Masuk"Elisa, tidurlah, jangan terlalu memikirkan anakmu, lebih baik kamu beristirahat dan menjalani hidup seperti biasa, Samuel, Alesha, dan Anastasya tahu bagaimana menangani hubungan mereka," kata Len Artama.
Elisa segera berdiri di hadapan Len Artama, "Lalu bagaimana dengan Anastasya? Kamu juga campur tangan dalam urusannya! Bukankah ini malah menjadi beban bagi anak kita? Dia adalah anak kita, Samuel membutuhkan kedua istrinya, tetapi kamu selalu berpihak pada Anastasya," teriaknya kepada Len Artama.Wajah Len Artama mulai menunjukkan kemarahan, "Apa maksudmu? Apakah kamu ingin melawan aku? Kamu membela Alesha di hadapanku? Sudah ku berkata, jangan komentari tindakanku! Ingat siapa kamu dulu, Elisa?"Len Artama mengingat masa lalu Elisa yang selama ini disimpan rapat-rapat dari orang-orang sekarang, termasuk Samuel yang tidak tahu apa-apa tentangnya.Elisa terdiam dan menundukkan kepalanya, tidak berani lagi menentang suaminya yang sudah menerima mAnastasya telah tiba di depan rumah Samuel, sementara Len Artama hanya mengantarkan menantunya ke ruang tamu sebelum pergi lagi, "Semoga Anastasya dapat menghadapi malam ini dengan tenang," ucap Len Artama saat ia masuk ke dalam mobilnya.Len Artama berniat untuk menemui Samuel di SJL, karena Samuel harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan kepada Anastasya.Ketika Samuel berada di dalam ruangannya, dia merasa tidak bisa bekerja lagi. Satu per satu, orang-orang mulai memasuki ruangan tersebut untuk memulai tugas mereka, sementara Samuel hanya bisa memandang melalui kaca besar, "Anastasya, maafkan aku, saat ini aku hanya ingin berada di sini," kata Samuel dengan suara lemah.Samuel tidak bergerak sama sekali. Dia merasakan hawa dingin di ruangannya, sama seperti hatinya yang terasa beku tanpa ada yang menghangatkannya, karena hanya Alesha yang bisa melakukan hal itu untuknya.Selama dua puluh menit, Samuel tetap di tempatnya, hingga tiba-ti
Anastasya tiba di SJL, perusahaan televisi terbesar yang didirikan oleh Samuel. Bangunan itu tampak megah dari luar, dan tanpa banyak menunggu, Anastasya segera turun dari mobilnya dengan niat langsung menemui suaminya.Dengan perut besarnya yang membuat langkahnya pelan, Anastasya berjalan perlahan menuju gedung. Meski tidak cepat, ia memastikan dirinya bisa sampai ke ruangan kerja Samuel di lantai atas.Di dalam ruangannya, Samuel sibuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Ia fokus di depan laptop yang sudah beberapa hari tidak ia sentuh karena lebih banyak menghabiskan waktu mengurus Alesha. Sementara itu, Anastasya akhirnya tiba di depan pintu ruangan suaminya setelah keluar dari lift. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu seraya bergumam dalam hati, semoga Samuel ada di dalam.Samuel menghentikan pekerjaannya begitu melihat pintu terbuka. Ia tampak terkejut melihat istrinya berdiri di sana, "Anastasya, kenapa kamu datang ke sini?" tanyany
"Elisa, tidurlah, jangan terlalu memikirkan anakmu, lebih baik kamu beristirahat dan menjalani hidup seperti biasa, Samuel, Alesha, dan Anastasya tahu bagaimana menangani hubungan mereka," kata Len Artama.Elisa segera berdiri di hadapan Len Artama, "Lalu bagaimana dengan Anastasya? Kamu juga campur tangan dalam urusannya! Bukankah ini malah menjadi beban bagi anak kita? Dia adalah anak kita, Samuel membutuhkan kedua istrinya, tetapi kamu selalu berpihak pada Anastasya," teriaknya kepada Len Artama.Wajah Len Artama mulai menunjukkan kemarahan, "Apa maksudmu? Apakah kamu ingin melawan aku? Kamu membela Alesha di hadapanku? Sudah ku berkata, jangan komentari tindakanku! Ingat siapa kamu dulu, Elisa?"Len Artama mengingat masa lalu Elisa yang selama ini disimpan rapat-rapat dari orang-orang sekarang, termasuk Samuel yang tidak tahu apa-apa tentangnya.Elisa terdiam dan menundukkan kepalanya, tidak berani lagi menentang suaminya yang sudah menerima m
Di dalam ruangan itu, Alesha tampak terbangun dengan rasa sakit, matanya terpejam dan tangan serta kakinya terikat."Di mana aku berada?"Alesha masih belum sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang disekap dan dipaksa untuk menandatangani dokumen perceraian dari Samuel. Namun, ketika ia mulai merasakan bahwa tangannya tidak bergerak, ingatannya mulai kembali, ditambah lagi matanya yang tidak dapat melihat apa-apa di sekelilingnya."Samuel, tolong aku, kasih sayang, bebaskan aku dari orang-orang jahat ini, mereka ingin memaksaku berpisah darimu, aku ingin berbelanja, aku belum ingin mati sebelum melakukan segala hal yang aku sukai," Alesha mengeluarkan kata-kata yang masih bisa diucapkannya.Len Artama memang meminta agar mereka tidak menutup mulut Alesha, karena ia ingin mendengar apa yang Alesha katakan dalam situasi seperti itu.Anak buah Len Artama kembali memukul wajah Alesha dengan sangat keras, "Aduuuh!" teriak Alesha.Alesha b
Pintu rumah perlahan terbuka, Anastasya melangkah masuk bersama seorang pelayan di kediaman Hans dan Christina. Rumah itu tetap saja terasa hening meskipun ada penghuninya, seolah mencerminkan kekosongan yang lebih dalam.Namun, tepat ketika Anastasya hendak melangkah lebih jauh, sebuah tangan tiba-tiba menahan pergerakannya. "An, pulanglah," suara itu terdengar pelan, penuh harap.Anastasya menoleh ke belakang, "Samuel, kenapa aku harus pulang?" tanyanya tanpa basa-basi.Samuel terdiam, menatap langsung ke mata Anastasya yang tak lagi mampu menyembunyikan rasa kecewanya, "Ada apa?" tanyanya dengan ragu.Anastasya menghela nafas panjang, membiarkan emosi yang ia tahan selama ini akhirnya tumpah, "Aku terluka, kamu terus menyebut nama Alesha, sementara aku di sini hidup di sisimu sebagai istrimu, aku adalah Anastasya, bukan Alesha, tapi kamu menyebut namanya seolah aku ini tidak pernah ada," ucapnya lirih.Kata-kata itu bagai belati yang m
"Ini juga pilihanmu," ujarnya dengan cepat menjawab Anastasya yang memberikan komentar tentang pakaiannya.Anastasya mengatur sedikit dasi suaminya yang tampak agak miring, sementara Len Artama hanya menggeleng melihat pasangan yang ia pilih kini tampak sangat senang. "Samuel, kamu pasti sadar bahwa Anastasya mampu membuatmu seperti ini. Kamu terlihat terurus, hidupmu berjalan baik karena adanya Anastasya, bukan Alesha," pikirnya dalam hati.Sementara Len Artama hanya menyaksikan, Anastasya sudah melepaskan dasi yang sebelumnya dirapihkan nya."Sudah rapi, kamu mau sarapan atau langsung ke ruang kerjamu, Samuel?*Samuel melirik ke arah Len Artama yang berdiri seperti pengawal untuk Anastasya. "Mungkin aku ingin berbincang dengan Papa dulu, apakah kamu sudah siap, An?" tanyanya sembari memperhatikan penampilan Anastasya."Sedikit lagi, kamu dan Papa bisa pergi ke tempat lain, aku perlu fokus mendandani diriku sendiri," jawab Anastasya yang







