Home / Romansa / Obsesi Tuan Muda Candra / Kejutan Di Tengah Hutan

Share

Kejutan Di Tengah Hutan

Author: Calin
last update Huling Na-update: 2026-01-01 06:36:51

Candra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.

Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.

Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan."

Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar, tapi bau tanah basah dan kayu kering membuat suasana terasa agak mencekam.

Candra berjalan cepat di depan, menjelaskan setiap bagian rencana dengan detail. "Di sini akan ada kolam renang yang menghadap bukit. Di sana, taman bunga yang hanya mekar di musim semi.

Dan di ujung sana—tempat yang paling tenang, jauh dari orang lain." Dia berhenti di sebidang tanah yang lebih tinggi dari yang lain, melihat ke kejauhan. "Ini akan menjadi spot favoritmu, aku yakin."

Lina mencatat semua yang dia katakan, tapi pikirannya jauh. Dia melihat jalan yang mereka lewati tadi—sudah tertutup oleh semak-semak dan pohon, seolah-olah tidak pernah ada jalan sama sekali. Bagaimana dia bisa keluar dari sini kalau sesuatu buruk terjadi?

Tiba-tiba, seorang pekerja muda berjalan cepat mendekati Candra, wajahnya khawatir. "Pak Candra, maaf mengganggu. Ada masalah di bagian utara—ada lubang besar yang tiba-tiba muncul setelah hujan semalam. Kita khawatir struktur tanah tidak stabil."

Candra mengangkat alisnya. "Apa? Saya sudah minta diperiksa semuanya sebelum mulai. Ayo, kita lihat." Dia berjalan cepat menuju arah utara, dan Lina mengikuti dengan cepat, takut tertinggal.

Setelah berjalan sekitar lima puluh meter, mereka tiba di tempat yang dimaksud. Sebuah lubang besar, sekitar lima meter lebar dan tiga meter dalam, terbuka di tengah tanah. Air hujan masih menggenangi bagian bawahnya, dan tembok lubang terlihat tidak stabil. Beberapa pekerja berdiri di sekitarnya, tidak berani mendekat.

Candra mendekat tepi lubang, melihat ke dalam dengan cermat. "Ini tidak mungkin. Survei sebelumnya mengatakan tanah di sini sangat kuat." Dia memutar kepala ke arah Pak Suroto yang baru saja tiba. "Pak Suroto, apa yang terjadi?"

Pak Suroto menunduk. "Maaf, Pak. Hujan kemarin sangat deras, mungkin air merembes ke dalam dan merusak struktur tanah di bawahnya."

Candra merasa marah, tapi dia menyembunyikannya. "Baik. Segera suruh pekerja mengisi lubang itu dengan tanah dan batu. Jangan biarkan ini menghambat pekerjaan." Dia berjalan mundur dari tepi lubang, tapi tiba-tiba sepatunya terjepit di antara batu yang longgar. Dia tersandung dan hampir terjatuh ke dalam lubang.

"JANGAN  MAJU!" teriak Lina tanpa berpikir dua kali. Dia melompat ke depan dan menarik lengan Candra dengan semua kekuatan, menyelamatkannya dari jatuh. Mereka berdua terjatuh di tanah, Lina di atas tubuh Candra.

Ada sejenak keheningan. Lina melihat mata Candra yang terkejut, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Dia merasa malu dan segera bangkit, membersihkan baju yang kotor. "Maaf, Pak. Saya cuma khawatir."

Candra juga bangkit, menyeka kemejanya. Dia melihat Lina dengan ekspresi yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya—campuran rasa terima kasih dan hasrat. "Terima kasih, Lina. Kalau bukan kamu, saya sudah terjatuh." Dia mendekat lagi, jarak antara mereka semakin sempit. "Kamu melihat ya? Kita saling membutuhkan. Kamu menyelamatkan saya, dan saya akan selalu melindungi kamu."

Lina mundur perlahan. "Itu cuma tugas saya sebagai asistenmu, Pak."

"Tidak, itu lebih dari itu." Candra mengambil tangannya dan memegangnya erat. "Aku tahu kamu masih takut, tapi nanti kamu akan mengerti. Semua ini untuk kita berdua."

Tiba-tiba, bunyi telepon Candra berbunyi. Dia melepaskan tangannya Lina dan menjawabnya. Suaranya berubah menjadi dingin lagi ketika dia berbicara. "Ya, Ibu. Apa ada masalah? ... Tidak, saya sedang di lokasi proyek. ... Tidak, tidak ada yang salah. ... Baik, saya akan pulang besok untuk bertemu dia." Dia menutup telepon dan melihat Lina dengan wajah yang serius.

"Siapa yang menelepon, Pak?" tanya Lina dengan hati-hati.

"Ibu saya. Dia ingin saya bertemu dengan seorang wanita—calon istri yang dia pilih." Candra menghela napas. "Tapi itu tidak penting. Yang penting hanyalah kamu, Lina." Dia mengangkat dagunya lagi. "Jangan khawatir. Saya tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambilmu dari saya."

Lina merasa semakin terjebak. Kalau ibunya Candra sudah memilih calon istri, apa yang akan terjadi padanya? Apakah Candra akan melepaskannya, atau apakah hal itu akan membuat obsesinya semakin besar?

Saat itu, Pak Suroto mendekati mereka. "Pak Candra, pekerja sudah mulai mengisi lubang. Tapi kita butuh waktu beberapa jam untuk menyelesaikannya. Apakah kita akan melanjutkan pemeriksaan hari ini?"

Candra melihat ke langit—sudah mulai siang. Dia melihat Lina, yang tampak lelah dan cemas. "Baik, kita berhenti sejenak. Mari kita makan dulu di kantor sementara. Setelah itu, kita akan memeriksa bagian lain yang aman."

Mereka berjalan kembali ke bangunan kecil. Di jalan, Lina melihat seekor burung terbang bebas di langit, dan dia merindukan kebebasan itu. Tapi dia tahu—sekarang, kebebasan itu sudah jauh dari jangkauannya. Dan yang paling menakutkan adalah, dia mulai merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak ingin keluar dari dunia Candra.

Di dalam kantor sementara, Pak Suroto sudah menyiapkan makan siang—nasi, lauk ayam, dan sayuran. Lina makan dengan lambat, pikirannya selalu tergeser ke telepon Candra tadi.

Siapa wanita itu? Dan apa yang akan terjadi ketika mereka bertemu? Dia tidak menyadari bahwa Candra sedang melihatnya dengan mata yang penuh perhatian, memikirkan cara untuk membuatnya benar-benar menjadi miliknya—selamanya.

Setelah makan siang, mereka melanjutkan pemeriksaan lokasi. Candra tetap berjalan di depan, tapi kali ini dia sering melihat ke belakang untuk memastikan Lina mengikuti. Lina sendiri masih terganggu dengan pembicaraan tentang calon istri Candra—kata-kata "saya tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambilmu dari saya" terus terngiang di kepalanya.

Mereka tiba di bagian selatan lokasi, di mana pohon-pohon besar masih berdiri rapat. Candra berhenti dan menunjuk ke sebidang tanah yang tertutup semak. "Di sini akan ada rumah utama—tempat kita tinggal nanti. Jauh dari kebisingan kota, hanya kita berdua dan alam."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Tamat

    Beberapa bulan setelah buku cerita nasional mereka terbit, Candra dan Lina berdiri di depan gedung baru yayasan yang terletak di persimpangan kota Sorong—bangunan yang tidak hanya menjadi pusat konseling, tetapi juga rumah bagi sekolah seni dan pusat pelatihan hukum yang penuh belas kasihan. Plakat di pintu depan berbunyi: "Rumah Harapan: Dari Obsesi Menuju Pemulihan"."Hampir sulit dipercaya bahwa semua ini dimulai dari cerita kita sendiri," ujar Lina sambil melihat anak-anak yang sedang melukis di halaman depan. Dia baru saja menyelesaikan buku panduan nasional tentang terapi kreatif untuk penyembuhan trauma, yang akan digunakan di ribuan sekolah dan klinik di seluruh Indonesia.Candra mengangguk, matanya tertuju pada foto-foto yang terpampang di dinding lobi—Hasan yang kini menjadi instruktur musik untuk anak-anak, Rudi yang sedang membacakan cerita di acara literasi nasional, Maria dari Raja Ampat yang sedang mengajar ibu-ibu menggambar, dan Joko dari Fakfak yang menunjukkan hasil

  • Obsesi Tuan Muda Candra    cahaya

    Beberapa minggu setelah menerima penghargaan, kabar datang bahwa yayasan diundang untuk membagikan pengalaman di Konferensi Kesehatan Mental Nasional di Jakarta. Candra berangkat dengan Siti dan Hasan, membawa buku cerita bergambar anak-anak dan lukisan mahasiswi Manokwari. Di panggung, dia menceritakan bagaimana obsesi yang pernah menjadi badai kini berubah menjadi hujan penyegarkan—cerita yang membuat banyak peserta menangis dan bertepuk tangan. Seorang perwakilan dari Kementerian Kesehatan menawarkan kerja sama untuk menyebarkan program terapi kreatif ke seluruh Pulau Papua. “Kita tidak akan berhenti di sini,” ujar Candra dengan suara tegas.Setelah kembali ke Sorong, tim yayasan segera merencanakan ekspansi ke Kabupaten Raja Ampat dan Fakfak. Rio mengelola keuangan, Bu Ratna mengatur pelatihan relawan, sedangkan Lina menulis materi pendidikan tentang penyembuhan trauma. Saat itu, Rudi dan teman-temannya telah menyelesaikan buku cerita kedua, tentang pahlawan yang mengajarkan maaf

  • Obsesi Tuan Muda Candra    pernah

    Beberapa hari kemudian, hujan sore masih turun dengan konsistensi, genangan air di jalan yayasan kini menjadi tempat anak-anak bermain menyelam jari, bukan tempat yang menakutkan. Candra mengawasi mereka dari jendela ruang kelas baru, sambil meninjau laporan perkembangan program terapi kreatif. Dina mendekati, memegang buku catatan. “Pak Candra, Rudi sekarang tidak hanya menggambar bintang, tapi juga mengajari teman-temannya. Anak-anak yang dulu diam kini aktif bercerita tentang impian mereka.” Candra tersenyum—rantai harapan memang terus memanjang.Tiba-tiba, ponselnya berdering: panggilan dari Siti. Suaranya penuh kegembiraan. “Pak Candra, aku sudah melahirkan! Bayi perempuan, kami menyebutnya Candra, seperti yang dijanjikan.” Candra merasa dada terasa hangat, segera berangkat ke rumah Siti di Kabupaten Sorong Selatan. Ketika tiba, ibu Siti yang dulu terjebak obsesi balas dendam menyambutnya dengan senyum lebar. Dia menunjukkan bayi yang tidur damai, lalu berkata, “Kau yang membuat

  • Obsesi Tuan Muda Candra    obsesi

    Hujan masih terus mengguyur setiap sore, tapi kini genangan air di jalan-jalan tidak lagi terasa seperti penghalang—melainkan sebagai bukti bahwa alam juga memiliki cara untuk membersihkan dan menyegarkan segala sesuatu yang terlanjur kotor. Lima bulan setelah peluncuran program terapi kreatif, Candra berdiri di depan ruangan kelas yang baru direnovasi, melihat anak-anak sedang fokus menyusun cerita bergambar tentang masa depan yang mereka impikan. Setiap sisipan warna dan setiap kalimat yang mereka tulis adalah bukti nyata bahwa luka lama bisa tumbuh menjadi sesuatu yang indah.“Salah satu anak baru, Rudi, kemarin cerita kalau dia sudah bisa tidur tanpa mimpi buruk lagi,” ujar konselor muda Dina sambil mendekati Candra. “Dia bilang ketika merasa takut, dia akan menggambar bintang-bintang seperti yang Anda ajarkan di sesi pertama.”Candra tersenyum hangat. “Itu bukan hasil dari apa yang kulakukan, Dina. Itu karena kamu dan tim telah bekerja dengan penuh kasih untuk membimbing mereka.

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Obsesi yang Mulia Menghilang ?

    Beberapa bulan setelah acara ulang tahun Yayasan Peduli Hati, musim hujan mulai menghampiri Sorong. Hujan deras mengguyur kota setiap sore, membungkus jalan-jalan dengan genangan air dan memberikan kesegaran pada udara yang biasanya lembap. Di dalam kantor LSM yang kini telah memperluas ruang kerja berkat dukungan perusahaan multinasional, Candra duduk di mejanya sambil melihat laporan terbaru tentang perkembangan klien yang telah mengikuti program pelatihan konselor. Setiap baris data yang menunjukkan kemajuan membuatnya tersenyum—banyak korban yang kini mulai menemukan kembali kontrol atas pikiran mereka, dan angka kekambuhan gangguan obsesif terus menurun secara signifikan. Saat itu, pintu kantor terbuka perlahan dan Rio masuk membawa secangkir kopi hangat. "Kamu lagi melihat laporan ya, Cand?" ujarnya sambil meletakkan gelas di atas meja. "Sudah jam delapan malam, kamu harus pulang istirahat. Bu Ratna sudah menyiapkan makanan kesukaanmu di rumah." Candra meng

  • Obsesi Tuan Muda Candra    kerja sama

    Beberapa minggu setelah acara peluncuran, Candra menerima panggilan dari sekretaris Yayasan Peduli Hati yang menyampaikan bahwa program pelatihan konselor yang mereka rencanakan mendapatkan dukungan finansial dari sebuah perusahaan multinasional yang beroperasi di wilayah Sorong. Kabar ini membuat hati Candra penuh kegembiraan, bukan hanya karena kerja sama bisa terealisasi dengan baik, tapi juga karena dia melihat bahwa upayanya untuk membantu orang lain mulai memberikan dampak nyata.Pada hari pertama pelatihan, Candra menjadi salah satu narasumber utama yang membawakan materi tentang hubungan antara trauma psikologis dan perkembangan gangguan obsesif pada korban kekerasan. Saat dia berdiri di depan puluhan konselor muda yang penuh semangat, dia tidak bisa tidak mengingat masa-masa sulitnya beberapa bulan yang lalu. Dia berbagi pengalaman pribadinya dengan terbuka, bukan untuk mendapatkan rasa kasihan, tapi untuk menunjukkan bahwa bahkan mereka yang pernah terjebak dalam kegelapan p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status