FAZER LOGINKaivan melangkah cepat mengejar Vanessa yang baru saja mencapai ambang pintu, tangannya menahan daun pintu itu agar tidak sempat tertutup, matanya menatap tajam ke arah perempuan yang masih berdiri dengan senyum sinis itu."Tunggu," ucap Kaivan tegas, suaranya begitu keras hingga membuat Sita yang berada di luar ruangan ikut menoleh dengan wajah terkejut. "Kamu pikir aku akan diam saja mendengar ancaman semacam itu?"Vanessa berbalik, menatap Kaivan dengan alis terangkat, seolah menikmati reaksi yang baru saja ia pancing dari pria yang dulu begitu mudah ia kendalikan itu."Ancaman? Aku hanya menyampaikan kenyataan, Kai," jawab Vanessa santai, nada bicaranya begitu ringan seolah tidak sedang membicarakan sesuatu yang begitu serius.Kaivan menutup pintu ruang kerjanya dengan keras, memastikan percakapan selanjutnya tidak terdengar oleh siapa pun di luar sana. Ia berdiri tepat di hadapan Vanessa, tubuhnya begitu tegang menahan amarah yang selama ini terus ia kendalikan."Dengar baik-baik
Kaivan baru saja memasuki ruang kerjanya keesokan paginya ketika Sita mengetuk pintu dengan wajah waspada, memberi kode bahwa tamu yang menunggu di luar bukan tamu biasa."Pak Kaivan, Vanessa ada di ruang tunggu. Dia bilang tidak akan pergi sebelum bertemu Bapak," ucap Sita pelan, matanya menatap atasannya untuk memastikan reaksi yang akan muncul.Kaivan menghela napas, meletakkan tas kerjanya di meja. "Suruh dia masuk. Aku ingin ini selesai secepat mungkin."Tidak lama kemudian pintu terbuka. Vanessa melangkah masuk mengenakan gaun merah yang begitu mencolok, rambutnya tergerai sempurna, parfumnya langsung memenuhi ruangan begitu ia melewati ambang pintu."Kai, apa kabar," sapa Vanessa lembut, senyumnya begitu terlatih, melangkah mendekati meja kerja dengan gerakan yang sengaja dibuat begitu anggun.Kaivan tidak berdiri menyambutnya, hanya menatap dari balik meja dengan ekspresi datar. "Katakan apa maumu, Vanessa. Aku tidak punya banyak waktu."Vanessa duduk tanpa diminta, menyilangk
Suara sekretarisnya berhenti sejenak di ujung telepon, seakan menyusun kata agar terdengar jelas namun tidak mengejutkan secara berlebihan. Kaivan menahan napas, menanti jawaban yang akan menentukan arah pikirannya. Selama ini keraguan itu tumbuh dan menyusup ke setiap sudut pikirannya, namun apa yang baru saja dikatakan mengubah semuanya seketika. Ia duduk tegak, menatap ke arah jendela yang gelap di ruang kerjanya, menunggu penjelasan lebih lanjut.“Dokter Reyhan Mahardika ternyata adalah sepupu Alesha dari pihak ibunya, Pak,” ucap Angga dengan suara yang tenang dan jelas. “Dan ada satu hal lagi, beliau sudah bertunangan dengan Nadine Pramestari, sahabat dekat Alesha sendiri. Rencananya tahun depan mereka akan menikah.”Kaivan terdiam. Kata-kata itu terngiang di kepalanya, perlahan meruntuhkan semua ketakutan yang selama ini ia simpan. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, merasakan beban berat yang selama ini menindih dadanya perlahan terangkat. Tidak ada persaingan,
Kata-kata ayahnya yang melarang dan memintanya menjauh dari Kaivan masih terngiang di telinga Alesha. Ia berdiri di depan pintu ruang perawatan, tubuhnya terasa berat, namun sebelum sempat melangkah masuk, Kaivan menahan langkahnya. Keraguan yang sejak tadi mengganjal di dada tidak bisa ia biarkan begitu saja. Sosok Reyhan selalu ada, dekat, seakan menjadi tembok penghalang diantara mereka. Ia harus mengetahui kebenarannya, sekarang juga.“Alesha, tunggu,” panggil Kaivan, suaranya terdengar tegas dan tidak sabar. “Aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kamu begitu dekat dengan Reyhan Mahardika? Dan apa hubungan diantara kalian?”Alesha menoleh perlahan, menatapnya dengan tatapan yang dingin dan tajam. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum sinis yang membuat Kaivan tertegun sejenak. Ia tidak menjawab dengan lembut, tidak pula menjelaskan apa pun.“Itu bukan urusanmu, Kaivan,” jawab Alesha ketus, suaranya penuh penolakan. “Kamu tidak punya hak untuk menanyakan hal-hal seperti i
Kabar ayahnya memburuk mendadak membuat Alesha segera bergegas ke rumah sakit bersama Kaivan dan Reyhan. Belum sempat ia melangkah masuk ke lantai perawatan, ponselnya bergetar berkali-kali. Pesan masuk berisi foto, rekaman percakapan, dan tangkapan layar. Semuanya disusun seolah Kaivan masih menjalin hubungan dekat dengan orang lain. Di setiap gambar, sudut pengambilannya dipilih agar terlihat mesra dan hangat. Pengirimnya tidak mencantumkan nama, tapi Alesha mengenali polanya. Ia meneliti satu per satu dengan tenang, napasnya tetap teratur, jantungnya tidak berpacu. Baginya, hubungannya dengan Kaivan sudah lama berakhir. Foto-foto ini tidak mempengaruhi dirinya sama sekali.Kaivan melirik layar ponsel itu sekilas, lalu wajahnya mengeras seketika. Ia segera mengenali salah satu lokasi yang ada dalam foto, foto itu saat ia sedang berbicara dengan pengacaranya dan wanita yang berjalan di sampingnya adalah penasihat hukum yang membantunya menyelesaikan urusan perusahaan. Ia menatap Alesh
Kata-kata yang tertulis di kertas itu menggantung di udara, berat dan penuh makna. Alesha menggenggam kertas itu erat, tulisan tangan ayahnya masih terlihat jelas. Goresan yang sedikit gemetar karena kelemahan, namun tegas dalam setiap kata yang dituliskan. Ia baru saja menerima pesan dari rumah sakit; ayahnya sempat sadar, menuliskan pesan itu, lalu kembali beristirahat. Tulisan itu adalah tentang kekhawatiran seorang ayah yang melihat putrinya pernah terluka sangat dalam. Kaivan berdiri di hadapannya, menunggu dengan napas tertahan, menyadari bahwa apa yang tertulis di sana akan menguji keteguhan hati mereka berdua.“Apa yang ditulis oleh ayahmu, Alesha?” tanya Kaivan pelan, suaranya tenang namun penuh kecemasan. “Boleh aku tahu?”Alesha menatap kertas itu sekali lagi, lalu menarik napas panjang sebelum menatapnya. “Dia melarangku kembali padamu, Kaivan. Dia bilang tidak ingin melihatku terluka lagi. Dia sudah melihatku menunggu, menangis, dan berharap pada seseorang yang dulu tidak







