LOGINPagi itu, Samuel terbangun dengan perasaan heran. Tepat di sampingnya tergeletak surat berharga kepemilikan perusahaan, hasil dari lelang yang berlangsung tadi malam. Matanya langsung tertuju pada dokumen tersebut. Dalam benaknya, pertanyaan bermunculan, "Bukannya ini seharusnya baru diberikan setelah aku melakukan pembayaran? Tunggu ... ada suratnya," gumam Samuel pelan, masih dalam keadaan setengah sadar di kamar hotel tempat ia menginap.
Ia membuka surat itu, yang ternyata berasal dari Chris An. Isinya membuat Samuel tercengang: "Samuel, aku harus pergi, aku menyerahkan ini padamu, jika nanti kamu memutuskan untuk membayarnya, kita bisa bahas lagi saat bertemu suatu hari nanti, namun sekarang, surat ini menjadi hak milikmu, karena kamu telah bersedia melewati satu malam bersamaku."Setelah membaca isi surat, Samuel terdorong untuk segera pergi dan pulang ke rumah. Ia tahu bahwa kini ia harus menghadapi persoalan yang mungkin tak terelakkan dengan Alesha."Sepertinya itu tidak perlu," kata Samuel setelah ia keluar dari pikirannya yang membuat Anastasya tak mungkin mendapat apa yang dia inginkan."Kenapa begitu, Samuel?" tanya Anastasya dengan rasa heran."Kamu tahu, Mommy dan Daddy akan curiga jika kamu bukan Alesha, aku juga tidak bisa mengumpulkan Ayah dan Ibu bersamamu, terlebih lagi, berkumpul dengan Papa dan Mama, apakah kamu ingin semuanya berakhir buruk?"Anastasya akhirnya menyadari hal itu, "Kamu benar, aku lupa, baiklah, aku percayakan nama itu padamu," jawab Anastasya dengan keyakinan bahwa suaminya dapat memberikan nama terbaik untuk anak mereka.Samuel segera menatap Anastasya, "Kita berdua harus mencari nama itu bersama-sama, bukan hanya aku, ini anak kita," ujar Samuel, menginginkan partisipasi dalam penentuan nama."Aku akan memilih nama terbaik untuk anak kita, sekarang sudah cukup berbelanja, aku ingin pulang," kata Anastasya kepada suaminya.Melihat betapa letih
Anastasya mulai terpesona oleh perhatian yang diberikan Samuel, melupakan perilaku Samuel saat berada di tempat kerja suaminya sebelumnya."Samuel, aku membutuhkan waktu untuk berbicara tentang suatu hal," kata Anastasya dengan nada serius."Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Samuel, masih berbaring dalam posisi yang sama di atas perut Anastasya."Aku ingin berbelanja untuk kebutuhan anak kita, tetapi tenang saja, aku akan menggunakan uangku sendiri, namun, aku membutuhkan bantuanmu untuk menemaniku," jawab Anastasya, berusaha memenuhi keperluan bayinya yang akan segera tiba.Samuel tidak memperhatikan semua itu, "Bagus juga, aku memang belum membeli apa pun untuk anak kita, jangan khawatir, Anastasya, pakailah saja kartuku, semua ini untuk kamu dan anak kita yang akan lahir, lagipula, aku tidak pernah melarang mu untuk menggunakannya, belilah semua yang terbaik untuknya, aku akan menemanimu dan membantumu memilih," jawab Samuel, membayangkan k
Anastasya telah tiba di depan rumah Samuel, sementara Len Artama hanya mengantarkan menantunya ke ruang tamu sebelum pergi lagi, "Semoga Anastasya dapat menghadapi malam ini dengan tenang," ucap Len Artama saat ia masuk ke dalam mobilnya.Len Artama berniat untuk menemui Samuel di SJL, karena Samuel harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan kepada Anastasya.Ketika Samuel berada di dalam ruangannya, dia merasa tidak bisa bekerja lagi. Satu per satu, orang-orang mulai memasuki ruangan tersebut untuk memulai tugas mereka, sementara Samuel hanya bisa memandang melalui kaca besar, "Anastasya, maafkan aku, saat ini aku hanya ingin berada di sini," kata Samuel dengan suara lemah.Samuel tidak bergerak sama sekali. Dia merasakan hawa dingin di ruangannya, sama seperti hatinya yang terasa beku tanpa ada yang menghangatkannya, karena hanya Alesha yang bisa melakukan hal itu untuknya.Selama dua puluh menit, Samuel tetap di tempatnya, hingga tiba-ti
Anastasya tiba di SJL, perusahaan televisi terbesar yang didirikan oleh Samuel. Bangunan itu tampak megah dari luar, dan tanpa banyak menunggu, Anastasya segera turun dari mobilnya dengan niat langsung menemui suaminya.Dengan perut besarnya yang membuat langkahnya pelan, Anastasya berjalan perlahan menuju gedung. Meski tidak cepat, ia memastikan dirinya bisa sampai ke ruangan kerja Samuel di lantai atas.Di dalam ruangannya, Samuel sibuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Ia fokus di depan laptop yang sudah beberapa hari tidak ia sentuh karena lebih banyak menghabiskan waktu mengurus Alesha. Sementara itu, Anastasya akhirnya tiba di depan pintu ruangan suaminya setelah keluar dari lift. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu seraya bergumam dalam hati, semoga Samuel ada di dalam.Samuel menghentikan pekerjaannya begitu melihat pintu terbuka. Ia tampak terkejut melihat istrinya berdiri di sana, "Anastasya, kenapa kamu datang ke sini?" tanyany
"Elisa, tidurlah, jangan terlalu memikirkan anakmu, lebih baik kamu beristirahat dan menjalani hidup seperti biasa, Samuel, Alesha, dan Anastasya tahu bagaimana menangani hubungan mereka," kata Len Artama.Elisa segera berdiri di hadapan Len Artama, "Lalu bagaimana dengan Anastasya? Kamu juga campur tangan dalam urusannya! Bukankah ini malah menjadi beban bagi anak kita? Dia adalah anak kita, Samuel membutuhkan kedua istrinya, tetapi kamu selalu berpihak pada Anastasya," teriaknya kepada Len Artama.Wajah Len Artama mulai menunjukkan kemarahan, "Apa maksudmu? Apakah kamu ingin melawan aku? Kamu membela Alesha di hadapanku? Sudah ku berkata, jangan komentari tindakanku! Ingat siapa kamu dulu, Elisa?"Len Artama mengingat masa lalu Elisa yang selama ini disimpan rapat-rapat dari orang-orang sekarang, termasuk Samuel yang tidak tahu apa-apa tentangnya.Elisa terdiam dan menundukkan kepalanya, tidak berani lagi menentang suaminya yang sudah menerima m
Di dalam ruangan itu, Alesha tampak terbangun dengan rasa sakit, matanya terpejam dan tangan serta kakinya terikat."Di mana aku berada?"Alesha masih belum sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang disekap dan dipaksa untuk menandatangani dokumen perceraian dari Samuel. Namun, ketika ia mulai merasakan bahwa tangannya tidak bergerak, ingatannya mulai kembali, ditambah lagi matanya yang tidak dapat melihat apa-apa di sekelilingnya."Samuel, tolong aku, kasih sayang, bebaskan aku dari orang-orang jahat ini, mereka ingin memaksaku berpisah darimu, aku ingin berbelanja, aku belum ingin mati sebelum melakukan segala hal yang aku sukai," Alesha mengeluarkan kata-kata yang masih bisa diucapkannya.Len Artama memang meminta agar mereka tidak menutup mulut Alesha, karena ia ingin mendengar apa yang Alesha katakan dalam situasi seperti itu.Anak buah Len Artama kembali memukul wajah Alesha dengan sangat keras, "Aduuuh!" teriak Alesha.Alesha b







