Se connecterDi villa Moretti, semuanya tampak tenang di luar. Namun Daniel sudah tahu, malam ini Matteo akan bergerak. Di ruang kerja, Daniel berdiri di depan layar kamera keamanan. Beberapa titik di kebun anggur utara terlihat gelap. Lorenzo masuk dengan langkah cepat. “Pergerakan terdeteksi.” Daniel tidak terkejut. “Berapa orang?” tanya Daniel. “Tiga atau mungkin empat orang” jawab Lorenzo. Daniel mengambil jaketnya. “Biarkan mereka masuk.” “Kamu ingin menjebak mereka?” tanya Lorenzo serius. Daniel menjawab dingin, “Aku ingin melihat siapa orang yang cukup bodoh untuk datang langsung.” Sementara itu di kamar, Nadia sedang membantu Elena bersiap tidur. Gadis kecil itu masih terlihat lebih pendiam sejak kepergian Viola. “Mama Nadia” Nadia menoleh. “Ya, sayang?” Elena menggenggam tangannya. “Jangan pergi ya.” Nadia tersenyum lembut. “Mama selalu di sini, nak” Ia mencium kening Elena. Namun saat itu, lampu di kamar berkedip sebentar. Nadia mengernyit. “Aneh..” Elena lan
Setelah pemakaman Viola, rumah besar itu seperti kehilangan jiwanya. Tidak ada lagi suara langkah lembut Viola di lorong-lorong panjang, tidak ada lagi aroma kopi pagi yang biasa ia buat sendiri di dapur. Hanya kesunyian. Di kamar Daniel dan Nadia, lampu tidur menyala redup. Elena tidur di antara mereka, seperti malam sebelumnya. Sejak kematian Viola, ia menolak tidur sendirian. Nadia tidak keberatan. Ia justru merasa gadis kecil itu membutuhkan kehangatan lebih dari sebelumnya. Namun malam itu, Elena tiba-tiba terbangun. Ia duduk perlahan, masih memegang tangan Nadia. “Mama..” Nadia membuka mata. “Ya, sayang?” Elena terlihat ragu. Matanya yang masih bengkak karena menangis menatap Nadia dan Daniel bergantian. Daniel yang masih setengah tertidur akhirnya bangun juga. “Ada apa?” Elena menggigit bibirnya. “Aku boleh minta sesuatu?” Nadia langsung duduk. “Tentu.” Elena menatap mereka dengan serius, sesuatu yang jarang terlihat pada anak seusianya. “Janji dulu.” Dani
Di villa, tidak ada suara tawa pagi seperti biasanya. Rumah besar itu terasa terlalu sunyi. Di kamar Elena, Nadia duduk di tepi tempat tidur. Elena masih terbangun sejak tengah malam. Matanya merah dan bengkak karena terlalu lama menangis. Ia memeluk boneka kecil yang dulu diberikan Viola saat ulang tahunnya. “Mama, apa mama Viola benar-benar pergi?” tanya Elena dengan suara kecil. Nadia merasakan hatinya seperti diremas. Ia menarik Elena ke dalam pelukannya. “Ya, sayang” Elena langsung menangis lagi. Tangis yang tidak keras, tetapi panjang dan menyayat hati. “Kenapa mama pergi?” Nadia tidak tahu bagaimana menjelaskan kematian kepada anak kecil. Ia hanya mengusap rambut Elena perlahan. “Karena mama sangat sakit.” Elena menggeleng. “Tapi mama bilang dia tidak pergi jauh.” Nadia menahan air matanya. “Dia tidak jauh.” Elena menatapnya dengan mata penuh harapan. “Di mana?” Nadia memegang dada Elena dengan lembut. “Di sini.” Elena terdiam beberapa detik. Namun tiba-ti
Di villa Moretti semua terasa berbeda malam itu. Seolah rumah besar itu tahu bahwa seseorang yang penting sedang berada di ujung waktunya. Di kamar Viola, lampu tidur menyala redup. Udara di dalam ruangan terasa sangat sunyi. Hanya ada suara napas Viola yang semakin pelan. Nadia masih duduk di sisi tempat tidur sambil memegang tangannya yang dingin. Perutnya yang membesar terasa berat malam itu, namun ia tidak bergerak sedikit pun. Daniel berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tetap tenang. Namun matanya tidak pernah lepas dari Viola. Di kursi dekat tempat tidur, Elena tertidur. Gadis kecil itu akhirnya tertidur setelah terlalu lama menangis. Ia memeluk Bruno erat seperti boneka besar. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Lalu Viola perlahan membuka matanya. “Nadia” ucap Viola, suaranya hampir tidak terdengar. Nadia langsung mendekat. “Aku di sini.” Viola menatap wajah Nadia lama. Matanya penuh rasa lelah tapi juga ketenangan. “Aku ingin m
Pagi itu tidak ada hujan, tetapi udara terasa berat dan dingin. Angin yang biasanya membawa aroma kebun anggur kini terasa pelan dan sunyi. Seolah alam ikut menahan napas. Di villa Moretti, semua orang bangun lebih awal. Namun tidak ada yang benar-benar tidur semalam. Di kamar Viola, tirai jendela dibuka sedikit agar cahaya pagi masuk dengan lembut. Viola terlihat jauh lebih lemah dari hari kemarin. Tubuhnya hampir tidak bergerak di atas tempat tidur putih. Napasnya pendek dan sangat pelan. Dokter yang datang pagi itu memeriksa dengan hati-hati. Daniel berdiri di dekat jendela, sementara Nadia duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Viola. Beberapa menit kemudian dokter berdiri dan menatap mereka dengan wajah yang sangat serius. “Kita harus bersiap” ucap dokter itu. Nadia langsung menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Daniel tidak berkata apa-apa. Namun tangannya yang berada di samping tubuhnya perlahan mengepal. Di kamar sebelah, Elena m
Udara terasa berat pagi itu. Seolah seluruh rumah mengetahui sesuatu yang tidak ingin diucapkan siapa pun. Di kamar Viola, tirai jendela dibuka sedikit agar sinar matahari pagi masuk dengan lembut. Namun cahaya itu tidak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa kondisi Viola semakin memburuk.Ia hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dokter yang datang pagi itu berbicara pelan dengan Daniel dan Nadia di lorong. “Tubuh Viola semakin lemah.” Nadia memegang perutnya dengan gelisah. Daniel berdiri diam, wajahnya tenang seperti biasa. Namun matanya lebih gelap dari biasanya. “Apakah dia kesakitan?” tanya Nadia. Dokter menggeleng. “Kami memberi obat agar ia tetap nyaman.” Daniel akhirnya bertanya satu hal yang paling sulit. “Kira-kira berapa lama lagi Viola bisa bertahan?” Dokter tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, “Mungkin tidak lama.” Nadia menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung jatuh. Daniel hanya mengangguk sekali. Tidak ada emosi di wajahnya.
Hamburg pagi itu kelabu. Langit seperti menahan hujan, menggantungkan beban yang tidak jatuh, sama seperti perasaan Nadia ketika berdiri di dekat jendela apartemen. Kota ini indah, teratur, dan dingin namun ia mulai memahami bahwa ketenangan di Eropa sering kali menyimpan tekanan yang rapi dan tak
Cafe itu hampir kosong ketika Daniel tiba. Tempat yang dipilih Rebecca bukan kebetulan, tenang, rapi, dan netral. Tidak ada kenangan personal di sana. Tidak ada sudut hangat untuk bersembunyi. Hanya dua orang dewasa yang pernah berbagi masa lalu dan kini berdiri di dua titik yang berbeda. Rebecc
Malam turun perlahan di Hamburg, membawa dingin yang lebih sunyi dari biasanya. Apartemen itu hanya diterangi lampu meja. Nadia masih duduk di lantai, buku sketsanya terbuka, pensil tergeletak di sampingnya. Daniel berdiri di dekat jendela, menatap kanal yang hitam dan tenang. Tidak ada musik. Tid
Kepergian orang tua Daniel meninggalkan jejak yang tidak kasatmata, namun nyata. Apartemen itu terasa lebih hidup pagi itu. Bukan karena suara, melainkan karena sesuatu di antara Daniel dan Nadia berubah menjadi lebih tenang, lebih pasti. Seolah kehadiran Thomas dan Margaret semalam telah meletakk







