Mag-log inKamar VIP yang dipilih Daniel terasa seperti apartemen kecil di dalam rumah sakit. Ruangannya luas. Ada tempat tidur utama untuk Nadia. Satu tempat tidur pendamping di sisi lain. Ruang tamu kecil dengan sofa nyaman. Dan area perawatan yang terpisah. Semua tertata rapi. Tenang. Namun tetap tidak bisa sepenuhnya menghilangkan aroma khas rumah sakit. Nadia duduk bersandar dengan bantal tinggi. Elena berada di sampingnya, menggambar dengan serius. Sesekali ia melirik Nadia. Memastikan, bahwa wanita itu benar-benar ada. Masih di sana. Di ruang tamu Ayu duduk sambil menyilangkan kaki. Rudi berdiri di dekat jendela. Sementara Lina merapikan beberapa barang. “Om Rudi, jangan bengong terus,” kata Ayu santai. Rudi menoleh. “Kamu ini...” Ayu menyeringai. “Kenapa, om?” Rudi menggeleng kecil. “Tidak ada.” Lina tertawa pelan. “Ayu, jangan ganggu terus.” Ayu langsung menjawab, “Iya, tante” ucap Ayu yang nada suaranya sengaja dibuat manja. Lina hanya tersenyum. Tiba-tiba, ke
Pagi datang perlahan di rumah sakit. Cahaya matahari masuk lewat jendela, menyapu lembut ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan. Kini lebih tenang. Lebih damai. Namun tidak sepenuhnya. Karena di luar kamar itu, pertanyaan masih menggantung. Di lorong rumah sakit, Rudi berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tangannya menyilang. Wajahnya terlihat serius. Lina duduk di kursi, memegang tas kecil di pangkuannya. Keduanya diam cukup lama. Seolah masih memproses apa yang terjadi. “Aku masih tidak habis pikir..” akhirnya Rudi bicara. Lina menoleh. “Apa?” tanya Lina. Rudi menghela napas. “Anak kita, Nadia” Ia menggeleng pelan. “Dia sedang hamil kembar,” Lina diam. “Tapi dia tetap lompat ke kolam tanpa pikir panjang untuk menolong Elena” lanjut Rudi. Nada suaranya bukan marah. Tapi lebih ke bingung. “Aku juga kaget, yah” ucap Lina sambil menundukan kepalanya sedikit. Ia mengusap tangannya pelan. “Tapi, aku nggak heran sama anak kita.” Ru
Malam semakin larut. Kamar rumah sakit akhirnya kembali tenang. Elena tertidur di sisi tempat tidur, masih menggenggam tangan Nadia. Wajahnya terlihat lebih damai, walaupun bekas air mata masih jelas terlihat di pipinya. Nadia sendiri mulai terlelap, napasnya pelan dan stabil. Lampu redup. Suara monitor tetap berdetak pelan. Dan di sudut ruangan, Daniel berdiri diam. Ia tidak duduk. Tidak bergerak. Hanya menatap dua sosok itu. Wanita yang ia cintai. Dan anak yang ia lindungi. Beberapa jam lalu, ia hampir kehilangan keduanya. Dan itu cukup untuk membuat sesuatu dalam dirinya berubah. Daniel berjalan perlahan mendekat. Duduk di kursi di samping tempat tidur. Tangannya menyentuh tangan Nadia. Hangat. Nyata. Masih di sana. Ia menunduk sedikit. Matanya tidak lepas dari wajah Nadia. Wajah yang beberapa jam lalu pucat karena kesakitan, namun karena ia memilih untuk melompat menyelamatkan putrinya. Tanpa berpikir. Tanpa ragu. “Gila..” bisik Dani
Di kamar rumah sakit, lampu diredupkan. Suara mesin monitor berdetak pelan, teratur, menenangkan setidaknya bagi sebagian orang. Namun tidak untuk Elena. Gadis kecil itu duduk di kursi dekat tempat tidur, memeluk bonekanya erat. Matanya tidak lepas dari Nadia. Seolah jika ia berpaling satu detik saja, semuanya akan hilang lagi. “Elena” Suara Daniel terdengar pelan dari sudut ruangan. “Kamu harus istirahat.” Elena menggeleng cepat. “Aku tidak mau tidur” ucap Elena pelan. Namun tegas. Daniel menatapnya beberapa detik. Ia ingin memaksa. Namun melihat mata itu, mata yang penuh ketakutan, ia tidak bisa memaksanya. Nadia membuka matanya perlahan. “Elena” ucap Nadia pelan. Gadis kecil itu langsung berdiri. “Mama ”kata Elena dan ia berjalan mendekat. Sangat pelan. Seolah takut menyentuh pun bisa menyakiti. Nadia tersenyum lemah. “Kamu belum tidur?” Elena menggeleng. “Aku mau di sini” jawab Elena. Beberapa detik hening. Namun Elena terlihat gelisah. Tangannya menggeng
Rumah sakit kembali menjadi tempat yang menegangkan. Lampu putih yang terang. Langkah kaki yang tergesa. Dan suara napas yang terasa terlalu keras di telinga. Daniel berjalan cepat di samping brankar. Tangannya tidak pernah lepas dari Nadia. “Nadia, lihat aku” ucap Daniel dengan suara panik. Nadia mencoba membuka matanya. Namun wajahnya masih pucat. Tangannya tetap memegang perutnya. “Perutku masih kram..” ucap Nadia. Suaranya lemah. Elena berjalan di belakang bersama Ayu. Wajahnya penuh air mata. “Mama Nadia..” Ia terus memanggil. Seolah takut jika suara itu berhenti, semuanya akan hilang lagi. Pintu ruang penanganan tertutup. Daniel terpaksa melepaskan tangan Nadia. Dan itu terasa seperti hal tersulit yang harus ia lakukan. “Nadia..” Namun pintu sudah tertutup. Beberapa detik. Sunyi. Daniel menutup matanya. Menarik napas dalam. Namun kali ini, bahkan itu tidak cukup untuk menenangkan dirinya. “Elena” ucap Ayu lembut. Ayu berlutut di depan gadis kecil itu.
Hari itu dimulai dengan ringan. Terlalu ringan. Seolah semua orang akhirnya benar-benar bisa bernapas setelah semua yang terjadi. Pagi di halaman belakang villa Blankenese terasa cerah. Kolam renang yang beberapa hari lalu dibersihkan kini terlihat jernih, memantulkan langit biru Hamburg yang jarang muncul. Elena berlari kecil di sekitar taman, memegang Bruno. “Ke sini!” kata Elena riang, seolah Bruno bisa benar-benar mengerti. Di kursi dekat kolam, Ayu duduk santai, sementara Paul berdiri tak jauh, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. “Kalau kamu mau lihat, lihat saja,” kata Ayu tanpa menoleh. Paul mengangkat alis. “Saya tidak melihat apa-apa.” Ayu menyeringai. “Iya, iya.” Di balkon atas, Nadia berdiri dengan hati-hati, ditemani Camille. “Madame sebaiknya tidak terlalu lama berdiri,” ujar Camille. Nadia tersenyum. “Aku hanya lihat Elena sebentar.” Matanya mengikuti gerak anak itu. Penuh kasih. Penuh perhatian. Di bawah, Elena tertawa sambil berlari mundur. “Brun
Pagi di Ubud datang perlahan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu ketenangan. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, burung-burung kecil bernyanyi tanpa tergesa, dan cahaya matahari menyusup malu-malu ke sela dedaunan. Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Ia merasakan kehadir
Waktu di antara mereka tidak lagi terasa seperti jembatan. Ia berubah menjadi ruang kosong yang semakin sulit dijangkau. Di Ubud, Nadia duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar pada ranjang. Lampu kamar sengaja ia redupkan, seolah terang berlebih hanya akan memperjelas rasa sepi yang tak bisa
Malam di Ubud terasa berbeda sejak Daniel kembali. Udara tetap hangat, angin tetap lembut, tapi ada ketegangan halus yang menggantung di antara mereka tapi bukan ketegangan buruk, melainkan kesadaran bahwa sesuatu telah berubah. Mereka duduk di teras belakang kafe Nadia. Lampu kuning kecil menyala
Pagi itu terasa terlalu tenang untuk sebuah perubahan besar. Nadia bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sarapan sederhana: roti panggang, telur, dan kopi hitam untuk Daniel. Ia melakukan semuanya dengan gerakan ringan, seolah takut suara kecil apa pun akan membangunkan kebahagiaan yang masih rapuh. D







