INICIAR SESIÓN**Bab 87: Perhatian yang Terselubung** Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang, membawa ritme baru yang pelan namun pasti di dalam kehidupan mereka. Setiap pagi, Fernando akan memastikan Aixa menyantap sarapannya hingga tuntas. Setiap malam, tanpa pernah alpa satu kali pun, pria itu akan berdiri tegak di hadapannya dan bertanya apakah Aixa sudah meminum seluruh vitamin yang dianjurkan oleh dokter kandungan. Ruang makan di mansion Castello yang biasanya terasa begitu formal, luas, dan dingin, perlahan-lahan mulai diselimuti suasana hangat yang lembut. Suara dentingan sendok dan piring porselen tidak lagi diiringi oleh keheningan kaku yang mencekam seperti bulan-bulan sebelumnya. Di balik meja kayu mahoni yang panjang dan dipoles mengilap, Fernando duduk membaca koran bisnis harian serta memeriksa laporan pasar modal melalui tabletnya. Namun, perhatian pria itu sama sekali tidak sepenuhnya tertumpu pada kolom saham atau grafik keuangan. Di balik lembaran kertas yang ia pegang, mata
Bab 86: Lima Buku Kehamilan Fernando tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan berdiri selama hampir lima menit di depan rak buku tentang kehamilan. Di toko buku yang tenang dan beraroma kertas baru itu, sosok Fernando berdiri mencolok di antara lorong yang mendadak terasa begitu asing baginya. Pria yang selama ini dikenal dingin, tegas, dan selalu memegang kendali penuh atas korporasi raksasa itu berdiri dengan ekspresi datar, sementara Marco yang berada beberapa langkah di belakangnya mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri. Tangan Fernando meraba pinggiran jilid buku-buku bersampul warna pastel lembut yang tampak sangat bertolak belakang dengan jas gelap terstruktur yang ia kenakan. "Tuan..." panggil Marco hati-hati, memastikan bahwa atasan serta sahabat lamanya itu tidak sedang berada di bawah pengaruh stres berat atau efek kelelahan kerja. Fernando mengambil satu buku berukuran cukup tebal dengan judul bergaris besar warna emas, membaca ringkasan singkat di sampul belaka
**Cinta yang Menemukan Jalannya** Untuk pertama kalinya setelah sekian lama melewati masa-masa kelam yang penuh duri, Aixa tidak lagi memandang masa depannya sebagai sesuatu yang menyeramkan atau harus ia takuti secara berlebihan. Ada perubahan mendasar yang merayap perlahan namun pasti di dalam dasar hatinya yang paling dalam. Sebuah perasaan baru tumbuh mekar dengan sangat halus dan alami. Perasaan itu hadir tanpa tergesa-gesa, tidak memaksakan kehendak, dan tidak menuntut hal-hal yang tidak masuk akal. Namun, keberadaannya terasa begitu nyata, menghangatkan setiap sudut jiwanya yang dulu sempat membeku oleh rasa kesepian. Aixa mulai menyadari sebuah kenyataan manis: pernikahan yang dulu berawal dari selembar kertas kaku berisi poin-poin kontrak dingin kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Takdir tampaknya sedang merajut ulang benang-benang hubungan mereka dengan pola yang baru. Fernando mungkin memang belum mengutarakan perasaannya secara terbuka
**Bayi Kita** Langkah kaki Fernando yang berwibawa sempat berayun menuju daun pintu kayu mahoni yang tinggi. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu logam yang dingin, sebuah suara lembut menghentikan pergerakannya. "Fernando." Pria itu menghentikan langkahnya secara instan. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Aixa yang masih duduk di tepi ranjang. Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela membiaskan pendar keemasan di sekeliling tubuh wanita itu, membuatnya tampak begitu bersahaja namun memikat. "Ya?" sahut Fernando pendek, menantikan apa yang hendak disampaikan oleh wanita di hadapannya. Aixa tampak ragu sejenak. Jemari tangannya meremas pelan pinggiran piyama sutra yang dikenakannya, berjuang mengumpulkan keberanian yang meluap dari dalam dadanya. Bibirnya terbuka, lalu tertutup kembali, sebelum akhirnya dengan suara pelan namun sarat akan kejujuran yang dalam, ia berbisik, "Terima kasih... karena sudah bahagia bersama aku." Fernando membeku seketika.
**Harapan yang Berani** Malam semakin melarut, merengkuh Mansion Castello dalam kesunyian yang senyap dan pekat. Di dalam kamar tidur utama yang remang-remang, Aixa mendadak terbangun dari tidurnya. Gemericik angin malam yang menerpa kaca jendela seolah memanggil kesadarannya kembali ke alam nyata. Tanpa sadar, jemari lengannya yang halus kembali bergerak perlahan, meraba dan menyentuh lembut bagian perutnya yang masih terasa datar di balik piyama sutra. Sebuah senyum kecil terpancar di bibirnya, menghadirkan kehangatan instan yang menjalar ke seluruh dada. Rasanya sungguh luar biasa mengetahui bahwa di dalam tubuhnya, sebuah detak kehidupan baru sedang memperjuangkan jalannya menuju dunia. Pandangan mata Aixa yang lembut kemudian beralih, mengikis jarak menuju sisi lain ranjang berukuran besar itu. Di sana, Fernando terbaring lelap. Cahaya temaram dari lampu tidur memancarkan pendar keemasan yang menimpa separuh wajah pria itu. Aixa menatapnya dalam diam. Wajah Fernando ketika te
**Anak Kita** Suasana kamar tidur utama di Mansion Castello tampak lebih hangat dari biasanya. Lampu meja memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menerangi sudut ruangan tempat Aixa duduk bersandar di sofa empuk. Di pangkuannya, terbentang sebuah buku tebal bersampul keras yang tadi siang diberikan oleh Dokter Elena. Buku panduan kehamilan itu tampak sangat baru, namun Aixa sudah membalik lusinan halamannya dengan penuh antusiasme. Matanya berbinar-binar saat membaca deskripsi mengenai perkembangan janin dari minggu ke minggu. Setiap kata, gambar ilustrasi, dan penjelasan ukuran janin yang disepadankan dengan buah-buahan kecil membuat dadanya bergetar hebat. Tanpa sadar, jemarinya tak henti-hentinya mengusap lembut perutnya yang masih rata, sementara senyum kecil terus menghiasi wajah cantiknya. Kehadiran nyawa kecil itu menghadirkan dunia yang sama sekali baru bagi Aixa—sebuah dunia yang kini dipenuhi harapan, bukan lagi rasa takut. "Apa yang kau baca?" Suara berat yang famil







