Home / Romansa / Obsesi Tuan Muda Candra / Rasa Takut Dan Kejutan

Share

Rasa Takut Dan Kejutan

Author: Calin
last update Last Updated: 2026-01-01 06:37:31

Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?"

"Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini."

Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan.

Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?"

Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "Siapa ini?"

"Cuma asisten saya," jawab Candra dengan suara yang dingin.

Sofia mendekat Lina dengan tatapan yang menyelidiki. "Asisten? Kamu terlihat agak muda untuk asisten pribadi Tuan Muda Candra. Nama kamu apa?"

"Lina, Bu," jawab Lina dengan sopan, menunduk.

Sofia mengangkat alis. "Lina... nama yang sederhana. Kamu bekerja dengan Candra sejak kapan?"

"Baru beberapa hari yang lalu, Bu."

Sebelum Lina bisa berkata lagi, Candra menarik Sofia ke sisi. "Aku bilang, aku sedang bekerja. Kenapa kamu datang tanpa memberitahu?" suaranya rendah tapi penuh kemarahan.

Sofia menunduk dengan malu. "Maaf, Candra. Aku cuma kangen melihatmu. Dan Ibu juga minta aku untuk berbicara denganmu tentang pernikahan kita. Dia ingin kita menikah dalam tiga bulan lagi."

Kata "pernikahan" itu membuat Lina terasa seperti tertusuk jarum. Dia melihat Candra, yang wajahnya menjadi semakin serius. "Tiga bulan? Itu terlalu cepat. Aku belum siap," katanya.

" Tapi Ibu sudah mempersiapkan segalanya! Dia bilang ini bagus untuk bisnis keluarga kita," lanjut Sofia, matanya mulai mengeluarkan air mata. "Kamu tidak suka aku lagi, ya?"

Candra menghela napas. "Bukan begitu, Sofia. Tapi aku punya hal-hal lain yang perlu diperhatikan sekarang." Dia melihat ke arah Lina, yang mencoba menyembunyikan diri di balik pohon. "Aku akan pulang besok dan berbicara dengan Ibu. Sekarang, kamu harus pulang—ini tempat kerja, tidak cocok untukmu."

Sofia mengangguk dan mengusap air matanya. "Baik, Candra. Aku tunggu kabarmu ya." Dia melihat Lina sekali lagi, dengan tatapan yang sedikit membenci, lalu masuk ke mobil dan pergi.

Setelah mobil Sofia hilang dari pandangan, Candra mendekati Lina. Dia melihat wajah Lina yang pucat dan berkata, "Jangan khawatir tentang dia. Dia tidak akan pernah menjadi bagian dari kehidupanku—hanya kamu yang bisa."

Lina mengangkat kepala. "Tapi Ibu mu memilih dia, Pak. Apa yang akan kamu lakukan kalau dia memaksa?"

Candra memegang tangannya dengan erat, sampai Lina merasakan sakit. "Tidak ada yang bisa memaksa aku. Kamu adalah milik saya, Lina—dan aku akan melakukan apapun untuk memastikan itu." Suaranya penuh kebencian, sesuatu yang Lina belum pernah lihat sebelumnya. Dia segera melepaskan tangannya ketika melihat Lina merasakan sakit. "Maaf. Aku tidak berniat menyakitimu."

Pada saat itu, Pak Suroto mendekati mereka dengan wajah yang khawatir. "Pak Candra, maaf mengganggu. Tapi ada masalah lagi—jalan menuju luar sudah terhalang oleh pohon yang tumbang karena angin kencang. Kita tidak bisa keluar dari sini sampai besok pagi, ketika pekerja bisa membersihkannya."

Lina terkejut. "Tidak bisa keluar? Berarti kita harus tinggal di sini malam ini?"

"Ya, Bu Lina. Kantor sementara ada tempat tidur sederhana untuk dua orang, tapi kita bisa membuat tempat tidur lagi untukmu," jawab Pak Suroto.

Candra tersenyum sedikit. "Tidak apa-apa. Ini akan menjadi kesempatan bagus untuk kita berdua menghabiskan waktu bersama, Lina. Tanpa gangguan siapa pun."

Lina merasa jantungnya berdebar kencang. Malam ini, dia akan terjebak di hutan dengan Candra—orang yang obsesi padanya semakin parah. Apa yang akan terjadi padanya? Apakah Candra akan melakukan sesuatu yang buruk?

Malam tiba dengan cepat. Udara menjadi dingin, dan suara serangga menyemarakkan suasana. Pak Suroto dan pekerja membuat tempat tidur sederhana di luar kantor sementara, sedangkan Candra dan Lina berada di dalam. Di dalam kantor, hanya ada satu lampu kecil yang menyinari ruangan.

Candra duduk di dekat Lina. "Kamu takut, ya?" tanyanya dengan suara lembut.

Lina mengangguk. "Ya, Pak. Aku takut tidak bisa keluar, dan aku takut tentang apa yang akan terjadi."

Candra memegang dagunya dengan lembut. "Jangan takut. Aku akan melindungi kamu. Malam ini, kita bisa berbicara banyak hal—tentang kita berdua." Dia melihat mata Lina dengan tatapan yang penuh hasrat. "Aku suka kamu, Lina. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu kamu adalah milik saya."

Lina mundur perlahan. "Pak, saya... saya tidak tahu apa yang harus saya katakan."

"Kamu tidak perlu berkata apa-apa. Cukup biarkan aku mencintaimu." Candra mendekat semakin dekat, mulutnya hampir menyentuh bibir Lina.

Tiba-tiba, bunyi suara orang yang berteriak terdengar dari luar. "Pak Candra! Maaf, ada kebakaran di bagian utara lokasi! Pohon yang kering terbakar karena api dari kompor makan siang!"

Candra terkejut dan segera bangkit. "Apa? Segera suruh pekerja memadamkannya!" Dia melihat Lina. "Aku harus pergi membantu. Kamu tetap di sini, ya. Jangan keluar."

Dia keluar dengan cepat, meninggalkan Lina sendirian di dalam kantor. Lina merasa lega, tapi juga khawatir tentang kebakaran. Dia berdiri di jendela dan melihat api yang menyala di kejauhan, dengan pekerja yang sibuk memadamkannya. Di tengah kegaduhan itu, dia melihat sesuatu yang membuatnya merinding—sebuah bayangan yang tampak seperti Sofia, berdiri di balik pohon, melihat ke arah mereka.

Apakah itu hanya khayalan Lina? Atau apakah Sofia tidak benar-benar pulang? Dan apa yang dia mau lakukan di sini?

Lina berdiri beku di jendela, mata tidak bisa melepaskan pandang dari bayangan itu. Bayangan itu tampak memutar kepala, seolah-olah menyadari bahwa Lina sedang melihatnya. Lalu, ia perlahan menghilang di balik semak-semak yang tebal.

"Apakah itu benar-benar Sofia?" bisik Lina sendirian, dada berdebar kencang. Dia ingin keluar untuk memeriksa, tapi ingat kata Candra yang menyuruhnya tetap di dalam. Takut dan bingung, dia duduk di atas tempat tidur sederhana dan memegang lengan baju dengan erat.

Setelah beberapa menit, api kebakaran mulai mereda. Suara orang yang berteriak juga semakin redup. Lina melihat Candra dan pekerja berjalan kembali ke arah kantor sementara. Tapi tiba-tiba, semua lampu di lokasi tiba-tiba padam—kebuan total menyelimuti segala sesuatu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Tamat

    Beberapa bulan setelah buku cerita nasional mereka terbit, Candra dan Lina berdiri di depan gedung baru yayasan yang terletak di persimpangan kota Sorong—bangunan yang tidak hanya menjadi pusat konseling, tetapi juga rumah bagi sekolah seni dan pusat pelatihan hukum yang penuh belas kasihan. Plakat di pintu depan berbunyi: "Rumah Harapan: Dari Obsesi Menuju Pemulihan"."Hampir sulit dipercaya bahwa semua ini dimulai dari cerita kita sendiri," ujar Lina sambil melihat anak-anak yang sedang melukis di halaman depan. Dia baru saja menyelesaikan buku panduan nasional tentang terapi kreatif untuk penyembuhan trauma, yang akan digunakan di ribuan sekolah dan klinik di seluruh Indonesia.Candra mengangguk, matanya tertuju pada foto-foto yang terpampang di dinding lobi—Hasan yang kini menjadi instruktur musik untuk anak-anak, Rudi yang sedang membacakan cerita di acara literasi nasional, Maria dari Raja Ampat yang sedang mengajar ibu-ibu menggambar, dan Joko dari Fakfak yang menunjukkan hasil

  • Obsesi Tuan Muda Candra    cahaya

    Beberapa minggu setelah menerima penghargaan, kabar datang bahwa yayasan diundang untuk membagikan pengalaman di Konferensi Kesehatan Mental Nasional di Jakarta. Candra berangkat dengan Siti dan Hasan, membawa buku cerita bergambar anak-anak dan lukisan mahasiswi Manokwari. Di panggung, dia menceritakan bagaimana obsesi yang pernah menjadi badai kini berubah menjadi hujan penyegarkan—cerita yang membuat banyak peserta menangis dan bertepuk tangan. Seorang perwakilan dari Kementerian Kesehatan menawarkan kerja sama untuk menyebarkan program terapi kreatif ke seluruh Pulau Papua. “Kita tidak akan berhenti di sini,” ujar Candra dengan suara tegas.Setelah kembali ke Sorong, tim yayasan segera merencanakan ekspansi ke Kabupaten Raja Ampat dan Fakfak. Rio mengelola keuangan, Bu Ratna mengatur pelatihan relawan, sedangkan Lina menulis materi pendidikan tentang penyembuhan trauma. Saat itu, Rudi dan teman-temannya telah menyelesaikan buku cerita kedua, tentang pahlawan yang mengajarkan maaf

  • Obsesi Tuan Muda Candra    pernah

    Beberapa hari kemudian, hujan sore masih turun dengan konsistensi, genangan air di jalan yayasan kini menjadi tempat anak-anak bermain menyelam jari, bukan tempat yang menakutkan. Candra mengawasi mereka dari jendela ruang kelas baru, sambil meninjau laporan perkembangan program terapi kreatif. Dina mendekati, memegang buku catatan. “Pak Candra, Rudi sekarang tidak hanya menggambar bintang, tapi juga mengajari teman-temannya. Anak-anak yang dulu diam kini aktif bercerita tentang impian mereka.” Candra tersenyum—rantai harapan memang terus memanjang.Tiba-tiba, ponselnya berdering: panggilan dari Siti. Suaranya penuh kegembiraan. “Pak Candra, aku sudah melahirkan! Bayi perempuan, kami menyebutnya Candra, seperti yang dijanjikan.” Candra merasa dada terasa hangat, segera berangkat ke rumah Siti di Kabupaten Sorong Selatan. Ketika tiba, ibu Siti yang dulu terjebak obsesi balas dendam menyambutnya dengan senyum lebar. Dia menunjukkan bayi yang tidur damai, lalu berkata, “Kau yang membuat

  • Obsesi Tuan Muda Candra    obsesi

    Hujan masih terus mengguyur setiap sore, tapi kini genangan air di jalan-jalan tidak lagi terasa seperti penghalang—melainkan sebagai bukti bahwa alam juga memiliki cara untuk membersihkan dan menyegarkan segala sesuatu yang terlanjur kotor. Lima bulan setelah peluncuran program terapi kreatif, Candra berdiri di depan ruangan kelas yang baru direnovasi, melihat anak-anak sedang fokus menyusun cerita bergambar tentang masa depan yang mereka impikan. Setiap sisipan warna dan setiap kalimat yang mereka tulis adalah bukti nyata bahwa luka lama bisa tumbuh menjadi sesuatu yang indah.“Salah satu anak baru, Rudi, kemarin cerita kalau dia sudah bisa tidur tanpa mimpi buruk lagi,” ujar konselor muda Dina sambil mendekati Candra. “Dia bilang ketika merasa takut, dia akan menggambar bintang-bintang seperti yang Anda ajarkan di sesi pertama.”Candra tersenyum hangat. “Itu bukan hasil dari apa yang kulakukan, Dina. Itu karena kamu dan tim telah bekerja dengan penuh kasih untuk membimbing mereka.

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Obsesi yang Mulia Menghilang ?

    Beberapa bulan setelah acara ulang tahun Yayasan Peduli Hati, musim hujan mulai menghampiri Sorong. Hujan deras mengguyur kota setiap sore, membungkus jalan-jalan dengan genangan air dan memberikan kesegaran pada udara yang biasanya lembap. Di dalam kantor LSM yang kini telah memperluas ruang kerja berkat dukungan perusahaan multinasional, Candra duduk di mejanya sambil melihat laporan terbaru tentang perkembangan klien yang telah mengikuti program pelatihan konselor. Setiap baris data yang menunjukkan kemajuan membuatnya tersenyum—banyak korban yang kini mulai menemukan kembali kontrol atas pikiran mereka, dan angka kekambuhan gangguan obsesif terus menurun secara signifikan. Saat itu, pintu kantor terbuka perlahan dan Rio masuk membawa secangkir kopi hangat. "Kamu lagi melihat laporan ya, Cand?" ujarnya sambil meletakkan gelas di atas meja. "Sudah jam delapan malam, kamu harus pulang istirahat. Bu Ratna sudah menyiapkan makanan kesukaanmu di rumah." Candra meng

  • Obsesi Tuan Muda Candra    kerja sama

    Beberapa minggu setelah acara peluncuran, Candra menerima panggilan dari sekretaris Yayasan Peduli Hati yang menyampaikan bahwa program pelatihan konselor yang mereka rencanakan mendapatkan dukungan finansial dari sebuah perusahaan multinasional yang beroperasi di wilayah Sorong. Kabar ini membuat hati Candra penuh kegembiraan, bukan hanya karena kerja sama bisa terealisasi dengan baik, tapi juga karena dia melihat bahwa upayanya untuk membantu orang lain mulai memberikan dampak nyata.Pada hari pertama pelatihan, Candra menjadi salah satu narasumber utama yang membawakan materi tentang hubungan antara trauma psikologis dan perkembangan gangguan obsesif pada korban kekerasan. Saat dia berdiri di depan puluhan konselor muda yang penuh semangat, dia tidak bisa tidak mengingat masa-masa sulitnya beberapa bulan yang lalu. Dia berbagi pengalaman pribadinya dengan terbuka, bukan untuk mendapatkan rasa kasihan, tapi untuk menunjukkan bahwa bahkan mereka yang pernah terjebak dalam kegelapan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status