!Aura mengalami depresi berat, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya yang pucat.Namun, Baskara Aditya bukanlah pria yang akan membiarkan properti berharganya membusuk sendirian dalam kegelapan.Pria itu tidak meninggalkannya. Ia justru hadir, menjelma menjadi satu-satunya entitas yang nyata di dalam hidup Aura yang telah runtuh.Tes….Suara gemericik air hangat dari bak mandi mewah bergema samar di dalam kamar. Baskara melangkah mendekati ranjang, jas m

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 8 Dalam Kendali Tuan Baskara

    Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka. Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis. Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura. Brak!!! “Buka,” perintah Baskara dingin. Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan. Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama. Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana. Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 7 Kepatuhan Total

    Malam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa. Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara sal

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 6 Candu Tuan Baskara

    Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.Keheningan yang diciptakan Baskara perl

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 5 Permainan Tuan Baskara

    Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.Sret!Kertas-kertas dokumen di atas mej

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 4 Hak Milik Tuan Baskara

    Malam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total. Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status