로그인Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?"
"Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini." Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan. Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?" Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "Siapa ini?" "Cuma asisten saya," jawab Candra dengan suara yang dingin. Sofia mendekat Lina dengan tatapan yang menyelidiki. "Asisten? Kamu terlihat agak muda untuk asisten pribadi Tuan Muda Candra. Nama kamu apa?" "Lina, Bu," jawab Lina dengan sopan, menunduk. Sofia mengangkat alis. "Lina... nama yang sederhana. Kamu bekerja dengan Candra sejak kapan?" "Baru beberapa hari yang lalu, Bu." Sebelum Lina bisa berkata lagi, Candra menarik Sofia ke sisi. "Aku bilang, aku sedang bekerja. Kenapa kamu datang tanpa memberitahu?" suaranya rendah tapi penuh kemarahan. Sofia menunduk dengan malu. "Maaf, Candra. Aku cuma kangen melihatmu. Dan Ibu juga minta aku untuk berbicara denganmu tentang pernikahan kita. Dia ingin kita menikah dalam tiga bulan lagi." Kata "pernikahan" itu membuat Lina terasa seperti tertusuk jarum. Dia melihat Candra, yang wajahnya menjadi semakin serius. "Tiga bulan? Itu terlalu cepat. Aku belum siap," katanya. " Tapi Ibu sudah mempersiapkan segalanya! Dia bilang ini bagus untuk bisnis keluarga kita," lanjut Sofia, matanya mulai mengeluarkan air mata. "Kamu tidak suka aku lagi, ya?" Candra menghela napas. "Bukan begitu, Sofia. Tapi aku punya hal-hal lain yang perlu diperhatikan sekarang." Dia melihat ke arah Lina, yang mencoba menyembunyikan diri di balik pohon. "Aku akan pulang besok dan berbicara dengan Ibu. Sekarang, kamu harus pulang—ini tempat kerja, tidak cocok untukmu." Sofia mengangguk dan mengusap air matanya. "Baik, Candra. Aku tunggu kabarmu ya." Dia melihat Lina sekali lagi, dengan tatapan yang sedikit membenci, lalu masuk ke mobil dan pergi. Setelah mobil Sofia hilang dari pandangan, Candra mendekati Lina. Dia melihat wajah Lina yang pucat dan berkata, "Jangan khawatir tentang dia. Dia tidak akan pernah menjadi bagian dari kehidupanku—hanya kamu yang bisa." Lina mengangkat kepala. "Tapi Ibu mu memilih dia, Pak. Apa yang akan kamu lakukan kalau dia memaksa?" Candra memegang tangannya dengan erat, sampai Lina merasakan sakit. "Tidak ada yang bisa memaksa aku. Kamu adalah milik saya, Lina—dan aku akan melakukan apapun untuk memastikan itu." Suaranya penuh kebencian, sesuatu yang Lina belum pernah lihat sebelumnya. Dia segera melepaskan tangannya ketika melihat Lina merasakan sakit. "Maaf. Aku tidak berniat menyakitimu." Pada saat itu, Pak Suroto mendekati mereka dengan wajah yang khawatir. "Pak Candra, maaf mengganggu. Tapi ada masalah lagi—jalan menuju luar sudah terhalang oleh pohon yang tumbang karena angin kencang. Kita tidak bisa keluar dari sini sampai besok pagi, ketika pekerja bisa membersihkannya." Lina terkejut. "Tidak bisa keluar? Berarti kita harus tinggal di sini malam ini?" "Ya, Bu Lina. Kantor sementara ada tempat tidur sederhana untuk dua orang, tapi kita bisa membuat tempat tidur lagi untukmu," jawab Pak Suroto. Candra tersenyum sedikit. "Tidak apa-apa. Ini akan menjadi kesempatan bagus untuk kita berdua menghabiskan waktu bersama, Lina. Tanpa gangguan siapa pun." Lina merasa jantungnya berdebar kencang. Malam ini, dia akan terjebak di hutan dengan Candra—orang yang obsesi padanya semakin parah. Apa yang akan terjadi padanya? Apakah Candra akan melakukan sesuatu yang buruk? Malam tiba dengan cepat. Udara menjadi dingin, dan suara serangga menyemarakkan suasana. Pak Suroto dan pekerja membuat tempat tidur sederhana di luar kantor sementara, sedangkan Candra dan Lina berada di dalam. Di dalam kantor, hanya ada satu lampu kecil yang menyinari ruangan. Candra duduk di dekat Lina. "Kamu takut, ya?" tanyanya dengan suara lembut. Lina mengangguk. "Ya, Pak. Aku takut tidak bisa keluar, dan aku takut tentang apa yang akan terjadi." Candra memegang dagunya dengan lembut. "Jangan takut. Aku akan melindungi kamu. Malam ini, kita bisa berbicara banyak hal—tentang kita berdua." Dia melihat mata Lina dengan tatapan yang penuh hasrat. "Aku suka kamu, Lina. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu kamu adalah milik saya." Lina mundur perlahan. "Pak, saya... saya tidak tahu apa yang harus saya katakan." "Kamu tidak perlu berkata apa-apa. Cukup biarkan aku mencintaimu." Candra mendekat semakin dekat, mulutnya hampir menyentuh bibir Lina. Tiba-tiba, bunyi suara orang yang berteriak terdengar dari luar. "Pak Candra! Maaf, ada kebakaran di bagian utara lokasi! Pohon yang kering terbakar karena api dari kompor makan siang!" Candra terkejut dan segera bangkit. "Apa? Segera suruh pekerja memadamkannya!" Dia melihat Lina. "Aku harus pergi membantu. Kamu tetap di sini, ya. Jangan keluar." Dia keluar dengan cepat, meninggalkan Lina sendirian di dalam kantor. Lina merasa lega, tapi juga khawatir tentang kebakaran. Dia berdiri di jendela dan melihat api yang menyala di kejauhan, dengan pekerja yang sibuk memadamkannya. Di tengah kegaduhan itu, dia melihat sesuatu yang membuatnya merinding—sebuah bayangan yang tampak seperti Sofia, berdiri di balik pohon, melihat ke arah mereka. Apakah itu hanya khayalan Lina? Atau apakah Sofia tidak benar-benar pulang? Dan apa yang dia mau lakukan di sini? Lina berdiri beku di jendela, mata tidak bisa melepaskan pandang dari bayangan itu. Bayangan itu tampak memutar kepala, seolah-olah menyadari bahwa Lina sedang melihatnya. Lalu, ia perlahan menghilang di balik semak-semak yang tebal. "Apakah itu benar-benar Sofia?" bisik Lina sendirian, dada berdebar kencang. Dia ingin keluar untuk memeriksa, tapi ingat kata Candra yang menyuruhnya tetap di dalam. Takut dan bingung, dia duduk di atas tempat tidur sederhana dan memegang lengan baju dengan erat. Setelah beberapa menit, api kebakaran mulai mereda. Suara orang yang berteriak juga semakin redup. Lina melihat Candra dan pekerja berjalan kembali ke arah kantor sementara. Tapi tiba-tiba, semua lampu di lokasi tiba-tiba padam—kebuan total menyelimuti segala sesuatu.Kemudian pagi tiba dengan sinar matahari yang menyinari hutan. Jalan keluar sudah dibersihkan oleh pekerja, dan mobil Candra siap untuk kembali ke kota. Lina duduk di dalam mobil dengan wajah pucat, tangan menggenggam tas kecilnya dengan erat. Candra mengemudi dengan tenang, tapi sesekali dia melihat ke arah Lina dengan tatapan yang penuh kasih sayang—kasih sayang yang semakin membuat Lina merasa terkurung. "Sekarang kita bisa mulai merencanakan masa depan kita, sayang," ujar Candra sambil menjepit tangan Lina yang ada di kursi sebelahnya. "Rumah utama sudah hampir selesai. Kamu akan tinggal di sana dengan aku, jauh dari semua masalah." Lina mencoba menarik tangannya perlahan. "Pak, saya... saya masih punya keluarga di desa. Saya perlu kembali untuk melihat mereka." Candra mengerutkan kening, ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Kamu tidak perlu khawatir tentang mereka lagi. Aku sudah mengirimkan uang yang cukup banyak untuk mereka. Mereka aka
Kegelapan yang tiba-tiba membuat Lina terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara teriak yang hampir keluar. Udara di dalam kantor sementara terasa semakin dingin, dan suara serangga yang tadinya menyemarakkan kini terasa mengerikan. Dia meraih senter kecil yang ada di atas meja kayu, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Cahaya tipis dari senter itu hanya mampu menerangi area kecil di depannya."Ada seseorang di sini?" bisiknya, meskipun tahu tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kantor. Tap... tap... tap... Polanya teratur tapi penuh dengan ancaman. Lina menekuk tubuhnya ke belakang, menjauhi pintu sambil tetap menunjuk senter ke arah sumber suara."Siapa itu? Pak Candra? Pak Suroto?" tanyanya dengan suara gemetar.Tidak ada jawaban. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lalu, pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan terbuka tanpa disentuh. Angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma b
Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?""Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini."Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan.Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?"Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "S
Candra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan."Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar
Pukul 05.30 pagi, langit masih terbungkus kegelapan yang pekat ketika Lina membuka mata. Malam ini dia tidak bisa tidur sama sekali—bayangan mata Candra yang mengawasinya di halte bis kemarin selalu terngiang-ngiang, campur dengan kata-katanya yang menyakitkan: "Kamu adalah milik saya". Dia merasakan getaran dingin di punggungnya, lalu segera bangkit dan mandi dengan air yang sedikit lebih hangat untuk menenangkan diri.Dia memakai baju kerja yang lebih awet: kemeja coklat muda yang tidak terlalu ketat, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang nyaman—karena dia tahu akan berjalan banyak di lokasi proyek. Dia memasukkan catatan tebal, pensil beberapa warna, botol air, dan sepotong roti ke dalam tasnya—takut tidak ada waktu makan di luar.Ketika dia keluar dari kamar, Bu Mimin sudah ada di depan pintu kosan, menyiram bunga dengan sebotol semprot. Cahaya lampu jalan sedikit menerangi wajahnya yang khawatir."Lina, pagi banget lagi hari ini? Kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu
Pukul 06.00 pagi—satu jam lebih cepat dari biasanya—Lina sudah bangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya selalu tergeser ke Tuan Muda Candra dan kata-katanya yang mengerikan: "Kamu adalah milik saya". Dia menggoyangkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu segera mandi dan memakai baju baru yang dia beli semalam—kemeja biru muda dan rok hitam yang lebih rapi dari yang biasa dia pakai.Setelah sarapan cepat, Lina keluar dari kosan. Bu Mimin yang sedang menyiram bunga melihat dia berjalan tergesa-gesa. "Lina, pagi banget ya hari ini? Kerja makin sibuk ya?" tanya Bu Mimin dengan senyum."Ya, Bu. Ada tugas baru," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia segera menuju halte bis, berharap bisa tiba di perusahaan lebih awal dari jam 07.00 yang ditetapkan Candra.Bis datang tepat waktu, dan kali ini Lina bisa mendapatkan tempat duduk. Dia membuka daftar tugas yang diberikan Candra semalam—mulai dari menyusun jadwal rapat, mengelola surat-menyurat, sampai menyiapkan segala







