Home / Romansa / Om Bule Kekasihku / Janji Yang Tak Tergesa

Share

Janji Yang Tak Tergesa

Author: Sabrina dewi
last update publish date: 2026-01-04 15:06:16

Senja turun perlahan di Bali.

Langit memerah lembut, seolah laut dan langit sepakat menahan warna terbaiknya sedikit lebih lama. Daniel dan Nadia duduk di beranda vila kecil yang menghadap sawah. Angin membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja. Tidak ada musik, tidak ada suara kota, hanya desir serangga dan napas yang kini terasa lebih ringan.

Sejak pagi di Pantai Kuta, mereka tidak banyak bicara. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing sedang menyusun sesuatu di dalam d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Om Bule Kekasihku   Aksi Nekat Nadia

    Hari itu dimulai dengan ringan. Terlalu ringan. Seolah semua orang akhirnya benar-benar bisa bernapas setelah semua yang terjadi. Pagi di halaman belakang villa Blankenese terasa cerah. Kolam renang yang beberapa hari lalu dibersihkan kini terlihat jernih, memantulkan langit biru Hamburg yang jarang muncul. Elena berlari kecil di sekitar taman, memegang Bruno. “Ke sini!” kata Elena riang, seolah Bruno bisa benar-benar mengerti. Di kursi dekat kolam, Ayu duduk santai, sementara Paul berdiri tak jauh, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. “Kalau kamu mau lihat, lihat saja,” kata Ayu tanpa menoleh. Paul mengangkat alis. “Saya tidak melihat apa-apa.” Ayu menyeringai. “Iya, iya.” Di balkon atas, Nadia berdiri dengan hati-hati, ditemani Camille. “Madame sebaiknya tidak terlalu lama berdiri,” ujar Camille. Nadia tersenyum. “Aku hanya lihat Elena sebentar.” Matanya mengikuti gerak anak itu. Penuh kasih. Penuh perhatian. Di bawah, Elena tertawa sambil berlari mundur. “Brun

  • Om Bule Kekasihku   Kunjungan Yang Kebetulan

    Sejak hari itu, semuanya terasa sedikit berbeda. Bukan karena sesuatu yang besar. Tapi karena seseorang yang mulai terlalu sering muncul. Pagi itu, villa Blankenese masih tenang. Ayu sedang duduk santai di ruang keluarga, menikmati teh sambil menggulir ponselnya. Elena bermain di lantai dengan puzzle. Lina di dapur. Camille seperti biasa berdiri rapi di dekat jendela. Dan tiba-tiba, ding dong. Ayu mengangkat alis. “Siapa pagi-pagi?” Camille berjalan menuju pintu dan membukanya. Di sana ada seseorang yang sedang berdiri, Paul. Dengan map di tangan. Dan ekspresi profesionalnya. “Selamat pagi.” Camille menatapnya beberapa detik. “Tuan Paul. Tuan Daniel belum memanggil anda.” Paul mengangguk. “Saya tahu.” Camille mengangkat alis tipis. “Lalu?” tanya Camille. “Hari ini saya datang lebih awal” jawab Paul dengan tenang. Camille menatapnya lagi. Lebih lama. Lalu, membiarkannya masuk. Ayu yang melihat dari sofa langsung bersuara, “Wah... rajin sekali.” Paul menoleh.

  • Om Bule Kekasihku   Tatapan Yang Tidak Sengaja

    Hari-hari di villa Blankenese mulai kembali normal. Namun di balik rutinitas yang terlihat tenang, ada sesuatu yang perlahan berubah. Sesuatu yang kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat seseorang mulai memperhatikan. Pagi itu, Paul datang lebih awal dari biasanya. Sebagai asisten pribadi Daniel, kedatangannya memang sudah biasa. Namun kali ini, ia tidak langsung menuju ruang kerja. Ia berhenti sejenak di ruang makan. Matanya mencari sesuatu atau seseorang. Dan ia menemukannya. Ayu. Ayu sedang duduk santai di kursi, menyeruput kopi sambil membaca sesuatu di ponselnya. Rambutnya diikat asal. Penampilannya sederhana. Namun entah kenapa, Paul tidak bisa mengalihkan pandangannya. Beberapa detik. Terlalu lama. Sampai akhirnya Ayu mengangkat kepala. Dan menangkap tatapan itu. “Kenapa?” tanya Ayu. Paul langsung tersadar. “Tidak, tidak apa-apa” jawab Paul gugup. Ayu mengangkat alis. “Kamu lihat aku kayak mau interview.” Paul sedikit gugup adalah hal yang

  • Om Bule Kekasihku   Hangatnya Dapur Dan Cerita Lama

    Beberapa hari setelah “misi nasi kuning” yang sukses besar, dapur villa Blankenese kembali hidup. Kali ini bukan karena keinginan mendadak, melainkan karena Nadia ingin melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan. Memasak. “Aku mau buat bakso Malang” ucap Nadia sambil berdiri di dapur, mengenakan apron sederhana. Ayu langsung menoleh cepat. “Serius?” Nadia mengangguk. “Iya. Aku lagi pengen banget makan itu” Lina tersenyum hangat. “Mama bantu, nak” ucap Lina. Camille yang berdiri di dekat pintu terlihat sedikit ragu. “Apakah Madame tidak kelelahan?” tanya Camille. Nadia tersenyum. “Aku tidak akan berdiri lama.” Ayu langsung menyela, “Kita yang kerja beratnya. Nadia cuma ‘supervisi’.” Nadia tertawa. Tak lama kemudian, dapur berubah menjadi lebih ramai. Lina menggiling daging. Ayu menyiapkan bumbu. Nadia duduk di kursi tinggi, sesekali mencicipi dan memberi arahan. “Ayu, garamnya tambah sedikit lagi” “Bawang putih gorengnya tambah lagi” Camille berdiri di de

  • Om Bule Kekasihku   Nasi Kuning Dan Rasa Rumah

    Pagi di villa Blankenese dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa. Bukan karena suasana yang berbeda. Melainkan karena satu keinginan sederhana dari Nadia. Nadia berdiri di dapur, bersandar ringan di meja, sambil memperhatikan Lina yang sedang memotong bahan. “Ma..” “Iya, Nadia?” jawab Lina. Nadia tersenyum kecil. “Aku pengen nasi kuning.” Lina berhenti sejenak. “Nasi kuning?” Nadia mengangguk pelan. “Nasi kuning buatan mama, seperti yang dulu” Nada suaranya lembut. Hampir seperti anak kecil yang sedang rindu masakan rumah. Lina langsung tersenyum hangat. “Nanti mama buatkan ya” ucap Lina lembut. Ayu yang baru masuk dapur langsung menyahut, “Wah.. ngidam ya ceritanya.” Nadia tertawa. “Pengen aja” Ayu menyilangkan tangan. “Padahal kita bisa pesan di restoran Indonesia.” Nadia menggeleng. “Rasanya beda” Ia menatap Lina. “Aku mau yang buatan mama.” Lina tersenyum penuh arti. “Baik. Mama buatkan.” Lina dan Ayu pergi untuk berbelanja semua bahan untuk membuat nas

  • Om Bule Kekasihku   Dua Nama

    Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa lebih hidup dari biasanya. Di dalam mobil, suara Elena tidak berhenti sejak tadi. “Papa, nanti aku yang pilih nama ya?” tanya Elena. Daniel yang sedang menyetir melirik lewat kaca spion. “Kamu sudah punya ide buat nama adik bayi?” kata Daniel. Elena mengangguk cepat. “Ada!” Ayu yang duduk di kursi depan langsung tertarik. “Siapa tuh?” Elena berpikir keras beberapa detik, lalu berkata penuh percaya diri, “Kalau cowok, Leo!” Ayu tertawa kecil. “Kenapa Leo?” Elena menjawab polos, “Karena kuat.” Daniel tersenyum tipis. “Bagus.” Elena lalu menoleh ke Nadia. “Kalau yang cewek, Luna” jawab Elena dengan semangat Nadia mengangkat alis. “Kenapa Luna?” Elena tersenyum kecil. “Karena cantik.” Suasana di dalam mobil langsung terasa hangat. Daniel tidak berkata apa-apa. Namun senyum kecil di wajahnya cukup menjelaskan semuanya. Sesampainya di villa Blankenese, semua orang langsung berkumpul di ruang keluarga. Lina membawa minuman ha

  • Om Bule Kekasihku   Ketika Pilihan Mulai Meminta Harga

    Hamburg pagi itu kelabu. Langit seperti menahan hujan, menggantungkan beban yang tidak jatuh, sama seperti perasaan Nadia ketika berdiri di dekat jendela apartemen. Kota ini indah, teratur, dan dingin namun ia mulai memahami bahwa ketenangan di Eropa sering kali menyimpan tekanan yang rapi dan tak

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Om Bule Kekasihku   Percakapan Yang Tidak Pernah Selesai

    Cafe itu hampir kosong ketika Daniel tiba. Tempat yang dipilih Rebecca bukan kebetulan, tenang, rapi, dan netral. Tidak ada kenangan personal di sana. Tidak ada sudut hangat untuk bersembunyi. Hanya dua orang dewasa yang pernah berbagi masa lalu dan kini berdiri di dua titik yang berbeda. Rebecc

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Om Bule Kekasihku   Malam Tanpa Jalan Mundur

    Malam turun perlahan di Hamburg, membawa dingin yang lebih sunyi dari biasanya. Apartemen itu hanya diterangi lampu meja. Nadia masih duduk di lantai, buku sketsanya terbuka, pensil tergeletak di sampingnya. Daniel berdiri di dekat jendela, menatap kanal yang hitam dan tenang. Tidak ada musik. Tid

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Om Bule Kekasihku   Setelah Kehangatan, Dunia Menagih Jawaban

    Kepergian orang tua Daniel meninggalkan jejak yang tidak kasatmata, namun nyata. Apartemen itu terasa lebih hidup pagi itu. Bukan karena suara, melainkan karena sesuatu di antara Daniel dan Nadia berubah menjadi lebih tenang, lebih pasti. Seolah kehadiran Thomas dan Margaret semalam telah meletakk

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status