Compartilhar

Di Lokasi Proyek

Autor: Calin
last update Última atualização: 2026-01-01 06:36:12

Pukul 05.30 pagi, langit masih terbungkus kegelapan yang pekat ketika Lina membuka mata. Malam ini dia tidak bisa tidur sama sekali—bayangan mata Candra yang mengawasinya di halte bis kemarin selalu terngiang-ngiang, campur dengan kata-katanya yang menyakitkan: "Kamu adalah milik saya".

Dia merasakan getaran dingin di punggungnya, lalu segera bangkit dan mandi dengan air yang sedikit lebih hangat untuk menenangkan diri.

Dia memakai baju kerja yang lebih awet: kemeja coklat muda yang tidak terlalu ketat, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang nyaman—karena dia tahu akan berjalan banyak di lokasi proyek. Dia memasukkan catatan tebal, pensil beberapa warna, botol air, dan sepotong roti ke dalam tasnya—takut tidak ada waktu makan di luar.

Ketika dia keluar dari kamar, Bu Mimin sudah ada di depan pintu kosan, menyiram bunga dengan sebotol semprot. Cahaya lampu jalan sedikit menerangi wajahnya yang khawatir.

"Lina, pagi banget lagi hari ini? Kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu sibuk kerja sampai lupa makan," ujar Bu Mimin sambil menyentuh bahu Lina dengan lembut. Dia melihat tas Lina yang besar. "Mau keluar kota ya? Jangan lupa beritahu kapan pulang, ya? Biar aku tidak khawatir."

"Ya, Bu. Mungkin sore baru pulang," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia merasakan kehangatan dari kata Bu Mimin—sesuatu yang jarang dia dapatkan semenjak pindah ke Jakarta sendirian. Dia segera menuju jalan raya, berjalan cepat karena takut terlambat sampai di perusahaan jam 06.30 seperti yang ditetapkan Candra.

Di jalan, hanya sedikit kendaraan yang lewat. Udara pagi masih segar, dan bunyi burung mulai terdengar. Tapi Lina tidak bisa menikmatinya—pikirannya selalu tergeser ke Candra: mengapa dia memilih dia sebagai asisten? Mengapa dia mengawasinya? Dan apa yang sebenarnya ada di foto kecil yang dia lihat setiap hari?

Setelah sepuluh menit berjalan, dia tiba di halte bis. Tapi ternyata, bis pertama baru akan datang pukul 06.00—yang berarti dia akan terlambat. Dia merasa panik, memutar kepala mencari ojek online.

Tapi sebelum dia bisa membuka aplikasi, sebuah mobil hitam besar mendekat dan berhenti tepat di depannya. Jendela samping kiri terbuka, dan dia melihat Candra duduk di kursi pengemudi, matanya tajam melihatnya.

"Masuk," katanya dengan suara yang dingin, tanpa ada ekspresi di wajahnya.

Lina terkejut. "Pak Candra? Kok kamu disini?"

"Tidak ada waktu bertanya. Masuk sekarang," katanya lagi, suara sedikit meningkat.

Lina tidak punya pilihan. Dia membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang. Mobil itu bersih dan nyaman, dengan bau parfum yang sama seperti yang diacium di kantor Candra—bau kayu dan bunga yang kuat tapi tidak menyakitkan hidung.

Candra langsung memutar mobil dan melaju ke jalan raya. Dia tidak bicara apa-apa. Lina duduk diam, melihat ke luar jendela—tanah kosong dan pohon mulai banyak terlihat, tanda mereka mulai menjauh dari pusat kota. Dia melihat jam di dasbor: pukul 06.15. Mereka sudah melaju cepat.

"Pak, lokasi proyek 'Permata Hijau' tidak di luar kota ya? Saya pikir itu di daerah Selatan Jakarta," tanya Lina dengan hati-hati, takut mengganggu dia.

Candra tidak melihatnya, tetap fokus ke jalan. "Itu lokasi sementara. Kita akan ke lokasi asli yang belum pernah diumumkan ke siapa pun," katanya dengan suara yang datar.

Lina merasa heran. "Lokasi asli? Mengapa belum diumumkan?"

"Karena itu proyek rahasia. Hanya saya dan beberapa orang penting yang tahu." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan: "Dan sekarang kamu juga tahu. Jangan pernah beritahu siapapun tentang tempat ini. Kalau tidak, kamu tahu apa yang akan terjadi."

Suaranya terdengar mengancam. Lina mengangguk cepat, tidak berani bicara lagi. Dia melihat ke luar jendela—jalan semakin sempit, dan pohon semakin rimbun. Mereka sudah memasuki daerah yang jarang dipadati orang.

Setelah perjalanan selama satu jam setengah, mobil Candra berhenti di depan gerbang kayu yang besar, tertutup semak-semak. Di atas gerbang, ada tulisan kecil yang sulit dibaca: "TANAH KOSONG HAK MILIK GRIYA PERMATA ABADI". Candra keluar dari mobil, mendekati gerbang, dan membukanya dengan kunci yang dia ambil dari saku jasnya.

Dia kembali ke mobil dan melaju masuk. Setelah beberapa meter, Lina melihat pemandangan yang menakjubkan: sebidang tanah luas yang datar, dikelilingi pohon-pohon besar, dengan pemandangan bukit di kejauhan.

Di tengah tanah itu, ada bangunan kecil yang tampak seperti kantor sementara, dan beberapa pekerja yang sudah mulai bekerja.

"Tapi, Pak—ini bukan lokasi proyek perumahan ya? Sepertinya lebih cocok untuk taman atau tempat peristirahatan," ujar Lina tanpa menyadari.

Candra berhenti mobil di depan bangunan kecil. Dia melihat Lina dengan mata yang tajam, tapi ada sesuatu di dalamnya yang Lina tidak bisa pahami. "Kamu benar. Ini bukan perumahan. Ini akan menjadi tempat yang khusus—hanya untuk saya dan orang yang saya pilih." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih lembut: "Termasuk kamu."

Lina merasa bulu kuduknya berdiri. Kalimat itu membuatnya merasa terjebak, seolah-olah dia tidak akan pernah bisa keluar dari dunia Candra.

Candra keluar dari mobil, dan Lina mengikuti. Seorang pria tua dengan baju kerja mendekati mereka, menyapa Candra dengan hormat. "Pak Candra, selamat pagi. Semua sudah siap seperti yang diperintahkan."

"Bagus, Pak Suroto. Hari ini kita akan memeriksa struktur tanah dan rencana pembangunan. Lina akan mencatat semua yang kita bicarakan," ujar Candra, lalu mengarahkan Lina ke dalam bangunan kecil.

Di dalam, ada meja besar dengan peta yang sangat detail dari tanah itu. Di peta, tergambar bangunan yang besar dan indah—seperti rumah istana kecil, dengan taman yang luas dan kolam renang. Lina melihat peta itu dengan heran. "Pak, ini rencana apa ya? Seperti rumah pribadi."

"Benar. Ini akan menjadi rumah saya yang baru," jawab Candra sambil berdiri di sebelahnya. Dia menunjuk ke salah satu bagian peta. "Dan di sini—bagian ini akan menjadi ruang khusus. Hanya untuk kamu."

Lina terkejut. "Untuk saya? Mengapa?"

Candra melihatnya dengan mata yang lembut—ekspresi yang jarang dia tunjukkan. "Karena kamu milik saya, Lina. Dan semua yang saya miliki, juga milik kamu. Tapi kamu harus ingat—kamu tidak boleh melarikan diri dari saya. Tidak pernah."

Saat itu, Lina melihat cahaya matahari mulai muncul dari balik bukit, menerangi peta di depan mereka. Tapi dia tidak merasa hangat—dia hanya merasa dingin, seolah-olah dia sedang terjebak di dalam labirin yang tidak ada jalan keluar.

Lina berdiri terbebani di depan peta, mata tidak bisa melepaskan pandang dari bagian yang ditunjuk Candra. Kata-katanya "kamu milik saya" terngiang-ngiang lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Dia ingin melari, tapi kaki dia seolah-olah menempel di lantai.

Pak Suroto sudah keluar untuk memeriksa pekerja, menyisakan mereka berdua di ruangan yang sunyi.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Tak bisa Lepas dari Obsesi nya

    Kemudian pagi tiba dengan sinar matahari yang menyinari hutan. Jalan keluar sudah dibersihkan oleh pekerja, dan mobil Candra siap untuk kembali ke kota. Lina duduk di dalam mobil dengan wajah pucat, tangan menggenggam tas kecilnya dengan erat. Candra mengemudi dengan tenang, tapi sesekali dia melihat ke arah Lina dengan tatapan yang penuh kasih sayang—kasih sayang yang semakin membuat Lina merasa terkurung. "Sekarang kita bisa mulai merencanakan masa depan kita, sayang," ujar Candra sambil menjepit tangan Lina yang ada di kursi sebelahnya. "Rumah utama sudah hampir selesai. Kamu akan tinggal di sana dengan aku, jauh dari semua masalah." Lina mencoba menarik tangannya perlahan. "Pak, saya... saya masih punya keluarga di desa. Saya perlu kembali untuk melihat mereka." Candra mengerutkan kening, ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Kamu tidak perlu khawatir tentang mereka lagi. Aku sudah mengirimkan uang yang cukup banyak untuk mereka. Mereka aka

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Semakin Obsesi

    Kegelapan yang tiba-tiba membuat Lina terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara teriak yang hampir keluar. Udara di dalam kantor sementara terasa semakin dingin, dan suara serangga yang tadinya menyemarakkan kini terasa mengerikan. Dia meraih senter kecil yang ada di atas meja kayu, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Cahaya tipis dari senter itu hanya mampu menerangi area kecil di depannya."Ada seseorang di sini?" bisiknya, meskipun tahu tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kantor. Tap... tap... tap... Polanya teratur tapi penuh dengan ancaman. Lina menekuk tubuhnya ke belakang, menjauhi pintu sambil tetap menunjuk senter ke arah sumber suara."Siapa itu? Pak Candra? Pak Suroto?" tanyanya dengan suara gemetar.Tidak ada jawaban. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lalu, pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan terbuka tanpa disentuh. Angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma b

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Rasa Takut Dan Kejutan

    Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?""Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini."Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan.Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?"Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "S

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Kejutan Di Tengah Hutan

    Candra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan."Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Di Lokasi Proyek

    Pukul 05.30 pagi, langit masih terbungkus kegelapan yang pekat ketika Lina membuka mata. Malam ini dia tidak bisa tidur sama sekali—bayangan mata Candra yang mengawasinya di halte bis kemarin selalu terngiang-ngiang, campur dengan kata-katanya yang menyakitkan: "Kamu adalah milik saya". Dia merasakan getaran dingin di punggungnya, lalu segera bangkit dan mandi dengan air yang sedikit lebih hangat untuk menenangkan diri.Dia memakai baju kerja yang lebih awet: kemeja coklat muda yang tidak terlalu ketat, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang nyaman—karena dia tahu akan berjalan banyak di lokasi proyek. Dia memasukkan catatan tebal, pensil beberapa warna, botol air, dan sepotong roti ke dalam tasnya—takut tidak ada waktu makan di luar.Ketika dia keluar dari kamar, Bu Mimin sudah ada di depan pintu kosan, menyiram bunga dengan sebotol semprot. Cahaya lampu jalan sedikit menerangi wajahnya yang khawatir."Lina, pagi banget lagi hari ini? Kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Hari Pertama Sebagai Asisten

    Pukul 06.00 pagi—satu jam lebih cepat dari biasanya—Lina sudah bangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya selalu tergeser ke Tuan Muda Candra dan kata-katanya yang mengerikan: "Kamu adalah milik saya". Dia menggoyangkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu segera mandi dan memakai baju baru yang dia beli semalam—kemeja biru muda dan rok hitam yang lebih rapi dari yang biasa dia pakai.Setelah sarapan cepat, Lina keluar dari kosan. Bu Mimin yang sedang menyiram bunga melihat dia berjalan tergesa-gesa. "Lina, pagi banget ya hari ini? Kerja makin sibuk ya?" tanya Bu Mimin dengan senyum."Ya, Bu. Ada tugas baru," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia segera menuju halte bis, berharap bisa tiba di perusahaan lebih awal dari jam 07.00 yang ditetapkan Candra.Bis datang tepat waktu, dan kali ini Lina bisa mendapatkan tempat duduk. Dia membuka daftar tugas yang diberikan Candra semalam—mulai dari menyusun jadwal rapat, mengelola surat-menyurat, sampai menyiapkan segala

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status