Beranda / Romansa / Om Bule Kekasihku / Janji Yang Tak Tergesa

Share

Janji Yang Tak Tergesa

Penulis: Sabrina dewi
last update Tanggal publikasi: 2026-01-04 15:06:16

Senja turun perlahan di Bali.

Langit memerah lembut, seolah laut dan langit sepakat menahan warna terbaiknya sedikit lebih lama. Daniel dan Nadia duduk di beranda vila kecil yang menghadap sawah. Angin membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja. Tidak ada musik, tidak ada suara kota, hanya desir serangga dan napas yang kini terasa lebih ringan.

Sejak pagi di Pantai Kuta, mereka tidak banyak bicara. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing sedang menyusun sesuatu di dalam d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Om Bule Kekasihku   Hangatnya Dapur Dan Cerita Lama

    Beberapa hari setelah “misi nasi kuning” yang sukses besar, dapur villa Blankenese kembali hidup. Kali ini bukan karena keinginan mendadak, melainkan karena Nadia ingin melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan. Memasak. “Aku mau buat bakso Malang” ucap Nadia sambil berdiri di dapur, mengenakan apron sederhana. Ayu langsung menoleh cepat. “Serius?” Nadia mengangguk. “Iya. Aku lagi pengen banget makan itu” Lina tersenyum hangat. “Mama bantu, nak” ucap Lina. Camille yang berdiri di dekat pintu terlihat sedikit ragu. “Apakah Madame tidak kelelahan?” tanya Camille. Nadia tersenyum. “Aku tidak akan berdiri lama.” Ayu langsung menyela, “Kita yang kerja beratnya. Nadia cuma ‘supervisi’.” Nadia tertawa. Tak lama kemudian, dapur berubah menjadi lebih ramai. Lina menggiling daging. Ayu menyiapkan bumbu. Nadia duduk di kursi tinggi, sesekali mencicipi dan memberi arahan. “Ayu, garamnya tambah sedikit lagi” “Bawang putih gorengnya tambah lagi” Camille berdiri di de

  • Om Bule Kekasihku   Nasi Kuning Dan Rasa Rumah

    Pagi di villa Blankenese dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa. Bukan karena suasana yang berbeda. Melainkan karena satu keinginan sederhana dari Nadia. Nadia berdiri di dapur, bersandar ringan di meja, sambil memperhatikan Lina yang sedang memotong bahan. “Ma..” “Iya, Nadia?” jawab Lina. Nadia tersenyum kecil. “Aku pengen nasi kuning.” Lina berhenti sejenak. “Nasi kuning?” Nadia mengangguk pelan. “Nasi kuning buatan mama, seperti yang dulu” Nada suaranya lembut. Hampir seperti anak kecil yang sedang rindu masakan rumah. Lina langsung tersenyum hangat. “Nanti mama buatkan ya” ucap Lina lembut. Ayu yang baru masuk dapur langsung menyahut, “Wah.. ngidam ya ceritanya.” Nadia tertawa. “Pengen aja” Ayu menyilangkan tangan. “Padahal kita bisa pesan di restoran Indonesia.” Nadia menggeleng. “Rasanya beda” Ia menatap Lina. “Aku mau yang buatan mama.” Lina tersenyum penuh arti. “Baik. Mama buatkan.” Lina dan Ayu pergi untuk berbelanja semua bahan untuk membuat nas

  • Om Bule Kekasihku   Dua Nama

    Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa lebih hidup dari biasanya. Di dalam mobil, suara Elena tidak berhenti sejak tadi. “Papa, nanti aku yang pilih nama ya?” tanya Elena. Daniel yang sedang menyetir melirik lewat kaca spion. “Kamu sudah punya ide buat nama adik bayi?” kata Daniel. Elena mengangguk cepat. “Ada!” Ayu yang duduk di kursi depan langsung tertarik. “Siapa tuh?” Elena berpikir keras beberapa detik, lalu berkata penuh percaya diri, “Kalau cowok, Leo!” Ayu tertawa kecil. “Kenapa Leo?” Elena menjawab polos, “Karena kuat.” Daniel tersenyum tipis. “Bagus.” Elena lalu menoleh ke Nadia. “Kalau yang cewek, Luna” jawab Elena dengan semangat Nadia mengangkat alis. “Kenapa Luna?” Elena tersenyum kecil. “Karena cantik.” Suasana di dalam mobil langsung terasa hangat. Daniel tidak berkata apa-apa. Namun senyum kecil di wajahnya cukup menjelaskan semuanya. Sesampainya di villa Blankenese, semua orang langsung berkumpul di ruang keluarga. Lina membawa minuman ha

  • Om Bule Kekasihku   Dua Detak Kecil

    Pagi itu, suasana villa Blankenese terasa lebih sibuk dari biasanya. Daniel sudah berdiri di ruang tengah sejak pagi, mengenakan kemeja rapi, ponsel di tangan, namun perhatiannya jelas bukan pada pekerjaan. “Nadia sudah siap?” tanya Daniel untuk ketiga kalinya. Dari tangga, suara Ayu terdengar, “Tenang sedikit, Daniel. Ini bukan rapat penting.” Daniel menghela napas tipis. “Ini lebih penting dari pada rapat.” Beberapa detik kemudian, Nadia turun perlahan dengan bantuan Camille. “Madame, pelan-pelan,” ujar Camille dengan nada formalnya. Nadia tersenyum. “Iya, Camille” jawab Nadia lembut. Elena langsung berlari kecil menghampiri. “Mama!” Ia memegang tangan Nadia dengan hati-hati. “Aku ikut ya?” tanya Elena. “Kamu mau ikut ke dokter?” kata Daniel. Elena mengangguk cepat. “Aku mau ikut!” Ayu langsung menyela, “Wah, seru nih. Ada pasien kecil tambahan.” Nadia tertawa. “Boleh” ucap Nadia. Daniel tidak menolak. “Baik. Kita pergi bersama.” Perjalanan menuju rumah sakit

  • Om Bule Kekasihku   Rencana Yang Ditunda

    Malam itu villa Blankenese terasa hangat dan hidup. Lampu-lampu di ruang keluarga menyala lembut, meja makan dipenuhi hidangan buatan Lina dan untuk setelah sekian lama, semua orang berkumpul tanpa bayang-bayang ketegangan. Daniel duduk di ujung meja, sementara Nadia di sampingnya, dengan Elena yang setia menempel di kursinya. Ayu duduk santai sambil memainkan sendok, Camille berdiri di dekat dinding seperti biasa, dan Lina serta Rudi duduk berhadapan dengan mereka. Suasana terasa nyaman. Namun Daniel terlihat sedikit lebih serius dari biasanya. “Nadia” kata Daniel pelan. Nadia menoleh. “Iya?” Daniel menarik napas kecil. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Ayu langsung menegakkan badan. “Wah.. sepertinya serius nih” ucap Ayu. Elena menatap Daniel dengan penasaran. “Ada apa papa?” tanya Elena serius. Daniel melirik semua orang. Tentang resepsi. Di Bali. “Aku ingin kita menunda resepsi.” Ruangan langsung hening beberapa detik. Nadia menatapnya. “Kamu yakin?” Da

  • Om Bule Kekasihku   Di Antara Tanggung Jawab Dan Tawa Kecil

    Hari-hari di Blankenese mulai kembali ke ritme semula. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Villa itu tidak hanya menjadi rumah, tetapi benar-benar menjadi tempat untuk pulih. Pagi itu, ruang kerja Daniel kembali hidup. Laptop terbuka, beberapa dokumen berserakan di meja, dan suara panggilan video terdengar samar. “Ya, lanjutkan akuisisi itu,” kata Daniel dengan nada tenang namun tegas. Di layar, beberapa eksekutif mengangguk. “Dan pastikan tidak ada celah hukum. Aku tidak mau ada masalah di kemudian hari.” “Baik, Tuan Daniel.” Panggilan berakhir. Daniel menutup laptopnya perlahan. Namun belum sempat ia berdiri, pintu terbuka sedikit. Seorang kepala kecil muncul. “Papa” Daniel langsung melunak. “Elena.” Gadis kecil itu masuk pelan. “Apa aku boleh masuk?” Daniel tersenyum. “Kamu tidak perlu izin.” Elena mendekat. “Papa sibuk?” Daniel menggeleng. ”Untuk anak papa, tidak” Elena terlihat puas dengan jawaban itu. Ia naik ke kursi di samping Daniel. “Mama lagi ti

  • Om Bule Kekasihku   Ketika Jarak Belajar Bicara

    Waktu mulai bergerak dengan caranya sendiri. Hari-hari Nadia di Kopenhagen berjalan cepat namun sunyi. Setelah euforia pembukaan pameran mereda, ritme residensi kembali ke bentuk aslinya, pagi yang panjang di studio, siang dengan diskusi, dan malam yang sering berakhir dalam kelelahan yang tidak s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Om Bule Kekasihku   Retakan Yang Hampir Tak Terlihat

    Musim gugur mulai merayap ke Kopenhagen. Daun-daun cokelat mengendap di tepi kanal, dan udara membawa aroma dingin yang lebih tajam dari biasanya. Nadia berjalan pulang dari galeri dengan langkah pelan, mantel menutup tubuhnya rapat. Hari itu panjang, lebih panjang dari yang ia perkirakan. Diskus

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Om Bule Kekasihku   Percakapan Yang Tidak Bisa Ditunda

    Hujan turun pelan di Kopenhagen malam itu. Bukan hujan yang deras, melainkan rintik yang konsisten dan cukup untuk membuat kota terasa lebih sunyi. Nadia berdiri di dekat jendela studionya, memandangi lampu-lampu yang memantul di permukaan jalan basah. Pikirannya belum tenang sejak percakapan tera

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Berjarak, Hati Yang Tetap Terhubung

    Pagi keberangkatan datang tanpa drama. Langit Hamburg cerah, nyaris tidak pantas untuk perpisahan. Nadia berdiri di depan jendela villa Blankenese dengan koper kecil di sampingnya. Ia mengenakan mantel tipis, rambutnya terikat sederhana tampilan yang tenang, seolah ia hanya akan berjalan sebentar,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status