Mag-log inCandra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.
Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya. Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan." Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar, tapi bau tanah basah dan kayu kering membuat suasana terasa agak mencekam. Candra berjalan cepat di depan, menjelaskan setiap bagian rencana dengan detail. "Di sini akan ada kolam renang yang menghadap bukit. Di sana, taman bunga yang hanya mekar di musim semi. Dan di ujung sana—tempat yang paling tenang, jauh dari orang lain." Dia berhenti di sebidang tanah yang lebih tinggi dari yang lain, melihat ke kejauhan. "Ini akan menjadi spot favoritmu, aku yakin." Lina mencatat semua yang dia katakan, tapi pikirannya jauh. Dia melihat jalan yang mereka lewati tadi—sudah tertutup oleh semak-semak dan pohon, seolah-olah tidak pernah ada jalan sama sekali. Bagaimana dia bisa keluar dari sini kalau sesuatu buruk terjadi? Tiba-tiba, seorang pekerja muda berjalan cepat mendekati Candra, wajahnya khawatir. "Pak Candra, maaf mengganggu. Ada masalah di bagian utara—ada lubang besar yang tiba-tiba muncul setelah hujan semalam. Kita khawatir struktur tanah tidak stabil." Candra mengangkat alisnya. "Apa? Saya sudah minta diperiksa semuanya sebelum mulai. Ayo, kita lihat." Dia berjalan cepat menuju arah utara, dan Lina mengikuti dengan cepat, takut tertinggal. Setelah berjalan sekitar lima puluh meter, mereka tiba di tempat yang dimaksud. Sebuah lubang besar, sekitar lima meter lebar dan tiga meter dalam, terbuka di tengah tanah. Air hujan masih menggenangi bagian bawahnya, dan tembok lubang terlihat tidak stabil. Beberapa pekerja berdiri di sekitarnya, tidak berani mendekat. Candra mendekat tepi lubang, melihat ke dalam dengan cermat. "Ini tidak mungkin. Survei sebelumnya mengatakan tanah di sini sangat kuat." Dia memutar kepala ke arah Pak Suroto yang baru saja tiba. "Pak Suroto, apa yang terjadi?" Pak Suroto menunduk. "Maaf, Pak. Hujan kemarin sangat deras, mungkin air merembes ke dalam dan merusak struktur tanah di bawahnya." Candra merasa marah, tapi dia menyembunyikannya. "Baik. Segera suruh pekerja mengisi lubang itu dengan tanah dan batu. Jangan biarkan ini menghambat pekerjaan." Dia berjalan mundur dari tepi lubang, tapi tiba-tiba sepatunya terjepit di antara batu yang longgar. Dia tersandung dan hampir terjatuh ke dalam lubang. "JANGAN MAJU!" teriak Lina tanpa berpikir dua kali. Dia melompat ke depan dan menarik lengan Candra dengan semua kekuatan, menyelamatkannya dari jatuh. Mereka berdua terjatuh di tanah, Lina di atas tubuh Candra. Ada sejenak keheningan. Lina melihat mata Candra yang terkejut, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Dia merasa malu dan segera bangkit, membersihkan baju yang kotor. "Maaf, Pak. Saya cuma khawatir." Candra juga bangkit, menyeka kemejanya. Dia melihat Lina dengan ekspresi yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya—campuran rasa terima kasih dan hasrat. "Terima kasih, Lina. Kalau bukan kamu, saya sudah terjatuh." Dia mendekat lagi, jarak antara mereka semakin sempit. "Kamu melihat ya? Kita saling membutuhkan. Kamu menyelamatkan saya, dan saya akan selalu melindungi kamu." Lina mundur perlahan. "Itu cuma tugas saya sebagai asistenmu, Pak." "Tidak, itu lebih dari itu." Candra mengambil tangannya dan memegangnya erat. "Aku tahu kamu masih takut, tapi nanti kamu akan mengerti. Semua ini untuk kita berdua." Tiba-tiba, bunyi telepon Candra berbunyi. Dia melepaskan tangannya Lina dan menjawabnya. Suaranya berubah menjadi dingin lagi ketika dia berbicara. "Ya, Ibu. Apa ada masalah? ... Tidak, saya sedang di lokasi proyek. ... Tidak, tidak ada yang salah. ... Baik, saya akan pulang besok untuk bertemu dia." Dia menutup telepon dan melihat Lina dengan wajah yang serius. "Siapa yang menelepon, Pak?" tanya Lina dengan hati-hati. "Ibu saya. Dia ingin saya bertemu dengan seorang wanita—calon istri yang dia pilih." Candra menghela napas. "Tapi itu tidak penting. Yang penting hanyalah kamu, Lina." Dia mengangkat dagunya lagi. "Jangan khawatir. Saya tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambilmu dari saya." Lina merasa semakin terjebak. Kalau ibunya Candra sudah memilih calon istri, apa yang akan terjadi padanya? Apakah Candra akan melepaskannya, atau apakah hal itu akan membuat obsesinya semakin besar? Saat itu, Pak Suroto mendekati mereka. "Pak Candra, pekerja sudah mulai mengisi lubang. Tapi kita butuh waktu beberapa jam untuk menyelesaikannya. Apakah kita akan melanjutkan pemeriksaan hari ini?" Candra melihat ke langit—sudah mulai siang. Dia melihat Lina, yang tampak lelah dan cemas. "Baik, kita berhenti sejenak. Mari kita makan dulu di kantor sementara. Setelah itu, kita akan memeriksa bagian lain yang aman." Mereka berjalan kembali ke bangunan kecil. Di jalan, Lina melihat seekor burung terbang bebas di langit, dan dia merindukan kebebasan itu. Tapi dia tahu—sekarang, kebebasan itu sudah jauh dari jangkauannya. Dan yang paling menakutkan adalah, dia mulai merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak ingin keluar dari dunia Candra. Di dalam kantor sementara, Pak Suroto sudah menyiapkan makan siang—nasi, lauk ayam, dan sayuran. Lina makan dengan lambat, pikirannya selalu tergeser ke telepon Candra tadi. Siapa wanita itu? Dan apa yang akan terjadi ketika mereka bertemu? Dia tidak menyadari bahwa Candra sedang melihatnya dengan mata yang penuh perhatian, memikirkan cara untuk membuatnya benar-benar menjadi miliknya—selamanya. Setelah makan siang, mereka melanjutkan pemeriksaan lokasi. Candra tetap berjalan di depan, tapi kali ini dia sering melihat ke belakang untuk memastikan Lina mengikuti. Lina sendiri masih terganggu dengan pembicaraan tentang calon istri Candra—kata-kata "saya tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambilmu dari saya" terus terngiang di kepalanya. Mereka tiba di bagian selatan lokasi, di mana pohon-pohon besar masih berdiri rapat. Candra berhenti dan menunjuk ke sebidang tanah yang tertutup semak. "Di sini akan ada rumah utama—tempat kita tinggal nanti. Jauh dari kebisingan kota, hanya kita berdua dan alam."Kemudian pagi tiba dengan sinar matahari yang menyinari hutan. Jalan keluar sudah dibersihkan oleh pekerja, dan mobil Candra siap untuk kembali ke kota. Lina duduk di dalam mobil dengan wajah pucat, tangan menggenggam tas kecilnya dengan erat. Candra mengemudi dengan tenang, tapi sesekali dia melihat ke arah Lina dengan tatapan yang penuh kasih sayang—kasih sayang yang semakin membuat Lina merasa terkurung. "Sekarang kita bisa mulai merencanakan masa depan kita, sayang," ujar Candra sambil menjepit tangan Lina yang ada di kursi sebelahnya. "Rumah utama sudah hampir selesai. Kamu akan tinggal di sana dengan aku, jauh dari semua masalah." Lina mencoba menarik tangannya perlahan. "Pak, saya... saya masih punya keluarga di desa. Saya perlu kembali untuk melihat mereka." Candra mengerutkan kening, ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Kamu tidak perlu khawatir tentang mereka lagi. Aku sudah mengirimkan uang yang cukup banyak untuk mereka. Mereka aka
Kegelapan yang tiba-tiba membuat Lina terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara teriak yang hampir keluar. Udara di dalam kantor sementara terasa semakin dingin, dan suara serangga yang tadinya menyemarakkan kini terasa mengerikan. Dia meraih senter kecil yang ada di atas meja kayu, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Cahaya tipis dari senter itu hanya mampu menerangi area kecil di depannya."Ada seseorang di sini?" bisiknya, meskipun tahu tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kantor. Tap... tap... tap... Polanya teratur tapi penuh dengan ancaman. Lina menekuk tubuhnya ke belakang, menjauhi pintu sambil tetap menunjuk senter ke arah sumber suara."Siapa itu? Pak Candra? Pak Suroto?" tanyanya dengan suara gemetar.Tidak ada jawaban. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lalu, pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan terbuka tanpa disentuh. Angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma b
Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?""Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini."Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan.Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?"Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "S
Candra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan."Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar
Pukul 05.30 pagi, langit masih terbungkus kegelapan yang pekat ketika Lina membuka mata. Malam ini dia tidak bisa tidur sama sekali—bayangan mata Candra yang mengawasinya di halte bis kemarin selalu terngiang-ngiang, campur dengan kata-katanya yang menyakitkan: "Kamu adalah milik saya". Dia merasakan getaran dingin di punggungnya, lalu segera bangkit dan mandi dengan air yang sedikit lebih hangat untuk menenangkan diri.Dia memakai baju kerja yang lebih awet: kemeja coklat muda yang tidak terlalu ketat, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang nyaman—karena dia tahu akan berjalan banyak di lokasi proyek. Dia memasukkan catatan tebal, pensil beberapa warna, botol air, dan sepotong roti ke dalam tasnya—takut tidak ada waktu makan di luar.Ketika dia keluar dari kamar, Bu Mimin sudah ada di depan pintu kosan, menyiram bunga dengan sebotol semprot. Cahaya lampu jalan sedikit menerangi wajahnya yang khawatir."Lina, pagi banget lagi hari ini? Kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu
Pukul 06.00 pagi—satu jam lebih cepat dari biasanya—Lina sudah bangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya selalu tergeser ke Tuan Muda Candra dan kata-katanya yang mengerikan: "Kamu adalah milik saya". Dia menggoyangkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu segera mandi dan memakai baju baru yang dia beli semalam—kemeja biru muda dan rok hitam yang lebih rapi dari yang biasa dia pakai.Setelah sarapan cepat, Lina keluar dari kosan. Bu Mimin yang sedang menyiram bunga melihat dia berjalan tergesa-gesa. "Lina, pagi banget ya hari ini? Kerja makin sibuk ya?" tanya Bu Mimin dengan senyum."Ya, Bu. Ada tugas baru," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia segera menuju halte bis, berharap bisa tiba di perusahaan lebih awal dari jam 07.00 yang ditetapkan Candra.Bis datang tepat waktu, dan kali ini Lina bisa mendapatkan tempat duduk. Dia membuka daftar tugas yang diberikan Candra semalam—mulai dari menyusun jadwal rapat, mengelola surat-menyurat, sampai menyiapkan segala







